JAKARTA-Bulan Ramadan akan datang sebentar lagi. Berbagai persiapan atau rencana pastinya sudah dilakukan oleh seluruh umat Muslim di dunia. Begitu juga kiranya dengan aktris cantik Dinda Kanyadewi yang tengah sibuk syuting sinetron Catatan Hati Seorang Istri 2.
CHSI 2 adalah sinetron stripping yang pastinya harus melakukan pengambilan gambar setiap hari, termasuk di bulan Ramadan. Untungnya saja Dinda sudah melakukan berbagai persiapan untuk beribadah puasa.
"Mungkin karena sebelumnya pernah juga puasa saat stripping jadi nggak terlalu syok. Pas tahun sekarang paling pengen lebih tingkatin ibadahnya. Terus pengen bayar utang (puasa) dulu, kalau ceweknya kan suka ada utang puasa. Terus paling siapin sahur atau buka sendiri, karena kan sudah nggak ada mama. Sudah kepikiran juga sih nanti sahur mau siapin apa yang nggak ribet," kata Dinda usai ditemui preskon program Ramadhan RCTI di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.
Biasanya nih tiap orang memiliki menu wajib untuk disantap saat sahur atau berbuka puasa. Dinda bilang kalau dirinya tak termasuk tipe yang harus makan ini atau itu. Dia bisa makan apapun yang tersedia.
"Entah kenapa rasa biji salak itu berbeda saat puasa dengan tidak puasa. Padahal kalau hari-hari biasa juga banyak yang jual, tetapi pas puasa rasanya beda aja. Paling itu sih yang dikangenin pas puasa. Mungkin memang kalau sekarang lagi kurangin goreng-gorengan, jadi paling akan merindukan tahu goreng isi. Karena itu makanan favorit aku juga" ujar bintang film KAWIN KONTRAK ini.
Dinda juga tak ada tips yang aneh-aneh untuk menjaga kesehatan saat puasa sambil syuting stripping. Dia hanya memilih makanan yang sehat saat sahur dan buku seperti sayur dan buah, pokoknya katanya harus seimbang.
"Jadi jangan sampai kekurangan asupan, apalagi kita kan sambil kerja. Terus aku sendiri juga nggak suka makan yang vitamin atau tablet gitu, jadi paling makan yang alami aja," pungkasnya. (int)



JAKARTA-Perusahaan Listrik Negara (PLN) berancang-ancang menaikkan tarif listrik pada hari ini Rabu, 1 Juni. Meski memastikan kenaikan tarif listrik, PLN belum bersedia melansir persentasenya.
Dirut PLN Sofyan Basir menyatakan, nilai tukar rupiah yang lemah meningkatkan komponen biaya bahan bakar pembangkit listrik. Untuk mengimbangi kenaikan bahan bakar, PLN harus menyesuaikan harga.
’’Biayanya naik tipis. Sebab, komponen milik kami, yaitu pembangkit listrik yang menggunakan BBM, kecil sekali,’’ ujarnya.
Ada tiga faktor yang menentukan besaran tarif dasar listrik (TDL). Yakni, nilai tukar atau kurs, inflasi, dan harga minyak. Nilai tukar menjadi faktor yang besar karena PLN harus membeli listrik dari penyedia swasta atau independent power producer (IPP). ’’Kami bayar ke IPP pakai dolar,’’ terangnya.
Mantan Dirut BRI itu tidak membuka angka pasti besarnya kenaikan TDL bagi 12 golongan pengguna listrik. Meski demikian, pengguna tarif listrik bersubsidi, khususnya pelanggan listrik berdaya 450 VA dan 900 VA, dipastikan masih menggunakan tarif yang lama.
Kepala Divisi Niaga Benny Marbun berjanji, pengumuman kenaikan tarif baru dilansir secara resmi pada Selasa sore hari ini (31/5).
Alasannya, PLN tidak ingin pelanggan berspekulasi dengan terburu-buru membeli token listrik prabayar atau justru menundanya. ’’Ya, ada perubahan (tarif). Besarannya diumumkan besok sore (hari ini, Red),’’ ujarnya.
Sementara itu, komitmen PLN untuk memperbanyak pembangkit dengan energi baru terbarukan (EBT) ditunjukkan dengan penandatanganan power purchase agreement (PPA) 73,6 mw dan excess power 42 mw di Sumatera.
Dengan demikian, total kapasitas pembangkit yang baru dibeli di Sumatera mencapai 115,6 mw. PLN juga menandatangani kesepakatan pengembangan EBT sebesar 14,7 mw.
Direktur Bisnis Regional Sumatera Amir Rosidin menyatakan, tambahan daya tersebut membantu pemenuhan kebutuhan listrik Sumatera yang mencapai 5.250 mw. ’’Semoga dalam waktu dua tahun, pembangkit sudah berjalan dan manfaatnya mulai dirasakan,’’ jelasnya.
Sampai akhir Mei, pembangkit EBT yang terbangun cukup banyak. Pembangkit minihidro dengan kapasitas kurang dari 10 mw, misalnya, sudah beroperasi dengan kapasitas pembangkitan 115 mw di 31 lokasi. Selain itu, ada 18 pembangkit minihidro yang berdaya 130 mw masih dibangun.
Di sistem kelistrikan Sumatera, 35,7 persen dipenuhi pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar gas dan 32,6 persen dipenuhi PLTU berbahan bakar batu bara.
Selain itu, pembangkit listrik tenaga air menyumbang 16 persen, panas bumi baru mencapai 2,7 persen, dan sisanya masih menggunakan bahan bakar minyak.
 (dim/c5/noe)




BATUBARA- Kehadiran perusahaan seyogiyanya memberi dampak positif bagi masyarakat. Tapi warga dari delapan desa di Kecamatan Limapuluh, Batubara, terutama yang bermukim di sekitar PT Kwala Gunung, merasakan sebaliknya. Mereka mengaku mengalami sengsara berkepanjangan.

