Sementara itu, ratusan warga Desa Lingga menyerbu Polres Tanah karo usai penangkapan lima warga Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo Jumat (29/7) sekitar pukul 20.20 WIB. Akibatnya, dua warga Desa Lingga tewas diduga terkena muntahan peluru petugas kepolisian.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting mengatakan, peristiwa berdarah tersebut terjadi paska Polres Karo menangkap lima warga yakni Eddi Sitepu, James Sinulingga, Nahason Sinuraya, Modal Sinulingga dan Suagiarto Meliala. Kelimanya ditangkap karena diduga membakar beko milik pengembang.
Tidak diterima warga desanya ditangkap, sekitar 200 warga Desa Lingga pun mendatangi kantor polisi dan mempersenjatai diri menggunakan batu dan melempari polres. Diserang dengan membabi buta, petugas kepolisian pun menyambut massa dengan tembakan gas air mata.
"Namun setelah massa bubar diketahui ada yang meninggal dunia umur berkisar 40 tahun dan sedang diidentifikasi," kata mantan Kapolres Binjai ini.
Menurutnya, konflik antara warga dan polisi berawal dari penolakan warga terhadap pemerintah yang sedang melaksanakan pembangunan relokasi tahap II di Desa Lingga. Warga yang tidak senang lahannya dijadikan lokasi relojasi melakukan pengerusakan dan pembakaran escavator Merek Hitachi.
"Mereka juga membakar pos penjagaan yang dibangun untuk mengantisifasi bentrok antara pengembang, masyarakat pengungsi Desa Gurukinayan, Desa Berastepu kontra masyarakat Desa Lingga yg dilakukan oleh masyarakat desa Lingga.

Menurut warga Karo, saat ini kondisi mencekam di sekitar Polres Tanah Karo. Personil kepolisan terpaksa memadamkan listrik untuk mengawasi warga masih berada di sekitar lokasi. (int)

                            

MADINA- EJS, seorang anggota DPRD Kota Padangsidimpuan diamankan warga dari rumah seorang janda, DP (37) di lorong Aek Galoga, Desa Pidoli Lombang, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sabtu pagi (30/7).
Informasi dihimpun Metro Tabagsel, warga setempat sudah menaruh curiga kepada EJS yang mempunyai istri di Psp, belakangan ini ia sering keluar masuk rumah DP. Padahal sepengetahuan warga, DP adalah seorang janda berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Madina. Karena sudah cukup lama dicurigai, akhirnya warga memutuskan untuk menangkap pasangan tersebut.
“Kejadiannya berawal dari tadi (kemarin) malam, warga melihat anggota dewan itu masuk ke rumah DP. Sepengetahuan kami DP tidak mempunyai suami lagi. Untuk memastikan hubungan mereka, warga menunggui EJS hingga menjelang subuh, tapi tidak ke luar dari rumah. Sudah bisa dipastikan ia tidur di rumah tersebut,” jelas Fakhri, Ketua Karang Taruna Aek Galoga kepada wartawan.
Kepala Lorong Aek Galoga Zulkarnen yang dihubungi membenarkan warganya menangkap EJS tidur di rumah DP.
Menurut Zul, warga sudah menaruh curiga terhadap EJS yang tidak mereka kenal keluar masuk ke rumah DP, padahal sepengetahuan mereka DP masih berstatus janda.
“Tadi pagi warga saya memang ada mengamankan EJS dari rumah DP. Menurut warga EJS ini sering ke luar masuk ke rumah DP. Wajar saja warga tidak menerima dan berusaha memastikan hubungan mereka,” ungkap Zul.
Namun, sambung Zulkarnen. Setelah diamankan dan diminta penjelasan, EJS maupun DP mengaku sudah berstatus suami istri. “Setelah kita tanyai, mereka mengaku sudah suami istri. Katanya mereka menikah siri,” sebutnya.
Selanjutnya, warga memberitahukan kejadian tersebut kepada salah seorang keluarga DP yang bertempat tinggal di Desa Pidoli. “Kami sudah serahkan kepada keluarga si DP. Terserah mereka bagaimana tindak lanjutnya, karena kami juga menanyainya bagus-bagus, tidak ada warga yang menangani si EJS itu,” tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, EJS anggota DPRD Kota Psp dari Partai Amanat Nasional tidak berhasil dihubungi wartawan, telepon selulernya pun tidak aktif.  (wan)



Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso menyakini kerusuhan di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara tidak akan menyebar atau merembet ke daerah lain.
"Keyakinan tidak merembet ke daerah lain antara lain mengacu pada kejadian di Tanjungbalai itu yang bersifat spontanitas," katanya di Parapat, Sabtu.
Kerusuhan, kata dia, bukan karena ada masalah SARA sebelumnya, tetapi hanya spontanitas yang disebutkan akibat ada protes terkait adzan masjid yang dinilai terlalu kuat oleh seorang warga etnis Tionghoa.
Ia mengatakan itu saat ditanya wartawan usai acara pembukaan Musyawarah Masyarakat Adat Batak dan Rapat Kerja Nasional Punguan Simbolon dahot Boruna di Parapat, Simalungun.
Keyakinan tidak merembet, ujar Sutiyoso, juga karena kerusuhan yang terjadi sudah bisa ditangani dengan baik.
Pihak kepolisian, kata dia, sudah punya pengalaman penanganan terhadap kejadian serupa yang terjadi di Papua.
"Dengan pengalaman serupa yang sudah pernah terjadi di Papua, BIN yakin kerusuhan sudah bisa ditangani dengan baik," katanya.
Ia berharap upaya pemulihan keamanan yang dilakukan pihak keamanan hendaknya didukung maayarakat.
"Masyarakat harus menahan diri karena negara kita terdiri dari beragam suku bangsa dan agama. Harus saling menghargai satu sama lainnya," ujarnya.
Sementara aparat juga diminta tidak lengah dan pemerintah daerah juga harus turut membantu mengatasi konflik.
Wakil Presiden Jusuf Kalla enggan berkomentar terkait kasus yang terjadi di Tanjungbalai itu.
"Serahkan penanganan pada polisi," katanya sesaat hendak meningalkan lokasi acara Musyawarah Masyarakat Adat Batak di kawasan pantai bebas Parapat. (ant/int)


Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi meminta semua masyarakat menahan diri untuk kembali mengondusifkan keamanan di provinsi itu pascakerusuhan di Kota Tanjungbalai.
"Semua masyarakat diminta menahan diri, pihak keamanan sudah dan terus berupaya mengendalikan keamanan semaksimal mungkin di Tanjungbalai dan daerah lainnya pascakerusuhan Tanjungbalai," ujarnya di Parapat, Simalungun, Sabtu.
Gubernur mengatakan itu menjawab pertanyaan wartawan tentang kerusuhan di Tanjungbalai, Jumat (29/7) malam usai menghadiri acara Musyawarah Masyarakat Adat Batak dan Rapat Kerja Nasional Punguan Simbolon dohot Boruna di Parapat, Simalungun.
Acara itu dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan dihadiri beberapa menteri antara lain Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.
Namun Gubernur tidak merinci bentuk pengendalian keamanan di Tanjungbalai. "Tanya Pangdam, tapi pastinya pihak keamanan berupaya menangani maksimal," katanya untuk kemudian bergegas memasuki kendaraannya meninggalkan lokasi acara.
Pangdam I/BB Mayor Jenderal TNI Lodewick Pusung yang hadir di acara itu belum bersedia memberi keterangan soal kerusuhan di Tanjubgbalai tersebut.
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, pihak keamanan sudah dan terus mengendalikan situasi keamanan di Tanjungbalai setelah terjadi kerusuhan, Jumat malam.
Sebanyak tujuh warga yang melakukan penjarahan misalnya sudah diamankan ke Mapolres Tanjungbalai untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Untuk menjamin keamanan di Tanjungbalai, pihak kepolisian terus menyiagakan personel di berbagai lokasi.
Seperti diketahui, kerusuhan bermula dari protes atau keberatan seorang warga etnis tionghoa dengan suara adzan dari Masjid Al Makshun di Jalan Karya Kelurahan Tanjubgbalai Kota I, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai.
Kasus keberatan itu sebenarnya sudah dibicarakan di rumah etnis tionghoa tersebut usai sholat Isya dan dilanjutkan hingga ke kantor polsek setempat. (ant/int)



Pasca kerusuhan di Tanjungbalai yang mengakibatkan rusaknya rumah ibadah (Tempat ibadah), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan elemen masyarakat Kota Tanjungbalai menandatangani kesepakatan damai pasca kerusuhan yang mengakibatkan pembakaran dan perusakan tempat ibadah di daerah itu.
Sekda Tanjungbalai Abdi Nusa di Tanjungbalai, Sabtu (30/7), mengatakan, kesepakatan tersebut merupakan langkah kongkrit untuk meredam meluasnya kerusuhan yang bisa merugikan semua pihak.
"Kita bersukur setelah Pemkot Tanjungbalai menggelar pertemuan lintas agama dan etnis, semua pihak bisa menahan diri. Bahkan telah menandatangani fakta kesepakatan damai," katanya.
Abdi mengatakan, ada enam poin dalam kesepakatan yang ditanda tangani tersebut tujuannya untuk menjaga stabilitas keamanan, ketertiban, dan kerukunan antarumat beragama di Tanjungbalai.
Selain itu, kesepakatan tersebut juga diharapkan akan menjadi contoh teladan bagi seluruh jajaran anggota masyarakat dalam upaya menjaga kerukunan antar umat beragama di Kota Tanjungbalai.
Kemudian, bersama-sama menjaga sarana dan prasarana rumah ibadah dari gangguan pihak yang tidak bertanggung jawab di Kota Tanjungbalai.
Bersedia menjadi penyampai informasi dan mengajak seluruh jajaran anggota masyarakat mengenai arti pentingnya kerukunan dan kebersamaan antarumat beragama.
Demikian juga mendukung proses penegakan hukum dalam upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban, serta bersama-sama bertekad menjaga kondusifitas dan menolak segala bentuk anarkisme di Kota Tanjungbalai.
Sementara Ketua Majelis Budhayana Indonesia Kota Tanjungbalai Junaidi berharap, kejadian tersebut menjadi cermin bagi warga untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi antar sesama.
Pihaknya tidak menyalahkan orang atau oknum yang melakukan perusakan. Menurutnya hal itu merupakan cobaan agar lebih dewasa dalam kehidupan bermasyarakat dan menjalankan ibadah.
"Semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian, sebagai pemeluk agama kita hendaknya bisa hidup berdampingan dengan saling menjaga kerukunan," katanya.
Hadir dan turut membubuhkan tanda tangan, Kapolres Tanjungbalai, Dandim 0208/Asahan, Kajari, Dan Lanal, serta elemen masyarakat seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), KNPI, Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) serta Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).



