BELAWAN-Kejahatan seksual dalam keluarga kembali terjadi. Siswanto (48) tega menjadikan anak kandungnya BU (20) sebagai pelampisan nafsu bejatnya selama tujuh tahun, tepatnya sejak korban masih kelas 1 SMP.

Parahnya, hasil hubungan sedarah itu telah melahirkan 2 bayi. Perbuatan itu terbongkar setelah warga curiga siapa ayah dari anak yang dilahirkan BU, Rabu (28/9) sore.

Ceritanya, sore itu warga sekitar terkejut mendengar BU pulang dari klinik dan telah melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Para tetangga curiga dengan kelahiran anak BU tanpa suami sehingga menjadi buah bibir pembicaraan para tetangga.

Tetangga yang curiga dengan kelahiran anak BU mencoba menanyai siapa ayah dari bayi yang dilahirkan. Alhasil, BU yang baru melahirkan empat hari membuka tabir buruk dari bayi yang telah dilahirkannya.

Dengan kondisi masih lemas dan diiringi rasa takut, BU menceritakan kepada tetangga ayah dari anak yang dilahirkannya adalah ayah kandungnya sendiri. Mendengar cerita itu, tetangga menjadi heboh dan emosi melihat perbuaran Siswanto kepada BU.

Sore itu juga, suasana di rumah BU mulai ramai didatangi para tetangga, ibu kandung BU, Hus (45) yang baru pulang bekerja sebagai cleaning servis di salah satu perumahan membenarkan pengakuan anak kandungnya.

Akibatnya, suasana semakin heboh, warga yang kesal mencoba mencari tahu keberadaan ayah kandung BU di tempat kerjanya yang bekerja sebagai satpam di KIM. Ternyata, kehebohan dan emosi warga didengar oleh Siswanto. Siswanto lalu kabur dari tempat kerjanya.

Suasana di lingkungan tempat tinggal BU akhirnya ditenangkan oleh Polmas dan kepling setempat. Ibu kandung BU, Hus langsung dibawa untuk membuat laporan ke Polsek Medan Labuhan.

“Tadi saya dengar ada rame-rame di rumah anak yang baru melahirkan ini, rupanya warga emosi karena anak perempuan itu melahirkan bayi dari anak ayah kandungnya. Karena warga emosi, makanya saya tenangkan, lalu saya bawa ibunya ke kantor polisi,” kata Kepling setempat, Zainuddin.

Kapolsek Medan Labuhan, Kompol Yasir Ahmadi dikonfirmasi mengatakan, laporan korban sudah diterima dan akan diproses. “Bila unsur sudah lengkap, akan segera kita tangkap pelakunya,” katanya. (ril/rbb/PM/jpg/nin/ma/int)


Bripka S Sitangga

AIpda Arianto
TANJUNGBALAI – Nasib Bripka S Sitanggang yang bertugas di unit provos Polres Tanjungbalai, Sabtu (30/9) akan ditetapkan apakah terbukti sebagai bandar narkoba atau tidak. Sementara rekannya Aipda Arianto Sinaga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Hal itu sesuai dengan pengakuan Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK MHum mengatakan, masih ada waktu selama 6 x 24 jam untuk menetapkan status dari personil unit provost Polres Tanjungbalai itu.

Bripka S Sitanggang bersama dengan rekannya Aipda Arianto Sinaga (38) diduga terlibat menjadi pengedar dan bandar narkoba sebagai hasil pengembangan dari penangkapan terhadap dua warga sipil yakni Syah Amri alias Si Am (43) dan Jeremia Surbakti alias Jerry (31) dari Cafe 99, Kota Tanjungbalai, Jumat (23/9) lalu.

 Menurut Kapolres AKBP Ayep Wahyu Gunawan,SIK,MHum, status dari Bripka S Sitanggang dalam kasus tersebut masih terperiksa selama 6 x 24 jam terhitung sejak diamankan pada hari Sabtu (25/9) lalu.

Keterlibatan Bripka S Sitanggang yang diduga sebagai bandar narkoba itu berawal dari tertangkapnya dua orang pria bernama Syah Amri alias Si Am (43) warga Jalan Putri Bungsu, Lingkungan IV, Kelurahan Tanjungbalai Kota IV, Kelurahan Tanjungbalai Utara dan Jeremia Surbakti alias Jery (31) warga Jalan Sehat, Lingkungan II, Kelurahan Bunga Tanjung, Kecamatan Datuk Bandar Timur.

Dimana keduanya ditangkap saat akan bertransaksi narkoba jenis sabu-sabu dengan Wira (buron) di Cafe 99, Kota Tanjungbalai, Jumat (23/9) lalu sekira pukul 16.00 Wib. Dari kedua pelaku ini, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,45 gram dan 20,33 gram.

Saat dilakukan pemeriksaan, kedua pelaku mengaku mendapatkan barang terlarang tersebut dari oknum anggota polisi yakni Aipda Arianto Sinaga yang tinggal di asrama polisi di Jalan Sudirman, tepatnya di belakang Kantor Polsek Tanjungbalai Selatan. Pada hari itu juga, Aipda Arianto Sinaga yang bertugas di unit Reskrim Polres Tanjungbalai itu langsung diamankan.

Selanjutnya, petugas melakukan penggeledahan terhadap kediaman dari Aipda Arianto Sinaga, dan berhasil ditemukan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,40 gram serta sebuah bong kaca atau alat untuk menghisap sabu-sabu. Atas adanya bukti-bukti tersebut, Aipda Arianto Sinaga akhirnya mengakui, bahwa barang haram itu diperolehnya dari Bripka S Sitanggang.

Dan keesokan harinya, Sabtu (24/9), Bripka S Sitanggang yang bertugas di unit provost Polres Tanjungbalai itu langsung diamankan guna menjalani pemeriksaan. Menurut Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan masih ada waktu selama 6 x 24 jam untuk menetapkan  status dari Bripka S Sitanggang.

"Bripka SS masih belum ditetapkan sebagai tersangka dan masih dalam proses pemeriksaan. Soalnya, untuk kasus narkoba, masih ada kesempatan selama 6 x 24 jam untuk menentukan statusnya", ujar Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu
Gunawan,SIK,MHum kepada koran ini.

Keterangan lain yang diperoleh koran ini mengatakan, bahwa pada hari Kamis (29/9) kemarin, telah dilakukan gelar perkara terkait dengan kasus narkoba yang melibatkan dua orang oknum personil kepolisian tersebut. Sayangnya, gelar perkara tersebut dilakukan secara tertutup, sehingga belum dapat diketahui hasilnya.

"Gelar perkara itu, biasa dilakukan secara internal untuk mengetahui duduk perkaranya, bukan untuk dipublikasikan. Nanti, setelah diambil kesimpulannya, barulah hasilnya bisa dipublikasikan", ujar Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga menjawab koran ini. (ck-5/syaf)

TANJUNGBALAI-Dua pria pengangguran yakni Bukhori (25) dan Ilham alias Cino (35) tertangkap tangan saat membawa satu paket ganja kering seberat 700 gram dan 0,45 gram  sabu-sabu. Atas perbuatannya kini keduanya  mendekam sel tahan polisi.

Informasi dihimpun, Bukhori merupakan warga Jalan Rukun, Lingkungan V, Kelurahan Kuala Silau Bestari, Kecamatan Tanjungbalai Utara. Sedangkan Ilham alias Cino merupakan warga Gang Garuda, Lingkungan II, Kelurahan Beting Kuala Kapias, Kecamatan Teluk Nibung, Tanjungbalai.

Keduanya diringkus petugas saat melintas di Jalan Suprapto tepatnya di Simpang Menara Lima saat  mengendarai sepedamotor, Rabu (28/9).

"Kedua tersangka kita amankan saat berkendara tepat Simpang Menara Lima, Lingkungan IV, Kelurahan Tanjungbalai Kota IV, Kecamatan Tanjungbalai Utara," kata  Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasat Narkoba MHD Yunus Tarigan SH didampingi KBO Ipda R Saragih.

Dikatakan Saragih, penangkapan kedua pelaku berdasarkan laporan masyarakat yang mengatakan kedua tersangka sering melakukan penyalah gunaan narkotika. Atas informasi tersebut petugas Sat Narkoba melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap tersangka.

"Dari tangan kedua tersangka, petugas mengamankan barang bukti berupa satu paket ganja kering seberat 700 Gram dan 0,45 Gram  sabu-sabu,”"ucap Saragih.

Untuk proses hukum lebih lanjut, kedua tersangka masih dalam penyidikan petugas guna  mengungkap dari mana pelaku mendapat barang haram tersebut.

