Warga Desa Kalupapi, Kecamatan Bakurun,Kabupaten Banggai Laut (Balut), Sulawesi Tenggara  digegerkan penemuan gadis berwajah cantik yang tak lazim.

Warga sekitar mengatakan gadis yang memiliki wajah seperti boneka barbie tersebut adalah anak bidadari.
Dikabarkan gadis itu ditemukan oleh nelayan pada Selasa (19/4/2016).
Gadis itu ditemukan di tepi pantai dalam keadaan telanjang dan hanya ditutupi selendang transparan berwarna putih kapas dan sedang dalam keadaan menangis.
Saat ini gadis tersebut ditempatkan disalah satu rumah warga di Desa Kalupapi, Kecamatan Bakurun, Pulau Bokan, Kabupaten Banggai Laut.
Warga memiliki alasan menyebutnya sebagai bidadari, lantaran gadis itu benar-benar berbeda dengan gadis pada umunya.
Alisnya merah dan mata bulat lentik, kulit putih bercahaya.
Kehebohan warga semakin menjadi, ketika penemuan gadis yang mirip boneka berbie itu terkuak di khalayak ramai.
Selain karena wajah dan kulit yang putih bersinar dan mata bulat sempurna.
Anehnya lagi gadis itu ditemukan nelayan setempat setelah mendengar suara jatuh dari langit.
“Didapati gadis itu menangis, tidak pakai apa-apa hanya selendang putih yang membalut badannya,” tutur Rano warga yang menamukan.
“Sekarang dia so (sudah) di rumah warga, dikasih baju juga jilbab,” kata Rano.
Sekalipun seagian besar warga menganggap mustahil kejadian tersebut.
Namun, belum ada satupun yang berhasil membuktikan asal muasal gadis itu. (*)




China dinobatkan sebagai negara paling padat penduduk di muka bumi. Gara-gara julukan itu, orang seringkali lupa bahwa banyak wilayah Tiongkok hanyalah padang ilalang kosong atau gurun tanpa manusia satupun. Anomali ini juga dialami Desa Xuenshanshe. Secara resmi, desa di Provinsi Gansu itu cuma dihuni satu manusia saja, ditemani beberapa kambing peliharaannya.

Nama penduduk yang tinggal sebatang kara itu adalah Liu Shengjia. Pria paruh baya ini sejak 10 tahun terakhir nekat bertahan di Xuenshanshe. Seluruh tetangganya sudah pindah rumah atau meninggal.
Kondisi desa Xuenshanshe memang kurang layak, sebab pasokan air minim serta sulit bercocok tanam di sana. Sekadar belanja saja butuh waktu dua jam perjalanan ke desa tetangga.
Shengjia mengaku mau tinggal seorang diri di desa itu karena suasananya damai. Dia pun masih bisa menghidupi dirinya dengan merawat hutan kecil di pinggiran desa.
Liu Shengjia hidup sendirian di desa Provinsi Gansu(c) 2016 Merdeka.com/Shanghaiist
Uniknya walau desa tersebut cuma dihuni satu penduduk, pemerintah China tidak memutus aliran listrik. Di rumahnya yang mungil, Shengjia masih bisa menikmati lampu, komputer, serta mengakses telepon pintar dengan sinyal lumayan baik.
Walau betah hidup seorang diri, ternyata Shengjia tidak menutup kemungkinan pindah ke desa lain. Sejauh ini dia mengaku belum terlalu kesulitan hidup tanpa manusia lain.
"Saya masih menimbang-nimbang, kapan waktu yang tepat pindah rumah," ujarnya. (mdc/int)

Mahluk besar di lautan identik dengan paus dan hiu. Namun banyak juga mahluk misterius lainnya yang belum pernah dikenali oleh manusia, karena eksplorasi laut sendiri tidak sebesar dan semurah di daratan.

Sehingga tidak heran, jika setiap tahunnya selalu ada penemuan mahluk baru yang berasal dari lautan, baik yang ukurannya kecil hingga yang berukuran besar. Terkadang penemuan tersebut juga menimbulkan tanda tanya baru.