*** Situasi Terkendali

Situasi yang sempat memanas karena aksi anarkis massa di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, kini sudah terkendali dan masa membubarkan diri sekitar pukul 04.00 WIB.

Sejumlah aparat kepolisian dan TNI diterjunkan beberapa titik kerusuhan tersebut.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi tentang penyebab aksi anarkis yang menyebabkan bangunan tempat ibadah dan Klenteng terbakar tersebut. (mag02/ck5/syaf) 


Camat Tanjungbalai Selatan Pahala Zulfikar menerangkan, kerusuhan yang pecah di Tanjungbalai dan membuat beberapa rumah ibadah terbakar akibat massa terprovokasi oleh berita-berita yang tidak benar, baik di lapangan mau pun di media sosial.
Zulfikar mengatakan, kemarahan massa terjadi setelah seorang wanita keturunan Tionghoa memprotes suara azan dan pengajian dari pengeras suara masjid di depan rumahnya.
Sempat dilakukan pengamanan oleh polisi dan massa kembali pulang. Namun tidak lama berselang, gerombolan warga menyerang tempat ibadah dan kelenteng.
Menurut Zulfikar, massa diprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pembakaran dan perusakan. Ditambah lagi, kemarahan warga kian menjadi setelah kasus itu dibumbui isu-isu yang tidak benar di media sosial.
"Informasi di lapangan meluas, muncul provokator. Dikatakan wanita itu melempari masjid, imam diusir, menghentikan solat maghrib, itu semua tidak benar," kata Zulfikar, Sabtu (30/7).
Pemerintah kota lantas melakukan upaya untuk meredam amuk massa dengan cara menghubungi satu per satu para penyebar isu di media sosial.

"Kami minta kepada akun-akun itu agar posting dihapus. Kebetulan kami kenal dengan pemilik akun tersebut," ujar Zulfikar.
Namun massa terlanjur terbakar emosi. Mereka bergerak menghancurkan rumah ibadah umat Buddha. Tiga tempat ibadah dan enam kelenteng dibakar dan dirusak massa. 
Amukan massa baru berhenti sekitar pukul 4 pagi. Zulfikar mengatakan, polisi telah menangkap para provokator dan penjarah rumah ibadah. Tidak ada yang terluka dalam peristiwa ini.
Saat ini situasi di Tanjungbalai masih mencekam. satuan Brimob yang dibantu Angkatan Laut diturunkan untuk menjaga lokasi. 
“Baru kali ini terjadi lagi kerusuhan pasca 98. Tadinya warga rukun, namun gara-gara masalah kecil jadi timbul kerusuhan,” lanjut Zulfikar. (syaf)


Hingga Sabtu (30/7) suasana Tanjungbalai masih terasa mencekam, toko-toko tutup sejak pagi, dan petugas polisi dan tentara berjaga di berbagai sudut, khususnya di rumah-rumah ibadah umat Buddha dan Kong Hu Tsu.
"Mereka sepertinya tidak mau keluar rumah, masih khawatir dengan keadaan," kata Ilham.
Namun awalnya, banyak juga warga lain yang datang ke rumah-rumah ibadat yang dirusak dan dibakar itu, untuk sekadar melihat-lihat.
"Mereka sekadar penasaran saja, sesudah kerusuhan semalam. Tapi tidak ada orang yang tampak ingin melakukan perusakaan lagi," tambahnya.
Terpisah, Juru bicara Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting menyebutkan, tujuh orang ditangkap dan diperiksa, namun untuk dugaan penjarahan saat terjadinya kerusuhan yang melibatkan massa lebih dari seribu orang itu.
"Kami terus mendalami, dan menyelidiki siapa pelaku-pelakunya, siapa dalangnya. Mereka pasti ditindak, karena ini merupakan perbuatan pidana," tegas Kombes Rina Ginting.
Disebutkan Rina Ginting, untuk memulihkan keadaan, polisi mengerahkan petugas tambahan yang di tempatkan di berbagai sudut kota.
"Kami mengerahkan 100 petugas bantuan dari Polres Asahan, 30 orang dari Polres Batubara, dan 135 anggota Brimob. Ditambah bantuan pasukan dari Kodim. Ini untuk mengembalikan rasa aman bagi warga masyarakat," katanya.
Sebelumnya, ia menyebut, saat kejadian petugas polisi sangat terbatas jumlahnya, sehingga tak bisa mencegah kerusakan dan permbakaran Jumat malam itu.
"Namun bukan berarti polisi membiarkan. Kami berusaha mengimbau massa untuk membubarkan diri, juga mencegah mereka melakukan kekerasan lebih jauh. Kami juga melakukan segalanya untuk melindungi warga (Tionghoa) dari massa yaang tak terkendali," paparnya.
Ia menyebutkan, malam itu bakar-bakarannya sendiri, tak berlangsung lama, karena yang dibakar adalah barang-barang persembahyangan. Misalnya dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, patung Buddha, gong, dan perabotan seperti meja, kursi, lampu, lampion. Bangunan-bangunannya sendiri, terbakar sedikit.
Disebutkannya, ketegangan bermula menjelang salat Isya, setelah Meliana, seorang perempuan Tionghoa berusia 41 tahun yang meminta agar pengurus masjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.
Sesudah salat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus masjid mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana dan suaminya dibahwa ke kantor lurah.
Namun suasana memanas, Meliana dan suaminya kemudian 'diamankan' ke Polsek Tanjungbalai Selatan.
"Di kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI, dan Ketua FPI setempat," kata Rina Ginting.
Ia mengaku belum tahu, mengapa FPI dilibatkan.
"Tapi di luar, massa mulai banyak berkumpul, dengan banyak mahasiswa, mereka melakukan pula orasi-orasi. Tapi kami bisa menghimbah mereka dan mereka pun membubarkan diri.'
Namun katanya, dua jam kemudian massa berkumpul lagi, kemungkinan akibat pesan di media sosial.
Mereka lalu mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah oleh warga sekitar. Sesudah itu, massa yang semakin banyak dan semakin panas bergerak menuju Tempat ibadah Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dan berupaya untuk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjungbalai. Massa yang marah lalu melempar tempat ibadah itu dengan batu.
"Lalu massa bergerak ke tempat lain, yang ternyata melakukan pembakaran di beberapa tempat ibadah dan kelenteng, yang jaraknya memang berdekatan," papar Rina Ginting pula.
Sejak subuh, akses masuk kota dijaga ketat.
"Tetapi sekarang, yang penting kita mengusahakan suasana damai. Dan bukan memperparah keadaan dengan hasutan dan desas-desus yang bukan-bukan," tandas Rina Ginting.
 Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal (Pol) Tito Karnavian akan ke Sumatera Utara untuk menyikapi kerusuhan yang terjadi hari ini.
"Rencananya Kapolri akan tiba di Polda pukul 15.00 WIB," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting, Sabtu (30/7).
Ia mengatakan, Kapolri berkunjung ke Sumatera Utara untuk meninjau perkembangan dan penanganan kerusuhan di Kabupaten Karo dan Kota Tanjungbalai. Namun, belum ada kepastian Kapolri akan ke dua daerah tersebut atau tidak.
Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, kasus intoleransi di Tanjungbalai dipicu oleh masalah pribadi. Karena tidak ditengahi dengan cepat, hal itu merembes ke masalah kelompok yang berujung kepada masalah umat.
Karena itu, Tito meminta agar semua kelompok, golongan, dan umat tidak terprovokasi dengan peristiwa tersebut.
"Agar masyarakat tidak terprovokasi karena ini persoalan individu serta diminta berpikiran jernih dalam menyikapi masalah ini. Sumatra Utara sebagai tempat toleransi umat beragama harus dipertahankan," kata Tito di Mapolda Sumatera Utara, Sabtu (30/7).
Sementara itu, guna tidak merembes ke masalah umat, Tito menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama di Mapolda Sumatera Utara.
Tito mengklaim, kasus yang diduga bermula dari media sosial itu akan ditanggulangi dengan cepat.  "Jadi saya tekankan, ini persoalan antara individu yang bertentangga," kata Tito.
Namun, dia tak menerangkan siapa pemicu masalah yang mengakibatkan sepuluh tempat ibadah di Tanjung Balai rusak. Namun, tambah Tito, pihaknya kini sudah mengamankan tujuh orang yang dianggap bertanggung jawab atas kasus tersebut. Di sisi lain, Polri dan TNI sudah dikerahkan ke beberapa titik rawan, sebagai langkah preventig agar kejadian serupa tidak terulang.(mag02/Mg4/jpnn)



