ASAHAN – Pasien meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten Asahan, Sumut terus bertambah. Hingga bulan ini, jumlah pasien yang meninggal akibat DBD telah mencapai 14 orang.


Kasi Pemberantasan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Asahan Saprin Sanja Hutahaean mengatakan, angka tersebut merupakan kasus yang terjadi sejak Januari hingga Oktober 2016. Saprin menyebutkan, sejak Januari hingga September, tercatat sudah sepuluh pasien yang meninggal akibat DBD.

“Pada bulan Oktober ini, ada empat orang yang meninggal sehingga angka pasien meninggal akibat DBD bertambah menjadi 14 orang,” kata Saprin, Rabu (26/10).

Angka pasien penderita DBD di Asahan pun, kata Saprin, mengalami peningkatan yang signifikan dibanding tahun lalu. Sejak Januari hingga September, Dinas Kesehatan Asahan mencatat ada 299 orang pasien yang menderita DBD. Angka ini meningkat tajam dari periode sama di tahun 2015, yakni 174 pasien.

Rumah sakit Wira Husada Kisaran menjadi salah satu rumah sakit yang menampung cukup banyak pasien DBD. Dalam sebulan terakhir, pasien pengidap DBD yang dirawat di rumah sakit ini mencapai puluhan orang.

Salah satu perawat di RS Wira Husada, Nur Afni mengatakan, dalam kurun waktu sebulan terakhir, peningkatan jumlah pasien DBD cukup signifikan. Saat ini, masih ada dua pasien DBD yang dirawat di rumah sakit tersebut. “Pasien DBD yang dirawat di rumah sakit ini cukup banyak, terdiri dari anak- anak dan orang dewasa,” kata Nur. (int/rah/ma)

TANJUNGBALAI – Puluhan ribu warga di Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjungbalai kembali resah dan mengeluh akibat susahnya memperoleh gas elpiji tabung tiga kilogram. Walaupun akhirnya berhasil mendapatkannya setelah berburu gas bersubsidi tersebut ke lintas kecamatan, harga tebusnya sudah mencapai Rp20.000 per tabung.

Langka dan mahalnya gas melon bersubsidi tersebut juga dibenarkan Buyung Pohan, anggota DPRD Kota Tanjungbalai dari Fraksi PDI Perjuangan. Tokoh politik yang tinggal di Kelurahan Muara Sentosa, Kecamatan Sei Tualang Raso ini mengakui, bahwa dirinya telah menerima laporan pengaduan dari sejumlah warga terkait dengan langka dan mahalnya gas melon tersebut.

”Benar, dalam beberapa hari ini, saya setiap hari didatangi warga terkait dengan langka dan mahalnya gas LPG 3 Kg tersebut di Kecamatan Sei Tualang Raso. Bahkan, untuk mendapatkan gas melon tersebut, warga harus mencarinya ke kecamatan lain dengan membayar sebesar Rp20 ribu per tabung,” ujar Buyung.

Menurut Buyung, langka dan mahalnya gas melon bersubsidi ini sudah untuk kesekian kalinya terjadi di Kecamatan Sei Tualang Raso, maupun di kecamatan lainnya yang ada di Kota Tanjungbalai. Akan tetapi, imbuhnya, pihak Pemko Tanjungbalai terkesan tidak serius menyikapinya, tanpa jelas apa alasannya.

Ditemui terpisah, Syamsul, salah seorang warga Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sei Tualang Raso, juga mengakui terjadinya masalah langka dan mahalnya gas melon bersubsidi tersebut. Katanya, sampai saat ini, masyarakat setiap harinya menebus gas LPG 3 Kg itu dengan harga sekitar Rp18.000 s/d Rp20.000 per tabung. Pada hal, Harga Eceran Tertinggi (HET) adalah Rp16.000 per tabung. ”Setiap harinya, masyarakat selalu menebus gas LPG 3 Kg ini dengan harga sekitar Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per tabung, walaupun HET hanya Rp16 ribu per tabung, namun masyarakat masih diam saja. Akan tetapi, saat ini, gas elpiji bersubsidi tersebut sudah sulit untuk didapatkan, sehingga menimbulkan keresahan kepada masyarakat,” ujar Syamsul.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Kota Tanjungbalai, Dra Darul Yana Siregar yang dihubungi koran ini mengaku, pihaknya belum mengetahui adanya kelangkaan gas melon tersebut. Soalnya, hingga saat ini pendistribusian dari pihak Pertamina – I Medan tetap lancar dan tidak ada pengurangan kuota.

”Kita belum tahu kalau ada daerah di Kota Tanjungbalai ini yang mengalami kelangkaan gas LPG 3 Kg, karena belum ada menerima laporan. Sementara, pendistribusian gas elpiji dari Pertamina – I Medan, masih tetap lancar dan tidak ada pengurangan kuota”, ujar Dra Darul Yana Siregar.

Namun demikian, Dra Darul Yana Siregar berjanji, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan seluruh camat dan lurah terkait dengan kondisi gas LPG 3 Kg tersebut di daerah masing-masing. Pihaknya akan menggelar operasi pasar apabila gas LPG bersubsidi tersebut benar-benar langka dan mahal. (ck-5/MA)

TANJUNGBALAI – Diduga kurir narkoba antar provinsi, M alias Y (29), warga Jawa Timur (Jatim) diamakan petugas Sat Narkoba Mapolres Tanjungbalai dari sebuah hotel di kota Tanjungbalai, Sabtu (29/10) lalu.

Atas penangkapan pria yang beralamat lengkap di Mojok Langgu Lorong 4/3 RW 005/002, Desa Mojo Kecamatan Gubeng, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur itu, petugas juga mengamankan barang bukti diduga sabu dan heroin/morfin seberat 1,5 kilo gram (Kg).

Informasi dihimpun, tersangka diamankan petugas di sebuah kamar hotel yang berada di Jalan MT Haryono Kelurahan Karya, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai. Diduga barang haram tersebut akan dibawa ke Surabaya.
Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK didampingi Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga ketika ditemui awak koran ini membenarkan ditangkapnya seorang pria diduga kurir narkoba. “Kita belum memberikan keterangan resmi karena masih dalam pemeriksaan dan besok (hari ini Senin, 31/10) akan kita rilis,” pungkas Ayep. (mag02/ma)

PULAU RAKYAT – Lewat jalur diplomasi sudah ditempuh warga agar jembatan yang mereka bangun secara swadaya tidak dibongkar pihak PTPN IV Pulau Raja. Tapi ketika permohonan warga tidak diindahkan, mereka marah. Alat berat yang sengaja didatangkan perusahaan milik BUMN mereka hadang.

Kisruh pembongkaran jembatan itu terjadi Minggu (30/10), di Lingkungan VII, Kelurahan Aek Loba, Kecamatan Aek Kuasan, Asahan. Tensi warga semakin mengubun-ubun saat melihat alat berat datang ke lokasi hendak melakukan pembongkaran jembatan.

Ada ratusan warga menduduki lokasi jembatan mencegah jangan sampai terjadi pembongkaran jembatan. Sementara pihak PTPN IV Pulau Raja tetap berusaha meneruskan misinya membongkar jembatan yang dibangun warga. Sehingga tidak ada titik temu dan antara warga dengan pihak perkebunan PTPN IV Pulau Raja nyaris terjadi bentrok.

Tapi kekhawatiran terjadinya bentrok antara warga dengan pihak PTPN IV Pulau Raja tidak sampai pecah menyusul kedatangan sejumlah petugas kepolisian. Kapolsek Pulau Raja AKP Dahrun Harahap yang turun langsung memimpin pasukannya berusaha mengamankan kedua belah pihak jangan sampai terjadi kontak fisik. Tindakan serupa juga dilakukan Sofyan Ismail, Anggota DPRD Asahan. Sofyan Ismail juga tampak berusaha menenangkan warganya jangan sampai bertindak anarkis.

Mutija, salahseorang warga Lingkungan VII, Kelurahan Aek Loba, mengatakan sangat kecewa terhadap sikap PTPN IV Pulau Raja. Menurut Mutija, sejak zaman penjajahan Belanda, jembatan yang mereka pertahankan itu sudah ada.