Saat ini, mereka harus berurusan dengan pihak berwajib atas laporan PT Kwala Gunung dengan tuduhan melakukan perusakan fasilitas umum (fasum). Terutama warga Sumber Rejo, Kecamatan Limapuluh, Batubara, harus meluangkan waktu memenuhi panggilan penyidik Polres Batubara.
Perusakan fasilitas umum ini bermula dari tindakan warga membuat galian parit sebagai pembatas antara desa dengan lahan PT Kwala Gunung. Ternyata tindakan inilah yang kemudian membuat mereka harus berurusan dengan polisi.
Tak hanya itu, kasus lembu warga masuk ke lokasi perkebunan juga dilaporkan PT Kwala Gunung ke Polres Batubara.
Sementara akses-akses jalan yang dilalui anak-anak sekolah dari delapan desa justru dipasang portal. Seperti pemasangan portal di belakang RSUD Batubara. Oleh warga, pemasangan portal ini juga sudah dilaporkan warga tapi belum mendapat respon dari pihak kepolisian.
Sejak itu, hubungan PT Kwala Gunung dengan masyarakat sekitar tidak harmonis.
Inilah antara lain sebentuk kesengsaraan warga yang hingga kini belum tuntas. Sehingga warga dari delapan desa di Kecamatan Limapuluh, yakni Desa Sumber Rejo, Desa Empat Negeri, Desa Simpang Dolok, Desa Kwala Gunung, Desa Antara, Desa Cahaya Pardomuan, Desa Sumber Padi, dan Gelugur Makmur, melakukan reaksi melawan ketidakadilan.
Selain beberapa kali berunjuk rasa menuntut keadilan ke Polres Batubara, mereka juga meminta dukungan politik DPRD dan Bupati Batubara. Dalam setiap aksi, masyarakat mendesak agar PT Kwala Gunung segera hengkang dari Batubara.
Argumen mereka antara lain karena Hak Guna Usaha (HGU) yang menjadi dasar bagi PT Kwala Gunung, untuk beroperasi di Kabupaten Batubara selama ini sudah berakhir sejak 2006.
Persoalan ini pun kemudian menarik perhatian Komisi A DPRD Propinsi Sumatera Utara (DPRDSU). Sebagaimana terungkap Kamis (12/5), saat Komisi A DPRDSU melakukan kunjungan kerja ke Batubara.
Dalam pertemuan yang digelar di Aula Paripurna Kantor DPRD Batubara, Anggota Komisi A DPRDSU P Situmorang mengungkapkan bahwa PT Kwala Gunung diduga melakukan penyelewengan pajak serta melakukan pembuangan limbah cair sehingga mencemari lingkungan.
Atas situasi itu, masyarakat dari delapan desa di Kecamatan Limapuluh berkesimpulan bahwa kehadiran PT Kwala Gunung sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Dan, mereka memutuskan menolak keberadaan PT Kwala Gunung. 
Dalam waktu dekat, masyarakat dari delapan desa tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu (ARB) berencana kembali menggelar unjukrasa dengan jumlah massa lebih besar. Tuntutan mereka meminta agar PT Kwala Gunung hengkang dari Batubara.
“Yang ada PT Kwala Gunung membawa sengsara dan penderitaan berkepanjangan bagi masyarakat," ujar Koordinator Aliansi Rakyat Bersatu (ARB) Edison Dolok Saribu dan Jumar, Selasa (31/5), di Limapuluh. Mereka mengungkapkan, massa yang akan berdemo, yakni dari Desa Sumber Rejo, Desa Empat Negeri, Desa Simpang Dolok, Desa Kwala Gunung, Desa Antara, Desa Cahaya Pardomuan, Desa Sumber Padi, dan Gelugur Makmur.
Selain mendesak PT Kwala Gunung hengkang, mereka juga sudah menyurati PT Lonsum Dolok Estate Limapuluh agar meninjau kembali pemberian izin penggunaan jalan bagi PT Kwala Gunung.
“Karena sejak tahun 1960 hingga sekarang, kehadiran PT Kwala Gunung sama sekali tidak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” timpal Edison.
Desakan agar PT Kwala Gunung segera tutup juga mendapat dukungan dari Anggota Pansus DPRD Batubara Darniah Idha Nasution. Sebab, masyarakat sudah menyatakan penolakan terhadap keberadaan PT Kwala Gunung.
“PT Kwala Gunung sebenarnya kecil, tapi sombongnya luar biasa," timpal Sekretaris Tim Pansus DPRD Batubara Citra Muliadi Bangun.
Hadir dalam kunker itu, Wakil Ketua Komisi A DPRDSU Ricard P Sidabutar, Anggota Komisi A DPRD Sumut Burhanuddin Siregar. Kemudian Ketua Komisi A DPRD Batubara Sarianto Damanik, Asisten I Lufthi Panjaitan, Kajari Batubara diwakili Kasi Intel, Kapolres Batubara AKBP M Agung Suyono SIK,  Dandim 0208 Asahan diwakili Danramil Limapuluh Kapten Inf Zulpan, Kabag Pemerintahan Pemkab Batubara Diding Yusni Damanik, Kabag Hukum Rahmad Sirait SH, Tim Pansus DPRD DPRD Batubara, sejumlah Kepala Desa dan Kuasa hukum PT Kwala Gunung Tri Purnomo Widodo SH.
Sementara, kuasa hukum PT Kwala Gunung Tri Purnomo Widodo SH, mengaku lelah dengan permasalahan tersebut. Dia juga mengakui bahwa pihaknya sebenarnya ingin membangun komunikasi yang baik kepada semua pihak, termasuk kepada masyarakat.
Kemudian mengenai izin telah habis, Widodo menerangkan bahwa HGU masih dalam proses perpanjangan.
"HGU memang sudah berakhir, namun saat ini masih dalam proses perpanjangan," katanya. (wan/dro)


TANJUNGBALAI – Terhitung sejak lima bulan terakhir sudah empat nyawa pengawal kapal pengangkut ball press pakaian bekas (monza) selundupan yang melayang. Namun tidak jelas penanganan hukum terkait masalah tersebut.
 Hal itu diungkapkan Ketua LSM Merdeka Kota Tanjungbalai Jaringan Sihotang, Nursyahruddin SE kepada koran ini, Selasa (31/5).
"Hanya dalam tempo lima bulan saja, sedikitnya sudah ada empat orang warga Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan yang tewas saat mencoba melindungi kapal pengangkut barang selundupan dari sergapan aparat keamanan. Anehnya, hingga saat ini belum ada pihak yang bertanggung jawab atas tewasnya keempat warga yang disebut-sebut sebagai pengawal dari barang seludupan tersebut," ujar Nursyahruddin kepada koran ini.
Menurut Nursyahruddin seharusnya pihak kepolisian mengusut tuntas peristiwa yang menyebabkan orang lain meninggal dunia itu, apapun alasannya, bukan justru membiarkannya.
"Kalau korban-korban yang tewas itu adalah pengawal dari barang-barang seludupan yang akan ditangkap petugas, maka pihak kepolisian seharusnya mengusut dan menangkap pengusaha barang selundupan yang menggaji mereka. Sayangnya, hingga saat ini, sudah empat warga masyarakat yang kehilangan nyawa, namun tidak ada satu pun pihak yang bertanggung jawab dan ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang menyebabkan orang lain kehilangan nyawa," pungkas Nursyahruddin.
Ditemui terpisah, hal senada juga diungkapkan Jaringan Sihotang, Kordinator Daerah (Korda) Indonesian Corruption Watch (ICW) Kota Tanjungbalai. Katanya, jika memang kelalaian petugas yang menyebabkan keempat warga Tanjungbalai dan Asahan itu harus kehilangan nyawa, maka petugas terkait harus bertanggungjawab dan meminta maaf kepada keluarga yang ditinggalkan korban.
"Memang aneh sistem penegakan hukum di Kota Tanjungbalai ini, empat nyawa hilang dalam tempo lima bulan, namun proses hukum tidak berjalan. Sementara, aksi penyeludupan barang-barang eks luar negeri ke Tanjungbalai tetap berjalan dengan lancar," papar Jaringan Sihotang.
Melihat kondisi lemahnya upaya penegakan hukum itu, Jaringan Sihotang mempertanyakan kredibilitas institusi kepolisian dalam menegakkan hukum di Kota Tanjungbalai. Jaringan Sihotang juga khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, Kota Tanjungbalai akan berubah menjadi kota coboy, yakni kota yang penegakan hukumnya berada di muncung pistol.
Seperti diketahui, sejak Januari 2016 lalu, satu persatu warga Kota Tanjungbalai telah kehilangan nyawa saat aparat keamanan berusaha menangkap barang-barang seludupan. Dan jatuhnya korban keempat yakni seorang warga Asahan Mati yang berbatasan dengan Kota Tanjungbalai terjadi pada pertengahan Mei 2016 lalu, juga dengan dalih mengamankan barang seludupan dari sergapan petugas keamanan.
Akan tetapi, anehnya, hingga saat ini, tidak satupun dari kasus tewasnya keempat korban itu yang ditindaklanjuti pihak kepolisian. Sehingga, pihak kepolisian terkesan, sengaja membiarkan terjadinya kasus pembunuhan itu untuk kepentingan pribadi karena aksi penyeludupan masih tetap berlangsung dengan lancar.
Sekedar mengingatkan, Kapal KM Ardy GT 30 pengangkut ball pres pakaian bekas (monza) di peraian Selat Malaka ditangkap petugas Bea Cukai (BC) Tanjungbalai. Saat melakukan penangkapan kapal tersebut petugas BC diserang 36 preman bayaran yang mengawal kapal dengan senjata tajam berupa parang, kampak, tombak, dan bom molotov.
Setelah hampir 1 jam para pereman tersebut melakukan perlawan, petugas BC yang merasa terancam melepaskan meriam air (water canon) kepada para pereman bayaran tersebut. Akibatnya, lima anak buah kapal terlempar ke laut. Dari lima orang tersebut satu orang ditemukan tewas karena diduga tak pandai berenang sehingga tenggelam dan terlalu banyak tertelan air laut.
Informasi diperoleh, saat itu petugas patroli BC Tanjungbalai KM Ardy GT 30 melihat melaju dari arah perairan Malaysia menuju ke Selat Malaka, Selasa (24/5) sekitar pukul 23.30 WIB.  Melihat itu petugas BC langsung mengejarnya.
Namun diduga nahkoda kapal mengetahui jika kapal yang dikemudikannya dikejar petugas BC. Nahkoba KM Ardy GT mencoba melarikan diri. Melihat itu petugas BC mengejar KM Ardy GT dan sempat terjadi kejar-kejaran di laut.
Tiba-tiba muncul 36 orang pengawal KM Ardy GT dan melakukan perlawanan. 
Hampir satu jam perlawanan yang diberikan para pengawal kapal penyelundup monza tersebut. Merasa terancam, petugas BC yang berada di kapal patroli BC 6003 menembakkan meriam air  ke arah preman bayaran tersebut sekitar pukul 00.30 WIB dini hari.
Setelah kapal berhasil diamankan, nampak seorang anak buah kapal yang diduga terkena water canon dan terlempar ke laut mengambang di atas permukaan air.
Adalah Ruslisyah alias Bacha, (54) warga  Desa Sei Apung Jaya, Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan anak buah kapal yang ditemukan tewas mengambang di laut. Bacha diduga terlempar ke laut oleh tembakan Water Canon BC.  
Selain Bacha, ada empat orang lainnya yang terlempar ke laut saat petugas BC melepaskan water canon. Keempatnya yakni Rizki (22), Fauzi (35), Aan (35), dan Rozi, (35). Diduga korban tak sanggup berenang sehingga tewas sementara 31 orang termasuk ABK lainnya digiring petugas BC berikut kapal ke Tanjungbalai Karimun.
"Ada lima orang kami terjatuh ke laut, saya dan tiga teman lainnya menyelematkan diri menggunakan drum dan mengapung di laut. Untung kami diselamatkan nelayan dan dibawa ke darat, kabar kami dengar Bachan meninggal," kata Fauzi
Jenazah Bacha yang telah ditemukan dan dibawa oleh Kapal Basarnas Pos Tanjungbalai Asahan. Korban langsung dibawa  ke rumah duka untuk dimakamkan.
Terpisah Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Teluknibung membenarkan bahwa telah dilakukan penindakan oleh armada patroli BC Tanjungbalai Karimun. Selanjutnya barang bukti disita dan digiring ke dermaga BC Tanjungbalai Karimuan, Kepulauan Riau. (ck5/syaf)