TANJUNGBALAI-Suasana di Kota Tanjungbalai, Sabtu (30/7) dinihari, sekitar pukul 00.30 WIB mencekam. Puluhan ribu warga mengamuk dan membakar delapan rumah ibadah, sedangkan 4 lainya dirusak termasuk yayasan sosial etnis Tionghoa.
Selain itu sebanyak 6 unit mobil, 4 sepedamotor serta sebuah becak bermotor juga menjadi sasaran amukan warga.
Informasi dihimpun, munculnya persoalan ini dipicu oleh satu keluarga etnis Tionghoa  yang bertempat tinggal di Jalan Karya, Kelurahan Karya, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai yang merasa terganggu dengan pengeras suara aktivas di Masjid Al Maksun tepat di depan rumah keluarga tersebut.
Istri dari Atui (entis Tionghoa) yang bernama Meliana (41) menegur pengurus masjid kerena merasa terganggu istirahatnya. Karena seringnya Meliana melakukan peneguran tersebut, pihak pengurus masjid kemudian melakukan rembuk dengan warga serta kepala lingkungan untuk mendatangi kediaman Meliana bermaksud meluruskan permasalahan.
Namun setibanya di kediaman keluarga tersebut, pihak pengurus masjid justru mendapatkan jawaban yang tak mengenakan, sehingga terjadilah adu mulut dengan Meliana. Amarah warga pun memuncak, lalu melempari kediaman Melian.
Mendapati amukan warga, Meliana dengan suaminya Atui kemudian dilarikan kepala lingkungan ke kantor lurah untuk menyelesaikan masalah. Namun ketika di kantor lurah Meliana dan warga tetap besitegang, sehingga pihak kelurahan melarikan Meliana dan suaminya ke Mapolsek Tanjungbalai Selatan.
Setibanya di mapolsek, lalu dilakukan pertemuan dengan melibatkan Ketua MUI, Ketua FPI, Camat, Kepling dan tokoh masyarakat. Pada saat bersamaan massa mulai banyak berkumpul di depan kediaman Meliana di Jalan Karya.
Melihat hal tersebut, warga sekitar dan petugas kepolisian dari Polres Tanjungbalai kemudian mengimbau masa untuk membubarkan diri karena Meliana dan suaminya sedang diproses. Akhirnya masapun membubarkan diri satu persatu .
Namun pada pukul 22.30 WIB, konsentrasi massa kembali berkumpul di depan kediaman Meliana. Karena diduga telah mendapat informasi dari mulut ke mulut serta media sosial.
Mendapati hal tersebut, selanjutnya massa bergerak menuju rumah ibadah yang berada di Juanda berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Massa berupaya untuk melakukan pembakaran, namun dihadang oleh personil Polres Tanjungbalai.
Tak berselang lama dari penghadangan tersebut, tiba-tiba lemparan batu melayang ke rumah ibadah tersebut. Masa bergerak maju, sehingga pihak Polres Tanjungbalai tidak dapat berbuat banyak karena banyaknya jumlah massa. Sehingga rumah ibadah tersebut mengalami kerusakan dan pembakaran. 
Selanjutnya massa bergerak melakukan tindakan pembakaran  di Jalan Asahan yang terdapat empat rumah ibadah. Massa kemudian menuju  Jalan Imam Bonjol dan membakar 1 rumah ibadah. Setelah itu massa bergerak ke Jalan Sudirman dan membakar 1 rumah ibadah. Tak puas sampai disitu, massa berlanjut ke Jalan Hamdoko dan merusak 1 rumah ibadah dan tempat pengobatan alternatif dan membakar 1 unit sepedamotor.
Setelah itu masa memasuki Jalan KS Tubun merusak 1 rumah ibadah. Kemudian berlanjut ke Jalan Nuri dan merusak bangunan Yayasan Putra Esa, lalu ke jalan Ade Irma membakar 1 rumah ibadah. Kemudian massa memasuki Jalan MT Haryono merusak 2 rumah ibadah.
Setelah itu masa berlanjut menuju Jalan Ahmad Yani dan merusak pagar rumah ibadah  dan berjalan ke Jalan WR Supratman merusak bangunan yayasan Sosial Etnis Tionghoa serta tiga mobil yang berada di dalamnya.
Pantauan wartawan, aksi ribuan masa tersebut berhasil dikendalikan setelah Brimob melakukan swiping di jalan kepada para masa dan berhasil dibubarkan sekitar pukul 04.30 WIB.
Sementara itu hingga Sabtu pagi petugas pemadam kebakaran dari Badan Penaganggulangan Bencana Daerah Kota Tanjungbalai dan Asahan  masih melakukan pemadaman dibeberapa titik api di rumah ibadah yang terbakar.
Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK ketika diwawancarai mengatakan, saat ini para masa telah terkendali dan pihak telah mengelar kekuatan di tempat-tempat yang rawan serta pengamanan antisipasi kembalinya adanya aksi lanjutan masa.
Pantauan METRO akibat aksi tersebut sejumlah ruas jalan di Kota Tanjungbalai sempat lumpuh. Puluhan ribuan warga terus berjalan mendatangi rumah ibadah tersebut dengan berjalan kaki.


*** 7 Penjarah Diamankan
Dalam aksi kericuhan yang terjadi di Tanjungbalai, pihak kepolisian mengamankan tujuh warga. Ketujuh warga yang diamankan karena melakukan penjarahan dalam kerusuhan.
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting di Medan, Sabtu (30/7), mengatakan tujuh warga tersebut ketahuan mengambil manfaat dengan mengambil barang milik warga lain ketika kerusuhan berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari.
Ketujuh penjarah tersebut langsung diamankan ke Mapolres Tanjungbalai untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, termasuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun, Kombes Rina Sari belum menyebutkan identitas dan langkah lanjut yang akan dilakukan terhadap tujuh penjarah tersebut.
Pihak kepolisian terus menyiagakan personel di berbagai lokasi untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan susulan atau tindak kejahatan lain yang merugikan masyarakat.
Pihak kepolisian juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi agar kerusuhan berbau SARA itu tidak berlanjut.
Menurut dia, pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat telah menyepakati pertemuan untuk membahas kerusuhan berbau SARA tersebut.
Selain unsur pemerintah dan Kementerian Agama, pertemuan itu juga melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan etnis, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungbalai.
Sebelumnya, terjadi kerusuhan berbau SARA di Kota Tanjungbalai yang diduga karena adanya keberatan dari seorang etnis Tionghoa atas volume pengeras suara  di salah satu masjid.
Tanpa diduga, informasi itu cepat menyebar dan berujung pada kerusuhan yang berbau SARA. Perisitiwa itu menyebabkan belasan rumah ibadah dirusak massa. (mag02/syaf)






Tabel


Berikut daftar rumah ibadah dan panti sosial yang menjadi korban amuk massa
1. Kelenteng Huat Cu Keng di Jalan Juanda, Kelurahan Tanjungbalai Kota I, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
2. Kelenteng Dewi Samudra di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
3. Vihara Tri Ratna di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
4. Kelenteng Ong Ya Kong di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
5. Kelenteng di Jalan Hamdoko dan pengobatan alternatif
6. Kelenteng Tua Pek Kong di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
7. Kelenteng Tiau Hau Biao di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
8. Vihara Avalokitesvara di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
9. Kelenteng di Jalan MT Haryono, Kelurahan Perwira, Kecamatan Tanjungbalai Selatan. 10. Kelenteng Depan Kantor Pengadaian di Jalan Sudirman, Kelurahan Perwira, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
11. Kelenteng di Jalan Juanda, Kelurahan Tanjungbalai Kota I, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
12. Yayasan Sosial di Jalan Mesjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.





Keterangan Foto
-Massa saat melakukan perusakan dan pembakaran. (riki/METRO TANJUNGBALAI)
-Para masa dibubarkan oleh anggota Brimob.
-Tujuh orang yang  diamankan petugas kepolisian dari berberapa lokasi pasca pembakaran Vihara dan Kelenteng di Kota Tanjungbalai.



TANJUNGBALAI –Kota Tanjungbalai mencekam, Sabtu (30/7) dinihari ini, dilaporkan ada enam vihara yang dibakar warga.
Informasi yang diperoleh, persoalan ini dipicu seorang warga Tanjungbalai yang merasa terganggu dengan suara adzan.
Disebutkan, kericuhan bermula saat seorang warga etnis Tionghoa yang identitasnya belum diketahui, warga Jalan Karya Tanjungbalai, mengamuk saat mendengar suara adzan.
“Massa membakar rumah seorang warga chinese. Informasi sementara dari masyarakat bahwa, warga chinese tersebut membuat keributan di mesjid dan memaki imam yang sedang adzan di masjid karena tidak senang akan adanya adzan di mesjid hingga menyebabkan umat islam menjadi marah,” demikian status yang diunggah laman media sosial facebook RRI Tanjungbalai.
Hingga saat ini, Kota Tanjungbalai masih mencekam. Sejumlah rumah ibadah warga beragama Budha masih terbakar. Pihak Polres Tanjungbalai tidak dapat berbuat banyak karena jumlah massa yang terus bertambah.