Dia mengungkapkan bahwa keberadaan jembatan itu sangat membantu warga, terutama untuk menunjang aktivitas perekonomian. Ia mengklaim warga sebenarnya sudah cukup bersabar. Jauh sebelumnya, mereka sudah menyurati Manager PTPN IV Pulau Raja, agar tidak dilakukan pembongkaran terhadap jembatan tersebut.


Kami sudah dua kali menyurati Manager PTPN IV Pulau Raja tapi tidak diindahkan,” sebut Mutija. “Melalui jembatan ini lah kami melintas untuk mencari nafkah, mencari rumput makanan ternak lembu,” katanya lagi.

Maka, atas kesadaran warga pula kemudian membangun kembali jembatan yang sebelumnya dibongkar oleh pihak PTPN IV Pulau Raja. Ia menyebutkan, sebelumnya sudah ada jembatan di lokasi itu tapi kemudian dibongkar pihak PTPN VI.

“Atas kesepakatan warga, kami membangun kembali jembatan tersebut. Setelah jembatan selesai kami bangun, tiba-tiba perusahaan mau membongkarnya lagi. Ya… kami marah,” tandas Mutija, menjelaskan alasan mereka menghadang alat berat yang sengaja didatangkan pihak PTPN IV ke lokasi.

Menurut Mutija, jembatan itu sebenarnya merupakan akses yang menghubungkan warga Lingkungan VII dengan Desa Tunggul 45 maupun Desa Persatuan.Sementara, dari informasi dihimpun koran ini, pihak perkebunan PTPN IV Pulau Raja sengaja membongkar jembatan tersebut untuk menghalau ternak warga tidak masuk ke areal kebun, terutama ke areal perkebunan yang baru ditanami kelapa sawit.

Kepada wartawan, Sofyan Ismail, Anggota DPRD Asahan, menuturkan, sebelumnya ada jembatan di lokasi itu tapi sudah dihancurkan pada saat PT Varem membuka pabrik kelapa sawit. Perusakan jembatan itu dilakukan saat PTPN IV Pulau Raja memberikan perluasan jalan menuju PKS PT Varem. Kemudian warga membangun kembali jembatan itu secara swadaya dan bermohon agar jangan dibongkar.

Sementara, Kapolsek Pulau Raja AKP Dahrun Harahap mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Tidak anarkis.
“Kita masih menunggu kedatangan manager agar dimuswarahkan kembali,” kata AKP Dahrun Harahap berusaha menenangkan warga.

Kami sudah dua kali menyurati Manager PTPN IV Pulau Raja tapi tidak diindahkan,” sebut Mutija. “Melalui jembatan ini lah kami melintas untuk mencari nafkah, mencari rumput makanan ternak lembu,” katanya lagi.

Maka, atas kesadaran warga pula kemudian membangun kembali jembatan yang sebelumnya dibongkar oleh pihak PTPN IV Pulau Raja. Ia menyebutkan, sebelumnya sudah ada jembatan di lokasi itu tapi kemudian dibongkar pihak PTPN VI.

“Atas kesepakatan warga, kami membangun kembali jembatan tersebut. Setelah jembatan selesai kami bangun, tiba-tiba perusahaan mau membongkarnya lagi. Ya… kami marah,” tandas Mutija, menjelaskan alasan mereka menghadang alat berat yang sengaja didatangkan pihak PTPN IV ke lokasi.

Menurut Mutija, jembatan itu sebenarnya merupakan akses yang menghubungkan warga Lingkungan VII dengan Desa Tunggul 45 maupun Desa Persatuan.Sementara, dari informasi dihimpun koran ini, pihak perkebunan PTPN IV Pulau Raja sengaja membongkar jembatan tersebut untuk menghalau ternak warga tidak masuk ke areal kebun, terutama ke areal perkebunan yang baru ditanami kelapa sawit.

Kepada wartaean, Sofyan Ismail, Anggota DPRD Asahan, menuturkan, sebelumnya ada jembatan di lokasi itu tapi sudah dihancurkan pada saat PT Varem membuka pabrik kelapa sawit. Perusakan jembatan itu dilakukan saat PTPN IV Pulau Raja memberikan perluasan jalan menuju PKS PT Varem. Kemudian warga membangun kembali jembatan itu secara swadaya dan bermohon agar jangan dibongkar.

Sementara, Kapolsek Pulau Raja AKP Dahrun Harahap mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Tidak anarkis.
“Kita masih menunggu kedatangan manager agar dimuswarahkan kembali,” kata AKP Dahrun Harahap berusaha menenangkan warga.

Ke pihak PTPN IV Pulau Raja, AKP Dahrun Harahap juga meminta agar jangan melakukan pembongkaran terhadap jembatan yang dibangun warga sebelum ada keputusan Manager PTPN IV.

Lalu dilakukan dialog antara Anggota DPRD Asahan Sofyan Ismail, yang mewakili warga, pihak PTPN IV Pulau Raja diwakili Asisten Kepala (Askep) Edy Harianto serta disaksikan Kapolsek Pulau Raja AKP Dahrun Harahap. Lewat dialog itu kemudian disepakati dilakukan pertemuan lanjutan di Kantor DPRD Asahan di Kisaran, Jumat (4/11) mendatang. Setelah ada kata sepakat, kemudian pihak PTPN IV Pulau Raja membawa kembali alat beratnya. Warga pun kemudian membubarkan diri. (sof/dro/ma)

TANJUNGBALAI – Sinema Zebua (55) pelaku pembunuhan terhadap Dame Laia, setelah diringkus petugas akhirnya mengakui perbuatannya. Kepada polisi, ia nekat menghabisi nyawa temannya karena sakit hati yang menuduhnya menggelapkan uang sewa simpanan mobil.

Dalam pembunuhan tersebut, tersangka dibantu temannya bermarga Sihotang yang kini masih dalam pengejaran polisi.
Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK didampingi Kasat Reskrim AKP Yayang Risky Pratama melalui Kanit Reskrim Ipda Michael menjelaskan, motif dari pembunuhan tersebut karena pelaku dendam dengan korban yang menuduhnya menggelapkan uang sewa mobil sebesar Rp250.000.

“Berdasarkan keterangan sementara dari pelaku, motif dari pembunuhan tersebut karena pelaku dendam dengan korban yang menuduhnya menggelapkan uang sewa titipan mobil,” ujar Michael ketika ditemuai wartawan di Mapolres Tanjungbalai, Sabtu malam (29/10).

Kepada petugas, pelaku mengatakan atas tuduhan tersebut menyebabkan keduanya adu mulut di tempat kerjanya tersebut. Saat pertengkaran itu, korban memaksa pelaku untuk mengakui uang tersebut dan mengancam akan meludahi wajah pelaku. Selesai mengucapkan hal itu, korban langsung meludahi wajah pelaku. Pertengkaran pun mereda.
Selanjutnya, kata Michael, setelah pertengkaran selesai, pelaku kemudian duduk di bangku penjagaan depan, sementara korban istirahat ke dalam kamar.

Berselang beberapa saat kemudian, teman pelaku bermarga Sihotang (DPO) yang juga warga kota Tanjungbalai datang ketempat tersebut. Kemudian tersangkapun curhat dengan Sihotang. Dalam curhatnya, pelaku menceritakan bahwa dirinya mempunyai musuh.

“Tersangka kemudian curhat dengan pelaku Sihotang tersebut. Dia dendam dengan korban, lalu pelaku Sihotang tersebut mengatakan, “tenang, jangan takut. Kita habisi dia nanti jam dua belas malam ini. Lalu keduanya sepakat, apabila pelaku sudah dihabisi, keduanya lari dengan dua mobil,” katanya.

Setelah itu tersangkapun mengambil pisau miliknya yang disimpannya di dapur ditempat penitipan mobil  tersebut dan menyerahkannya kepada pelaku Sihotang.

“Kata tersangka, setelah pukul dua belas malam, pelaku Sihotang pun menjalankannya aksinya menikam korban. Tikaman pertama di perut korban. Saat itu terjadi perlawanan dengan korban sehingga pisau terjatuh. Tersangka  kemudian mengambil pisau tersebut dan  menikamkan kembali secara membabi buta ke tubuh korban. Sementara pelaku Sihotang memegangi tubuh korban,” tuturnya.