"Akibat perbuatannya, kedua tersangka akan dijerat dengan  pasal  112 dan  Pasal 114 Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika,” tambahnya. (mag02/syaf)



 



BATUBARA- Suasana hening Kamis (29/9) pagi, tiba-tiba pecah saat suara dentuman keras menggelegar di Jalinsum Km 138-139, tepatnya Desa Perkebunan Sei Bejangkar, Kecamatan Sei Balai, Batubara. Pagi itu sekira pukul 04.30 WIB, warga terjaga saat mendengar suara minta tolong.

Ternyata, pagi subuh itu, Bus Medan Jaya dan truk tronton Hino serta Bus Halmahera terlibat kecelakaan beruntun. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan beruntun itu. Korbannya hanya mengalami luka-luka.

Informasi dihimpun koran ini, kecelakaan beruntun itu bermula saat Bus PT Putra Pelangi BL 7341 AK, tengah berhenti di sisi jalan sebelah kiri dari arah Kisaran menuju arah Medan. Tak jauh dari posisi bus PT Putra Pelangi parkir, sudah dipasang rambu-rambu lalu lintas di badan jalan.

Tak lama kemudian, Bus Medan Jaya BK 7657 UJ, yang dikemudikan Adi Sembiring (38), warga Medan Tuntungan dan Bus Halmahera BK 7916 DO, yang dikemudikan Eko Nopianto Pangaribuan (27), juga warga Medan, melaju kencang dari arah Kisaran menuju Medan. Kedua bus itu terlibat kejar-kejaran.

Saat itu di Km 138-139, Desa Perkebunan Sei Bejangkar, sopir Bus Medan Jaya Adi Sembiring berusaha mengurangi kecepatan, dengan cara mengerem. Ternyata upaya Adi mengerem mengakibatkan bus yang ia kemudikan tergelincir ke arah sebelah kanan jalan dan langsung menabrak Truk Tronton Hino BK 8216 CT juga melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Akibat tabrakan itu, Bus Halmahera yang berada di belakang Bus Medan Jaya tak bisa menghindar hingga terjadi tabrakan beruntun.

Akibat tabrakan beruntun itu, sopir Truk Hino bernama Edi Tua Silalahi (57), warga Sunggal, Medan, mengalami luka-luka. Kemudian beberapa penumpang Bus juga mengalami luka-luka.

Tak lama berselang, petugas Sat Lantas Polres Batubara datang ke lokasi kejadian dan segera mengevakuasi para korban luka ke klinik dan rumah sakit terdekat. Kemudian ketiga kendaraan terlibat laka beruntun termasuk bus Putra Pelangi ikut diamankan ke Mapolres Batubara untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kernet Truk Hino bernama Ratlan ZR Sinaga (46), warga Jalan Pulau, Belawan Medan, saat ditemui di sekitar lokasi, menuturkan, sebelum kejadian ia sedang tidur di belakang jok sopir. Tiba-tiba ia mendengar suara benturan keras.

"Seketika itu saya melihat kabin depan mobil sudah turun. Saat saya cek ke depan, saya melihat sopir truk bernama Edi Tua Silalahi sudah tak sadar lagi dan mengalami luka-luka pada bagian kepala, kaki dan telinganya," ujarnya.

Menurutnya, truk yang mereka bawa tersebut membawa muatan keramik dan kelontong yang akan dibawa dari Medan menuju Padang, Sumatera Barat.

"Awalnya memang saya yang membawanya, namun tadi di tengah perjalanan kami gantian mengemudi karena saya mengantuk. Saat kejadian ini, saya selamat dan tidak mengalami luka-luka," katanya lagi.

Sementara sopir Bus Putra Pelangi bernama Samsir Butarbutar (46), warga Simpang Rambung Merah, Siantar, mengaku bahwa busnya sudah beberapa hari terparkir di badan jalan karena mengalami kerusakan pada mesin. Dan, dia juga mengaku sudah memasang rambu-rambu di badan jalan.

"Tadi tiba-tiba saya mendengar suara benturan keras dan sàat saya cek ternyata ada kecelakaan beruntun itu, dan bus saya selamat dan tidak mengalami kerusakan karena tidak ada terlibat dalam benturan kecelakaan itu," katanya.

Warga setempat bernama Tatok (50), mengaku sebelum kejadian kecelakaan itu sempat melihat dua bus yang saling berlomba tidak jauh dari lokasi kejadian.

"Tak lama setelah melihat bus yang kejar-kejaran itu, saya mendengar dan mendapatkan informasi kalau ada kecelakaan beruntun. Saat saya cek ternyata yang kecelakaan itu merupakan bus-bus yang sebelumnya saya lihat merupakan Bus Halmahera dan Medan Jaya yang sempat kejar-kejaran itu," katanya.

Kasat Lantas Polres Batubara AKP Nasib Manurung, melalui Kanit Laka IPTU CH Manurung menuturkan, tidak ada korban jiwa dalam peritiwa kecelakaan beruntun ini. Hanya korban luka yakni supir truk dan bebeberapa orang penumpang. Para penumpang yang tidak mengalami luka-luka sudah dievakuasi dan dipindahkan ke bus lainnya. Sementara kendaraan yang terlibat kecelakaan sudah diamankan. (wan/dro)



BATUBARA- Rangga Utama Putra, siswa kelas XII IPS-3 SMA Mitra Inalum, Sei Suka, Batubara, salah seorang anggota Tim Drumband PON XIX Sumut di Jabar berhasil membawa pulang dua medali emas, satu perak, satu perunggu.

Diterima Sekdakab Batubara Darwis, Kamis (29/9), Rangga Utama Putra didampingi Kepala Sekolah Muhammad Nur, KUPT Dinas Pendidikan Sei Suka Riswandi, pelatih drumband Mhd Jarot Hartono, Rangga mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Pemkab Batubara.

"Dengan keberhasilan tim drumband Sumut yang di dalamnya ada anak Batubara dan berhasil mendapatkan medali emas, itu sangat membanggakan. Kita berharap ini jadi motivasi bagi anak-anak Batubara lainnya," kata Darwis.

Dijelaskan, pada Pemkab Batubara sudah merubah versi anggaran. Bagi guru atau siswa yang mengikuti kompetisi dan berhasil mencapai tingkat provinsi akan mendapatkan dana pembinaan.

Sejak tahun 2013, Dinas Pendidikan juga sudah membuat pakta integritas masing- masing sekolah dapat memunculkan baik bidang seni ekstra kulikulikuler olah raga atau bidang akademik bisa bersaing di tingkat propinsi.

"Seperti kemarin OSIS juara satu propinsi, Bos Juara I propinsi, reward kita berikan langsung kepada atlitnya dengan cara kita kumpul. Ini upaya bersama untuk memotivasi kita semua," kata Darwis.
Kepala SMA Mitra Inalum Muhammad Nur menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung siswanya hingga sampai memperoleh medali emas.

"Kami sangat berterimakasih kepada Bupati Batubara, Kadis Pendidikan Batubara, juga Koni. Keberhasilan ini merupakan kebanggaan keluarga besar SMA Mitra Inalum dan kita warga Batubara," kata Nur.

Kepada Wartawan, Rangga mengatakan, dua medali emas yang berhasil diraih dari nomor lomba baris jarak pendek 800 meter putra dan lomba baris jarak pendek 800 meter campuran. Satu medali perak dari lomba baris jarak pendek 600 meter campuran. Satu medali perunggu dari nomor ketahanan dan ketepatan berbaris 4.000 meter campuran.

"Saya sudah mengikuti pemusatan pelatihan ini sejak February lalu di Medan," ujar pemegang instrument trompet itu.

Menurut informasi dari Koni Batubara, ada empat putra-putri Batubara yang ikut serta dalam tim PON Sumut, yakni drumband Dian Veriska, Olifian Voli M Ichsan, Cabang Catur bernama Yola Yolanda. (wan/dro) 



BATUBARA- Untuk ketiga kalinya Bupati Batubara H OK Arya Zulkarnain SH MM meraih penghargaan Kepala Daerah Innovatif tahun 2016 di Bandung, Jawa Barat. Sebelumnya, Bupati OK Arya meraih penghargaan Kepala Daerah Inovatif tahun 2014 di Solo tentang Kemandirian Desa dan tahun 2015 di Makassar tentang pembangunan maritim dan pariwisata.

Penghargaan Kepala Daerah Inovatif (KDI) yang digelar di Bandung, Jawa Barat, pada Kamis malam 11 Agustus 2016, lalu merupakan gelaran ke-3 yang diprakarsai oleh salahsatu koran nasional ternama.

Kepala Daerah Inovatif merupakan sebentuk apresiasi atas berbagai keberhasilan para kepala daerah dalam mengelola dan menggarap potensi daerah sehingga memacu pertumbuhan dan kemajuan berbagai sektor pembangunan di daerahnya masing-masing.