Ke-22 siswa  SMK Negeri 1 Perikanan yang dijemput oleh lintas komisi di DPRD Kota Tanjungbalai telah tiba dalam keadaan sehat walafiat. Mereka pun disambut isak tangis oleh para orangtua masing-masing.
Pantauan wartawan, para orangtua serta  sanak saudara terlihat meneteskan air mata saat memeluk anak mereka ketika turun dari mobil DPRD.
Selanjutnya para siswa dikumpulkan di ruangan aula DPRD untuk diserah terimakan kepada orang tua masing-masing.
Ketua Komisi C DPRD, H Ridwan Ritonga mengatakan, penjemputan para siswa tersebut berjalan dengan lancar, sehingga mereka dapat dikembalikan ke Tanjungbalai.
"Sesampainya di sana (Bali,red), kita menemui pihak CV meminta anak tersebut dikumpulkan untuk dibawa dikembali ke Tanjungbalai. Pihak CV pun mengumpulkan anak-anak tersebut, sehingga kami langsung membawa mereka kembali. Dan  hari ini dapat berkumpul bersama keluarganya," ujar Ridwan.
Terkait masalah adanya indikasi eksploitasi terhadap para siswa, Ridwan menjelaskan pihaknya akan melakukan rapat kembali bersama dinas terkait.
"Kalau masalah persoalan pengalaman anak-anak tersebut di laut, nanti kita tindak lanjuti sesuai dengan perintah pimpinan," tandas Ridwan.
Terpisah, Noni, salahsatu orangtua siswa ketika diwawancarai awak media ini di uala gedung DPRD mengaku bersyukur anaknya telah kembali dengan selamat.
"Udah rindu kali aku dek sama anakku ini. Alhamdulillah, dia baik-baik saja," ujar sambil meneteskan air mata.
Terkait adanya indikasi eksploitasi berdasarkan pengalaman yang diderita anaknya, dirinya berharap penegak hukum mengambil tindakan.

Hal yang sama juga diaminkan para orang tua lainnya. "Ini buktinya anak kami dipekerjakan. Buku jurnal penilaianya kosong. Mereka sama sekali tidak belajar," ujar seorang ibu dengan sedih. (mag-02)





TANJUNGBALAI-Beberapa siswa SMK Negeri 1 Perikanan yang tiba Kota Tanjungbalai mengisahkan kesedihan saat Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Bali. Di kapal, mereka dipukul jika tidak memenuhi target. Selian itu, dalam keadaan sakit, mereka tidak diizinkan beristirahat.
"Selama di sana, hidup kami susah bang. Kami diperlakukan layaknya anak buah kapal. Makan saja kami curi-curi bang. Itupun masaknya di kanalpot kapal. Sebab dapur dikunci. Selain itu, apa bila tidak memenuhi target kerja, kami dipukul dan tidak mendapat gaji. Bukan itu saja, walaupun salahseorang dari kami ada yang sakit, tidak diizinkan untuk beristirahat oleh kapten kapal,” ujar Riski Amando, Azhari, dan Mustofa  yang berhasil diwawancarai awak media ini, Jumat (29/7).
Mereka juga bercerita, selama PKL di Bali, bukan diperlakukan sebagai tenaga PKL,  melainkan sebagai buruh kontrak dan digaji.
Ketika ditanya terkait pembelajaran yang didapat, mereka menjelaskan tidak dapat pembelajaran apa-apa.
"Di sana kami tidak ada diajari apapun. Begitu kami sampai, kami langsung dikirim untuk berlayar, dan dipaksa bekerja tanpa adanya bimbingan," sebut mereka dengan mata yang berkaca-kaca.
Terkait kepulangan, mereka menjawab, sebenarnya mereka telah berulangkali melaporkan kepada kapten kapal bahwa masa PKL mereka telah habis, namun kapten kapal mengatakan kalian dikontrak 6 bulan di sini.
"Kami uda berkali kali minta dipulangkan, tapi kapten kapal bilang kontrak kami belum habis selama enam bulan," ujar mereka.
Seperti diketahui, pada tanggal 24 Januari 2016 lalu, sebanyak 37 dari 42 pelajar SMKN 1 Perikanan Kota Tanjungbalai dari Program Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI) dan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI) telah diberangkatkan ke Bali dengan alasan untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan biaya sendiri. Masing-masing mereka mengeluarkan biaya sebesar Rp3,1 juta. Rencananya, para pelajar ini akan mengikuti PKL di Bali selama 4 (empat) bulan saja, yakni dari tanggal 25 Januari sampai 25 Mei 2016.
Di Bali, para pelajar ini kemudian diserahkan kepada CV Prila, tempat mereka mengikuti PKL. Akan tetapi, pada bulan Mei 2016 lalu, hanya 15 dari 37 pelajar SMKN ini yang telah kembali, sementara sebanyak 22 orang lagi ternyata belum kembali.
Dari sinilah akhirnya terungkap, bahwa selama berada di Bali, para pelajar ini bukan diperlakukan sebagai tenaga PKL, melainkan sebagai buruh kontrak dengan gaji Rp60 ribu per hari. Dan akhirnya, kasus dugaan eksploitasi pelajar SMKN dengan dalih PKL ini dilaporkan oleh orangtua siswa ke DPRD Kota Tanjungbalai.
Selanjutnya, untuk menyelesaikan persoalan yang dialami ke 22, DPRD telah membentuk tim lintas komisi yakni komisi  A, B dan C. Kemudian, Minggu (24/7) kemarin, anggota DPRD lintas komisi ini akhirnya berangkat ke Bali untuk melakukan penjemputan dan telah kembali membawa ke 22 siswa SMK tersebut. (mag-02)






Keterangan Foto
Para orangtua siswa saat menyambut kepulangan anak mereka di depan Gedung DPRD Kota Tanjungbalai. Isak tangispun tak terbendung, ketika memeluk para anaknya. (Riki Siregar/Metro Asahan)




TANJUNGBALAI -Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia berinisial MR (25),  pulang ke tanah air membawa oleh-oleh narkotika jenis sabu yang diselipkan di kotak kardus sebagai barang bawaan.
Modus tersangka yang diduga sebagai kurir ini berhasil ‘tercium’ Petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (BC) Tanjung Balai-Asahan.
Dalam pengungkapan, petugas menggagalkan penyelundupan 318 gram sabu ketika pria asal Pidie Jaya, Aceh ini baru saja tiba di Pelabuhan Teluk Nibung menggunakan kapal Ferry Atlantic Jet Star 1.
"Pelaku kita amankan setelah petugas melakukan periksaan barang bawaan para penumpang  melalui mesin Xray. Setelah diperiksa, ditemukan sabu dibarang bawaan pelaku  MR," ujar Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (BC) Tanjung Balai-Asahan Fuaz Fauzi saat serah terima tersangka dan barang bukti ke Polres Tanjungbalai, di Kantor KPPBC TMP C Teluk Nibung, Jumat malam (28/7).
Fuaz menuturkan, untuk mengelabui petugas, pelaku mengunakan modus dengan cara  memodifikasi kardus tempat barang bawaan. "Di lapisan kardus diselipkan narkoba,”  ujar Fuaz sembari menjelaskan, untuk penyidikan lebih lanjut pihaknya menyerahkan pelaku Polres Tanjungbalai.
Sementara MR yang berhasil diwawancarai wartawan mengatakan, ia  tidak mengetahui adanya sabu di dalam barang bawaanya. Dirinya hanya dititip oleh temanya berinisial M untuk membawa barang tersebut ke kampung halamannya.
"Saya nggak tau pak, kalau kotak kardus itu isinya ada narkoba.saya dari Malaysia hanya dititipkan barang untuk dibawa ke Aceh sebagai oleh-oleh," ujarnya.(Mag 02)





Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (BC) Tanjung Balai-Asahan Fuaz Fauzi  saat memperlihatkan modus yang digunakan pelaku dengan memodifikasi lapisan kardus untuk menyelipkan sabu ke dalamnya. (Riki Siregar)



TANJUNGBALAI-Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai diminta segera menerbitkan peraturan yang melarang truk roda enam ke atas memasuki kawasan inti kota.
Permintaan tersebut diungkapkan Taufik Hidayat, mantan fungsionaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tanjungbalai kepada koran ini, Jumat (29/7).
"Bebasnya keluar masuk truk roda enam ke atas ini lebih besar dampak buruknya bagi masyarakat, karena mempercepat terjadinya kerusakan jalan-jalan di inti kota. Oleh karena itu, kita sangat berharap kepada Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai agar dapat mengeluarkan peraturan yang melarang truk memasuki kawasan inti kota," pinta Taufik.
Menurut Taufik,  masuknya truk tersebut tidak membawa manfaat apapun kepada masyarakat. Pada umumnya, truk-truk tersebut  mengangkut tandan segar buah sawit (TBS) dari hasil perkebunan daerah tetangga.
"Jalan-jalan di inti kota maupun jalan kecamatan lainnya yang ada di Kota Tanjungbalai sudah mengalami kerusakan berat akibat setiap hari dilalui truk roda enam ke atas yang sarat dengan TBS dari daerah tetangga, tanpa ada keuntungan bagi pemko. Sementara, untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak, uang rakyat  yang dipergunakan melalui APBD Kota Tanjungbalai," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Aliang (55), seorang pengusaha warung di kawasan Jalan Imam Bonjol, Kota Tanjungbalai. Katanya, setiap truk bermuatan buah sawit segar melintas, kawasan Jalan Imam Bonjol tersebut tidak hanya macet, juga penuh dengan debu.
"Kalau bisa, kita sangat berharap kepada pemerintah agar melarang truk-truk bermuatan buah sawit itu memasuki jalan-jalan di inti kota. Selain menimbulkan kemacetan lalulintas, truk-truk tersebut juga selalu mengangkut sawit dengan muatan yang melebihi batas maksimum, sehingga merusak badan jalan," papar Aliang.
Sementara itu, amatan koran ini di lapangan, bebasnya truk masuk inti kota sudah berlangsung lama. Walaupun sering mendapat protes dari warga, namun Pemko Tanjungbalai terkesan tidak perduli. Masyarakat sangat berharap agar pemerintah dapat menerbitkan larangan kepada truk roda enam ke atas ini memasuki jalan inti kota maupun jalan-jalan kecamatan lainnya. (ck-5)