Mahluk misterius besar juga ditemukan terdampar di tepi pantai di Bude dekat Cornwall. Adalah Ado Shorland yang pertama kali menemukan mahluk misterius ini, saat sedang mengajak anjingnya berjalan-jalan di pagi hari.

Awalnya ia berpikir, jika sosok besar tersebut adalah jaring yang tersapu ke pantai. Namun setelah di dekati ia melihat itu adalah sesosok bangkai mahluk dari laut.

Pakar kelautan pun dipanggil ke tempat di mana ditemukannya mahluk tersebut. Mereka percaya, jika mahluk seberat 45 ton ini adalah paus sirip yang terancam punah, di mana sebagian tubuhnya telah membusuk sehingga tidak lagi berwujud sempurna.

Paus sirip sendiri bisa mencapai ukuran hingga 27 neter dengan berat sekitar 70 ton. Namun perburuan liar menyebabkan mahluk besar di lautan ini terancam punah.






Cerminan Kasih Sayang yang Berbalas



Oleh: Syafruddin Yusuf, Kisaran

Yus Chan menambahkan, saat menari, para penari menggerakkan tangan kanan seolah memetik bunga dan tangan kiri dinaikkan serong kiri atas dengan jari melentik, ujung jari menghadap ke atas.
Kemudian tangan menyilang di depan badan setinggi pinggang dengan posisi pergelangan tangan kiri di atas pergelangan tangan kanan dan telapak tangan dikepalkan. 


Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang, 1 x 8. Pada hitungan 1 sampai 4 maju melenggang serong kiri menuju garis tengah dan pada hitungan ke-4 kaki kiri menginjak garis tengah. Bersamaan dengan itu, posisi tangan kiri penari laki-laki berkacak pinggang. Sedangkan tangan kiri penari perempuan berada di pangkal paha kiri atau menyingsingkan kain. Adapun tangan kanan berpatah sembilan di depan dada dengan telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah dan dilentikkan. Pada hitungan 5 sampai 8, penari mundur kembali ke tempat semua dengan posisi tangan tetap.
Gerakan pada ragam yang kedua menceritakan bahwa sepasang muda-mudi itu sudah mengenal satu sama lain, meskipun belum akrab. Keduanya mencari kepastian perasaan masing-masing sambil ajuk-mengajuk hati, menyelami sukma.

Kemudian penari melenggang di tempat sambil turun/jongkok dengan arah serong kanan dan pada hitungan 5 sampai 8 perlahan-lahan kembali berdiri.
Lalu penari membalikkan badan dan mundur. Tangan kiri langsung ke sisi kiri badan tangan kiri penari laki-laki, sedangkan tangan kiri penari perempuan berada di pangkal paha.
Ragam gerakan ketiga menggambarkan penzahiran sikap serta sifat dari keduanya yang diungkapkan dengan gerakan memetik beberapa kuntum bunga. Si jaka mengikuti memetik beberapa kuntum bunga kemudian merangkainya dengan gerakan pencak (bunga) silat. Maksud dari gerakan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa ia dapat melindungi sang dara, menjadi pengayom, dan dapat menjadi patriot bangsa. Karangan bunga tersebut kemudian diserahkan kepada si dara. Si dara menerima karangan bunga tersebut dengan penuh kepercayaan sebagai cerminan kasih yang berbalas.
Biasanya dalam menarikan tarian Mak Inang ini ada beberapa lagu dan musik Melayu menjadi pengiringnya seperti Mak Inang Kampung, Seringgit Dua Kupang, Mak Inang Hang Tuah, dan beberapa lagu lain yang mempunyai tempo sama dengan lagu-lagu tersebut.
Selain menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Melayu, Tari Lenggok Mak Inang juga mempunyai nilai-nilai yang dapat diambil manfaatnya, antara lain:
Nilai Keindahan yang berasal dari kombinasi ragam gerakan, alunan musik, dan kemahiran penari dalam menarikan tarian ini. Tari Lenggok Mak Inang membutuhkan gerakan yang lincah dan lembut dari para penari. Iringan musik yang digunakan dalam Tari Lenggok Mak Inang adalah lagu-lagu Melayu yang terkenal indah dan merdu.    
Nilai kearifan lokal, Tari Lenggok Mak Inang bercerita tentang proses bujang dan dara untuk menemukan pasangan hidup hingga ke pernikahan. Melalui tarian ini terlihat bahwa masyarakat Melayu mempunyai kearifan tersendiri mengenai masalah mencari pasangan atau calon suami/istri.
Tari Lenggok Mak Inang juga merupakan salah satu kekayaan budaya Melayu yang memperkaya khazanah budaya Indonesia. Pelestarian tarian ini menjadi penting artinya sebagai salah satu upaya untuk melestarikan tradisi dan kebudayaan Melayu secara umum. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam rangka pelestarian Tari Lenggok Mak Inang adalah dengan memberi ruang pementasan bagi para penari tarian tradisional Melayu. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan mengajarkan tarian ini kepada generasi muda. (***)