 Jenazah ABK KM Ardy saat dievakuasi petugas Basarnas. (riki/METRO TANJUNGBALAI)
 KM Ardy GT 30 yang mengangkut pakaian bekas dan diamankan petugas BC di Selat Malaka. (riki/METRO TANJUNGBALAI)


TANJUNGBALAI -Petugas Sat Reskrim Polres Tanjungbalai melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan atas nama Rudi Simangunsong di kedai tuak milik Salman Siahaan di Jalan  Jati, Lingkungan V, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai, Selasa (31/5).
Dalam rekonstruksi, pelaku memperagakan dua belas adegan. Dalam adegan tersebut diketahui peristiwa tersebut terjadi, Senin (25/4) sekira pukul 23.30 WIB. Saat itu tersangka Hendra, warga Jalan Bangsal, Kelurahan Matahalasan, Kecamatan Tanjungbalai Utara, Kota Tanjungbalai asyik minum tuak di meja empat. Sedangkan di meja sembilan ada saksi Heriadi dan Maya juga tengah minum tuak sambil bermain kartu.
Saat itu, terjadi keributan antara Heriadi (penjaga warung) dengan Maya sehingga tersangka merasa terusik dan mendatangi mereka. Hen kemudian mengambil sebilah pisau dari pinggangnya dan meletakkannya di atas meja sembari berkata "jangan ribut di sini."
Setelah itu, tersangka kembali ke tempat duduknya sembari membawa pisaunya.
Tak berapa lama, korban Rudi Simangunsong tiba di lokasi dan mencari pemilik warung tuak Salman Siahaan. Rudi kemudian menghampiri kasir Rohani Butet yang duduk di dekat ruangan musik dan mengatakan "ini udah jam 12 malam, mengapa musik belum dimatikan."
Rohani kemudian mematikan musik, namun beberapa saat kemudian Hen menghampiri keduanya sembari bertanya  "ada masalah apa?", selanjutnya Rudi Simangunsong menjawab "apa urusanmu?".
Mendengar pertengkaran mulut itu, Rohani meninggalkan keduanya. Beberapa saat kemudian, tersangka yang tersulut emosi atas jawaban itu berjalan bersama korban mengarah keluar warung tuak. Namun baru selangkah keluar dari pintu warung, tersangka mencabut pisau dari pinggang kirinya dan langsung menikam perut korban sebanyak satu kali. Setelah ditikam, Rudi Simangunsong kemudian pergi sambil berkata "Ok nanti ya."
Usai menikam korban, Hen kembali ke mejanya untuk menghabiskan sisa tuak di gelasnya. Setengah jam menunggu, Rudi Simangunsong tak kunjung muncul, maka tersangka memilih pulang ke rumahnya. Penikaman itu kemudian dilaporkan Efendi Sihotang ke kantor Polisi, sedangkan korban dilarikan ke RSUD Kota Tanjungbalai.
Akibat kondisinya memburuk, korban dirujuk ke rumah sakit di Medan. Berselang tiga hari, Rudi menghembuskan nafas terakhirnya. Pada Selasa (3/5), Hen ditangkap di rumahnya dan mengakui semua perbuatannya.
Pantauan wartawan dalam rekonstruksi tersebut, tersangka memperagakan 12 adegan mulai dari pertama hingga akhir. Rekonstruks berjalan lancar di bawah pengawalan ketat aparat keamanan. Tampak hadir jaksa penuntut umum Kejari Tanjungbalai.
Sekedar mengingatkan, setelah tiga hari mendapat perawatan medis di RS di Medan, seorang nelayan bernama Rudi Simangunsong tewas. Sementara pelaku yang sempat melarikan diri, akhirnya berhasil diringkus polisi. Penikaman terhadap tersangka diduga akibat selisih paham antara korban dan tersangka.
Informasi diperoleh, korban merupakan warga Jalan Djamin Ginting, Lingkungan VI, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai tewas setelah ditikam di Jalan Jati, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai.
Tak berapa lama, polisi menangkap pelaku Hendra warga Jalan Bangsal, Kelurahan Matahalasan, Kecamatan Tanjungbalai Utara, Kota Tanjungbalai.
Pria ini ditangkap tanpa melakukan perlawanan sekaligus, menyerahkan sebilah pisau yang digunakan untuk membunuh korbannya.
"Pelaku sudah kita amankan dan saat ini sedang dalam pemeriksaan, belum diketahui apa motif penikaman ini," kata Kapolres Tanjungbalai, AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasubbag Humas, AKP Y Sinulingga, Kamis (5/5).
Dikatakan  Sinulingga penikaman sekitar sepekan lalu, waktu itu kepolisian menerima laporan dari ipar korban Efendi Sihotang bahwa telah terjadi penikaman. Korban langsung dibawa ke rumah sakit umum Kota Tanjungbalai sedangkan pelaku melarikan diri.
Karena kondisinya memburuk, korban dirujuk ke Medan, namun sayang  berselang tiga hari korban meninggal.
"Pada Selasa (3/5) pelaku Hen ditangkap di rumahnya. Hen kemudian mengakui perbuatannya selanjutnya digelandang ke Polres Tanjungbalai untuk diinterogasi," ucap Sinulingga.
Terpisah tersangka yang coba dikonfirmasi mengaku tega menikam korban karena kesal terhadap korban. Menurut tersangka, ia kesal dengan korban karena ditegur oleh korban.
“Aku khilaf, dia kutikam karena menegurku,” kata tersangka tanpa menjelaskan lebih rinci teguran bagaimana yang dilakukan korban sehingga tersangka tega membunuh korban.
Sementara tersangka yang diboyong ke kantor polisi tampak memakai baju kaos warna biru dan celana jeans warna biru. Di hadapan polisi tersangka mengaku sebagai pelaku penikaman terhadap korban. (mag02/syaf)