Truk roda enam ke atas terlihat bebas keluar masuk jalan-jalan di inti kota, sehingga meresahkan warga di Kota Tanjungbalai, Jumat (29/7). (Ignatius Siagian/Metro Asahan)


KOTA PINANG - Kantor Polsek Kampung Rakyat telah selesai direnovasi dan diresmikan. Renovasi kantor tersebut berdasarkan bantuan dana dari Pemkab Labuhanbatu Selatan. Selain itu, pihak Pemkab Labusel juga telah menyiapkan lahan seluas 3 haktare untuk pembangunan Mapolres Labusel tepatnya di daerah Desa Asam Jawa.
Hal itu dikatakan Kapolsek Kampung Rakyat AKP Zulham pada peresmian Kantor Polsek Kampung Rakyat, Kamis (28/7) kemarin.
Dia mengatakan, terlaksananya pembangunan Kantor Polsek Kampung Rakyat merupakan arahan dari Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie.
"Pak Bupati Labusel inilah dana yang bapak berikan dan sudah kami manfaatkan. Terima kasih bantuannya,” kata Kapolsek saat pemotongan pita peresmian. 
Kapolres Labuhanbatu Teguh Yuswardhie menjelaskan dana bangunan dalam renovasi gedung Mapolsek bersumber dari dana campuran dari Pemkab Labusel dan dari para donatur.
"Saya tekankan pada semua Kapolsek harus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Labusel Wildan Aswan Tanjung  berharap agar permintaan masyarakat dapat merasakan kenyamanan dan kondusif nantinya setelah gedung Mapolsek selesai direnovasi. Sementara, kata dia, Pemkab Labusel juga telah mensiapkan dana pembelian lahan untuk pembangunan Mapolres di Labusel seluas 3 Hektare.
Dia pun menjelaskan, untuk pembangunan Polres di Labusel nantinya terletak di pinggir jalan di daerah Desa Asam Jawa. Begitu juga dirinya nanti akan melakukan rapat kordinasi dengan masyarakat Kecamatan Sei Kanan untuk meminta bantuan pelepasan lahan bandara udara.
Dalam peresmian tersebut, Bupati Labusel menandatangi prasasti serta pemotongan pita ruangan Kapolsek sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim piatu. (Riz/syaf)
                        

  

 Bupati Labusel ketika melakukan penandatangan prasasti didampingi Kapolres Labuhanbatu, Ketua DPRD bersama Kapolsek dan SKPD Labusel.  (rizki/METRO RANTAU)


Program Kerja Plh Dirut PDAM Tirta Bina Rantauprapat

RANTAU- Pergantian Dirut PDAM Tirta Bina Rantauprapat saat ini menjadi perbincangan hangat bagi warga Kota Rantauprapat, khususnya bagi para pelanggan. Sebab, masalah yang ditinggalkan Dirut PDAM Rantauprapat Hasbullah seperti tertunggaknya biaya arus listrik mencapai Rp300 jutaan. Selain itu, gaji pegawai selama tiga bulan dikhatirkan akan mempengaruhi pelayanan terhadap pelanggan.
Namun untuk mengantisipasi kehawatiran pelanggan tersebut, Pelaksana Harian Direktur PDAM Tirta Bina Rantauprapat Surya Edi Hasibuan telah membuat program percepatan mengatasi masalah tersebut dengan menginstruksi seluruh pegawai "jeput Bola" melakukan penagihan tunggakan besar-besaran secara langsung. Harapanya, dalam 100 hari kerja tunggakan dapat dilunasi.
"Jumlah pegawai kita sekitar 100 orang. Nah, sejak hari Senin kemarin saya resmi bekerja jadi PLH. Disaat itu lah saya instruksikan seluruh pegawai melakukan jemput bola penagihan tunggakan secara besar-besaran terhadap pelanggan," ucap Surya Edi Hasibuan, Jumat (29/7).
Setelah seluruh pegawai melakukan penagihan secara besar-besaran, hasilnyapihaknya sudah mulai mampu membayarkan sebahagian tunggakan listrik.
"Hutang tunggakan listrik di WTP II di Jalan Skip Rp101 juta. Dua hari saya bekerja sudah dibayarkan Rp79 juta. Di WTP III di Jalan Sibuaya tunggakan listrik Rp71 juta dan sudah dibayarkan Rp14 juta. Sedangkan di WTP Aek Nabara terdapat tunggakan Rp19 juta dan tunggakan di kantor PDAM Rantauprapat Rp29 juta. Nah, sisa hutang tunggakan listrik diusahakan Rabu depan sudah lunas," terangnya.
Dijelaskan Suryadi, tunggakan listrik tersebut terjadi sejak awal Juni yang lalu. Bahkan seminggu yang lalu arus listrik sempat diputus selama dua hari. Agar pendistribusian air ke warga dapat berjalan, maka Bupati Labuhanbatu menjamin agar listrik tesebut dipasang kembali dengan meminta limit waktu dua minggu kedepan dilunasi.
" Makanya kita usahakan Rabu depan semua tunggakan uang listrik itu lunas," tekadnya.
Setelah hutang tunggakan listrik lunas, setelah itu, kata surya pihaknya akan membayarkan tunggakan gaji pegawai selama bulan Mei dan Juni. Serta membayar hutang bahan kimia pengolaan air selama dua bulan sebesar Rp110 jutaan.
"Total pelanggan kita sekitar 7.000 an. Nah, dari uang tagihan pelanggan itu lah kita usahakan dalam tempo 100 hari kerja seluruh tunggakan dilunasi. Makanya saat ini saya fokuskan dulu melunasi hutang, agar pendistribusian air kepada pelanggan tidak terganggu. Dan saya minta para pelanggan melunasi tunggakannya agar masalah seperti ini tidak terulang lagi," pintanya.
Sementara itu, sejumlah pelanggan berharap dengan digantinya dirut PDAM Tirta Bina Rantauprapat agar pendistribusian air tidak lagi terkendala.
"Kalau tunggakan sudah ditagih, jangan lah air yang disalurkan macet dan keruh lagi. Nanti pelanggan bisa kecewa. Kalau bisa airnya jernih seperti sekarang ini," pinta Andi dan Dani pelanggan air PDAM Tirta Bina Rantauprapat di Jalan jendral sudirman. (CR-2/syaf)


Teks Foto

Salah seorang pelanggan di Jalan Jendral sudirman sedang memperlihatkan air saluran PDAM Rantauprapat. (fendi/METRO RANTAU)


LABURA-Hindari tabrakan, Bus KUPJ yang membawa 18 penumpang terbalik di Jalinsum Berangir, Desa Pinang Lombang, Kecamatan NA-lX-X, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Jumat (29/7).

Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, hanya saja 18 penumpang luka-luka.
Informasi diperoleh, bus yang dikemudikan Billian Marbun (33), warga Desa Selat Beting Kecamatan Panai Hulu, ini terbalik di Jalinsum Berangir. Awalnya bus ini berangkat dari Ajamu, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu hendak menuju Tanjungbalai. Saat tiba di lokasi, supir bus KUPJ membanting setir ke kiri, menghindari bus Intra yang tiba-tiba mendahului truk yang datang dari arah berlawanan. Akibat banting stir, supir bus kehilangan kendali dan bus oleng lalu terbalik.
"Supir KUPJ itu mau mengelakkan bus Intra yang memotong truk di depannya, spontan supir itu banting setir hingga terbalik," ujar Zulkifli, warga yang mengaku menyaksikan  insiden itu.
Sementara Tono, warga lain mengaku, melihat bus KUPJ melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga terbalik saat berusaha menghindari tabrakan dengan Bus Intra.
"Sebelum terbalik, bus KUPJ itu melaju dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya bus itu pun sempat mendahului kendaraan yang di depannya," sebutnya.
Sementara Kasat Lantas Polres Labuhanbatu AKP WS Muchtar Hasibuan mengatakan, laka lantas yang terjadi di Jalinsum Berangir adalah kecelakaan tunggal.
"Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini para penumpang hanya mengalami luka-luka dan telah dievakuasi ke Puskesmas terdekat," tuturnya.  (Chad/syaf)


 

Teks Foto

Petugas Lantas dan warga mengevakuasi Bus KUPJ yang terbalik di badan Jalan Simpang Perkebunan Berangir. (Richard Silaban/METRO RANTAU)