Selanjutnya, setelah itu kedua pelaku mengangkat korban ke mobil Innova BK 1003 VR dibungkus karpet merah dan diletakkan di bagian belakang mobil. Kemudian tersangka membawa korban dengan mobil tersebut, sementara pelaku Hotang membawa mobil BK 126 GN.

“Katanya, mereka berencana akan pergi ke Kerinci membuang mayat tersebut. Setelah mayat tersebut dibuang, kedua mobil juga akan dijual di sana. Namun, karena tersangka baru pandai membawa mobil, sehingga tertinggal jauh di perjalanan. Pada saat di kota Pinang, mobil yang dibawa tersangka kehabisan minyak sehingga meninggalkannya di tempat tersebut. Pelaku Sihotang tetap melanjutkan perjalanan,” terangnya.

Dikatakan Michael, saat ini petugas telah mengamankan barang bukti berupa pakai korban, mobil Innova BK 1003 VR, karpet merah, pisau, bantal, tilam busa, serta handpone korban.

Sementara mobil BK 126 GN dan pelaku Sihotang masih dalam pengejaran petugas. Berdasarkan keterangan dari tersangka, pelaku Sihotang berduaan dengan istrinya mengendarai mobil tersebut,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dame Laiya alias Dame (26) warga Nias tewas dibantai teman kerjanya. Mayat Dame ditemukan, Jumat (28/10) sekira pukul 06.00 WIB di dalam mobil Kijang Inova warna hitam BK 1003 VR depan rumah makan Elin Jalinsum Titi Kembar, Kota Pinang, Kabupaten Labusel. Saat ditemukan, mayat korban dibungkus karpet merah dengan luka tusukan benda tajam di beberapa bagian perut dan badan korban.

Informasi diperoleh, Dame merupakan perantauan yang bekerja di Tanjungbalai sebagai karyawan penjaga penitipan mobil di Jalan M Abas Ujung, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Tanjungbalai yakni Yenni Motor.Korban diduga dibunuh teman kerjanya bermarga Zebua (50) sesama orang Nias di tempat kerja mereka.

Hal itu terungkap setelah salah seorang oknum TNI bernama Gunawan yang merupakan konsumen di tempat menitipkan mobil tersebut ingin mengambil mobilnya. Namun saat supir dari oknum TNI tersebut tiba di tempat penitipan, ia tidak menemukan korban.

Gunawan pun melaporkan hal tersebut kepada pemilik penitipan. Selanjutnya istri dari pemilik penitipan  tersebut menghubungi korban melalui telepon selulernya. Namun yang mengangkat telepon tersebut mengakui korban telah ia bunuh dan ditinggalkan di Titi Panjang Kota Pinang.

Mendengar pernyataan tersebut, pemilik Yenni Motor mendatangi tempat usahanya mencari kebenaran cerita tersebut. Sesampainya di tempat tersebut, pemilik menemukan banyak bercak darah di dalam kamar tempat penitipan mobil miliknya.

Sementara mobil Kijang Innova miliknya BK 1003 VR dan mobil Innova BK 126 GN milik oknum TNI sudah hilang dari lokasi penitipan mobil. Atas kejadian tersebut pemilik lalu melaporkan kepada pihak kepolisian.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasat Reskrim AKP Yayang Risky Pratama SIK didampingi Kapolsek Datuk Bandar AKP R Manalu dan Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga yang ditemui di TKP membenarkan bahwa korban adalah Dame Laia yang ditemukan tewas di Kotapinang. (Mag02/ma)

TANJUNGBALAI-Sadis! Damai Laia alias Dame (26) dibunuh dengan 84 liang tikaman. Pelaku adalah rekan kerja korban, Agus Zebua (50), yang sudah mengakui perbuatannya lewat telepon kepada pemilik gudang mobil, majikan mereka.

Terkuaknya pembunuhan itu diketahui setelah jenazah Dame ditemukan pada Jumat (28/10) lalu sekira pukul 06.00 WIB di dalam mobil Kijang Innova hitam BK1003 VR. Mobil itu diparkir di depan Rumah Makan Elin, berada di Jalinsum Titi Kembar, Kota Pinang, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Pagi itu, Anto (40) warga Kecamatan Bosar Maligas, Simalungun, bangun dari istirahatnya. Ia berniat melanjutkan perjalanan menumpang truk CPO yang dikendarainya. Sebelumnya truk itu diparkirkannya di depan Rumah Makan Elin.

Hanya saja saat akan ke luar, Anto kesulitan mengeluarkan truknya karena terhalang mobil Kijang Innova tersebut. Kemudian pemilik rumah makan, Darwin membantu dengan mencari pemilik mobil Innova yang menghalangi jalan truk tersebut. Tetapi tetap tidak ditemukan. Selanjutnya, ia memerhatikan isi mobil, tak ada orang yang ditemukan di dalam. Namun karena curiga dengan mobil itu, selanjutnya Darwin langsung melaporkannya ke kepolisian setempat.

Tidak lama kemudian tim dari Sat Reskim Polres Labuhanbatu datang ke lokasi. Setelah mobil dibuka, ditemukanlah sesosok jenazah yang terbungkus karpet merah. Posisi jenazah saat itu berada di bagian belakang mobil Innova tersebut.

Begitu diperhatikan, jenazah itu dipenuhi luka tusuk. Di samping tubuh korban juga ditemukan sebilah pisau. Diduga pisau itulah yang digunakan untuk membunuh korban.
Selanjutnya jenazah dibawa ke rumah sakit setempat dan selanjutnya diotopsi ke RSUD Dr Djasamen Saragih Kota Siantar.

Terakhir, korban diketahui sebagai Dame Laia, merupakan perantauan yang bekerja di kawasan Kota Tanjungbalai. Ia merupakan karyawan di Yenni Mobil dan bekerja sebagai penjaga penitipan mobil yang beralamat di Jalan M Abas Ujung, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Tanjungbalai. Begitu juga dengan Agus, merupakan rekan kerja korban di Yenni Mobil.

Sebelumnya pada Jumat pagi, seorang oknum TNI bernama Gunawan yang merupakan konsumen Yenni Mobil ingin mengambil mobilnya. Namun, saat supir dari oknum TNI tersebut tiba di lokasi penitipan, tidak menemukan korban.

Gunawan pun melaporkan hal itu kepada pemilik penitipan, selanjutnya istri dari pemilik penitipan menghubungi korban melalui telepon selulernya. Ternyata saat ditelepon, yang mengangkat adalah Agus. Saat itu ia mengakui bahwa ia telah membunuh korban. Sementara jenazahnya ditinggalkan di Titi Panjang, Kota Pinang.
Mendengar pernyataan tersebut, pemilik Yenni Motor langsung mendatangi tempat usahanya dan mencari kebenaran cerita tersebut. Sesamapainya di sana, pemilik usaha itu menemukan banyak bercak darah dalam kamar di tempat penitipan mobil miliknya.

Sementara itu mobil Kijang Innova miliknya BK 1003 VR dan mobil Innova BK 126 GN milik Gunawan sudah tak terlihat. Atas kejadian itu, pemilik usaha itupun membuat laporan ke polisi.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasat Reskrim AKP Yayang Risky Pratama SIK didampingi Kapolsek Datuk Bandar AKP R Manalu dan Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga yang ditemui di lokasi usaha Yenni Mobil, membenarkan Dame Laia sudah ditemukan tewas di tempat terpisah.

Namun, ia mengaku belum mengetahui apa motif di balik pembunuhan ini. Apalagi sebelumnya korban terlebih dahulu dibunuh di tempat kerjanya, selanjutnya jenazahnya dibawa ke Kota Pinang dengan menumpang mobil milik majikan mereka.

“Motifnya masih kita selidiki dan saat ini kita masih mengumpulkan keterangan saksi. Berdasarkan hasil olah TKP, diduga pelaku lebih dari satu orang. Dan saat ini, ada satu mobil, yakni Kijang Innova BK 126 GN yang hilang. Mobil itu juga diduga dilarikan pelaku,” kata Sinulingga.