  Menceritakan Pertemuan Bujang dan Dara Mencari Jodoh
 
Sebagai daerah pesisir Melayu, di Kabupaten Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai cukup banyak kesenian budaya Melayu yang nyaris dilupakan para generasi muda saat ini. Selain tari serampang 12, ada juga satu tarian yang di era tahun 1940 an hingga 1980 an cukup dikenal masyarakat yakni tari Lenggok Mak Inang.
Tari Lenggok Mak Inang merupakan salah satu tari tradisional Melayu Tanjungbalai. Jumlah penari dalam tarian ini ada dua orang, yakni laki-laki dan perempuan. Tari Lenggok Mak Inang menceritakan pertemuan antara bujang dan dara, perjalinan kasih mereka, hingga akhirnya pasangan itu melangsungkan pernikahan.  
Budayawan Melayu Yus Chan dan Raja Kamal menceritakan, Tari Lenggok Mak Inang merupakan tarian dasar dalam tradisi di masyarakat Melayu. Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini telah mengalami perubahan, namun beberapa gerakan dasar tarian masih dipertahankan. Hal ini demi menjaga maksud dan pesan yang ingin disampaikan. 

Tari Lenggok Mak Inang menggunakan tempo sedang, yaitu 2/4. Tempo ini disebut tempo rumba atau mambo yang di kalangan orang-orang Melayu disebut tempo Mak Inang. Tari Lenggok Mak Inang terdiri dari empat ragam. Di mana setiap ragam terdiri dari 8 x 8. Tiap-tiap ragam dibagi menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian 4 x 8. Bagian kedua dari ragam-ragam tersebut merupakan pengulangan bagian pertama.
Masyarakat Melayu di Tanjungbalai biasanya mementaskan tarian ini dalam berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Bagi masyarakat Melayu menyelenggarakan kenduri besar atau pesta panen setelah menuai padi menjadi suatu budaya yang berkesinambungan. Acara ini menjadi ajang berkumpul semua orang kampung, termasuk juga lajang dan dara yang sedang dalam proses mencari pasangan hidup. Proses pencarian jodoh dalam bingkai kearifan Melayu tersebut kemudian menjadi inspirasi dalam gerakan-gerakan Tari Lenggok Mak Inang.
Penari dalam Tari Lenggok Mak Inang adalah anak laki dan perempuan. Pemilihan penari tersebut menyesuaikan dengan tema yang diusung oleh tarian ini, yakni perjalinan kasih di antara dua anak muda.    
Tari Lenggok Mak Inang bercerita tentang dara dan lajang yang sedang dalam proses mencari pasangan suami istri. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana pasangan muda-mudi tersebut berkenalan dan melakukan pendekatan satu sama lain dan hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Ada empat ragam gerakan dalam Tari Lenggok Mak Inang. Pada ragam-ragam tersebut ada beberapa gerakan yang sama dengan gerakan sebelumnya, ada pula gerakan yang berbeda. Ragam-ragam gerakan Tari Lenggok Mak Inang saling melengkapi dan berkolaborasi antara satu ragam dengan ragam yang lain.
Ragam ini menggambarkan pertemuan antara laki-laki dan perempuan muda yang belum saling kenal. Keduanya memetik bunga yang ada di sekitar tempat tersebut untuk mencari perhatian dan mengisi waktu masing-masing.
Gerakan penari di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang, pada hitungan 1-4 maju penari melenggang serong kanan menuju garis tengah (garis bayangan) dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Bersamaan dengan itu posisi tangan kiri berada di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan. Pada hitungan 5-8, mundur kembali ke semula dengan posisi tangan tidak berubah. 
Tangan bergerak seolah memetik bunga. Caranya, pada hitungan 1 dan hitungan ganjil berikutnya, tangan kanan dinaikkan serong kanan atas dengan jari melentik, ujung jari menghadap ke atas, telapak tangan menghadap serong kanan depan dan tangan kiri diantarkan serong kiri bawah dengan jari melentik, sedangkan telapak tangan menghadap serong kiri bawah. Apabila ditarik garis bayangan dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri merupakan garis lurus yang menyilang badan.
Pada hitungan 2 dan hitungan genap berikutnya, tangan menyilang di depan badan setinggi pinggang dengan posisi pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri dan telapak tangan dikepalkan.   (syaf)