Saat Menjenguk
Saudara Sepupu yang Ditahan
RANTAU – Coba selundupkan narkoba jenis sabu-sabu, dua orang pengunjung Lembaga Pemasyarakatan Klas II Rantauprapat diringkus, Jumat (29/7). Kedua tersangka yakni Ahmad Arifin (36) dan Admansyah (42).
Informasi diperoleh, kedua tersangka merupakan abang beradik dan mereka hendak menemui seorang warga binaan LP Rantauprapat Erwinsyah Syahputra Dalimunthe. Namun abang adik tersebut dipergoki petugas membawa narkoba.
Berdasarkan pengakuan keduanya, Erwinsyah Syahputra Dalimunthe yang merupakan warga binaan di LP Rantauprapat merupakan adik sepupu mereka yang saat ini menjalani hukuman lima tahun dan sudah menjalani hukuman dua tahun dalam kasus narkoba.
Kalapas Rantauprapat Usman Syarif melalui Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP) Khairul Bahri Siregar kepada wartawan mengatakan, tertangkapnya percobaan penyelundupan narkoba tersebut merupakan salah satu upaya atau langkah-langkah mereka sesuai amanah menteri hukum khususnya dalam hal memberantas narkoba.
Terkait penangkapan dua pengunjung tersebut, Khairul Bahri menjelaskan, sekira pukul 10.00 WIB keduanya datang ke LP Rantauprapat. Sesuai prosedur dilakukan pemeriksaan di ruang utama baik badan maupun barang bawaan pengunjung.
Saat menjalani pemeriksaan oleh dua petugas yakni, Irwan Siregar dan Krisantus bersama Serda H Sijabat dari Kodim 0209/LB BKO Lapas Klas II Rantauprapat terhadap dua pengunjung tersebut, petugas menemukan disaku celana dari pengunjung AA berupa satu paket kecil narkoba jenis sabu.
Dari pemeriksaan awal, lanjut Khairul, dari keterangannya bahwa sabu tersebut dibawa dari luar dan itu merupakan sisa pakai dirinya sendiri sebelum berkunjung ke Lapas, dan langkah selanjutnya akan koordinasi dengan pihak Polres Labuhanbatu khususnya pihak Sat Narkoba.
Khairul juga menambahkan, dari pengunjung tersebut turut diamankan barang temuan berupa, satu bungkus kecil plastik transparan yang diduga narkoba jenis sabu, dua buah HP, satu buah KTP, satu buah SIM B1, satu buah kartu kredit, satu buah dompet, satu buah cincin, uang sejumlah Rp99.000 serta satu unit sepedamotor beserta satu buah kunci.(Riz/syaf)


  

Teks foto
Ka KPLP Rantauparapat Khairul Bahri Siregar melakukan pemeriksaan terhadap dua orang pengunjung yang mencoba membawa sabu ke dalam Lapas. (rizki/METRO RANTAU)



Ledakannya Keras, 
Aku Langsung Terkapar
LABUHANBATU- Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap, Jumat (29/7) menjenguk korban insiden ledakan kembang api saat menyambut kegiatan rutin tahunan "Jamu Laut" (bakar tongkang), Rabu (27/7) lalu. Kondisi ke-26 warga yang terluka akibat ledakan kembang api sudah mulai membaik.
Bupati Pangonal Harahap menjenguk korban ledakan, untuk memberi semangat kepada warga yang tertimpa musibah agar luka diderita cepat sembuh," kata Kabag Humas Labuhanbatu Sugeng di Rantauprapat.
Dalam kunjungannya, bupati meminta kepada para petugas medis dan perawat untuk memberikan pelayanan maksimal kepada setiap pasien di Rumah Sakit ini.
Ia juga merasa prihatin musibah kecelakaan yang menimpa warga pesisir pantai Kabupaten Labuhanbatu untuk merayakan acara tahunan tersebut,"
"Ini adalah musibah, semoga korban ledakan cepat sembuh," kata Pangonal.
Dalam kunjugannya Bupati Labuhanbatu didampingi, Kepala RSUD Rantauprapat Natsir Pohan, Sekdakab Ali Usman Harahap, Tim penggerak PKK Labuhanbatu Siti Awal Siregar.
Menurut Sugeng saat ini para korban ledakan kembang api yang dirawat di rumah sakit sudah semakin membaik. Sugeng menambahkan, sedikitnya 26 orang mengalami luka robek dan luka bakar dalam insiden meledaknya kembang api pada acara ritual Jamu Laut di halaman Vihara Buddha Shanti jalan Ahmad Yani Dusun V Kelurahan Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Rabu (27/7) malam, makan korban.
Pesta kembang api dihalaman vihara yang digelar mulai pukul 19.00 WIB tersebut, berbuah kecelakaan. Satu dari tiga buah kembang api ukuran jumbo meledak di tanah. Pecahan material maupun mesiu menghantam pengunjung.
Akibatnya sekitar 26 pengunjung mengalami luka berat dan ringan. Tidak hanya itu, Markas Polsek Panai Hilir yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari lokasi ritual ikut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Akibat insiden itu warga yang menderita luka bakar, lima diantaranya dirujuk ke RSU Medan, sisanya dirawat di RSUD Rantauprapat dan Puskesmas Panai Hilir. Selain patah-patah, korban yang merupakan warga setempat tersebut, menderita luka bakar dan luka lecet.
”Semoga mereka yang terluka akibat insiden tersebut bisa cepat sembuh,” kata Sugeng.
Terpisah, Ahmad Fadli Nasution (39) warga Sei Berombang, Panai Hilir, Labuhanbatu ditemui di ruang kelas III RSUD Rantauprapat mengaku, ia sangat terkejut atas insiden tersebut. Akibat peristiwa itu, Fadli mengalami patah tulang paha kanan, luka bakar di dada kiri, luka robek dahi sebelah kanan, luka robek jari tengah, luka robek jari telunjuk kanan.
"Ada suara ledakan sangat keras dan ada benda yang menghantam kaki kiriku, akupun terkapar. Aku di luar vihara saat itu, pas jalan-jalanlah," kisahnya.
Sementara Ganti (40), saat menemani suaminya Juhri, yang merupakan korban saat dirawat di RSUD Rantauprapat juga mengaku tidak tahu menahu peristiwa tersebut. "Tahunya dihubungi, itupun suami saya sudah di Puskesmas," akunya.
Korban mengaku pada saat itu berada di badan jalan depan Vihara yang dipadati warga yang antusias mengikuti prosesi tersebut.
Juhri (37) warga Sei Berombang lainnya yang mengalami patah lengan kanan dan mengalami luka robek kepala samping kiri, luka lecet bawah mata, luka tangan sebelah kiri, lecet dada kanan, luka robek paha samping kanan juga mengaku kaget dengan insiden tersebut.
Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie di Mapolres mengatakan, pihaknya sudah mengumpulkan data atas insiden tersebut. Kata Teguh, pesta kembang api itu bukan rangkaian acara. Sehingga jadwalnya tidak terdapat di permohonan izin ke pihak Kepolisian. Sedangkan pemasok kembang api itu sendiri menurut Teguh adalah AT salah seorang warga Medan.
Tapi, Teguh terkesan masih menolelir. Sebab, kembang api yang dipakai masih di bawah ambang batas. Misalkan, kembang api kedua merek England Overlord dengan 169 tembakan, masih memiliki daya ledak 1,2". "Masih di bawah ambang batas," ujarnya.
Pihaknya belum menetapkan tersangka akibat ledakan itu. Sebab, masih melakukan pengembangan. Dan, bahkan masih menunggu tim labforensik Poldasu untuk meneliti penyebab meledaknya kembang api itu. "Kita tunggu dulu hasil tim forensik," kata dia. (riz/syaf)



Teks foto
Barang bukti kembang api yang dipakai adalam acara menyambut kegiatan rutin tahunan "Jamu Laut" (bakar tongkang). (rizki/METRO RANTAU)



Para korban ledakan kembang api yang mendapat perawatan di RSU Rantauprapat. (rizki/METRO RANTAU)

Kantor Polsek Rusak
PANAI HILIR - Sedikitnya 26 orang mengalami luka robek dan luka bakar dalam insiden meledaknya kembang api pada acara ritual Jamu Laut di halaman Vihara Buddha Shanti jalan Ahmad Yani Dusun V Kelurahan Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Rabu (27/7) malam, makan korban.
Pesta kembang api dihalaman vihara yang digelar mulai pukul 19.00 WIB tersebut, berbuah kecelakaan. Satu dari tiga buah kembang api ukuran jumbo meledak ditanah. Pecahan material maupun mesiu menghantam pengunjung.
Akibatnya sekitar 26 pengunjung mengalami luka berat dan ringan. Tidak hanya itu, Markas Polsek Panai Hilir yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari lokasi ritual ikut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Akibat insiden itu warga yang menderita luka bakar, lima diantaranya dirujuk ke RSU Medan, sisanya dirawat di RSUD Rantauprapat dan Puskesmas Panai Hilir. Selain patah-patah, korban yang merupakan warga setempat tersebut, menderita luka bakar dan luka lecet.
Ahmad Fadli Nasution, seorang korban yang dirawat di RSUD Rantauprapat mengaku tidak mengetahui persis peristiwa naas tersebut.
Saat sedang berjalan di sisi luar Vihara tiba-tiba saja dirinya mendengar dentuman keras yang diketahuinya belakangan bersumber dari kembang api yang digunakan panitia jamu laut.
"ada suara ledakan sangat keras dan ada benda yang menghantam kaki kiriku, akupun terkapar. Aku diluar vihara saat itu, pas jalan-jalanlah," kisahnya.
Sementara Ganti (40), saat menemani suaminya Juhri, yang merupakan korban saat dirawat di RSUD Rantauprapat juga mengaku tidak tahu menahu peristiwa tersebut. "tahunya dihubungi, itupun suami saya sudah di Puskesmas," akunya.
Pagi pasca kejadian tambah Ganti, pihak kecamatan, kepolisian sektor serta panitia telah menjenguk korban yang dirawat di RSUD Rantauprapat. "Kami sampai disini jam empat pagi tadi," terangnya.