Sementara itu pemilik usaha Yenni Motor, Pendi Hura yang sempat diwawancarai awak koran ini, membenarkan kejadian itu. Ia menambahkan, setelah mengetahui bahwa mobil titipan hilang dari tempat usahanya, istrinya bernama Masniar langsung menghubungi handphone korban.

“Yang mengangkat adalah pelaku. Dia mengakui perbuatannya yang menghabisi korban. Dia sudah kubuang, dia kubunuh dan kutinggalkan di Titi Panjang Kotapinang, di dalam mobil. Begitulah katanya,” ucapnya menirukan pengakuan Agus.

Dikatakan, korban dan pelaku selama ini tidak mempunyai masalah. Keduanya sama-sama pekerja di tempat usahannya dan sudah tahunan bekerja sebagai penjaga penitipan mobil.

Jenazah Diotopsi
Tepat pada Sabtu (29/10) sekira pukul 09.00 WIB, jenazah Dame Laia diotopsi di Instalasi Forensik RSUD Dr Djasamen Saragih.

Menurut Kepala Instalasi Jenazah dan Kedokteran Forensik RSUD Dr Djasamen Saragih, dr Reinhard JD Hutahean SH SpF melalui pegawainya Maknur Manurung, otopsi terhadap jenazah korban yang mereka lakukan berlangsung selama 3 hingga 4 jam.
Dari hasil otopsi itu ditemukan 84 liang tusukan di tubuh korban. Masing-masing 32 liang pada garis ketiak kiri, 28 liang pada punggung, 7 liang pada garis ketiak kanan, 12 liang pada bagian dada dan perut, 3 liang pada leher dan 2 liang pada wajah. Selain itu, ada juga luka robek pada lambung korban.

Hanya saja, Manurung menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa mengetahui lokasi awal tikaman di tubuh korban, karena kondisi jenazah sudah mengalami pembusukkan.

“Semuanya ada 84 liang tusukan di tubuh korban. Itulah yang kita temukan, kemudian ada luka robek di lambung,” jelas Manurung.

Korban Dikenal Ramah
Menurut teman korban yang ditemui di Instalasi Jenazah RSUD Dr Djasamen Saragih kemarin, korban merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.

“Orangtua dan ketiga saudara korban tinggal di daerah Nias Selatan,” jelas pria yang enggan menyebut identitasnya itu kepada koran ini, kemarin.

Dia menjelaskan, sehari-harinya korban dikenal sangat ramah dan baik, bahkan korban sangat rajin bekerja, sehingga menjadi kepercayaan pemilik gudang mobil tersebut.

“Makanya kami tidak menyangka si Zebua itu tega membunuh si Dame ini. Padahal mereka sama-sama pekerja di gudang penyimpanan mobil itu,” ujarnya.(th/hez)

Tanjungbalai – Patung Buddha Amithaba di lantai atas Vihara Tri Ratna Kota Tanjungbalai, diturunkan pada Kamis malam dan dipindahkan ke tempat yang disepakati pengurus rumah ibadah tersebut dengan pemkot setempat.

Pengurus Vihara Tri Ratna, Pek Cong Lie Kun, Jumat, menyatakan pihaknya bersedia menurunkan patung Amithaba dan kemudian meletakkannya di tempat yang telah disepakati bersama Pemkot Tanjungbalai.

“Pernyataan penurunan patung telah kami sampaikan dihadapan unsur Forkominda Tanjungbalai pada 1 September lalu di pendopo rumah dinas wali kota,” ujarnya.

Dengan pemindahan rupang (patung) yang disucikan umat Buddha itu diharapkan tidak ada lagi pertentangan yang bisa menimbulkan perpecahan atau gesekan di tengah-tengah masyarakat, khususnya antarpemeluk agama.

“Demi pembangunan dan kemajuan daerah mari kita hilangkan fitnah dan adu domba. Sebaliknya kita wajib menjaga, melindungi dan saling menghargai agar sesama peluk agama kembali rukun, harmonis” katanya.

Kepala Bagian Humas Setdakot Tanjungbalai, Nurmalini Marpaung mengapresiasi penurun patung yang dilakukan secara mandiri oleh pihak pengurus yayasan vihara tersebut.

“Pemkot Tanungbalai menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas kesediaan pihak Vihara Tri Ratna menurunkan patung tersebut sebagai wujud toleransi antarumat beragama,” katanya. (int/ck5/rah/MA)

MEDAN- Soal Kapolsek Medang Deras AKP Jhoni Siregar yang disebut terjaring Operasi Pemberantasan Pungli (OPP) oleh Tim Saber Pungli bentukan Bid Propam Polda Sumut ditanggapi santai dan seolah seperti guyonan oleh Kapolres Batubara AKBP Bonaparte Silalahi. Meski sejatinya, perwira menengah (pamen) itu tak bersikap demikian.

Ketika ditemui awak koran ini di Lapangan Benteng, Jalan Pengadilan, Medan, Bonaparte yang dicecar pertanyaan terkait anggotanya terjaring dalam OPP, justru mengajak wartawan bercanda.
Awalnya, ketika ditanya apakah sudah mengetahui AKP Jhoni Siregar terjaring OPP, jawaban Bonaparte seperti sebelumnya.

‘’Saya belum tahu, saya cek dulu ya," ujar Bonaparte.

Lebih jauh, saat Sumut Pos (grup koran ini) meminta izin untuk kembali menghubunginya petang guna memastikan kabar itu, Bonaparte malah menjawabnya seperti dengan guyonan.

"Izin pak, nanti sore saya hubungi lagi ya untuk memastikan kabar itu (AKP Jhoni terjaring OPP)," tanya Sumut Pos.

"Mau izin berapa hari," jawab Bonaparte.

Tak berhenti disitu. Saat ditanya Bonaparte apakah sudah ada berkomunikasi dengan oknum Korps Tri Brata yang terjaring OPP itu, pucuk pimpinan di Polres Batubara tersebut malah menjawab dengan guyonan lagi.

"Mau tahu aja," ujar pria bertubuh gempal ini.

Bonaparte kembali bercanda lagi saat wartawan melemparkan pertanyaan ulang mengenai kebenaran ditangkapnya AKP Jhoni Harahap saat menerima uang hasil pungli dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Begitupun, setelah puas mengajak wartawan tertawa, Bonaparte juga kembali bertingkah aneh, ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama.

Tingkah aneh dimaksud, Bonaparte meletakkan telunjuknya di bibirnya. Dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang saat mendapatkan pertanyaan yang sama.

Pun, Bonaparte akhirnya menyatakan, akan mengecek kebenaran informasi tersebut. Ditanya apakah ada bertemu dengan AKP Jhoni, Bonaparte mengakui, jika dirinya masih ada bertemu dengan yang bersangkutan. Namun saat ditanya mendalam mengenai dugaan praktik pungli sudah berapa lama, ia tak menjawabnya.

"Ada saya bertemu (Jhoni). Biasa saja (kondisi Jhono)," bebernya.

Kapoldasu Benarkan Kapolsek Medang Deras Terjaring OTT

Sementara, Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Ahmelza Dahniel mengakui, jika tim sapu bersih pungutan liar ada melakukan operasi tangkap tangan (OTT), terhadap Kapolsek Medang Deras. Saat ini, sambung Rycko, penyidik Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Sumut, masih melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap yang bersangkutan.

Menurut dia, penyelidikan terhadap kasus AKP Jhoni, tengah berjalan. Saat dikorek lebih dalam, Rycko pun meminta kepada awak media untuk bersabar sembari menunggu pemeriksaan yang tengah dilakukan.

"Kita tunggu prosesnya ya," ujar Kapolda Sumut.

Begitu juga dengan sanksi yang akan diberikan terhadap Jhoni. Kata Rycko, sanksi akan diputuskan setelah hasil persidangan. Menurut dia, uang Rp500 ribu itu juga harus dibuktikan dengan keberadaannya.

Saat ditanya adanya desakan untuk juga melakukan pemeriksaan terhadap pengusaha SPBU guna mengetahui praktik pungli ini sudah lama berjalan atau tidak dan menerima uang Rp500 ribu itu per hari, per minggu atau per bulan, Rycko menyebut, pihaknya masih mendalami hal tersebut.