 






Pelaku saat memperagakan rekonstruksi penusukan terhadap korban. (riki/METRO TANJUNGBALAI)


TANJUNGBALAI-Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Tanjungbalai mengamankan sepasang pelajar yang keperkok berpacaran di semak-semak pingiran sungai, di Jalan Bangsal, Lingkungan I, Kelurahan Matahalasan, Kecamatan Tanjungbalai Utara, Selasa (31/5)
Kedua pelajar tersebut berinisial AA seorang siswi SMPN Negeri 1 Tanjungbalai dan SN seorang siswa yang baru saja selasai UN di SMP Swasta Dar Alfalah, Kota Tanjungbalai. "Benar tadi kita mengamankan sepasang siswa SMP yang sedang mojok di semak-semak pinggiran sungai bangsal," ujar Kasatpol PP Haikal Akmal Sos melaui Plt Kasi Tarantib Syahlah SH.
Dikatakan Syahlah setelah didata dan dibuat perjanjian, maka kedua siswa smp tersebut  dipulangkan kepada orang tuanya.
"Setelah kita panggil orang tuanya dan kepala sekolah yang bersangkutan maka keduanya diperbolehkan pulang dengan membuat perjanjian tidak mengulangi perbuatanya," kata Syahlan.
Sementara itu kepala sekolah SMPN Negeri 1 Kota Tanjungbalai Ahli Edison saat ditemui koran ini mengatakan bahwa siswi tersebut akan dibina agar tidak mengulangi perbuatanya.
 "Tadi sudah kita buat perjanjian dengan siswi tersebut dengan orang tuanya agar tidak mengulangi hal ini dan kami tidak menolerir akan memberi saksi kepada siswa siswi kami yang berbuat seperti itu," tandasnya.   
Menanggapai hal itu anggota DPRD Kota Tanjungbalai Herna Veva Amd meminta kepada pihak MUI Kota Tanjungbalai agar mengambil andil dalam menciptkan ahlak di lingkungan sekolah ,dan kepada pihak internal sekolah lebih meningkatkan pendidikan ahlak kepada para siswa dan siswinya.
"Kita harapkan dengan kejadian ini pihak MUI Tanjungbalai mengambil andil dalam menciptakan ahlak di lingkungan pendidikan, tak terlepas pihak pendidik agar lebih meningkatkan pelajaran  keagamaan," sebutnya.
Sementara itu sekretaris Dewan Pendidikan Kota Tanjungbalai, Lian Rangkuti mengatakan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali diharapkan peran orang tua senantiasa mengawasi anak anaknya, sebab peran serta orang tua berpengaruh besar terhadap perkembangan anak dalam mendukung dunia pendidikan di Tanjungbalai terutama wajib belajar dua belas tahun yang sudah kita perda kan sejak tahun 2006, dan semua elemen masyarakat harus mendukung.  (mag02/syaf)





  Pasangan kekasih yang masih pelajar SMP tertangkap Satpol PP saat bermesraan di semak-semak. (riki/METRO TANJUNGBALAI)

 Petugas Basarna dibantu warga mengevakuasi jenazah Daniel murid SD yang tewas di Sungai Asahan. Mayat korban ditemukan terapung di Pulau Lebos. (riki/METRO TANJUNGBALAI)

TANJUNGBALAI-Sehari dinyatakan hilang terseret arus sungai Asahan, Daniel Panjaitan (11) warga Gang Anggrek, Perumnas Batu 5, Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai ini ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Mayat Daniel terapung di Sungai Asahan tepatnya di sekitar Sei Udang atau Pulau Lebos, Selasa (31/5) sekira pukul 11.30 WIB.
Pantauan METRO, mayat bocah kelas 5 SD ini ditemukan mengambang di pinggiran sungai dalam keadaan telungkup. Jenazah kemudian dievakuasi Tim gabungan petugas Basarnas dan BPBD Tanjungbalai ke rumah duka.
Kepala Pos Basarnas Tanjungbalai Asahan Zul Indra melalui petugas lapangan Romi Erwin Syahputra mengatakan, jasad korban ditemukan 2 mil dari TKP tepatnya dis ekitar Pulau Lebos atau Sei Udang
"Jasadnya kami temukan terapung di sekitar Pulau Lebos atau Sei Udang saat melakukan pencarian. Jasad korban kami temukan sekitar pukul 11.30 WIB," ujar Romi.
Saat evakuasi jasad korban di Balai Diujung Tanjung ayah kandung korban Jhony Panjaitan yang melihat jasad anak lelakinya yang tak bernyawa menjerit dan meratap histeris. Terasa berat beban yang dialami Jhony atas kepergian anak kesayangannya itu. Selanjutnya jasad korban langsung dibawa ke rumah duka di Gang Anggrek, Perumnas Batu 5, Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai untuk dikebumikan.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang bocah bernama Daniel Panjaitan (11) warga Perumahan Perumnas, Gang Anggrek, Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar diduga terbawa arus Sungai Asahan saat mandi-mandi bersama temannya, Senin (30/5). Ibu korban yang mengetahui anaknya tenggelam di sungai menjerit histeris: “Tuhan Tolong Selamatkan Anakku.”
Informasi diperoleh kejadian berawal saat korban bersama 6 teman temannya Oka Abdurrahman, Adi, Jaya, Ino, Valen, Salem, berangkat dari Perumnas Sijambi naik sepeda menuju Balai di Ujung Tanjung Sungai Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai. Sesampainya di sana, korban mandi dengan bermain sebatang pisang di pinggiran sungai.
Korban bersama Adi dan Jaya kemudian naik ke atas batang pisang tersebut dan mengayuhnya. Diduga tanpa disadari mereka terseret arus hingga ke tengah dan akhirnya terjatuh dan tenggelam.
Adi dan Jaya berhasil diselamatkan ABK kapal pukat apung yang sedang lego jangkar. Namun Daniel hilang dan sempat melambaikan tangan meminta pertolongan sebelum ditelan sungai.  (mag02/syaf)

 



Ayah dari Daniel menjerit histeris saat melihat jenazah anaknya yang hanyut di sungai Asahan dievakuasi petugas Basarnas. (riki/METRO TANJUNGBALAI)


Lagu Perjuangan Menyambut Kedatangannya di Tanjungbalai
Perjuangan selama tiga belas tahun di luar negeri, membuatnya terkenal saat pulang meninggalkan Port Said, Mesir ke Indonesia via Singapura, sebuah provinsi Malaya saat itu. 