Panitia Tak Lapor Gunakan Kembang Api
Ternyata pihak Kepolisian tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya dari pihak panitia jika akan menggunakan kembang api dalam rangkaian kegiatan Jamu Laut yang dilaksanakan Rabu (27/7) malam, di halaman Vihara Buddha Shanti Kelurahan Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir.
Menurut Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie dalam paparannya, Kamis (28/7) di Mapolres menjelaskan, untuk kegiatan upacara keagamaan telah memiliki izin. Namun pesta kembang api malam itu tidak dalam bahagian izin yang diberikan kepolisian.
Diterangkannya, malam itu dihalaman vihara, terdapat tiga buah kembang api yang akan dipasang. Dalam sesi pertama, kembang api tipe 600 letusan dapat meledak dengan normal di udara.
Selanjutnya pihak panitia kembali menyalakan kembang api dengan tipe 160 kali letusan dan kembali menyala dengan aman. Namun naas, saat kembang api dengan tipe 100 letusan dinyalakan, terjadilah ledakan hebat yang mengakibatkan puluhan warga terluka.
"Insiden itu mengakibatkan 26 korban, diantaranya luka berat 13 orang dan sisanya luka ringan dan kesemuanya sudah dirawat serta sebahagiannya sudah pulang," papar Kapolres.
Sampai kini tegasnya, pihak penyidik masih melakukan penyelidikan terkait meledaknya kembang api itu. Panitia, pengurus, maupun pihak lain yang terlibat dalam upacara keagamaan tersebut telah dimintai keterangan oleh penyidik.
"Kami sudah lidik, pesta kembang api bukan merupakan bagian upacara dan itu merupakan acara tambahan. Belum ada tersangka, nanti setelah ada dua alat bukti, baru ditetapkan," katanya.
Dijelaskan Teguh juga, jika semua temuan dilapangan terkait pecahan kembang api juga telah dikirim ke Labfor Polda Sumut guna memastikan penyebab meledaknya kembang api.
"Setelah ada hasil tim Labfor Polda Sumut, baru dapat kita simpulkan apa kesalahan dan tersangkanya. Mungkin dua hari ini baru kita peroleh hasil itu," aku AKBP Teguh Yuswardhie.
Dalam paparan peristiwa meledaknya kembang api yang memakan korban 26 luka bakar, Kapolres Labuhanbatu menambahkan, panitia upacara keagamaan Jamu Laut mendapatkan kembang api dari AT, warga Medan.
"Dari Medan lalu dibawa ke Sei Berombang untuk disumbangkan kepada Har, selaku ketua panitia dalam kegiatan itu. Dampak peristiwa itu, kita membatalkan upacara Bakar Tongkang yang direncanakan pagi tadi," tutur AKBP Teguh Yuswardhie lagi.


Kaca Mapolsek Berserakan
Akibat ledakan dari kembang api berdurasi 100 letusan tersebut, kantor Mapolsek Panai Hilir yang berjarak sekitar 10 meter dari vihara dimana pesta kembang api dilaksanakan, mengalami kerusakan.
Disebutkan Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie, menyebutkan hantaman material kayu dari meja tempat kembang api diletakkan dan lainnya, disinyalir menghantam dinding mapolsek sehingga kaca hancur dan berserakan.
"Selain dinding dan fasilitas vihara, kantor Mapolsek Panai Hilir juga terimbas. Hampir semua kaca depan dikantor itu pecah dan ada kerusakan lain," ujarnya. (Riz/syaf)




Adapun korban kembang api meledak di Sei Berombang yang dirawat di RSUD Rantauprapat, diantaranya :
1. Mika Okgefa Purba (6) mengalami luka bakar di daerah kening dan hidung dan pergelangan tangan, luka robek dibawah perut kiri dengan, luka lecet paha kanan.
2. Yusuf Sahala Purba (13) mengalami Luka bakar daerah kening kepala dan luka bakar daerah pergelangan tangan.
3. Aenoldi Prba (43) mengalami luka jari tengah sebekah kiri, kuku tanggal/lepas
4. Ahmad Fadli Nasution (39) mengalami luka robek dahi sebelah kanan, luka robek jari tengah, luka robek jari telunjuk kanan
5. Juhri (37) mengalami luka robek kepala samping kiri, luka lecet bawah mata, luka tangan sebelah kiri, lecet dada kanan, luka robek paha samping kanan
6. Sudi (47) mengalami luka lecet kening kepala, luka robek punggung sebelah kiri, luka bakar tangan kiri, luka robek punggung kanan
7. Masri alias Cukim (61) mengalami luka robek dan luka bakar tungkai kaki kiri bagian bawah dan luka robek punggung belakang bagian tengah
Sedangkan Korban kembang api meledak di Sei Berombang yang dirujuk ke Medan, diantaranya :
1. Acuan (51) mengalami uka robek kepala bagian kanan atas, luka lecet pada kaki kiri, luka lecet kaki sebelah kiri
2. Beng Hua (65) mengalami luka robek tangan kiri, luka robek siku kanan, luka robek pergelangan tangan kanan, luka robek betis kiri, luka robek punggung belakang
3. Hasan (35) mengalami luka lecet paha kanan, luka robek kepala samping kanan, luka robek pada sudut bibir, luka pada perut
4. Bendi (57) mengalami luka lecet bawah mata, luka lecet lengan kaknana, luja gires dada atas, luka lecet perut kanan, luka lecet paha kanan dan kiri, luka lecet pergelangan kaki kiri
5. Andrea Anto (27) mengalami luka robek kepala sebelah kanan, luka robek telinga kanan, luka robek hidung, luka robek bibir atas, luka robek bibir bawah

Batam - Lia Arzalina (21) hilang sejak Minggu, 3 Juli 2016. Hari ini, mahasiswi STAI Ibnu Sina, Batam, ini ditemukan tinggal tulang di semak belukar kawasan hutan lindung Kecamatan Nongsa. Polisi masih menyelidiki kejadian tragis ini.

Lia, panggilan Lia Arzalina, ditemukan sekitar pukul 10.45 WIB. Posisinya tertelungkup. Baju dan celananya masih utuh, tapi tubuhnya tinggal tulang. Dia diidentifikasi dari KTP dan helm, serta barang milknya.

"Korban ditemukan dalam kondisi sudah jadi tulang," tegas Kapolsek Nongsa, Kompol Safrudin Dalimunthe. 

Polisi melakukan olah TKP. Kemudian membawa tulang dan bagian tubuh korban ke RS Bhayangkara Polri untuk diautopsi. "Untuk mengetahui penyebab kematian korban," jelas Safrudin.

Paman korban, Subain, menceritakan pada saat kejadian, dirinya mengantar Lia ke pinggir Jalan Kecamatan Sagulung pada pukul 09.00 WIB. Lia mengaku janjian dengan seseorang. Saat itu, dia mengenakan baju biru dan celana abu-abu.

"Persis seperti saat ditemukan," jelasnya.

Belum diketahui apakah Lia menjadi korban pembunuhan atau meninggal secara wajar.  (mtc/int)

Sudah Tua dan Rusak
TANJUNGBALAI- Sudah tuanya bangunan drainase (parit) di Pasar Bengawan Ujung membuat fungsinya tidak berjalan optimal. Ketika hujan turun, air meluap dan menggenangi badan jalan.
Pantauan wartawan, kondisi bagunan drainase tersebut banyak tersumbat sampah lumpur. Selain itu, ukurannya kecil sehingga sering menyebabkan genangan air. Ucok (35) salah seorang pedagang yang ditemui media ini, Kamis (28/7) mengatakan, drainase di kawasan tersebut sudah harusnya diperbaiki. Sebab usia bangunan drainase tersebut sudah tidak layak, lagi pula ukurannya terlalu kecil. Kondisi ini membuat air kerap tergenang dan mengalir ke ruas jalan dan menyulitkan para pedagang berjualan.
"Parit ini terlalu kecil sudah sepantasnya diperbaiki agar luapan air dapat tertampung dengan maksimal. Sehingga kami pun berjualan tidak terganggu," ujar Ucok.
Hal yang sama juga dikatakan Budi (33) salah seorang pedagang lainnya. Menurut Budi, ketika hujan deras maupun air pasang, air selalu meluap akibat kecilnya drainase dan membuat mereka kerepotan.
"Kalau suda air pasang susah lah bang. Terendam tempat jualan kami dibuatnya," ucapnya.
Ali (28) warga lainnya mengaku, perbaikan drainase sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kerusakan jalan di daerah pasar tersebut. Sebab menurut Ali , penyebab jalan cepat rusak adalah buruknya drainase atau saluran parit.
Untuk itu Ali berharap pemerintah agar lebih profesional dalam pengelolaan anggaran kegiatan peningkatan sarana pengairan, lingkungan dan jaringan irigasi termasuk pengelolaan drainase yang sangat penting untuk mencegah banjir. (Mag02/syaf)


Keterangan Foto
Kondisi saluran bangunan drainase di Pasar Bengawan Ujung tersumbat sampah dan butuh perbaikan. (riki)