“Pemberian penghargaan diharapkan bisa memacu kepala daerah lain untuk berinovasi dalam memberikan pelayanan dan membantu Indonesia keluar dari kesulitan yang telah melanda selama ini,” kata Hary Tanoe.

Ada beberapa kategori penilaian yang diberikan, yaitu ategori tata kelola pemerintahan, kategori ekonomi kreatif, kategori pendidikan, kategori pelayanan kesehatan, kategori pembangunan infrastruktur serta kategori pemberdayaan masyarakat.


Bagi para kepala daerah, penghargaan ini memberikan kebanggaan tersendiri karena penilaian diberikan secara independen dan berbasis prestasi.

Mereka yang menerima penghargaan KDI di antaranya Bupati Batubara OK Arya Zulkarnain.
OK Arya dinobatkan sebagai Kepala Daerah Inovatif karena keberhasilannya dalam bidang pembangunan sumber daya manusia. Untuk meminimalisir angka kekerasan terhadap anak dan perempuan, Pemerintah Kabupaten Batubara, telah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. Dan sebagai tindaklanjutnya, Pemkab Batubara telah mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) No. 22 Tahun 2016 tentang Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Batubara.

“Sebagai implementasi dari Perda dan Perbup tersebut, kami akan membentuk tim Unit Reaksi Cepat (URC) pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan,” kata Bupati OK Arya.

Menurut OK Arya, Pusat Layanan Terpadu ini terdiri dari sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dari Pemkab Batubara seperti Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB), Satpol PP, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemerintah Desa (BP MPD), Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, serta dari instansi lain seperti Kementrian Agama, Polres Batubara, Kodim Asahan, Lapas Batubara dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Batubara.

OK Arya mengungkapkan pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu itu sebagai  salah satu program inovasi dari Pemkab Batubara untuk meminimalisir angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Batubara, khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu. Mengingat, korban kekerasan anak dan perempuan yang berasal dari masyarakat kurang mampu sering kali tidak sampai ke ranah hukum, karena keterbatasan pengetahuan maupun materil.

“Perbup ini sebagai salah satu upaya kita untuk mencegah tindakan kekerasan terhadap anak dan perempuan. Selain itu, regulasi ini untuk membantu masyarakat kurang mampu yang menjadi korban. Pemkab akan membantu advokasi hingga rehabilitasi korban” paparnya.

Dia mengatakan untuk memaksimalkan tugas Pusat Layanan Terpadu ini, di tingkat kecamatan dibentuk Tim Unit Reaksi Cepat (URC) yang berkantor di kantor Camat, yang dipimpin oleh Ex Officio Kasi Penertiban di Kecamatan. Tim URC inilah yang akan membantu Pusat Pelayanan Terpadu melakukan Patroli keliling di desa dan Kelurahan yang ada di wilayah kecamatan, sekaligus melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat melalui sekolah dan kantor–kantor Desa/Kelurahan.

Jadi diharapkan masyarakat dapat langsung melaporkan kejadian/tindak kekerasan yang terjadi langsung ke kantor Camat via URC ini. Dan di tingkat desa dibuka Unit Pengaduan Masyarakat, sehingga masyarakat dimudahkan dalam melaporkan kejadian yang terjadi di desa. Direncanakan, dalam APBD desa ditampung dana operasional kepala desa untuk kegiatan operasional Unit Pengaduan ini, sehingga tidak ada alasan dari kepala desa tidak ada anggaran untuk kegiatan penanggulangan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat desa.

“Selama ini harus diakui, bila ada kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di daerah terpencil di sini, kita sering terbentur dengan anggaran. Tidak jarang kepala desa di kawasan tersebut mengaku tidak memiliki ongkos untuk mengantar anak atau perempuan yang jadi korban kekerasan ke rumah sakit untuk divisum atau di tindak lebih lanjut,” jelasnya.

Menurut OK Arya, dengan adanya Perda dan Perbup yang diperkuat dengan dibentuknya Tim URC tersebut, diharapkan, angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Batubara menjadi berkurang.

“Nanti, anggaran untuk Tim URC itu kita siapkan dari APBD. Tujuannya agar operasional Tim URC itu berjalan dengan maksimal. Walau kita berada di daerah, bukan berarti kita tidak memiliki inovasi untuk mencegah hal-hal seperti itu,” pungkasnya.

Kepala BP2KB Batubara Budianto mengungkapkan, Pusat Pelayanan Terpadu di tingkat Kabupaten beserta Tim URC di tingkat Kecamatan akan bersinergi dengan Fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Umum daerah (RSUD), Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) yang ada di masing-masing desa di Kabupaten Batubara.

Kedepannya, fungsi Puskesmas dan Pustu tidak hanya sebagai sarana untuk Posyandu dan layanan kesehatan lainnya, namun juga akan dijadikan sebagai tempat pelayanan pertama terkait kekerasan anak dan perempuan tersebut. Baru setelah dilayani ternyata membutuhkan rawatan intensif akan dilanjutkan ke Rumah Sakit Umum Daerah dan atau Rumah Sakit Rujukan yang lebih tinggi.

“Pusat Layanan Terpadu dan URC juga akan menyediakan layanan Telepon HOTLINE 24 jam yang dapat dihubungi langsung. Termasuk  layanan Psikolog on call 24 jam. Tujuannya agar bila ada korban yang butuh Psikolog, kita sudah siap. Selain itu, sudah ada 14 Puskesmas yang siaga untuk melayani hal tersebut,” jelasnya.

Jadi, bila ada korban tindakan kekerasan terhadap anak dan perempuan seperti tindakan kekerasan seksual, korbannya bisa langsung dilayani di Batubara dengan telah dipersiapkan tenaga ahli Dokter Spesialis Kebidanan (SPOG). Karena selama ini, Budianto menambahkan untuk menangani korban kekerasan seksual selalu dibawa keluar kabupaten.

“Dengan bersinergi nya sejumlah SKPD dengan instansi terkait tersebut, maka kita akan dengan mudah menangani korban kekerasan terhadap anak dan perempuan itu dan kita juga akan dengan mudah meminimalisir angka kekerasan terhadap anak dan perempuan itu,” ujarnya.

Ketua KPAID Batubara Drs Ebson Pasaribu mengatakan sangat mendukung dan mengapresiasi program yang dicetuskan oleh Bupati Batubara tentang Unit Reaksi Cepat (URC) pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

"Program tersebut dicetuskan oleh Bupati Batubara H OK Arya, program itu dibuat dan dilaksanakan tentu diharapkan untuk bisa meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak. KPAID Batubara tentu sangat mengapresiasi karena KPAID Batubara juga ikut dalam tim itu," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua LPA Kabupaten Batubara Alpian SSosI MHI. Dia juga sangat mendukung dan mengapresiasi tentang pembentukan Unit Reaksi Cepat (URC) pencegahan kekerasan perempuan dan anak yang dilakukan oleh Bupati Batubara.

"Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Batubara tentu sangat mendukung dan mengapresiasi program itu yang sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk pencegahan dan meminimalisir terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak diwilayah Kabupaten Batubara,"ungkapnya. (wan/dro/syaf)



KISARAN- Pasca bentrok antar nelayan tradisional dengan nelayan modern, personil Polres Asahan terus melakukan patroli di perairan laut sekitar wilayah hukum Asahan, Batubara dan Tanjungbalai. Patroli ditujukan mengantisipasi bentrok susulan antar sesama nelayan dan mencegah jangan sampai kapal ikan menggunakan alat tangkap ilegal.

Kapolres Asahan AKBP Tatan Dirsan Atmaja SIK, didampingi Kabag Ops Kompol Parlindungan Hutahaean SIK menerangkan, mereka bukan saja melakukan patroli tapi juga monitoring, penyisiran di wilayah perairan di Desa Sei Nangka dan Desa Sei Apung Jaya. Selain patroli laut, personil juga disiagakan di Pelabuhan Panton Bagan Asahan. Jumlahnya sebanyak 18 personil.

Tatan menuturkan, langkah itu perlu dilakukan untuk menjaga keamanan demi terciptanya ketertiban masyarakat di wilayah hukum yang dipimpinnya. Sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari.

Ia memastikan personelnya akan tetap disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi ada bentrok antar nelayan.

"Mereka akan tetap stanby di lokasi," sebut Tatan.

Baru-baru ini, empat unit kapal ikan jenis pukat tarik dua atau 'pukat harimau' dibakar gerombolan massa di perairan Asahan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Sabtu (10/9), sekitar jam 18.00 WIB.
Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa pembakaran kapal penangkap ikan itu ditaksir mengakibatkan kerugian mencapai miliaran rupiah.

Informasi di lapangan menyebutkan, pembakaran diduga buntut dari keresahan para nelayan tradisional akibat mengganasnya penangkapan ikan menggunakan jaring terlarang itu perairan Selat Malaka.