Sebelumnya, Kapolsek Medang Deras Resort Batubara AKP Jhoni Andreas Siregar terjaring dalam operasi pemberantasan pungli (OPP) oleh tim yang dibentuk Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sumut. Jhoni terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT).

Diduga, yang bersangkutan saat itu tengah melakukan pemerasan terhadap pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pagurawan, Kelurahan Pangkalan Dodek, Kecamatan Medang Deras, Batubara. Dari tangan Jhoni, Timsus Saber Pungli Polda Sumut menyita barang bukti uang tunai senilai Rp500 ribu.
Kepala Bidang Propam Polda Sumut Kombes Pol Syamsudin Lubis membenarkan penangkapan tersebut.

"Iya, ada kita tangkap. Masih praduga tidak beralah," ujar Syamsudin, kemarin (26/10).

Disoal ulah yang dilakukan Jhoni adalah bentuk pemerasan atau pungli, menurut Syamsudin, yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan di Bidang Propam Polda Sumut.

"Masih diperiksa, masih ditelusuri. Masih azas praduga tidak bersalah," ujar dia.

Disoal barang bukti uang sebesar Rp500 ribu, Syamsul juga membenarkannya. "Ada barang buktinya, uang (Rp500 ribu," katanya lagi.  (ted/smg/dro)

TANJUNGBALAI- Dame Laia alias Dame (26) warga Nias tewas dibantai teman kerjanya.  Mayat Dame ditemukan, Jumat (28/10) sekira pukul 06.00 WIB di dalam mobil Kijang Inova warna hitam BK1003 VR depan rumah makan Elin Jalinsum Titi Kembar Kota Pinang, Kabupaten Labusel. Saat ditemukan, mayat korban dibungkus karpet merah dengan luka tusukan benda tajam di beberapa bagian perut dan badan korban.


Informasi diperoleh Dame merupakan perantauan yang bekerja di Tanjungbalai sebagai karyawan penjaga penitipan mobil di Jalan M Abas Ujung, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Tanjungbalai yakni Yenni Motor.

Korban diduga dibunuh teman kerjanya bermarga Zebua (50) sesama orang Nias ditempat kerja mereka.  diduga dilakukan oleh teman satu pekerjaan nya bermana Zebua (50).

Hal itu terungkap setelah salah seorang oknum TNI bernama Gunawan yang merupakan konsumen ditempat menitipkan mobil ditempat tersebut ingin mengambil mobilnya, namun saat supir dari oknum TNI tersebut tiba ditempat penitipan tidak menemukan korban.

Gunawan pun melaporkan hal tersebut kepada pemilik penitipan, selanjutnya istri dari pemilik penitipan  tersebut menghubungi korban melalui telepon selulernya namun yang mengangkat telepon tersebut mengakui korban telah ia bunuh dan ditinggalkan di Titi Panjang Kota Pinang.

Mendengar pernyataan tersebut pemilik Yenni Motor mendatangi tempat usahanya mencari kebenaran cerita tersebut. Sesamapainya ditempat tersebut, pemilik menemukan banyak bercak darah di dalam kamar tempat penitipan mobil miliknya.

Sementara mobil Kijang Inova miliknya BK 1003 VR dan mobil Inova BK 126 GN milik oknum TNI sudah hilang dari lokasi penitipan mobil. Atas kejadian tersebut pemilik lalu melaporkan kepada pihak kepolisian.
Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasat Reskrim AKP Yayang Risky Pratama SIK didampingi kapolsek Datuk Bandar AKP R Manalu dan Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga yang ditemui di TKP membenarkan bahwa korban adalah Dame Laia yang ditemukan tewas di Kotapinang.
Yayang mengatakan belum mengetahui apa motif dibalik pembunuhan ini namun sebelumnya korban terlebih dahulu dibunuh di lokasi tempat kerjanya lalu pelaku membawanya ke Kotapinang dengan sebuah mobil inova BK 1003 VR.
 
"Motifnya masih kita selidiki dan saat ini kita masih mengumpulkan keterangan saksi.  Berdasarkan olah TKP diduga pelaku lebih dari satu orang dan saat ini ada satu mobil inova BK 126 GN yang hilang diduga juga dilarikan pelaku," kata Yayang. 

Selanjutnya pihak kepolisian bersama pemilik Yenni Motor akan menjemput korban dari rumah sakit umum Kotapinang untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Dr Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk dilakukan otopsi.

Sementara pemilik usaha Yenni Motor Pendi Hura ketika diwawancarai awak koran ini mengatakan, setelah mengetahui bahwa mobil titipan hilang, istrinya Masniar menghubungi handphone korban yang ternyata dijawab pelaku dan mengakui perbuatannya.

"Dia sudah kubuang, dia kubunuh danku tinggalkan di Titi Panjang Kotapinang di dalam mobil," ucapnya menirukan ucapan pelaku.

Dikatakannya korban dan pelaku selama ini tidak mempunyai masalah keduanya sama-sama pekerja di tempat usahannya dan sudah tahunan bekerja sebagai penjaga tempat usahanya tersebut.

Pantau wartawan di dalam kamar tempat korban dibunuh, bercak darah ada di beberapa tempat seperti di lantai, dinding, tilam dan bantal.

Mayat Korban Ditinggal di Dalam Jok Mobil

Pembunuhan yang lakukan tersangka Zebua (50) seorang penjaga gudang penitipan mobil milik Efendi Hura, di Jalan Alteri Simpang M Abbas, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Tanjungbalai terhadap Dame Laia alias Dame (26) tergolong cukup sadis.

Zebua membunuh teman kerjanya di kamar tidurnya dengan cara menikami perut korban berulangkali. Diduga ada 10 luka tusukan benda tajam di perut korban. Kemudian pelaku membuang mayatnya di salahsatu rumah makan di Jalinsum Kota Pinang, Kabupaten Labusel.

Kapolres Labuhanbatu, AKBP Teguh Yuswardhie melalui Kasat Reskrim AKP M Firdaus kepada wartawan, Jumat menjelaskan, peristiwa itu bermula dari adanya penemuan mayat di dalam jok belakang mobil Toyota Innova warna hitam BK 1003 VR yang terparkir di halaman rumah makan Elin, Desa Bedagai Kota Pinang, Jumat (28/9) sekira pukul 06.00 WIB.

Penemuan itu berawal, saat pemilik rumah makan Darwin (49) ingin meminta pemilik mobil menggeserkan mobilnya karena ada truk yang akan keluar. Setelah berulangkali dipanggil tetapi tidak ada jawaban dari dalam.

Ternyata, setelah di cek dari beberapa kaca mobil, didalam bagian jok belakang terlihat sesosok mayat dengan posisi duduk menyamping dan telah terbalut ambal warna coklat.

Melihat hal tersebut, pemilik rumah makan Elin itupun langsung melaporkannya ke Polsek Kota Pinang. Selanjutnya, setelah dilakukan beberapa penyelidikan, mayat itupun dibawa ke rumah sakit untuk di outopsi.



Setelah dilakukan penyelidikan dan koordinasi dengan Polres Tanjungbalai, usai melakukan pembunuhan, pelaku masih sempat mengambil handphone korban serta menelepon pemilik gudang sembari mengaku dirinya telah menghabisi nyawa rekan sekerjanya itu.

"Dari koordinasi kita dengan Sat Reskrim Polres Tanjungbalai, diketahui didalam kamar korban ditemukan bercak darah dan dugaannya itu darah korban. Pemilik gudangnya Effendi Hura dan istrinya Masniat Bate," terang Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu.

Selanjutnya, pihak Sat Reskrim Polres Labuhanbatu mengamankan sejumlah barangbukti, berupa 1 unit mobil Innova warna hitam BK 1003 VR, 1 lembar ambal warna coklat ukuran 3x4 meter.
Selain itu, pakaian korban, 1 buah cincin warna silver milik korban dan sebilah pisau. "Kita masih koordinasi dengan Polres Tanjungbali dalam hal pencarian pelaku," kata AKP M Firdaus. (ilu/mag02/nik/syaf)




TANJUNGBALAI - Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) bidang pendidikan dengan Universitas Negeri Medan (Unimed).