Jumat, 28 November 1936, dia kembali ke tanah air melalui Pelabuhan Teluk Nibung Tanjungbalai tepat pukul 15.45, dengan menumpang Kapal Kampar dari Bengkalis.
Kedatangannya, tanpa diduga-duga telah diketahui oleh masyarakat Tanjungbalai. Sehingga, secara spontan, masyarakat yang rindu dengan jiwa perjuangan tersebut menyambutnya di pelabuhan dengan lagu-lagu perjuangan, Tala'ah Badru Alaina.
Diapit oleh adiknya Zakaria Abdul Wahab Harahap yang menjemputnya di Bengkalis, dia mendekati satu persatu masyarakat yang menyambutnya dengan sebuah kehangatan akan harapan untuk membela harga diri bangsa dari kezaliman penjajah.
Dapat dipahami kedatangannya ke Tanah Air kemudian dipersulit oleh penjajah Belanda, sehingga beberapa persoalan dan kesulitan juga menyambutkan bersama sambutan hangat dan menggebu-gebu dari masyarakat untuk tokoh pergerakan nasional ini.
Namun, kewibaan dan kesabaran yang ditunjukkannya membuatnya dapat bertaham dan kemudian mendirikan sebuah institusi pendidikan dengan nama "Gubahan Islam". Yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjungbalai. Beberapa tokoh setempat berlomba-lomba menbantunya seperti H. Abdur Rahman Palahan dan H. Abdul Samad.
Beberapa kali insiden yang mengarah kepada kekacauan sosial diciptakan oleh intel-intel penjajah untuk membuat gap antara masyarakat dengan lembaga pendidikan tersebut. Namun setiap kali itu pula si Harahap ini berhasil mengatasinya dengan karisma yang terletak di pundaknya.
Pendidikan yang diterapkannya di perguruan tersebut semakin lama semakin meningkat. Beberapa tahap dan level pendidikan didirikan untuk memenuhi permintaan masyarakat. Level pendidikan umum, dewasa, dan juga pendidikan politik bagi aktivis-aktivis kemerdekaan.
Namun, sebagai seorang pemikir dan intelektual, kegiatannya tidak terpaku pada kegiatan ajar-mengajar. Dia juga terlibat dalam riset dan penelitian demi memajukan sistem sosial masyarakat di Tanjungbalai. Beberapa hasil riset dan pemikirannya tersebut tertuang dalam beberapa buku, antara lain "Burhan al-Makrifah". Artikel-artikelnya dimuat di hampir semua koran-koran di berbagai kerajaan dan kesultanan, yang sekarang menyatu menjadi Sumatera Utara.
Beberapa kali Belanda mengeluarkan perintah rahasia untuk membungkamnya. Beberapa peraturan baginya dibuat khusus termasuk larangan untuk mengajar.
Paska kemerdekaan RI, nasionalisme di Tanjungbalai mencapai puncaknya. Dia diangkat menjadi Ketua Nasional Kabupaten Tanjungbalai, untuk menegaskan kemerdekaan RI dari belenggu kolonialisme Belanda.
Di Tebing Tinggi, dia menggalang solidaritas sesama ulama se Sumatera Timur pada tahun 1946 dan merumuskan beberapa fatwa untuk membantu ummat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ibadah yang mereka hadapi.
Maka tidak heran, rakyat di Sumater Timur sangat merindukan kehadirannya saat dengan lantang menunjukkan keberaniannya untuk menurunkan bendera Jepang di Kantor Gun Sei Bu di Tanjungbalai. Sesuatu yang menurut orang banyak sebagai tindakan yang sangat nekat untuk ukuran zaman penjajahan Jepang yang otoriter tersebut.
Di sela-sela tanggung jawab sosial yang diembannya, dia masih bersedia untuk diangkat menjadi Penanggung Jawab sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Nasional "Islam Merdeka" yang kemudian diubahnya menjadi Majalah "Jiwa Merdeka".
Untuk mengisi kekosongan birokrasi dari kurangnya SDM Sumatera Timur saat itu, Gubernur Sumatera, Mr. T. M Hasan memintanya untuk menjadi Kepala Baitul Mal Jawatan Agama pada tahun 1946, yang berkedudukan di Pematang Siantar.
Paska kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali lagi dalam sebuah agresi militer yang dikenal Agresi Belanda I pada tahun 1947. Dia yang menjadi target operasi Belanda akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke Pulau Simardan. Enam hari setelah agresi tersebut dia menungunjungi rumahnya di Jalan Tapanuli, Lorong Sipirok, Tanjungbalai untuk mengambil perbekalan. Jam 10.00 pagi dia ditangkap oleh Belanda.
Dengan dakwan telah memprovokasi pemuda Indonesia untuk merdeka dia ditembak mati oleh Belanda pada hari Minggu 24 Agustus 1947 pukul 11.00. Dia tewas dalam umur 50 tahun dan dikuburkan di penjara Simardan. (****)

Aktif Dalam Politik untuk Menentang Kolonialisme
Siapa kah ketua DPRD Asahan pertama? Mungkin para generasi muda Kabupaten Asahan sudah melupakannya, namun bagi para generasi yang lahir era tahun 1950 an hingga 1970 an pasti masih mengingat namanya. 

Ia adalah Syeh Ismail Abdul Wahab yang memiliki nama lengkap, Assyahid Fi Sabilillah Syeikh Ismail bin Abdul Wahab Tanjungbalai. Dia dilahirkan di Kom Bilik, Bagan Asahan, pada tahun 1897 dari seorang ayah bernama H Abdul Wahab Harahap dan ibu bernama Sariaman. Ayahnya berasal dari Huta Imbaru, Padang Lawas, Tapanuli Selatan.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar, dia melanjutkan pendidikan, khususnya, agama ke salah seorang ulama di Tanjungbalai, kepada al-Marhum Syeikh Hasyim Tua serta beberapa ulama lainnya. Tanjungbalai, selain kota pelabuhan yang sangat ramai, juga merupakan pusat pendidikan agama Islam di Kesultanan Asahan. Para mahasiswa dari berbagai negeri menjadikan Tanjungbalai sebagai tujuan pendidikan, seperti, Kerajaan Kotapinang, Kerajaan Pane dan lain sebagainya.
Pada tahun 1925, untuk melengkapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dia berangkat ke Mekkah, yang menjadi pusat pertemuan intelektual-intelektual Islam sedunia. Di sana dia mengembangkan kemampuannya selama lima tahun sambil menunaikan ibadah haji.
Tidak puas dengan standarisasi ilmu di Mekkah, dia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar di Kairo, Pada tahun 1930. Dia menamatkan berbagai jenjang di antaranya, Aliyah, Alimiyah, Syahadah Kulliah Syar'iyah dan Takhassus selama dua tahun.
Syahadah Aliyah saat itu setingkat dengan sarjana. Alimiyah setingkat dengan master. Syahadah Kulliah Syar'iyah merupakan pendidikan spesialisasi. Takhassus merupakan pendidikan tingkat Doktor sesuai dengan kurikulum Islam saat itu.
Pendidikan yang sangat lama itu tidak menjadi halangan baginya, walau dengan pengorbanan meninggalkan putrinya yang masih kecil, bernama Hindun, yang lahir sesaat sebelum dia berangkat di Mekkah.
Aktvitasnya tidak saja dicurahkan untuk penguasaan ilmu, dia juga aktif dalam politik untuk menentang kolonialisme. Berbagai kegiatan tersebut mengantarnya menjadi Ketua 'Jamiatul Khoiriyah', sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir.
Perjuangan melawan kolonialisme tersebut diperluas ke segenap puak Melayu yang berada dalam terkaman bangsa kolonial. Diapun terpilih menjadi Ketua Persatuan Indonesia Malaya selama tiga tahun. Selama kepemimpinannya dia berhasil membangun solidaritas dan nasionalisme di jiwa para pemuda Indonesia dan Malaysia yang belajar di Mesir.
Di Tanah Air, gaung nasionalisme tersebut semakin menjalar di kedua negara, sehingga nama Parpindom, akromin organisasi mereka tersebut, memberi harapan yang sangat jelas mengenai nasib bangsa yang terjajah itu.
Kesadaran politik di Indonesia dan Malaysia semakin berkembang pesat, saat beberapa tulisannya terbit di majalah-majalah di kedua negara. Majalah Dewan Islam, Medan Islam dan lain-lain, merupakan corong politik baginya yang menimbulkan kepercayaan diri bagi bangsa pribumu dengan nama samaran di koran; "Tampiras". (bersambung)



1 Tewas, 2 Kritis 
KISARAN- Kecelakaan maut terjadi di Jalan Prof M Yamin, Kelurahan Kisaran Naga, Kisaran Timur, Minggu (29/5), sore sekira pukul 16.30 WIB. Dua sepedamotor terlibat kecelakaan, satu tewas dan dua kritis.