"Kejadian pembakaran sekitar pukul 18.00 WIB tadi di tengah laut dan peraian Sungai Asahan.Mungkin ini akibat keresahan nelayan tradisionil," kata seorang warga, Rudi, seperti dikutip Antara.

Untuk menghentikan aksi tersebut pasukan keamanan dari Pangkalan TNI Angkatan Laut Tanjungbalai-Asahan dan Pol Air Polda Sumatera Utara terjun ke lokasi dan menghalau para nelayan tradisionil itu.
Komandan Lanal Tanjungbalai - Asahan, Letkol Laut (P) Teguh Prasetyo membenarkan peristiwa pembakaran kapal diduga pukat tarik tersebut.

"Benar ada empat kapal nelayan diduga pukat tarik dibakar sekelompok nelayan tertentu. TKP nya diperaian Selat Malaka dan Singai Asahan," katanya.

Teguh mengakui, pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap aksi tersebut dan belum bisa menduga motif dan penyebab dari kejadian itu.

"Kami masih menyelidikinya, jadi belum dikatahui motif atau apa penyebab kejadian ini karena belum seorangpun dari terduga pelaku mau pun pihak korban yang dimintai keterangan," ujarnya kepada pers.
Guna mencegah meluasnya kejadian yang dikuatirkan terjadinya bentrok, pihaknya juga mengimbau agar gerombolan masa nelayan tradisionil membubarkan diri. (mag1/dro) 


BATUBARA- Komisi C DPRD Batubara akan mengusulkan pencopotan dr Trisna dari jabatannya sebagai plt Direktur RSUD Batubara. dr Trisna dinilai tidak mampu mengelola RSUD. Usulan ini muncul sesuai hasil inspeksi mendadak (sidak) Komisi C, pekan lalu.

Demikian disampaikan Ketua Komisi C DPRD Batubara Ahmad Mukhtas, saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (29/9), di Kantor dewan. Menurut Mukhtas, beberapa hal terkait pelayanan kesehatan di RSUD bermasalah dan menjadi bahasan publik, seperti minimnya persediaan obat-obatan, pengadaan makan pasien bahkan ada pasien yang sempat tidak mendapat jatah makan sampai pada krisis arus listrik.

"Dari permasalahan tersebut itu merupakan sinyal ketidakmampuanya sebagai direktur RSUD. Hari ini, Komisi C mengagendakan pemanggilan sebagai tidak lanjut sidak dan pemanggilan itu dihadiri dr Trisna," katanya.

Dalam pertemuan yang dihadiri Anggota DPRD antara lain Irwan Yuhdi, Risky Aryetta, Taufik Hidayat, Yahdi Khoir dan anggota lainnya, plt Direktur RSUD beserta stafnya, Komisi C menyimpulkan memberi tenggat waktu selama 2 bulan kedepan sebagai evaluasi dari janji direktur yang akan memperbaiki managemen RSUD. Bila dalam waktu diberikan tidak ada perubahan, maka rekomendasi pemberhentian diusulkan. Itupun bila tidak ada lagi laporan masyarakat.

"Kalau keluhan dan laporan masyarakat masih ada kemungkinan dalam minggu ini juga kita usulkan," tandas Mukhtas.

Menurutnya, permasalahan yang terjadi di RSUD adalah akibat lemahnya SDM serta penempatan tenaga yang tidak sesuai tupoksi. Padahal, itu sangat mendukung.

“Makanya, bukan persoalan bila kita merekrut tenaga dari luar yang benar paham managemen,” terangnya.

"Bukan menakar kemampuan anak Batubara, tapi siapa anak daerah yang mampu, kasih tau sama saya biar kita rekomendasikan," kata Ketua Komisi C menyudahi.

Diberitakan sebelumnya, belakangan sempat muncul bermacam permasalahan di RSUD. Stok obat-obatan menipis, pasien sempat tidak mendapat jatah makan, uang puding TKS yang hingga 8 bulan belum cair, halaman RSUD yang semak hingga persoalan krisis arus listrik.

Permasalahan-permasalahan tersebut kini sedang ditengahi Komisi C DPRD Batubara yang membidangi kesehatan dengan toleransi selama 2 bulan untuk mengevaluasi kinerja plt Direktur RSUD. Dan, bila dalam waktu tersebut tidak terlihat perbaikan, maka Komisi C akan merekomendasikan pencopotan dr Trisna dari jabatannya sebagai plt direktur RSUD Batubara. (wan/dro)

Terkenal di Sumatera Utara 
Hingga ke Riau




Lama sudah tak terdengar Langgam Melayu. Dulu, di era tahun ‘80-an, aset budaya yang lebih dikenal dengan sebutan lagu dan tari Melayu itu sempat populer tapi kini terkikis seiring dengan kemajuan zaman.

Oleh, Syafruddin Yusuf, ASAHAN


Tari Serampang Dua Belas adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sumatera Utara. Tarian ini termasuk tarian pergaulan yang dimainkan oleh beberapa penari pria dan wanita secara berpasangan. Selain kaya akan nilai seni, tarian ini juga kaya akan makna dan nilai-nilai kehidupan di dalamnya.

Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu tarian yang sangat terkenal di Sumatera Utara, terutama di daerah Serdang Bedagai, Asahan, Tanjungbalai, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan dan Kabupaten Batubara. Tarian ini bahkan juga dikenal di daerah berbudaya Melayu lain seperti Riau, Jambi, dan beberapa daerah lainnya.

Asahan adalah sebuah daerah (kabupaten) dalam wilayah (Provinsi) Sumatera Utara. Pusat Kerajaan Asahan adalah Tanjungbalai yang berjarak ± 130 KM dari Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara.
Sampai tahun 1946, Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang struktur kerajaannya tidak jauh berbeda dari struktur negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka pada masa itu.

Namun pada tahun 1946, sistem kerajaan di Asahan telah digulingkan oleh sebuah pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi Sosial. Kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera Timur seperti Deli Serdang, Langkat, Kualuh, Bilah, Panai dan Kota Pinang juga mengalami nasip serupa.

 Menurut beberapa ahli sejarah di Asahan seperti Almarhum Zasnis Sulung dan tokoh masyarakat, serta pemuka masyarakat Melayu Asahan yakni Yus Chan, Raja Kamal selaku pengurus Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Sumut, cikal bakal terbentuknya Kabupaten Asahan bisa dikatakan terjadi sejak tahun 1912.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana sebenarnya sejarah berdirinya Kabupaten Asahan. Namun diyakni, perjalanan Sultan Aceh “Sultan Iskandar Muda” ke Johor dan Malaka pada tahun 1912 dapat dikatakan sebagai awal dari Sejarah Asahan. Dalam perjalanan tersebut, rombongan Sultan Iskandar Muda beristirahat di kawasan sebuah hulu sungai, yang kemudian dinamakan Asahan.

Penasaran dengan cerita-cerita dari para leluhur tersebut, akhirnya penulis yang merupakan putra asli kelahiran Asahan di Gang Belimbing Jalan Kartini, Simpang Enam mencoba menelusuri tentang kebudayaan Melayu Asahan.

Suku Melayu Asahan, adalah suku Melayu yang mendiami wilayah Kabupaten Asahan sejak ratusan tahun lalu. Suku Melayu Asahan tersebar di 25 kecamatan di Asahan namun paling banyak ditemui di wilayah Sei Kepayang, Simpang Empat, Air Joman.

Secara struktur fisik dan budaya, suku Melayu Asahan ini tidaklah berbeda dengan suku Melayu lainnya, seperti suku Melayu Deli, Melayu Langkat, Melayu Sedang Bedagai, Melayu Labuhanbatu, dan Melayu Riau. Karena mereka semua berasal dan berakar dari satu budaya yang sama, hanya saja karena telah terpisah-pisah, sehingga terjadi perbedaan-perbedaan kecil yang tidak terlalu menyolok.

Suku Melayu Asahan, masih tetap mempertahankan budaya Melayu sejak tahun 1941. Salah satu kegiatan mereka yang selalu mengadakan rapat adat yang diadakan di balai adat, untuk membahas berbagai masalah dalam lingkungan adat mereka.