Untuk Memperbaiki Citra DPRD
TANJUNGBALAI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanjungbalai sangat setuju jika kasus dugaan korupsi anggaran perjalanan dinas Rp3 miliar di Sekretariat DPRD Kota Tanjungbalai pada tahun 2013 lalu diusut tuntas.
Hal itu diungkapkan Buyung Pohan, Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tanjungbalai kepada koran ini, Kamis (28/7).
"Kita sangat setuju apabila perkara dugaan korupsi anggaran perjalanan dinas 25 orang anggota DPRD Kota Tanjungbalai periode 2009-2014 itu diusut tuntas oleh pihak yang berkompeten. Sehingga, perkara tersebut jelas dan tidak menjadi ajang politik bagi pihak-pihak lain yang tujuannya mendiskreditkan kredibiltas dari lembaga perwakilan rakyat di Kota Tanjungbalai ini," ujar Buyung Pohan.
Menurut Buyung Pohan, Fraksi PDI Perjuangan yakin bahwa seluruh anggota DPRD Kota Tanjungbalai periode 2009-2014 tidak melakukan penyimpangan dalam penggunaan anggaran perjalanan dinas sebagaimana dimaksud dalam kasus tersebut. Oleh karena itu, agar masyarakat mengetahui permasalahan yang sebenarnya sekaligus untuk membersihkan citra DPRD, maka pihak yang berkompeten harus mengusut tuntas masalah tersebut.
"Jalan satu-satunya agar nama baik lembaga DPRD Kota Tanjungbalai ini bersih adalah dengan diusut tuntasnya kasus dugaan korupsi anggaran perjalanan dinas tersebut. Kita juga tidak menghendaki, kasus tersebut setiap tahun akan menjadi pembicaraan publik akibat tidak adanya kepastian hukumnya," pungkas Buyung Pohan.
Ditemui sebelumnya, Drs H Abdi Nusa, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tanjungbalai juga membenarkan, bahwa dugaan korupsi anggaran perjalanan dinas pada pos Sekretariat DPRD Kota Tanjungbalai Tahun 2013 tersebut terungkap berdasarkan Laporan Hasil pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sumatera Utara Tahun 2014. Akan tetapi, karena sudah banyak dari 25 anggota DPRD itu yang tidak lagi menjadi anggota DPRD, pihaknya kesulitan untuk melakukan penagihannya hingga saat ini.
Seperti diketahui dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2014 terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Pemerintah Kota Tanjungbalai Tahun 2013, ditemukan adanya penggunaan SPPD fiktif di Sekretariat DPRD Kota Tanjungbalai. SPPD fiktif tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian negara sekitar sebesar Rp3 miliar lebih dan hal tersebut telah diusut oleh penyidik tipikor Polres Tanjungbalai, namun hingga saat ini tidak jelas kelanjutannya. (ck-5/syaf)



Keterangan :
 Buyung Pohan, Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tanjungbalai.

Permintaan Mahasiswa 
Saat Berunjuk Rasa di Kejari 
TANJUNGBALAI - Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tanjungbalai diminta mengusut tuntas sekandal dugaan korupsi belanja modal Tahun Anggaran 2014 di Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai sebesar Rp1 miliar lebih.

Hal tersebut diungkapkan puluhan mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka Kota Tanjungbalai saat berujuk rasa damai di depan kantor Kejari Tanjungbalai di Jalan Jendral Sudirman, Kamis (28/7).
Koordinator aksi Budi Arianto dalam orasinya mengatakan, Kejari Kota Tanjungbalai sebagai lembaga penegak hukum agar segera menuntaskan skandal korupsi kegiatan belanja modal 2014 yang dilakasanakan oleh Dinas Kebersihan dan Pasar.
Karena berdasarkan temuan dari investigasi yang lakukan mendapatkan fakta bahwa dibeberapa item kegiatan di Dinas Kebersihan dan Pasar Tanjungbalai sarat dengan korupsi.
"Telah ditemukan kejanggalan pada laporan realisasi Anggaran 2014. Hasil perhitungan bahwa estimasi kebocoran keuangan pemerintah daerah Kota Tanjungbalai tersebut senilai Rp1 miliar lebih. Hal ini akibat kerakusan para jelmaan tikus berdasi," ucap Budi.
Mahasiswa meminta kepada Kajari Tanjungbalai untuk segera menuntaskan skandal korupsi yang melibatkan pejabat di Dinas Kebersihan dan Pasar tersebut.
"Hukum harus benar-benar ditegakkan, tangkap dan memeriksa Oknum yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan kegiatan tersebut," ucapnya.
Menanggapi aspirasi mahasiswa, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Tanjungbalai Ester Sibuea diwakili oleh Kasi Intelejen Ehbym SH mengatakan, akan mempelajari tentang tuntutan mahasiswa.
"Kami apresisasi kedatang rekan-rekan dan hal menjadi tuntutan akan dipelajari terlebih dahulu," ujarnya.
Pantauan wartawan, setelah aspirasinya diterima oleh pihak kejaksaan, massa kemudian membubarkan diri dengan tenang di bawah pengawalan petugas kepolisian.
Terpisah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai Drs Harmaini saat ingin dikonfirmasi tidak berada di kantor. Menurut pegawainya Harmaaini sedang keluar karena ada urusan kerja.
"Bapak sedang ada urusan kerja di luar. Kalau ingin ketemu bapak bisa datang lagi besok," ucap salah seorang pegawai yang tak mau menyebutkan namanya. (Mag02/syaf)


Kasi Intelejen Kejari Tanjungbalai  menerima para mahasiswa yang berunjuk rasa. (riki)

BNNK: Mereka Direhabilitasi
TANJUNGBALAI- Kepala Badan Narkotika Nasional (BNNK) Kota Tanjungbalai AKBP Saharudin Bangko membantah pihaknya melakukan tangkap lepas.
Itu disampaikan Bangko saat menerima kedatangan mahasiswa yang melakukan ujuk rasa di kantor BNNK Tanjungbalai, Kamis (28/7).
Pantauan wartawan, puluhan mahasiswa melakukan unjuk rasa di depan Kantor BBNK Tanjungbalai. Mereka menuntut Kepala BNNK Tanjungbalai menangkap kembali lima orang yang terduga melakukan penyalah gunaan narkotika yang telah dilepaskan pihak BNNK Tanjungbalai.
Dimana  para mahasiswa menduga pihal BBNK melakukan tangkap lepas atas lima orang yang digerebek pada tanggal 11Juli 2016 lalu di Jalan Sipori-pori, Lingkungan IV, Kelurahan Beting Kuala Kapias, Kecamatan Teluk Nibung. Di mana kelima orang yang digerebek yakni SR (23), SA (44), Rz (24), Df (28) dan DA (28).
Kedatangan para mahasiswa disambut Kepala BNNK Tanjungbalai AKBP Saharuddin Bangko. Dihadapan masiswa Bangko mengatakan bahwa mereka tidak ada melakukan tangkap lepas. Kelima orang tersebut digelandang ke kantor BNN dan diproses sesuai dengan prosedur.
"Kelima langsung kita bawa ke kantor tidak ada yang dilepas pada malam itu juga," ucapnya.
Banko juga menjelaskan saat ini lima orang tersebut sedang menjalani proses rehabilitasi  dan tidak bebas.
"Kelima orang tersebut saat ini sedang melakukan rehab jalan, bukan dibebaskan seperti yang ditudahkan para pendemo," ucapnya.
Terkait tidak dibawanya kelima orang tersebut kepersidangan, Bangko mengatakan, saat dilakukan penggerebekan petugas tidak menemukan barang bukti yang dapat menjerat kelima pelaku kepersidangan sesuai dengan Undang Undang Narkotika No 35Tahun 2009.
"Kita tidak cukup bukti untuk menahan mereka, hanya saja memang mereka positif pengguna narkoba. Untuk itu mereka kita rehap selama delapan kali di klinik pratama BNNK Tanjungbalai," tambahnya.
Hal tersebut juga dibenarkan SA (44) salah seorang dari kelima yang diduga tangkap lepas ketika ditemui di BNN saat menjalani lokasi rehab.
SA menyatakan bahwa mereka semua digelandang ke BNN tidak ada yang dilepas pada malam itu.
"Kami semuanya diproses bang tidak ada yang dilepas," ucapnya. (mag02/syaf)



Para mahasiswa saat melakulan unjuk rasa didepan kantor BNNK Kota Tanjungbalai

TANJUNGBALAI - Sebanyak 39 orang pejabat struktural dan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) Kota Tanjungbalai di tes urine oleh Badan Narkotika Nasional (BNNK) Kota Tanjungbalai, Kamis (28/7). Hasilnya, satu orang pegawai positif narkoba.
Pemeriksaan test urin dilakukan secara ketat oleh petugas BNN untuk mencegah adanya kecurangan saat pengambilan urin. Hasilnya satu orang  fositif terindikasi penguna narkotika jenis sabu-sabu.
Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Tanjungbalai Drs H Hayatsyah MPd mengatakan tes urine tersebut dilaksanakan untuk mendukung komitmen pemerintah bahwa perlunya P4GN untuk memberantas penyalah gunaan dan bersih narkoba terutama dikementrian agama
"Hal ini kita lakukan sebagai komintmen kita untuk mendukung pemerintah bahwa perlunya P4GN untuk memberantas dan bersih narkoba terutama di kementrian agama dan sebagaimana melanjutkan Mou Kementrian Agama Provinsi Sumatera Utara yang kita tindak lanjuti di kementrian Agama kota Tanjungbalai," ujarnya.
Terkait salah seorang pegawai yang positif mengunakan narkoba Hayatsyah mengatakan akan meninjau ulang kembali karena berdasarkan keterangan dari yang terduga terindikasi bahwasannya dirinya mengkonsumsi obat batuk.
"Kita akan liat lagi dan melakukan cek ulang yang lebih tinggi karena keterangan dari yang bersangkutan bahwa dirinya mengkonsumsi obat batuk," ucapnya.
Sementara kepala Badan Narkotika Nasional (BNNK) Kota Tanjungbalai AKBP Saharuddin Bangko menjelaskan, dari 39 pegawai Kemenag yang dilakukan test urin satu orang pegawai terindikasi mengkonsumsi narkotika jenis sabu.
Untuk memastikan tidak adanya kesalahan petugas melakukan test urine dua kali terhadap pegawai yang terindikasi tersebut namun hasilnya tetap tidak berubah.
"Berdasarkan keterangan yang bersangkutan dirinya ada mengkonsumsi obat sehingga kita akan melihat obat yang dikonsumsi tersebut," ujarnya. (Mag02/syaf)



Keterangan Foto
PNS di lingkungan Kementrian Agama Kota Tanjungbalai mengikuti tes urine oleh BNNK Tanjungbalai. (riki)


Powered by Blogger.