Korban meninggal dunia adalah Yolanda Wulan Sari (17), warga Jalan Jend. Gatot Subroto, Kelurahan Sentang,  Kecamatan Kisaran Timur.
Saat itu, Yolanda mengendarai sepedamotor Honda Vario BK 5586 VBC berboncengan dengan rekannya Sri Umami (17), warga Dusun VIII, Desa Pondok Bungur, Kecamatan Rawang Panca Arga, Asahan.
Mereka melaju dari arah kota Kisaran menuju Kedai Ledang. Dan kecelakaan hebat terjadi persis di depan Kantor UPTD Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara.
Saat bersamaan, Juri Efendi (40), yang mengendarai sepedamotor Yamaha Mio melaju kencang dari arah sebaliknya, Kedai Ledang menuju Kota Kisaran. Tapi Juri Efendi diduga melaju di sisi kanan sehingga bertabrakan dengan Honda Vario yang dikendarai Yolanda.
Akibat kejadian itu, Yolanda tewas di tempat. Rekannya Sri Umami mengalami luka-luka cukup serius. Juri Efendi, warga Jalan Beting, Kelurahan Mutiara, Kecamatan Kisaran Timur, juga mengalami kondisi kritis. Kemudian keduanya dilarikan ke ICU (Intensive Care Unite) Rumah Sakit Umum Daerah Haji Abdul Manan Simatupang (RSUD HAMS).
Menurut BRIPKA Manda, petugas Sat Lantas di tempat kejadian perkara (TKP), kedua pengendara bertemu di sisi kiri badan jalan dari arah Kisaran, sehingga terjadi tabrakan. Korban Yolanda meninggal dunia dan dua orang lagi sekarat dan dirawat intensif di rumah sakit.
Tukini (42), ibu korban Yolanda kepada METRO ASAHAN mengatakan bahwa dia sudah mendapat firasat sebelum kejadian maut menimpa putrinya. Sebelum kejadian, dia mengaku sejak awal sudah menduga akan ada anggota keluarganya yang meninggal dunia.
“Tadi siang pukul 11.00 WIB, gitu aku dipaksa Wulan membeli celananya. Yang dipakainya itulah celana yang kami beli tadi,” kata Tukini, sembari berurai air mata dan memeluk jasad putri ke-4 dari lima bersaudara itu.
“Panas-panas kami ke pajak (Pasar Inpres, red),” katanya lagi.
Tukini mengisahkan, malam tanggal 27 Mei, ia juga bermimpi. Dalam mimpinya itu, ada yang menyuruhnya menebang pohon pisang. Di mimpi itu, Tukini sempat berulang kali berpikir untuk menebang pohon pisang yang masih muda tersebut.
“Rupanya inilah maksud mimpiku itu dan pertanda putriku tadi siang memaksa untuk membeli celana itu,” kata Tukini. (mag 01/dro)





Tukini (pakai kaos merah) tampak memegangi jasad putrinya Yolanda Wulan Sari, yang meninggal dalam kasus laka lantas, Minggu (29/5) sore.
(BAWADI AN SITORUS/METRO ASAHAN)

 





Bupati Batubara H OK Arya Zulkarnain SH MM bersama lima putra terbaik Batubara; Khairil Anwar SH MSi, Drs H Sofyan Alwi MHum, Drs Darwis MSi, H Elfi Haris SH MHum, dan Mukhlis Bachtin, dalam Acara Pelantikan PC MABMI Kecamatan Tanjung Tiram, Minggu (29/5) malam. (HARI PRAMANA/METRO ASAHAN)



BATUBARA- Pemilihan kepala daerah (pemilukada) di Kabupaten Batubara periode 2018-2023, masih jauh. Tapi, desas-desusnya sudah mulai terasa.
Bahkan Bupati Batubara H OK Arya Zulkarnain SH MM sudah memulainya. Pada Acara Pelantikan Pengurus Cabang Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PC MABMI) di Kecamatan Tanjung Tiram, Minggu (29/5) malam, OK Arya Zulkarnain memperkenalkan putra terbaik Batubara yang digadang-gadang sebagai balon Bupati Batubara periode 2018-2023. 
Sambil bersenandung, Bupati OK Arya Zulkarnain yang juga Ketua Dewan Pengurus MABMI Kabupaten Batubara memanggil satu per satu lima putra terbaik Batubara dan memperkenalkannya di hadapan undangan acara pelantikan yang berlangsung di Lapangan Kantor Camat Tanjung Tiram.
Kelima putra terbaik Batubara itu, yakni Khairil Anwar SH MSi, Drs H Sofyan Alwi MHum, Drs Darwis MSi, H Elfi Haris SH MHum, dan Mukhlis Bachtin.
OK Arya Zulkarnain, dalam pidatonya, mengatakan bahwa tantangan yang besar para generasi muda itu adalah narkoba. Namun generasi muda di Kabupaten Batubara, juga sudah membawa nama baik Batubara hingga ke tingkat nasional. Ia mencontohkan peranan seniman seperti Lomba Kasidah di Indosiar, yang diikuti para generasi muda dari Kecamatan Tanjung Tiram, dan diharapkan terus didukung untuk membesarkan nama Kabupaten Batubara.
OK Arya dalam titahnya juga mengharapkan agar MABMI bisa menjadi perekat sesama etnis di daerah dan menjadikan organisasi Puak Melayu ini sebagai momentum membangkitkan budaya di Negeri Bertuah.
"Kepada balon Bupati Batubara, saya berpesan raihlah dengan baik simpati masyarakat Batubara. Sebab masyarakat Batubara merupakan masyarakat yang terbuka dan mereka juga paham dan kritis. Maka kenalkanlah diri kepada masyarakat Batubara secara keseluruhan," pesan OK Arya.
Sebelum mengakhiri pidatonya, OK Arya Zulkarnain merangkai pantun; ‘Ikan Kederai Ikan Selangit, Tak Kalah Lomak Ikan Tenggiri, Kepada PC MABMI Kecamatan Tanjung Tiram, saya ucapkan selamat, semoga menjadi Pioner pembangunan negeri," kata OK Arya Zulkarnain yang dijuluki sebagai Datok Setia Amanah itu.
Untuk diketahui, berdasarkan SK Nomor:13-ORG/PD.MABMI/BB-KPT/II/2016, tertanggal 22 Februari 2016, susunan PC MABMI Kecamatan Tanjung Tiram, Batubara, periode 2016-2020, H Hamdan Idris (ketua), Zulkifli Usman (Sekretaris), dan Zamaluddin (Bendahara), serta sejumlah pengurus lainnya.
Hadir dalam acara tersebut, sejumlah Anggota DPRD Batubara, Camat Tanjung Tiram Zahari SE, pengurus PC MABMI Kecamatan se-Kabupaten Batubara, pemangku adat, tokoh masyarakat, alim ulama, lurah, dan para kepala desa serta undangan lainnya. (wan/mag-03/dro)





 



1 Kg Sabu Diamankan
 KISARAN- Sat Narkoba Polres Asahan berhasil mengungkap sindikat narkoba jaringan internasional, Indonesia-Malaysia. Seorang kapten kapal memiliki peranan besar sebagai penghubung antara pembeli dengan bandar besar warga Malaysia.