Penandatanganan MoU yang dilakukan oleh Wakil Walikota Tanjungbalai Drs H Ismail dengan Rektor Unimed Prof Dr Syawal Gultom MMPd itu dilaksanakan Kamis (27/10) di di Gedung Olahraga, Tanjungbalai sehari sebelum Peringatan Sumpah Pemuda.

Acara penandatanganan MoU tersebut dirangkai dengan kegiatan seminar sehari pembinaan dan pengembangan profesi guru. Hadir juga dalam penandatanganan MoU tersebut Seketaris Daerah (Sekda) Drs H Abdi Nusa, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungbalai Tetty Juliani Siregar ST MT serta seluruh guru se Kota Tanjungbalai.

"Strategi untuk mengembangkan profesionalisme guru dalam upaya mewujudkan pendidikan bermutu di Kota Tanjungbalai sengaja diangkat sebagai thema dari seminar sehari pembinaan dan pengembangan profesi guru ini. Hal itu membuktikan bahwa Pemerintah Kota Tanjungbalai terus berkomitmen dan berupaya untuk mengembangkan mutu dan kualitas pendidikan di Kota Tanjungbalai. Dan salah satu dari upaya tersebut dibuktikan dengan dilakukannya penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pemerintah Kota Tanjungbalai dengan Universitas Negeri Medan. Hal ini sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Kota Tanjungbalai. Hal itu sejalan dengan salah satu visi misi Pemerintah Kota Tanjungbalai periode 2016 - 2021 yang menyatakan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan pendidikan yang berkualitas berbasis Iptek dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat," ujar Ismail dalam pidato sambutannya. (ck-5/syaf)


TASLABNEWS.COM, ASAHAN- Personel Satreskrim Polres Asahan menggagalkan penyelundupan barang bekas ilegal asal Malaysia yang masuk dan diduga akan diedarkan di wilayah Polres Asahan. Sebanyak 15 bal pakaian bekas berhasil diamankan, Kamis (27/10) di perairan Asahan.

Kasat Reskrim Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara SIK mengatakan barang bukti monza atau pakaian bekas sebanyak 15 ball ini ditangkap di dua tempat berbeda dan waktu yang berbeda.



Pertama pada Senin (24/10) sekitar pukul 16.30 WIB sebanyak 7 ball dibawa dengan menggunakan angkutan umum bus CV Karya Agung BK 7007 WA menuju ke Medan . Kedua, sebanyak 8 ball yang dibawa dengan menggunakan mobil pribadi B 8617 M sekitar pukul 19.30 di Jalan Sei Berantas, Kecamatan  Sei Tulang Raso.

"Dari penangkapan ini ada 15 bal yang kita amankan dengan dua supir. Semuanya sudah kita limpahkan hari ini ke Bea dan Cukai Teluk Nibung di Tanjungbalai," kata Kasat Reskrim AKP Bayu Putra Samara.

Bayu menjelaskan, kedua supir tersebut yaitu Herman Sinaga (26) warga Tanjung Pinggir dan Musa Marpaung, warga Sei Berantas. Kini mereka masih menjalani pemeriksaan lanjutan di Bea dan Cukai Teluk Nibung.

Kasat Reskrim AKP Bayu Putra Samara, SIK menghimbau kepada masyarakat apabila mengetahui informasi mengenai adanya peredaran barang ilegal segera melaporkan atau menyampaikan informasi kepada pihak berwajib.




9 Ton Bawang Merah Selundupan Diamankan di Teluk Nibung

Penyeludupan barang ilegal kembali terjadi. Sebanyak lima orang awak kapal pengangkut bawang impor ilegal berhasil diringkus aparat Satgas Patroli Laut Bea Cukai Teluk Nibung.

Sebelumnya mereka mencoba untuk kabur dengan dengan terjun ke laut. Tapi usaha mereka gagal, karena keburu tertangkap oleh petugas.

 Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil Bea Cukai Sumut, Rizal menuturkan, 5 awak kapal itu diringkus di perairan Kualabagan, Asahan, Selasa (25/10) lalu.

Mereka berada di tiga kapal nelayan yang sedang melintas di laut terdeteksi membawa bawang. Lantas petugas mencoba mencegatnya.

Ketika dilakukan pengejaran, para awak kapalnya melompat ke laut dan kabur ke arah hutan bakau. Sedangkan kapal dapat diamankan. Di dalam kapal ditemukan tumpukan bawang merah. Sementara awak kapal itu gagal kabur, karena disergap petugas di hutan bakau.

Ketiga kapal pengakut bawang berikut awaknya, digiring ke dermaga Pelabuhan Teluk Nibung, Tanjungbalai, Asahan.

“Saat penangkapan, awak kapal melarikan diri ke hutan bakau. Sedangkan dua kapal lagi awaknya berhasil diamankan,” beber Rizal, Kamis (27/10).

Kini, barang bukti bawang masih dibongkar di Pelabuhan umum Teluk Nibung. Sementara, para tersangka tengah menjalani pemeriksaan oleh petugas penyidik.

“Bawang yang diangkut ketiga kapal itu sebanyak sembilan ton. Setiap kapal membawa tiga ton bawang,” ungkap Rizal.
 (***)


TASLABNEWS.COM, ASAHAN- Seorang pemuda bernama Aldi Pratama (32) warga Desa Pagar Besi, Dusun VIII, Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun berlagak seperti militer yang didukung KTA.




Dengan gaya layaknya seorang personel TNI AD, ia berhasil mengelabui wanita, hingga dicabuli dengan di kebun. Namun, aksi pelaku ini diketahu oleh korban warga Piasa Ulu, Kecamatan Tinggi Raja, hingga ia ditangkap polisi.

Kapolres Asahan AKBP Tatan Dirsan Atmaja SIK melalui Kasat reskrim Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara SIK yang didampingi Kanit PPA Ipda Rusli Damanik kepada awak media membenarkan adanya penangkapan terhadap seorang lelaki bernama Aldi Pratama yang menyaru sebagai anggota TNI AD, Kamis (27/10) sekira pukul 13.00 WIB.

Lebih lanjut AKP Bayu Putra Samara SIK mengatakan, dengan bermodalkan kartu identitas tersebut tersangka berhasil merayu dan menyetubuhi seorang gadis desa yang masih dibawah umur berinisial SA (17) warga Piasa Ulu, Kecamatan Tinggi Raja, Asahan.

Pelaku saat ini sudah berstatus sebagai tersangka dan saat ini sedang proses penyidikan di Sat Reskrim Polres Asahan unit PPA. Tersangka dalam menjalankan aksinya mengaku sebagai anggota TNI AD yang bertugas di unit Intel.

Dalam pemeriksaan tersangka mengaku telah menyetubuhi korban "SA" berulang kali, dan dalam aksinya tersangka melakukan perbuatan tersebut di areal kebun PT BSP tbk yang berada di Kampung Taman Sari, Kecamatan Pulo Bandring.

Sementara korban mau melakukan perbuatan tersebut dikarenakan adanya bujuk rayu dan adanya janji manis yang diucapkan tersangka.


“Kami telah memeriksa beberapa saksi yang mengetahui modus operandi tersangka ini, dan terhadap tersangka dapat dijerat dengan UU.RI nomor 35 tahun 2014 atas perubahan UU.RI.nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan menurut pengakuan tersangka semua atribut serta kelengkapan ID Card yang dikenakan tersangka tersebut dibuat di salah satu percetakan yang ada di Medan,” ucapnya.

Sementara tersangka yang ditemui wartawan mengaku, ia nekad mengaku sebagai anggota TNI AD karena sejak dulu ia ingin menjadi TNI.

“Dari dulu saya ingin jadi TNI, tapi tidak kesampaian. Makanya saya beli seluruh kelengkapan TNI agar saya bisa mengaku sebagai anggota TNI. Mengenai wanita itu, saya benar mencintainya, dan kepada dia saya memang mengaku sebagai anggota TNI,” ucapnya. (Tsc/int)


BADAN Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Utara (BNNP Sumut) berhasil mengungkap jaringan narkoba kelas kakap di Kabupaten Asahan.

Informasi diterima Sumut Pos (grup koran ini), penggerebekan itu terjadi Selasa (24/10) malam di Kota Kisaran. Kabarnya, ada 100 kilogram sabu dan 10 ribu ekstasi berhasil diamankan.