TANJUNGBALAI- Sorang personil Polres Tanjungbalai, Briptu Syofwan Karim Lubis, diberikan sanksi Pemberhentian Tidak Hormat (PTDH) dari keanggotaan Polri. Itu karena Syofwan tidak masuk kerja selama 638 hari. Acara pemberhentian tersebut diumumkan Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK MHum saat mengelar apel pagi di lapangan.



 Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan mengumumkan pemberhentian Briptu Syofwan Karim Lubis pada Apel pagi di lapangan apel Polres Tanjungbalai. (riki/METRO TANJUNGBALAI)




Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK MHum melalui Kabag Humas AKP Y Sinulingga mengatakan, pemberhentian terhadap Syofwan tersebut sesuai dengan aturan disiplin Polri, pasal 14 ayat 1 huruf a PP  RI No 1 Thn 2003 tentang pemberhentian anggota Polri dari dinas Polri apabila meninggalkan tugas secara tidak sah dalam waktu 30 hari secara berturut turut.
"Kami sudah memberikan pembinaan kepada yang bersangkutan berupa teguran, namun tetap saja dia tidak mau masuk kantor sejak 30 Oktober 2013 sampai dengan sekarang atau 638 hari kerja. Sehingga putusan tersebut terpaksa kami lakukan dan itu juga berdasarkan keputusan dari  Kapolda Sumut nomor: KEP/112/II/2016," ujar Sinulingga
Ia melanjutkan, sidang kode etik terhadap yang bersangkutan sudah dilakukan dan putusan sidang itu memastikan bahwa yang bersangkutan diberhentikan dari keanggotaan Polri.
"Polri mengalami kekecewaan yang amat dalam. Kita berharap upacara pemecatan ini adalah terakhir kali yang dilakukan, khususnya bagi personel Polres Tanjungbalai. Selain itu keputusan ini hendaknya dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga, serta menjadi contoh dan peringatan bagi seluruh jajaran Polres Tanjungbalai,” ucapnya.Selain itu, ia juga mengingatkan kepada seluruh anggota Polres Tanjungbalai agar tidak sekali-sekali terlibat dengan narkoba, baik sebagai pemakai apalagi menjadi pengedar. Sebab jika sampai tertangkap menggunakan barang haram itu, sanksinya pemberhentian.
"Hal itu diterapkan karena polisi tidak kebal hukum bahkan sama dengan masyarakat biasa (sipil) yang kalau ketahuan menggunakan narkoba akan segera ditindak," sebutnya. Sinulingga menambahkan, Kapolres Tanjungbalai mengharapkan kepada seluruh personilnya agar dalam menjalankan tugas hendaknya selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan, agar mendapat bimbingan dan petunjuk dalam setiap langkah dan tindakan.
"Meningkatkan disiplin pribadi dan kesatuan sebagai benteng untuk menjauhi diri dari perbuatan yang dapat merugikan nama baik pribadi dan Korps. Peliharaan sikap, tingkah laku, dan tutur kata dalam menjalani hibungan dengan rekan sesama dan masyarakat. Sehingga dapat menjadi tauladan bagi keluarga dan masyarakat," pungkasnya. (mag02/syaf)