Masyarakat suku Melayu Asahan, hampir seluruhnya memeluk agama Islam, seperti masyarakat Melayu lainnya yang menjadikan agama Islam sebagai agama Melayu dan agama Adat. Beberapa budaya dan adat-istiadat disesuaikan dengan ajaran Islam. Tapi walaupun begitu mereka masih mempercayai berbagai hal takhyul dan hal-hal gaib serta tempat-tempat keramat yang menurut mereka bisa mempengaruhi kehidupan dan rejeki mereka. (bersambung)



SIMALUNGUN- Pembukaan Pesta Rondang Bittang (PRB) Kabupaten Simalungun yang ke-31 berlangsung meriah. Momen ini dihadiri ribuan pelajar dan masyarakat Simalungun. Bupati Simalungun JR Saragih mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melestarikan budaya Simalungun.
Sebelum PRB dibuka, acara diawali dengan acara Haornas perlombaan lari maraton dan jalan santai di Parapat. Selanjutnya pembukaan Pesta Rondang Bittang secara resmi oleh Bupati Simalungun JR Saragih, kemudian dilanjutkan penyerahan hadiah kepada atlet Simalungun yang meraih medali emas diajang PON. Acara lalu dilanjutkan hiburan, makan siang dan penampilan sejumlah kegiatan, seperti pameran olahraga binaraga, serta tata rias pakaian pengantin khas Simalungun.

Bupati Simalungun JR Saragih dalam sambutannya mengatakan, sejarah Pesta Rondang Bintang di Simalungun adalah momen panen raya. Acara ini biasanya sebagai momen pesta budaya antar anak muda untuk mencari pasangan. Namun, adanya perkembangan jaman yang telah didukung teknologi, menyebabkan terjadinya pergeseran keadaan. Saat ini panen raya bisa mencapai 4 kali dalam setahun. Selanjutnya, ada yang salah dengan nama Festival Danau Toba yang seharusnya dinamakan Pesta Danau Toba. Namun, kedua kegiatan ini menyuguhkan hal yang sama, yakni penampilan budaya Simalungun. "Karenanya, kedepan Pemkab Simalungun akan menyatukan acara ini," jelasnya.

Bupati menerangkan, momen ini kedepan akan menjadi ajang pelestarian budaya Simalungun melalui penampilan beragam kegiatan, seperti Marjalekkat, Hagualon, Vokal Solo dan Vokal Group bahasa Simalungun dan penggunaan pakaian adat Simalungun. "Saat ini, masih banyak orangtua yang tidak peduli dengan budaya Simalungun. Mari kita orangtua mengutamakan dan mendukung anak-anak muda untuk melestarikan budaya. Dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, nantinya akan memancing kemampuan mereka untuk lebih mengenal dan mendalami budaya Simalungun," terang JR Saragih.

Acara dihadiri sejumlah Uspida Kabupaten Simalungun, seperti Ketua DPRD, Dandim 0207 Simalungun, Wakapolres, Dandenpom I/1 Pematangsiantar, perwakilan Kajari, Ketua PN. Kemudian Uspika se- Simalungun, Pengurus KONI, tokoh agama, tokoh masyarakat, ribuan pelajar dan masyarakat.

Sebelumnya Ketua Panitia Pelaksana Resman Saragih dalam laporan terkait pelaksanaan kegiatan tersebut mengatakan, PRB akan berlangsung selama 3 hari. Adapun jenis kegiatan yang dilaksanakan, yaitu parade busana pengantin modren, marjalekkat, margalah dan saleper ganjang. Ada juga hagualon, sarunei dan tor-tor untuk seni budaya tradisional Simalungun. Kemudian pada pagi hari, ada jalan santai dan lomba lari maraton sejauh 5 km.

Larasi Voice Meriahkan PRB


Artis-artis Simalungun, seperti Trio Larasi Voice, Sobat Sitopu dan Sarlong Saragih tampil memukau memeriahkan Pesta Rondang Bittang (PRB) di Pantai Bebas, Rabu (28/9).

Sejumlah artis Simalungun ini menampilkan lagu-lagu Simalungun. Dengan penampilan lagu alunan nada tinggi membuat ribuan hadirin terpukau dan terhibur.

Penampilan diawali oleh Sobat Sitopu dengan lagu berjudul 'Elvi'. Selanjutnya penampilan Trio Larasi Voice dan Sarlong Saragih menampilkan sejumlah lagu.

Salah seorang personil Trio Larasi Voice, Yogi Purba saat diwawancarai wartawan mengaku bangga bisa turut terlibat memeriahkan pesta budaya Simalungun itu. Larasi Voice menyatakan akan terus melakukan yang terbaik untuk melantunkan lagu-lagu Simalungun.

"Kita ingin, lagu Simalungun sebagai bagian dari Budaya dapat dilestarikan. Dengan penampilan lagu Simalungun, diharapakan budaya Simalungun tetap dikenal dan diketahui masyarakat luas," jelasnya.

Dalam waktu dekat, lanjut Yogi, Larasi Voice akan menciptakan album perdana. "Saat ini, kami sedang mempersiapkan. Mudah-mudahan nantinya berjalan dengan lancar, dan album perdana itu bisa bermanfaat dan dinikmati masyarakat luas," pungkasnya.(jos/ss/hez)







BATUBARA- Kebutuhan hidup yang terus menghimpit membuat, Nurlela br Nasution berfikir pendek dengan melakukan penipuan untuk mendapatkan uang. Dalam melancarkan aksinya, wanita yang sudah berusia 64 tahun ini menggunakan tiga nama samaran, yakni Siti Aisyah, Fatimah dan Ernis.

Dengan tiga nama itu, Nurlela sudah melanglang buana ke sejumlah daerah. Misinya satu, menipu lalu ambil uangnya.

Selama melancarkan aksinya, Nurlela selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain.
Tapi aksi Nurlela kandas setelah tak berapa lama tinggal di Gang Perjuangan, Kelurahan Indrapura, Kecamatan Air Putih, Batubara. Nurlela akhirnya ditangkap Selasa (27/9), sore sekira pukul 15.00 WIB.
Nurlela diamankan setelah korbannya bernama Neni Sri Wahyuni (40), seorang PNS, warga Lingkungan VII, Kelurahan Indrapura, Kecamatan Air Putih, Batubara, melaporkan aksi pelaku ke Polsek Indrapura.

Modus pelaku, pertama yakni dengan cara menawarkan berbagai jenis barang-barang yang telah dilelang dengan meminta uang pembayaran di depan. Akan tetapi barang-barang yang dijanjikan sebenarnya tidak ada. Kedua, pelaku menawarkan uang pinjaman dari usaha uang titipan, dengan meminta uang administrasi, akan tetapi uang pinjaman yang dijanjikam juga tidak ada diberikan.

Dari tangan tersangka Nurlela, polisi mengamankan barang bukti uang tunai sebesar Rp8.063.000, tiga unit handphone, 10 buku tabungan berbagai bank, dua lembar ATM BRI dan Bank Mandiri, kalung dan cincin imitasi serta tas sandang.

Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Paur Subbag Humas Bag Ops Polres Batubara Aiptu Saidi dan Kapolsek Indrapura AKP Soedaryanto, Rabu (28/9) mengungkapkan, bahwa Nurlela merupakan pelaku penipuan antar daerah yang selama ini sudah sangat meresahkan masyarakat.
"Sudah banyak korbannya," sebut Kapolsek Indrapura AKP Soedaryanto, tanpa merinci nama-nama korbannya.

"Dalam menjalankan aksinya, selain menggunakan identitas asli, tersangka Nurlela juga menggunakan ID Card dengan nama samaran yakni; atas nama Siti Aisyah, Fatimah dan Ernis," tandas Soedaryanto. (wan/dro)





BATUBARA- Bripka Wilson Donald T Nainggolan, Anggota Polres Batubara diberhentikan dengan tidak hormat (pecat, red). Pemecatan ini karena Bripka Wilson tidak pernah masuk kerja selama 249 hari berturut-turut.

Pemecatan Bripka Wilson berdasarkan Skep Kapolda SU No Kep/786/IX/2016, tertanggal 13 September 2016 tentang Pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan Polri Bripka Wilson Donald T Nainggolan.

Surat keputusan tersebut dibacakan Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, diwakili Wakapolres Kompol Juliani Prihartini SIK MH, saat memimpin apel Rabu (28/9), di halaman Mapolres Batubara. Apel itu juga dihadiri para Kabag, Kasat, Kapolsek dan seluruh personil Polres Batubara.

Kepala Seksi Propam Polres Batubara IPDA Riwantho Simatupang, saat dikonfirmasi wartawan di ruangannya menjelaskan, proses pemecatan atau Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PDTH) itu dilakukan melalui sidang Komisi Kode Etik Profesi. Dalam persidangan, Wilson Donald T Nainggolan dianggap terbukti melanggar peraturan disiplin Anggota Polri.

Kasi Propam Polres Batubara IPDA Riwantho Simatupang saat memberikan penjelasan di ruang kerjanya, Rabu (28/9).

"Dipecat karena tidak menjalankan tugas kedinasan selama 249 hari secara berturut-turut tanpa kabar. PDTH dia banding dan dan eksepsinya ditolak," terang Riwantho.