Kepala BNNP Sumut Brigjen Andi Loedianto, saat dikonfirmasi, tidak membantah operasi tersebut. Bahkan, Brigjen Andi Loedianto memastikan pelaku yang ditangkap merupakan salahsatu jaringan besar narkoba.

“Benar itu, tapi untuk berapa jumlahnya sabu dan pil ekstasi itu saya belum tahu karena anak-anak (personel BNNP Sumut, red) sedang dalam penelusuran lebih jauh,” sebut Andi, Rabu (26/10) malam.

Lantaran pengungkapan kasus ini masih dini, sepertinya Brigjen Andi Loedianto tak mau buru-buru mengungkap lebih jauh detail operasi penggerebekan itu.

"Sabar ya rekan-rekan, anggota masih selidik. Kita mau tahu pemain di atasnya ini. Barang bukti sudah dibawa ke BNNP. Untuk jumlahnya, kita belum bisa pastikan masih mau dilihat dulu barangnya," tandas Andi.

 Ditangkap Saat Isap Sabu di Rumah 
SUPRIANTO alias Suprik (40), warga Dusun VIII, Desa Pematang Jering, Kecamatan Sei Suka, Batubara, harus merasakan dinginnya hotel prodeo (ruang tahanan sel Mapolres Batubara). Suprianto tertangkap petugas Reskrim Polsek Indrapura saat lagi asyik menikmati narkotika jenis sabu di dalam rumahnya.
"Suprik ini kita tangkap Senin (24/10) siang sekira pukul 12.00 WIB, saat lagi asik mengosumsi sabu di ruangan tengah rumahnya. Saat petugas datang dia kaget," kata Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Kasat Narkoba AKP Banjarnahor didampingi Kapolsek Indrapura AKP Soedarjanto SH, Rabu (26/10).

Selain mengamankan tersangka, lanjut Banjarnahor, petugas juga mengamankan barang bukti dua paket kecil sabu yang masih dibungkus dalam plastik putih transparan. Satu buah alat hisap sabu/bong, dua buah mancis gas, satu buah kaca pirek dan satu buah pas bunga hias tempat menyimpan sabu.

"Kasus ini masih kita kembangkan untuk mengungkap jaringan di atasnya dan pelaku masih dalam pemeriksaan penyidik," jelas Kasat. (mag1/wan/smg/dro)


TANJUNGBALAI -Rahmad Hidayat alias Dayat (35) tak berkutik saat petugas Sat Narkoba Polres Tanjungbalai mengrebek kediamannya, Kamis pagi (27/10) sekira pukul 09.00 Wib.

Infomasi diperoleh,  pria yang berdomisili di desa Sei Sarindan, Dusun II, Kecamatan Sei Kepayang Barat, Kabupaten Asahan yang berprofesi sebagai nelayan udang ini ditangkap karena keterlibatannya sebagai pengedar sabu.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasat Narkoba AKP Yunus Tarigan SH mengatakan, penangkapan Dayat atas pengembangan dari tersangka Muklis Panjaitan alias Milis, warga Kota Tanjungbalai yang sehari sebulumnya diamankan polisi.

"Tersangka kita amankan berdasarkan dari pengembangan tersangka Milis yang sehari sebelumnya kita amankan," ujar Tarigan. 

Dari tangan tersangka, petugas menemukan barang bukti berupa 6 paket narkotika jenis sabu seberat 1,08 gram, bong, handpone serta uang tunai sebesar Rp760.000 yang diduga uang hasil penjualan benda haram tersebut ditemukan di kamar tidur pelaku.

Atas perbuatannya,  tersangka  dijerat dengan pasal 112 dan 114 ayat Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Tersangka Dayat ketika diwawancarai awak koran ini mengakui perbuatanya sebagai pengedar sabu. Ia mengatakan baru dua bulan menjalankan bisnis haram tersebut. Hal itu dilakukan karena kebutuhan ekonomi dan menghemat biaya untuk makai sabu. (mag-02/syaf)


BATUBARA- Publik di Batubara saat ini heboh isu operasi tangkap tangan (OTT) terhadap oknum kapolsek inisial AKP JAS di wilayah hukum Polres Batubara.

Informasi diperoleh koran ini menyebutkan, operasi tangkap tangan (OTT) terhadap perwira itu dilakukan personel Propam Polda Sumatera Utara di rumah dinas AKP JAS, pada Senin (24/10), sore sekira pukul 18.00 WIB. Sejumlah barang bukti berkaitan dalam OTT turut diamankan.
Sebelum ditangkap, AKP JAS diketahui menerima sesuatu dari pengusaha SPBU di wilayah hukum Polres Batubara.

“Semalam sore itu kurang lebih jam enam sore, ada Anggota SPBU datang ke rumah dinas kapolsek memberi sesuatu disebut-sebut untuk pengamanan. Usai pertemuan itu tidak beberapa lama datang tiga orang yang tidak dikenal ke rumah itu menggunakan mobil Avanza dan langsung membawa kapolsek ke dalam mobil," kata sumber.

Berkaitan dengan hal itu, Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp-nya, mengatakan akan mengecek kebenaran informasi tersebut.

“Saya cek dulu ya," jawab Kapolres singkat.

Sebelumnya Selasa (25/10), Wakapolres Batubara KOMPOL Juliani Prihartini SIK, didampingi Kasubbag Humas AKP Samsul Baharuddin mengatakan, tidak tahu kalau ada anggota yang tertangkap OTT.

"Saya belum tahu informasi tentang itu. Saya juga coba menghubungi kapolseknya, namun handphonenya belum bisa dihubungi. Mungkin mati HP-nya. Pak kapolres pun sedang berada di polda ini. Ada rapat di sana," sebut KOMPOL Juliani saat ditemui di Mapolres Batubara.

Sebelumnya, Kasi Propam Polres Batubara IPDA Riwantho Simatupang juga mengatakan belum ada menerima informasi tentang seorang polisi berpangkat perwira tersebut diamankan oleh Propam Polda Sumatera Utara.

"Gak tau saya dari mana informasinya. Siapa itu?" tanya Kasi Propam balik bertanya.

Kabid Propam Polda Sumatera Utara KOMBES Pol Samsudin Lubis SH, ketika dihubungi via seluler tidak banyak berkomentar. Dia menyarankan agar melakukan konfirmasi ke  Kabid Humas Poldasu.

"Silahkan tanyakan ke Kabid Humas. Seluruh informasi harus satu pintu. Saya hanya pemeriksaan internal. Untuk informasi keluar, ke humas saja ya," katanya.

Sementara, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting, dihubungi wartawan, Rabu (26/10), melalui selulernya, tak bisa memberikan informasi banyak. Ia beralasan sedang berada di Jakarta.
"Saya lagi di Jakarta pak. Soal itu nanti saya akan cek terlebih dahulu. Apakah hal itu sudah bisa dipastikan kebenarannya. Atau coba tanyak pak Kabid Propam Kombes Pol Samsudin Lubis SH," tandas Rina Ginting. (wan/dro) 



SIANTAR- Diduga stres, Wilson Gurning (65), warga Jalan Viata Wuda Ujung, Kelurahan Tozai Baru, Kecamatan Siantar Sitalasari, membuat warga sekitar tempat tinggalnya heboh. Pagi itu, saat orang sedang bersiap diri untuk beraktifitas, rumah miliknya dibakarnya sendiri, Kamis (27/10) sekitar pukul 6.45 WIB.


Rumah yang memiliki dua kamar tidur dengan cepat ludes terbakar. Upaya pemadaman sempat dilakukan ratusan warga, menggunakan air di ember dan peralatan lainnya, namun semuannya sia-sia lantaran botol minuman berisikan bensin terletak tidak jauh dari asal api.

Saat diamankan polisi, Wilson hanya memberikan keterangan singkat. Ia mengaku kesal karena uang pensiun istrinya dan gajinya sebagai tukang kebersihan tidak pernah didapatkan.

“Saya sudah tidak makan, dan gaji pensiun juga tidak ada kelihatan,” teranngya kepada polisi sembari memegang berkas penting.