Dalam pengungkapan kasus ini, empat orang tersangka dan barang bukti 1 kilogram (kg) sabu diamankan. Para tersangka merupakan sindikat pengedar sabu-sabu jaringan internasional.
Keempat tersangka masing-masing inisial YA (36), warga Sentang, Kecamatan Kisaran Timur, RD (33), warga Kelurahan Bandar Sinembah, Kecamatan Limau Sundai, Kota Binjai, SM, warga Aek Loba Pekan, Kecamatan Aek Kuasan, Asahan, dan TM, warga Simpang Limun Medan.
Tatan menjelaskan peranan masing-masing tersangka. YA adalah seorang kapten kapal berperan sebagai penghubung antara pembeli dengan bandar besar warga Malaysia berinisial MU. RD, orang kepercayaan MU yang ditugaskan mengawasi transaksi narkoba di Indonesia.
"Sementara TM sebagai kurir setelah barang tiba dari Malaysia. Dan SM adalah pembeli sabu-sabu melalui YA," ungkap Kapolres Asahan AKBP Tatan Dirsan Atmaja, kepada wartawan saat menggelar konferensi pers di Mapolres Asahan, Senin (30/5).
Tatan menuturkan, penangkapan para tersangka dilakukan dari beberapa lokasi. Pengungkapan ini berawal dari tertangkapnya YA dan RD di sebuah rumah kontrakan di Lingkungan I, Kelurahan Sentang, Kecamatan Kisaran Timur, Senin (23/5), sekitar pukul 13.00 WIB.
Dari hasil penggeledahan ditemukan 2 bungkus plastik berisi sabu masing-masing seberat 500 gram yang disimpan dalam lemari.
"YA mengaku bahwa sabu 500 gram itu adalah pesanan SM yang telah dibayar dengan uang muka sebesar Rp100 juta. Sementara sisanya Rp50 juta akan dibayar setelah barang diterima. Dan yang 500 gram lagi, adalah titipan MU yang akan diambil oleh TM," ungkap Tatan.
Selanjutnya, dari hasil pengembangan kasus setelah penangkapan YA dan RD, setengah jam kemudian petugas berhasil menangkap TM ketika melintas di Simpang Kartini Kisaran.
TM rencananya akan mengambil 500 gram sabu-sabu kepada YA, atas perintah MU untuk dibawa ke Medan.
"Hingga kini, TM belum memberitahukan sabu-sabu itu milik siapa. Dia hanya mengatakan kalau sabu-sabu itu nantinya ada yang mengambil," ucap Kapolres Asahan.
Sementara SM berhasil dibekuk di Batu Tujuh, Kecamatan Simpang Empat, Asahan, sekitar pukul 18.00WIB pada hari yang sama.
SM ditangkap ketika hendak mengantarkan uang jasa membawa sabu-sabu dari Malaysia sebesar Rp30 juta kepada GT. Dan, GT merupakan kurir yang dikenalkan IR kepada YA.
"Saat ini keduanya masih buron dan identitasnya telah kita ketahui," sebut Tatan.
Kasat Narkoba Polres Asahan AKP Sofyan menambahkan bahwa untuk mengungkap sindikat ini pihaknya telah melakukan penyelidikan selama 3 bulan. Ia menyebutkan, keempat tersangka kini sedang dalam pemeriksaan dan sedang dalam tahanan Sat Narkoba Polres Asahan.
“Selain masih memburu bandar besarnya (MU) di Malaysia, kita (Sat Narkoba, red) juga masih mengembangkan kasus ini,” tandas kasat narkoba.
Sofyan menambahkan bahwa pengungkapan kasus tersebut merupakan rangkaian dalam memberantas jaringan peredaran narkoba khususnya di Kabupaten Asahan. (mag 01/dro)


TANJUNGBALAI-Ketua DPRD Kota Tanjungbalai Bambang Haryanto Lobo mengambil sumpah dan melantik H Taufik Agustian Azhar sebagai Anggota Dewan Pengganti Antar Waktu (PAW), Senin (30/5). Acara pelantikan dilaksanakan di Aula  gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungbalai
Pelantikan H Taufik Agustian Azha berdasarkan surat keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/325/KPTS/Tahun 2016 tentang Peresmian Pengangkatan Angota DPRD Pengganti Antar Waktu Kota Tanjungbalai. Di mana Taufik menggantikan Faisal Fahmi Sp.
Bambang Hariyanto mengatakan, pelantikan tersebut sebagai tindak lanjut atas permintaan dewan kepada partai Golkar untuk mengisi kekosongan keanggotaan selama beberapa bulan terakhir.
Kekosongan terjadi setelah Faisal Fahmi mengundurkan diri karena berhalangan tetap sehingga tidak mungkin lagi mengemban tugas sebagai anggota Legeslatif.
"Dengan dilantiknya saudara Taufik Agustian Azhar, diharapkan tugas-tugas DPRD Tanjungbalai bisa berjalan sebagaimana mestinya," ujar Bambang Hariyanto.
Sementara itu, Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial SH MH mengatakan dengan dilantiknya anggota dewan itu membawa pengaruh positif terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi anggota dewan.
"Pelantikan yang dilaksanakan hari ini diharapkan fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan terhadap berbagai kebijakan maupun program eksekutif bisa terlaksana dengan baik. Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif serta kekuatan lainnya, saling bergandeng tangan untuk mewujudkan visi-misi pemerintah kota Tanjungbalai menuju kesejahteraan," ujar Syahrial.
Pantauan wartawan, pelantikan  tersebut oleh dihadiri Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Ketua KPU serta unsur FKPD. (mag02/syaf)



Ketua DPRD Tanjungbalai Bambang Haryanto Lobo mengambil sumpah dan melantik Taufik Agustian Azhar sebagai Angota DPRD. (riki/METRO TANJUNGBALAI)

Gula Putih Rp18.000 per kgTANJUNGBALAI- Harga daging di sejumlah pasar tradisional di Kota Tanjungbalai dalam sepekan terakhir mengalami kenaikan menjelang bulan suci Ramadhan 1437 Hijriah.
Di Pasar Bahagia Tanjungbalai, harga daging sapi Rp110.000 per kg atau naik Rp10.000 per kg dibandingkan pekan lalu. Kenaikan serupa juga terjadi di Pasar Ikan yang berada si Jalan Veteran dan Pasar Suprapto.
Sementara itu, harga ayam potong sebesar Rp30.000 per kg atau naik Rp5.00.000 per kg dari harga sebelumnya yakni Rp25.000 per kg. Harga ayam kampung juga mengalami kenaikan dari Rp50.000 per kg menjadi Rp55.000 per kg.
Yasir, salah seorang pedagang daging sapi mengaku, kenaikan harga itu akibat tingginya permintaan mayarakat yang ingin bersedekah (kenduri) menjelang bulan Ramadan. Disisi lain, stok atau pasokan hewan sapi yang akan disembelih sangat terbatas.
"Biasalah bang, menjelang bulan Ramadan semua barang naik, termasuk daging karena banyaknya permintaan dari masyarakat yang ingin kenduri. Sedangkan stok terbatas dan harga beli juga tinggi," ujarnya.
Menurut Yasir, kemungkinan harga daging sapi akan terus meningkat hingga H-1 Ramadan yang sudah menjadi tradisi warga akan membeli daging untuk santap siang terakhir bersama keluarga.
"Mungkin hari itu nanti harga daging mencapai Rp125.000 per kg. Namun setelah itu akan normal kembali seperti biasa Rp100.000 ribu per kg," latanya.
Sedanglan Tuti, seorang pedagang ayam di Pasar Suprapto mengatakan, sepekan terakhir harga ayam potong meningkat dari harga biasa. Namun, omzet penjualan justru bertambah hampir 50 persen dari biasanya karena permintaan dari masyarakat meningkat.
"Dalam sehari saya bisa menjual ayam sampai 200 kg atau naik 50 persen dari biasanya karena permintaan dari masyarakat tinggi. Tapi pada awal puasa nanti harga dan omzet penjualan kembali normal," katanya.
Sementara itu, Khairil pedagang ayam kampung di Pasar Bengawan mengakui, kenaikan harga jual karena dipicu harga beli meningkat sedangkan pasokan berkurang.
"Bagaimanalah, harga beli tinghi, pasokan dari agen juga tak banyak yang masuk," katanya dengan logat kental Tanjungbalai.
Berbeda dengan harga daging sapi dan ayam, komoditas jenis sayuran masih dalam posisi harga normal. Cabai merah Rp28.000 per kg, bawang merah asal Jawa Rp40.000 per kg, bawang merah impor Rp34.000 per kg, dan tomat Rp8.000 per kg.