Menurut Riwantho, Bripka Wilson sudah berulangkali dinasihati tapi tidak ditanggapi. Yang bersangkutan sebelumnya bertugas di Dirlantas Poldasu, lalu dimutasi ke Sat Lantas Batubara dan terakhir bertugas di Sabara.

"Sewaktu sidang yang bersangkutan datang dan ketika ditanya alasannya antara rumah dan tempat dinas jauh. Kalau dihitung hampir tiga tahun tidak masuk dan sanksi pemecatan tersebut diberlakukan untuk menjadi contoh bagi personel Polri lain," tukas Ipda Riwantho. (wan/dro) 

KISARAN- Beragam modus dilakukan pelaku pencurian disertai kekerasan (curas) untuk memperdayai korbannya. Yang terbaru di Asahan, dua tersangka pencurian disertai kekerasan ARM als CM dan RIM als R mengaku dari kepolisian dan berhasil membawa kabur truk Isuzu.

Aksi pencurian disertai kekerasan dilakukan ARM als CM dan RIM als R di jalinsum Pasar Mereng, Sei Dadap, beberapa waktu lalu. Saat beraksi, kedua pelaku mengendarai sepedamotor. Kemudian memepet truk yang menjadi targetnya.

Saat beraksi itu, kedua pelaku dengan wajah garang mengaku dari pihak kepolisian lalu mendesak sopir menepikan truknya. Mereka tergolong nekat. Apalagi saat beraksi, mereka hanya mengandalkan obeng dan gunting untuk mengancam sopir truk.

Tapi aksi kedua pelaku tidak berlangsung mulus. Ketika melintas di daerah Simpang Empat, Asahan, warga curiga saat melihat ada seseorang dengan kondisi tangan terikat di dalam mobil Isuzu tersebut. Kecurigaan warga itu kemudian dilaporkan ke Polres Tanjungbalai.

Mendapat laporan warga, Sat Reskrim Polres Tanjungbalai langsung berkoordinasi dengan Polres Asahan lalu sama-sama melakukan pengejaran ke arah Simpang Empat. Upaya pengejaran pun membuahkan hasil. Polisi berhasil mengamankan truk berikut dengan pelaku ARM als CM saat melaju di daerah Simpang Empat. Sementara rekannya RIM Als R, sempat berhasil melarikan diri. Polisi pun melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan RIM als R, di daerah Gunting Saga, Labuhanbatu Utara (Labura).

Kasat Reskrim Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara SIK, melalui Kanit Jatanras IPDA M Khomeini STK, kepada METRO ASAHAN, Rabu (28/9), mengungkapkan ternyata kedua pelaku sudah sering melakukan pencurian disertai kekerasan di sepanjang jalinsum. Menurut pengakuan keduanya, mereka sudah melakukan aksi serupa sedikitnya di delapan lokasi, empat lokasi diantaranya di wilayah Kabupaten Asahan dan empat lokasi di Kabupaten Labuhanbatu Utara.

“Tersangka ARM ini sudah enam kali keluar masuk penjara dan melakukan aksi yang sama dengan modus mengaku-ngaku polisi,” sebut Khomeini.

Saat ini, kedua tersangka ARM als CM dan RIM als R harus menjalani hukuman di Mapolres Asahan. Dari tangan tersangka, polisi mengamankan truk Isuzu 125 PS warna putih. Pelaku melanggar Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. (mag1/dro)



SIANTAR- Penemuan jenazah Rosta br Naibaho (58) mengejutkan warga Lingkungan II, Negeri Baru, Kecamatan Bilah Hilir, Labuhanbatu. Pasalnya janda beranak lima ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi bersama seekor anjing peliharaannya. Kondisi jasadnya pun penuh luka, bahkan wajahnya sudah tak utuh lagi.

Kanit Reskrim Polsek Bilah Hilir Iptu J Ginting didampingi penyidik pembantu Bripka S Silitonga dan Bripda Habib saat ditemui koran ini di Instalasi Forensik RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar mengatakan, jenazah korban pertama kali ditemukan pada Selasa (27/9) sekira pukul 07.15 WIB.

Bripda Habib menuturkan, sehari-harinya korban memang tinggal seorang diri di rumahnya. Sebab, kelima anaknya sudah berkeluarga semua dan tinggal di beberapa daerah perantauan. “Peristiwa itu pertama kali diketahui salah seorang pendeta dan kepling tempat tinggal korban. Awalnya pendeta tempat korban bergereja menaruh curiga karena tidak melihat korban selama dua hari,” jelasnya.

Apalagi diketahui, korban merupakan salah seorang pengurus Gereja Pentakosta di kampung itu. Karena tak mendapat kabar, pendeta langsung menghubungi HP korban. Namun tak ada jawaban sama sekali meski sedang dalam keadaan aktif.

Tak puas, pendeta langsung menuju kediaman korban. Namun setelah beberapakali diketuk, tetap tak ada jawaban. Saat dilihat, semua pintu terkunci. Namun memang jendela pada bagian dapur korban terbuka.

Semakin curiga, lantas pendeta itu pun memberitahukan permasalahan kepada kepala lingkungan (Kepling) setempat. Selanjutnya secara bersama-sama mereka dan warga mendobrak pintu rumah korban. “Saat itulah korban ditemukan. Posisinya terlentang di kamar mandi tanpa busana dan sudah membusuk. Terlihat juga seekor anjing berwarna putih di lokasi. Menurut warga, anjing itu memang peliharaan korban,” tambah Habib.

Dijelaskan, pada bagian leher dan wajah sebelah kanan korban terlihat luka koyak yang dalam alias keroak. Dengan adanya penemuan seekor anjing peliharaan tersebut, kuat dugaan luka yang ada di tubuh korban itu akibat gigitan anjing tersebut.
Apalagi tidak ada ditemukan kerusakan pada rumah korban, termasuk harta benda korban juga tidak ada yang hilang.

“Korban ditemukan dengan kondisi wajah sudah keroak. Ada juga luka pada bagian telinga. Seperempat bagian telinga sebelah kanan yang ada antingnya sudah tak terlihat. Untuk sementara, luka keroak di bagian wajah hingga tenggorokan dan telinga itu kita duga akibat digigit anjing peliharaannya itu. Di samping rumah korban terdapat bangunan gereja. Jarak gereja dan rumah korban kurang lebih 10 meter. Korban pengurus gereja,” imbuhnya.

Lanjutnya, semasa hidupnya korban memang mengidap penyakit pada bagian pernafasan.
Dijelaskan, jarak rumah korban dengan rumah warga paling dekat 50 meter. Posisi kediaman korban masih berada di lokasi keramaian dan di pinggir jalan.

“Tidak kerusakan pada rumah korban. Tidak ada yang mencurigakan. Barang-barang korban tetap pada tempatnya. Memang ada terletak sebilah parang yang jaraknya 3-4 meter dari korban. Tapi setelah kita periksa, ternyata parang itu milik korban dan tidak pernah dipakai. Saat ini seekor anjing peliharaan korban sudah diamankan di Polsek Billah Hilir,” akunya.

Sementara Kepala Instalasi Forensik RSUD Dr Djasamen Saragih dr Reinhard JD Hutahean SH SPF yang ditemui usai otopsi, Rabu (28/9) siang menyatakan, dari hasil otopsi yang mereka lakukan, estimasi korban meninggal sekira 36 jam.

Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan tanda gigitan serangga pada tangan dan kaki korban. Kemudian ada kaku mayat pada bagian rahang, luka terbuka luas pada bagian wajah dan leher, serta hilangnya jaringan tubuh pada bagian pernafasan atas.

Selanjutnya, terang Reinhard, ada trauma setengah tajam pada bagian telinga sebelah kanan akibat gigitan serangga. “Jadi memang seperempat bagian telinga kanannya hilang juga, itu bagian yang ada antingnya. Tapi di telinga kiri antingnya masih ada. Korban ini juga diketahui memiliki riwayat penyakit pernafasan dan pembusukkan pada bagian leher. Itu juga ditandai dengan adanya belatung yang ditemukan. Namun karena kondisinya sudah membusuk, kita memang kesulitan mengetahui adanya tanda-tanda penyekapan. Karena saluran pernafasan dan bibir sudah tidak nampak lagi,” kata Reinhard.


Ketika ditanyakan luka yang dialami korban terjadi sebelum atau sesudah korban tewas, Reunhard belum bisa memastikannya. “Kalau kecenderungan itu bisa saja. Tapi untuk lebih pastinya, kita juga masih melakukan pemeriksaan Patologi Anatomi (PA),” katanya. 

Hal itu dilakukan, termasuk untuk mengetahui adanya tanda trauma tajam lanjutan di tubuh korban. 