Gunakan Jasa Dukun Palsu, Ngaku Tuk Angkat Harta Karun
TANJUNGBALAI – Entah apa yang ada dipikiran Anwar Syah (52) warga Jalan Prof HM.Yamin, Lingkungan III, Kecamatan Tanjungbalai Utara. Ia nekat menipu istrinya sendiri dengan bersekongkol bersama kerabatnya yang mengaku sebagai dukun yakni  Zakaria (70) warga Dusun X, Gang Dame, Desa Pekan Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Sedang Bedagai. Akibat ulahnya Anwar Syah dan Zakaria kini diringkus Unit Reskrim Polsek Tanjungbalai Selatan, Kamis (31/3).

     Anwar Syah dan Zakaria (pakai lobe) saat digiring petugas sat Reskrim ke Mapolsek Tanjungbalai Selatan. (riki/METRO TANJUNGBALAI)

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawak SIK, melalui Kapolsek Tanjungbalai Selatan Kompol Rahman Takdir didampingi Kanit Reskrim AKP Suharmono, Jumat (1/4) mengatakan kedua pelaku diamankan berdasarkan aduan dari Jamilah Panjaitan (53) yang merupakan istri dari Anwar Syah.
Dikatakan Suharmono, pada bulan Februari lalu, Anwar bersekongkol dengan Zakaria merayu korban dengan iming-iming akan diberi harta karun. Namun untuk mengambil harta karun tersebut pelaku meminta korban memberikan uang untuk membeli  persyaratan mengangkat harta karun tersebut. Agar aksinya tidak mencurigakan dan menyakinkan korban sang dukun berpura-pura kerasukan.
"Untuk melancarkan aksinya, Anwar membujuk istrinya agar menyerahkan sejumlah uang untuk menebus mahar sang dukun yang dapat memperkaya dirinya jika berhasil mengangkat harta karun," kata Suharmono.
Namun setelah korban memenuhi permintaan suaminya, harta yang dijanjikan tak kunjung ada. Hingga Korban merugi Rp120 juta
"Dari tangan kedua pelaku petugas mengamankan barang bukti berupa prangkat alat perdukunan seperti keris, kendi, batu, daun, kain kuning serta perhiasan emas palsu yang digunakan pelaku untuk meyakinkan korbanya," ujar Suharmono.
Zakaria saat diwawancari awak media ini mengaku nekat melakukan aksinya karna disuruh oleh suami korban yang mendatangi dirinya. Saat itu suami korban meminta tolong agar ia bisa mendapatkan uang dari istrinya. Menurut Zakaria, dirinya memang seorang dukun karena sering mengobati orang lain
"Dia mendatangi aku minta tolong, cemana agar dia dapat uang dari istrinya. Di situlah Anwar membuat siasat agar bisa mendapat uang dari istrinya.. Karena aku kasian liat dia, jadi aku bantulah," ujarnya.
Sedangkan Anwar mengaku dirinya nekat menipu istrinya sendiri karena dirinya tidak mempunyai pekerjaan dan ingin mempunyai uang banyak.
"Gak ada kerjaanku pak, aku butuh uang," sebutnya.
Dikatakannya, atas perbuatan kedua pelaku dijerat pasal 378 KUHP dan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya. Kini kedua tersangka mendekam di sel tahanan polisi. (mag02/syaf)






Diberdayakan oleh Blogger.