*** Lakukan Inspeksi Mendadak ke Pasar
Pemko Tanjungbalai melakukan inspeksi mendadak ke pasar tradisional dan pasar modern di daerah itu, Senin (30/5) guna memantau kenaikan harga menjelang bulan suci Ramadan 1437 Hijriah.
Wali Kota Tanjungbalai Muhammad Syahrial mengatakan, inspeksi mendadak (sidak) itu merupakan upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan barang cukup.
"Dalam sidak ini kita tidak menemukan kenaikan harga yang siginifikan. Harga bahan pangan dan komoditi lainnya masih relatif stabil," katanya.
Menurut Syahrial, walau pun harga masih stabil, pemerintah kota melalui institusi terkait yaitu Disperindag akan tetap melakukan monitoring untuk menekan lonjakan harga yang bisa terjadi beberapa hari kedepan.
Pemkot Tanjungbalai juga akan menggelar operasi pasar berupa pasar murah guna mengendalikan harga komoditas yang kemungkinan merangkak naik.
"Harapannya, pasar murah itu nanti bisa membantu masyarakat mendapatkan sembako dengan harga yang lebih murah dari harga jual di pasar," ujar Syahrial.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tanjungbalai Rumondang Hasibuan menjelaskan, dari hasil sidak di Pasar Bengawan di Jalan Veteran diketahui harga gula pasir Rp15.000 per kg, gula merah Rp20.000 per kg, dan minyak goreng curah Rp11.000 per kg.
Sedangkan beras harganya bervariasi berkisar Rp9.000 hingga Rp11.500 per kg sesuai dengan jenis dan kualitasnya. Daging ayam sebesar Rp30.000 per kg, telur ayam ras Rp1.200 per butir, telur ayam kampung Rp2.000 per butir, dan telur bebek Rp2.500 per butir.
"Untuk menekan lonjakan harga kami akan terus melakukan monitoring. Dan dua pekan setelah puasa akan menggelar pasar murah sembilan bahan pokok", katanya.
Ia menambahkan, di pasar modern gula pasir dijual dengan harga Rp18.000 per kg, telur ayam ras Rp1.300 per butir, daging ayam sebesar Rp30.000 per kg.
"Selain bumbu dapur, kami tidak menemukan barang-barang yang kedaluarsa yang dijual oleh pedagang," ujar Rumondang difampingi Kabag Humas Nurmalini Marpaung dan Kabag Perekonomian Darul Yana Siregar.  (mag02/syaf)






Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial mengunjungi sejumlah pasar tradisional dan modren di KOta Tanjungbalai untuk mengecek harga sembako menjelang ramadan. (Riki/METRO TANJUNGBALAI)


Ibu Korban: Tuhan Tolong Selamatkan AnakkuTANJUNGBALAI -Seorang bocah bernama Daniel Panjaitan (11) warga Perumahan Perumnas, Gang Anggrek, Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar diduga terbawa arus Sungai Asahan saat mandi-mandi bersama temannya, Senin (30/5). Ibu korban yang mengetahui anaknya tenggelam di sungai menjerit histeris: “Tuhan Tolong Selamatkan Anakku.”
Informasi diperoleh kejadian berawal saat korban bersama 6 teman temannya Oka Abdurrahman, Adi, Jaya, Ino, Valen, Salem, berangkat dari Perumnas Sijambi naik sepeda menuju Balai di Ujung Tanjung Sungai Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai. Sesampainya di sana, korban mandi dengan bermain sebatang pisang di pinggiran sungai.
Korban bersama Adi dan Jaya kemudian naik ke atas batang pisang tersebut dan mengayuhnya. Diduga tanpa disadari mereka terseret arus hingga ke tengah dan akhirnya terjatuh dan tenggelam.
Adi dan Jaya berhasil diselamatkan ABK kapal pukat apung yang sedang lego jangkar. Namun Daniel hilang dan sempat melambaikan tangan meminta pertolongan sebelum ditelan sungai.
"Kami tadi diselamatkan orang apung itu bang, kalau sidaniel kami nggak tau, karena kami sama sama tengelam," ujar Jaya Sitorus (11) kepada wartawan.
Sementera itu orang tua korban Juniar boru Juntak (42) yang mendengar anaknya tenggelam langsung histris ditempat kejadian. Dia berharap korban segera ditemukan secepatnya.
"Tuhan tolong selamatkan anakku," ujarnya meneteskan air mata hingga sesekali pingsan.
Terpisah Kapolres Tanjungbalai ,melalui Kasubbag Humas, AKP Y Sinulingga mengatakan sudah menerima laporan hilang di sungai. Dikatakan, petugas akan melanjutkan pencarian besok karena hari sudah menjelang malam. (mag02/syaf)


   Ratusan warga dan keluarga korban memadati  Balai di Ujung Tanjung Sungai Asahan menyaksikan pencarian terhadap korban tenggelam yang mandi-mandi di sungai. (riki/METRO TANJUNGBALAI)




Desa Aek Nagali Lirik Sektor Pariwisata untuk Dijadikan Bumdes


KISARAN- Kawasan Pantai Simallo yang terletak di aliran Sungai Aek Piasa Desa Aek Nagali Kecamatan Bandar Pulau akan dikembangkan menjadai daerah tujuan wisata alam yang dikelola melalui Badan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Senin (30/5)

“Potensi pantai Aek Simallo yang berada di pinggiran Sungai Piasa Desa Aek Nagali memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata alam  di Kabupaten Asahan dan akan dikelola melalui Bumdes,” ungkap Ketua LPM Desa Aek Nagali

Badan Pengawas Bumdes Lomo Naibaho bersama sejumlah pengurus Bumdes antaralain Manager Bumdes Harlin Butarbutar, Sekretaris Muliadi dan salah seorang tokoh masyarakat Subono saat beraudiensi dengan Kepala Badan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bappemas) Kabupaten Asahan H Jhon Hardi Nasution.

Aek Simallo memiliki air yang deras bersifat flat sangat cocok rafting  dan pemandian, ditambah lagi di kelilingi tebing yang bisa dijadikan untuk menguji nyali panjat tebing, serta di sekitarnya juga ditemukan beberapa gua yang dikenal dengan Liang Natolpus serta dataran terhampar luas sangat cocok untuk melakukan perkemahan, out bond dan lain sebagainya.

“Lokasi ini telah diservey oleh Hanger Adventure Medan, dan hasilnya sangat cocok,” ungkap Jhon Hardi.

Untuk menindaklanjuti potensi tersebut pihaknya bersama perangkat desa sepata untuk mengelola kawasan itu melalaui Bumdes dan telah menunjuk Herlin Butarbutar sebagai Manager Bumdes yang diberi nama Nagali jaya dan Sekretaris Muliadi. “Mudah-mudahan, potensi ini bisa kita promosikan sehingga Kawasan Pantai Simallo bisa menjadi daerah tujuan wisata di Asahan,” papar Jhon Hardi.

Bahkan pihaknya merencanakan untuk membuka kawasan itu secara resmi dan sangat mengharapkan Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang MAP hadir dalam acara pembukaan yang diberi judul “Kenduri Sungai”. “Kami jadwalkan pada Jum’at (3/6) akan kita laksanakan Kenduri Sungai sebagai tanda di bukanya kawasan itu sebagai tujuan wisata,” ungkapnya lagi.

Herlin Butarbutar mengatakan, saat ini fasilitas yang telah di miliki selain perahu karet untuk mengarungi Sungai Piasa, pelampung ban dan juga saat ini sedang dibangun flying fox. “Secara perlahan-perlahan semua fasilitas akan kita lengkapi,” ungkapnya lagi sembari mengharapkan pemerintah Kabupaten Asahan dapat lebih meningkatkan pembangunan untuk menunjang destinasi wisata tersebut.

Jhon Hardi Nasution, menyambut baik keinginan masyarakat Aek Nagali yang akan mengelola sumber daya alam menjadi daerah tujuan wisata, apalagi pengelolaannya dilakukan oleh Bumdes. “Namun yang paling koordinasikan dengan Dinas Pemuda, Olaharaga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar), sebab secara tekni mereka lebih mengetahui persoalan wisata dan kita berharap ini bisa berkembang hingga akhirnya mampu membangun desa demi kesejahteraan masyarakat” ungkap Jhon Hardi.

Sementara itu Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Madani Indonesia (LPM2I) Husaini Abduh, yang juga Fasilitator Pembinaan Bumdes mengatakan keinginan masyarakat untuk mengembangkan Bumdes di sektor pariwisata telah melalui beberapa tahapan pembahasan sehingga muncul semangat Bumdes tersebut. “Potensi wisata dapat dikembangkan oleh Bumdes,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu pula, Husaini Abduh mengatakan dari 177 Desa yang ada di Kabupaten Asahan sebanyak 176 yang telah memiliki Bumdes dengan berbagai sektor badan usaha, seperti simpan pinjam, pengembangan pupuk organik, konveksi, dan lain sebaginya. (mag 01)

 



Jhon Hardi Nasution( tengah) bersama Manager Bumdes Harlin Butarbutar, Sekretaris Muliadi, dan Tokoh Masyarakat Subono.
(BAWADI AN SITORUS/METRO ASAHAN)





Powered by Blogger.