"Sejauh ini yang kita temukan, ada tanda gigitan serangga pada beberapa bagian organ tubuh korban dan belatung di sekitar leher," ujar Reinhard mengakhiri. (th/hez)

TANJUNGBALAI- Penarikan tarif atau biaya parkir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Tengku mansyur, Kota Tanjungbalai dikeluhkan para pengunjung dan keluarga pasien di rumah sakit tersebut. Hal itu karena biaya parkir yang begitu mahal. Dimana setiap parkir dikenakan biayaya Rp3 ribu untuk sekali parkir dan hanya berlaku selama dua jam.



Bberapa keluarga pasien kepada wartawan mengatakan mereka kecewa terhadap penarikan biaya tersebut. Di mana tempat tersebut merupakan tempat layanan umum dan tempat orang yang lagi kena musibah

"Baru kali ini saya datang tempat pelayanan umum dipungut biaya parkir (RSUD) ," kata Nedi mencerita dirinya meninjau saudaranya yang sedang sakit.

Nedi juga mengatakan Peraturan atau kebijakan manajemen RSUD Dr Tengku Mansyur dan juru parkir di rumah sakit RSUD tersebut dianggap melampaui batas dan menyalahi aturan, karena tidak ada peraturan daerah (Perda) yang menaunginya.

"Atas dasar apa manajemen rumah sakit umum daerah ini dan juru parkir membuat aturan tersebut,itu sudah tindak pidana pungutan liar atau pungli," kata Nedi.

Hal yang sama juga dikatakan ilham,ani dan yuni keluarga pasien lainya. Menurut mereka kalau pun ada parkir pastinya sesuai dengan peraturan dan petugasnya bertangung jawab atas segala sesuatu yang terjadi kepada kendaraan

"Di Medan saja kita parkir paling mahal buat kendaraan roda dua hanya seribu rupiah, ini di Tanjungbalai Rp3 ribu dan paling anehnya tertulis pulak petugas parkir dibebaskan dari tuntutan dan tanggung jawab atas kerusakan kehilangan kendaraan dan barang-barang didalamnya. Sudah kita bayar hilang tak tangung jawab enak kalilah pengelola parkir rumah sakit ini,” kata mereka menilai manajemen rumah sakit membuat aturan yang kurang manusiawi.

Untuk itu mereka  meminta pihak terkait dalam hal ini Kepolisian,dan pemerintah kota agar segera menyelidiki dan mengusut dugaan tindak pidana pungutan liar yang dilakukan secara terang-terangan oleh pihak RSUD Tanjungbalai  tersebut.

Terpisah salah seorang juru parkir RSUD Tanjungbalai  ketika diwawancarai awak media ini mengatakan bahwa mereka mengadakan parkir tersebut atas izin pihak RSUD dan hasilnya pun dibagi kepihak RSUD.
 "Kalau tidak ada izinya gak mungkin kami buat parkir disini kan hasilnya dibagi," ujar salah seorang juru parkir yang tak ingin menyebutkan namanya,.

Sementara itu direktur rumah sakit umum (RSUD) Dr Tengku Mansyur Tanjungbalai melalui Kepala Tata usaha Subroto berdalih  tidak mengetahui pengelola parkir tersebut dan pihak sama sekali tidak ada menerima uang bagian dari parkir tersebut 

"Gak tau kami siapa yang mengelola parkir tersebut ,kami gak punya bagian disitu, "Ujarnya singkat kepada awak media ini (Mag2/syaf)


TANJUNGBALAI - Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK MHum harus bertanggungjawab atas keterlibatan personilnya dalam peredaran narkoba di Kota Tanjungbalai. Kapolres juga harus memberikan sanksi tegas kepada kedua personel polisi yang tertangkap karena terlibat kasus narkoba.

Hal itu diungkapkan Nursyahruddin SE, Ketua LSM Merdeka Kota Tanjungbalai kepada koran ini, Rabu (28/9).

"Kapolres harus bertanggungjawab atas tertangkapnya anggota Polres Tanjungbalai dalam peredaran narkoba baru-baru ini. Soalnya, hal itu membuktikan bahwa Kapolres telah gagal melakukan pembinaan terhadap seluruh jajarannya," ujar Nursyahruddin SE.

Menurut Nursyahruddin, terungkapnya kasus peredaran narkoba yang melibatkan aparat kepolisian itu membuktikan bahwa Kota Tanjungbalai benar-benar sudah darurat narkoba. Buktinya, katanya, seharusnya aparat penegak hukum yang diharapkan melakukan pemberantasan justru sudah terlibat langsung mengedarkan narkoba.

"Kalau sudah seperti ini, maka, wajar-wajar saja jika masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan pemberantasan narkoba. Oleh karena itu, Kapolres Tanjungbalai harus bertanggung jawab atas keterlibatan dari personilnya itu", pungkas Nursyahruddin. 

Hal senada juga diungkapkan Imran Bhakti Panjaitan, Sekretaris Forum Silaturahim Tokoh Agama (FSTA) Kota Tanjungbalai. Katanya, dalam kasus peredaran narkoba yang melibatkan dua oknum personil Polres Tanjungbalai tersebut bagaikan pagar makan tanaman.

"Sebagai aparat penegak hukum, mestinya mereka melakukan pemberantasan narkoba guna menjaga generasi muda dari pengaruh buruk barang haram tersebut. Akan tetapi faktanya, aparat penegak hukum justru ikut terlibat langsung sebagai bandar, bukan hanya melakukan kongkalikong demi mengejar keuntungan pribadi semata," ujar Imran Bhakti Panjaitan.

Tokoh agama yang dikenal cukup vokal ini juga meminta Kapolres Tanjungbalai untuk bertanggung jawab sekaligus menindak tegas jajarannya yang terlibat dengan memakai, mengedarkan bahkan menjadi bandar narkoba. Katanya, personil penegak hukum yang terlibat narkoba, tidak cukup hanya dijerat dengan undang-undang narkotika, akan tetapi, harus dijerat juga dengan undang-undang lain seperti pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

    Menurut kedua tokoh ini, karena personil kepolisian tersebut adalah penegak hukum, maka, seharusnya dapat dikenakan pidana pemberatan. Hal itu dinilai bertujuan untuk memberikan efek jera dan pembelajaran kepada aparat penegak hukum lainnya, agar tidak bermain-main dengan kewenangan yang dimilikinya.

Seperti diketahui, terbongkarnya perbuatan kedua oknum polisi itu setelah Sat Narkoba Polres Tanjungbalai berhasil menangkap dua orang pria bernama Syah Amri alias Si Am (43) warga Jalan Putri Bungsu, Lingkungan IV, Kelurahan Tanjungbalai Kota IV, Kelurahan Tanjungbalai Utara dan Jeremia Surbakti alias Jery (31) warga Jalan Sehat, Lingkungan II, Kelurahan Bunga Tanjung, Kecamatan Datuk Bandar Timur.
Keduanya ditangkap saat akan bertransaksi narkoba jenis sabu-sabu dengan Wira (buron) di Cafe 99, Kota Tanjungbalai, Jumat (23/9) lalu sekira pukul 16.00 Wib. Dari kedua pelaku ini, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,45 gram dan 20,33 gram.

Saat dilakukan pemeriksaan, kedua pelaku mengaku mendapatkan barang terlarang tersebut dari oknum anggota polisi bernama Aipda Arianto Sinaga yang tinggal di asrama polisi di Jalan Sudirman, tepatnya dibelakang Kantor Polsek Tanjungbalai Selatan. Pada hari itu juga, Aipda Arianto Sinaga yang bertugas di unit Reskrim Polres Tanjungbalai itu langsung diamankan.

Saat dilakukan pemeriksaan di kediaman Aipda Arianto Sinaga, petugas kembali berhasil menemukan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,40 gram serta sebuah bong kaca atau alat untuk menghisap sabu-sabu. Kepada petugas, Aipda Arianto Sinaga akhirnya mengaku, bahwa barang haram tersebut diperolehnya dari Bripka SS. Dan keesokan harinya, Sabtu (24/9), Bripka SS yang bertugas di unit provost tersebut langsung diamankan.

Kapolres Tanjungbalai melalui Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga hanya mengakui, seluruh barang bukti yang diamankan adalah tiga bungkus narkoba jenis sabu-sabu masing-masing seberat 0,45 gram, 20,33 gram dari tersangka Syah Amri alias Si Am dan Jeremia Surbakti alias Jery dan dari kediaman Aipda Arianto Sinaga berupa sabu-sabu seberat 0,40 gram, amplob, kotak rokok, dua unit handphone (Hp), dan satu unit bong atau alat hisap sabu. Menurut AKP Y Sinulingga, atas perbuatannya itu, para tersangka akan dijerat dengan pasal 114 ayat (2) sub pasal 112 ayat (2) sub pasal 132 ayat (1) dari Undang Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. (ck-5/syaf)



TANJUNGBALAI-Sebanyak 2,318 gram (2,3 kg) narkotika  jenis sabu-sabu,dan 4 ribu butir pil ekstasi yang diamankan dari dua orang tersangka dimusnahkan oleh pihak Polres Tanjungbalai. Acara pemusnahan dilakukan di Hall Polres Tanjungbalai di Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (28/9)

Pemusnahan barang bukti tersebut  dilakukan dengan dua cara yakni melarutkan barang bukti shabu ke air panas dan memblender pil ekstasi lalu di buang ke septic tank.

Sebelum dimusnahkan, narkotika jenis sabu dan ekstasi tersebut  telah diuji pihak berkompeten dari laboratorium forensik Poldasu sehingga tidak diragukan keasliannya.
Ada pun 2,318 gram sabu dan 4 ribu butir tersebut merupakan hasil tangkapan dari tersangka Mahyati marpaung alias Ati dan Murizal alias Izal.
Waka Polres Tanjungbalai Kompol Anggoro Wicaksono SH SIK MH dalam sambutanya mengatakan, acara pemusnahan ini merupakan bukti komitmen dan konsistensi pihaknya dalam memberantas peredaran gelap narkoba. Pihaknya tidak akan pernah berhenti untuk terus memberantas narkoba di wilayah hukum Polres Tanjungbalai.

Dalam kesempatan itu juga ia mengajak kerja sama yang baik dari instansi terkait dan seluruh komponen masyarakat agar membantu dan mendukung aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugas pemberantasan narkoba.

"Dengan jumlah tindak pidana narkotika  yang terus meningkat setiap tahunya, menjadi bukti bahwa peran aktif dari seluruh komponen masyarakat sekalian sangat kami butuhkan,agar peredaran gelap dan penyalah gunaan narkotika dapat kita berantas," kata Anggoro.
Tanpa sikap tegas dan kesadaran yang tinggi serta kewaspadaan kita untuk menolak segala bentuk peredaran, penyalahgunaan gelap narkoba, tidak mungkin pemberantasan narkoba dapat tuntas.

"Untuk itu diperlukan dukungan serta peran serta aktif dari kita semua untuk dapat menginformasikan kepada kami apabila mengetahuai atau mendengar adanya peredaran narkotiba di daerah tempat tingal kita," ujar Anggoro.

Pantauan wartawan  pemusnahan barang bukti tersebut  disaksikan  langsung oleh perwakilan Wali Kota Tanjungbalai Perwakilan Kepala BNNK Tanjungbalai dan  perwakilan Kejari TBA, Kalapas Kelas II B dan Kepala Kantor BC Tipe Madya Pabean C Teluk Nibung.

Sementara Kapolres Tanjungbalai melalui Waka Polres Tanjungbalai Kompol Anggoro Wicaksono mengatakan, penangkapan terhadap Ati pada bulan Juli 2016 lalu oleh anggota Sat Res Narkoba Polres Tanjungbalai yang mendapat informasi dari masyarakat ada orang  membawa narkotika jenis sabu dan pil ekstasi ke wilayah hukum  Polres Tanjungbalai. Lalu petugas melakukan penyelidikan dan meringkus Mahyati Marpaung als Ati di rumahnya. 

  Selanjutnya petugas  narkoba berada di rumah tersangka melakukan pemeriksaan serta penggeledahan dalam rumah tersangka dan ditemukan barang bukti sabu dan pil ekstasi di dalam kamar tidur milik Ati. 

Setelah itu petugas melakukan penyitaan terhadap barang bukti serta membawa tersangka Ati untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ati mengaku barang berupa 1 buah tas jinjing/tangan di dalam berisi sabu 2.000 gram dan pil ekstasi 4.000 butir milik intial TH. Dimana TH menitipkan kepada Ati lalu Ati menyimpannya dalam kamar.
      
Sementara tersangka Murizal als Zal dengan ditangkap petugas saat membawa narkotika jenis sabu berat kotor 318 gram.  (mag02/ilu/syaf)




KISARAN- Warga Binjai Serbangan, Kecamatan Air Joman, Selasa (27/9), sekitar pukul 11.30 WIB, heboh penemuan sesosok tubuh wanita yang terpotong-potong di lintasan rel kereta api. Tubuh wanita malang itu dilindas Kereta Api penumpang jurusan Medan- Tanjungbalai.

Informasi diperoleh dari tempat terjadinya perkara (TKP), tubuh wanita yang terpotong-potong itu terakhir diketahui bernama Liscahayu (25), warga Lingkungan VII, Kelurahan Binjai Serbangan, Kecamatan Air Joman, Kabupaten Asahan. Lokasi kejadian tersebut pun langsung ramai didatangi warga yang ingin melihat secara langsung.

Sebelum terjadi kecelakaan, korban diketahui berjalan kaki dari rumah menuju warung. Namun pada saat melewati rel kereta api, secara bersamaan melintas KA yang datang dari arah Kisaran tujuan Tanjungbalai. Diduga korban tidak menyadari bahwa kereta api datang dan tubuh korban langsung disambar kereta api. Saat itu juga korban meninggal di TKP dengan kondisi tubuh terpotong-potong.

Kasat Lantas Polres Asahan AKP Ricky Ramadhani SIK, didampingi Kanit Laka IPDA S Tambunan menerangkan, berdasarkan informasi didapat diduga korban korban mengalami gangguan mental (idiot, red).

Tambunan menyebutkan, korban tewas di tempat kejadian dengan kondisi kepala putus. Setelah dilakukan olah TKP,  selanjutnya jenazah korban dibawa ke Puskesmas Air Joman.

Belum lama ini, Warga Sei Alim, Kecamatan Air Batu, Sabtu (24/9), juga dihebohkan dengan penemuan sesosok tubuh seorang pria yang sudah terpotong-potong di lintasan rel kereta api. Informasi diperoleh, mayat pria yang ditemukan terpotong-potong itu terakhir diketahui bernama Suprianto (26).
Kepada wartawan, Yanto salah seorang warga mengatakan, mayat Suprianto ditemukan tewas mengenaskan dalam posisi tubuh terpotong-potong di perlintasan keretapi di Desa Sei Alim Hasak, Dusun VI Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan.

“Ada warga sini yang mau ke ladang. Dia terkejut melihat di sekitar rel berserak potongan tubuh manusia dengan bercak darah dimana-mana. Lalu warga menghubungi kepala dusun (kadus) dan Polsek setempat,” kata Yanto warga sekitar di lokasi kejadian.


Kapolsek Air Batu AKP Martoni L SH menerangkan, korban merupakan warga yang berdomisili di Dusun I Desa Sijabut Teratai Air Hitam Kecamatan Air Batu Kabupaten Asahan. Saat diketemukan, korban sudah meninggal dunia dengan  kondisi batok kepala pecah, kaki kiri putus, tangan kanan putus dan ditemukan luka buram lecet di sekujur tubuh. (cup/dro)


BATUBARA- Warga Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Limapuluh, Batubara, Senin (26/9), sore sekira pukul 17.00 WIB, heboh penemuan sesosok mayat di areal perladangan desa setempat. Setelah diselidiki, korban diketahui bernama Jandrian Purba (52), warga Lingkungan V, Kelurahan Limapuluh Kota, Kecamatan Limapuluh.

Informasi dihimpun, korban yang berprofesi sebagai petani itu berangkat dari rumahnya Lingkungan V, Kelurahan Limapuluh Kota, Kecamatan Limapuluh, Batubara. Pagi itu hendak pergi ke ladangnya. Dan sekira pukul 16.00 WIB, tiba-tiba diterima kabar dari warga bahwa ada ditemukan orang meninggal dunia di areal perladangan Lubuk Cuik. Setelah dicek di TKP benar korban ditemukan sudah meninggal dunia di perladangannya dengan posisi telungkup.

Diduga korban meninggal akibat mengalami penyakit jantung. Setelah mengetahui kejadian itu, warga dan petugas kepolisian langsung datang ke lokasi dan mengevakuasi jenazah korban ke rumah sakit untuk dilakukan visum luar.

Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Kapolsek Limapuluh AKP N Sembiring menerangkan, berdasarkan keterangan pihak keluarga, berangkat dari rumah pagi hari dan berangkat ke ladangnya di daerah Lubuk Cuik. Korban berencana menanam cabai. Namun siangnya, korban sudah ditemukan meninggal.

Menurut pihak keluarga, selama ini korban memang menderita penyakit jantung. Dan, sudah pernah berobat ke Penang.

“Mungkin saat tengah menyangkul, penyakit jantungnya kambuh,” ujar Sembiring.

“Saat ini belum ada ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Dan usai dilakukan visum, korban kami serahkan kepada pihak keluarganya," tandas Sembiring. (wan/dro)
Powered by Blogger.