Menurut keterangan warga, sempat melihat Wilson pergi meninggalkan rumahnya beberapa saat berselang api muncul. Sejumlah dokumen penting ikut ia bawah. Bahkan saat orang sedang sibuk berusaha memadamkan api, Wilson malah duduk santai di pojok gedung gereja HKBP Anugerah, seolah tidak ada peristiwa apapun.

Jaraknya ke rumahnya bernomor 210 itu hanya sekitar 150 meter.  Hal itulah yang membuat warga curiga jika ada unsur kesengajaan membakar rumah.

Pengakuan warga sekitar, Wilson sudah sering meresahkan. Beberapa kali juga mengancam akan membakar gereja dan juga rumah warga lainnya. Pria yang dikarunia dua anak diharapkan untuk tidak kembali lagi di sana supaya tidak memunculkan masalah yang sama. Sejauh ini polisi sudah mengamankan Wilson. Biar demikian, Wilson tetap terlihat santai. Hanya saja, saat beberapa warga dan polisi bertanya, Wilson hanya bercerita soal kekecewaannya atas gaji pensiunan almarhum istrinya.

“Selama ini yang bersangkutan sudah sering melantur dan menyampaikan perkataan yang tidak sepantasnya termasuk menuntut upah yang seyogiahnya tidak ada seperti upah kebersihan gereja, dan gaji pensiunan istrinya. Siapa rupanya yang pernah mempekerjakannya di gereja dan siapa yang tahu soal gajinnya. Kalau kita kasih dia makan, malah kita juga yang dimarahi. Makanya kita heran lihat sikapnya,” terang warga sekitar.

Warga sempat kesal dan ingin menghakimi Wilson saat dijumpai di gedung gereja. Namun karena dianggap sudah kurang waras, akhirnya niat itu tidak dilakukan. Umumnya warga mengaku bahwa selama ini Wilson hanya tinggal sendirian karena anak laki-lakinya sudah menikah dan menetap di Papua, sementara anak perempuannya yang tinggal di daerah Kota Siantar memilih tinggal terpisah. Diduga, sikap anak-anaknya meninggalkanya tidak lepas dari kelakukan yang tidak lajim itu.

Dijumpai di lokasi kejadian, Lurah Bah Kapul Bahrum Damanik menceritakan, persoalan yang dikeluhkan warga sudah pernah disampaikan kepada keluarga Wilson. Namun sampai peristiwa ini tidak ada solusi.
Martin Panjaitan (43), salah satu saksi mata mengaku bingung dengan perilaku Wilson khususnya saat peristiwa kebakaran.

“Pas kejadian pertama api masih kecil, dia sudah lari. Kita cepat-cepatlah memadamkan. Untung juga pemadam kebakaran cepat datang, kalau tidak maka rumah-rumah tetangganya akan ikut terbakar. Tembok (pembatas rumah) saja sudah panas dan asapnya sudah mengepul ke dalam rumah tetangga,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Daud Damanik yaitu tetangga Wilson. Saat kebakaran, ia sedang tidur di dalam kamar rumahnya. Dengan cepat, sejumlah barang-barang dari dalam rumah sempat dikeluarkan.

“Saya tadi lagi tidur. Kurang sehat pula. Warga meminta agar yang bersangkutan untuk tidak tinggal di daerah itu lagi,” jelasnya singkat.

Beuty Gurning, putri Wilson sempat datang melihat rumah orangtuannya. Tetapi mengetahui orangtuannya sudah diamankan polisi, ia langsung meninggalkan lokasi kejadian tanpa memberikan keterangan apapun. (pam/osi/MS/int) 


SIMALUNGUN- Warga dan pengendara yang sedang melintas di sekitar Jalan Lintas Siantar-Parapat Km 10, tepatnya di Huta Tanjung Dolok, Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun, dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat pria, Kamis (27/10) sekira pukul 06.30 WIB.

Tak ada identitas apapun pada Jasad yang kondisinya cukup mengenaskan itu.

Yang terlihat hanya luka parah, seperti bagian kepala yang hancur. Sementara pada tangan dan kaki korban terdapat luka gugus. Telapak kaki sebelah kanan mengalami luka robek dan pangkal paha sebelah kiri juga luka koyak.

Saat ditemukan, mayat dengan gumpalan darah berjarak kurang lebih 2 meter. Sementara kedua tangan korban terikat rantai yang digembok.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Parapat, Ipda SL Siahaan SH melalui personelnya Bripka Dedi Arisandy, saat ditemukan, jasad pria tanpa identitas itu mengenakan celana training warna biru dongker dengan les merah merek Adidas dan baju kaos blong warna biru dongker. Usia pria itu diperkirakan 40-an tahun.

“Ciri-ciri lainnya, tinggi165 cm, postur badan sedang, memiliki tato salib di dada dan tato bunga di paha  kaki kiri. Ada juga tato gambar perempuan di lengan tangan sebelah kanan. Kemudian korban berkumis, berjenggot yang seperti tidak diurus, serta ubanan,” ungkap Bripka Dedi.

Dia menambahkan, pria tersebut juga memiliki ciri-ciri khusus, yaitu ada bekas luka lama yang sudah mengering di tangan sebelah kirinya.

“Kita masih menunggu hasil visum dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi,” kata Dedi saat ditemui di ruang Instalasi Forensik RSUD Dr Djasamen Saragih.

Dedi melanjutkan, mayat pria ini awalnya ditemukan warga, pagi hari sekira pukul 06.30 WIB. “Kondisi kedua tangan mayat dirantai. Posisinya terlentang di jalan dengan wajah dan kepala hancur,” jelasnya.
Tambahnya, atas adanya temuan tersebut, warga langsung melaporkannya ke polisi. Warga semula menduga pria itu adalah korban kecelakaan lalu lintas. Tak lama setelah menerima laporan warga, personel Unit Laka Satlantas Polsek Parapat turun ke lokasi.

Melihat kondisinya, ada kecurigaan mayat pria itu adalah korban pembunuhan. Selanjutnya personel Unit Laka Satlantas menghubungi petugas Sat Reskrim Polsek Parapat yang langsung melakukan olah TKP di lokasi. “Sejauh ini polisi masih menyelidiki penemuan mayat itu dan memeriksa beberapa saksi,” imbuhnya.
Masih di tempat yang sama, Kepala Instalasi Jenazah dan Kedokteran Forensik Dr Reinhard Hutahaean melalui staf M Manurung mengatakan, sejauh ini mereka hanya  melakukan visum luar terhadap jenazah korban.

“Sesuai hasil visum yang kita lakukan secara kasat mata, rahang atas dan bawah korban pecah. Kemudian bagian kepalanya pecah berkeping-keping, gigi sebagian sudah hilang dan ada luka yang berlubang pada rusuk kanan. Hal ini membuat tim forensik RSUD Djasamen Saragih susah memprediksinya. Kematian korban masih baru. Dan pada kedua tangan korban terdapat 46 mata rantai berbentuk rantai besi,” jelasnya.

Tambah M Manurung, terdapat dua lilitan rantai di tangan kanan korban. Sedangkan di tangan kirinya hanya satu lilitan. Simpul rantai terdapat di sebelah kanan dan dikunci menggunakan dua gembok yang ada di kedua tangan korban. (th/hez)


SIANTAR- Dituduh memelihara begu ganjang, dua wanita berinisial ES (45) dan RS (41), yang merupakan kaka beradik kandung tertangkap tangan oleh warga saat melakukan ritual di rumah kontrakannya, di Jalan Pergaulan Ujung, Kelurahan Sukadame, Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar, Kamis (27/10), sekira pukul 01.00 Wib.


“Saat digerebek, kedua wanita itu tengah melakukan ritual di ruangan tengah rumah kontrakannya. Dari dalam rumah warga juga menemukan puluhan boneka yang telah ditusuk paku, cawan, tanah yang diduga tanah kuburan, dan berbagai peralatan perdukunan lainnya,” ujar Minggu Sirait (30), selaku anak pemilik kontrakan

Selanjutnya, kedua kakak beradik kandung tersebut diamankan warga ke Polsek Siantar Utara. Diceritakan Sirait, sejak kakak beradik itu tinggal mengontrak di rumah itu sekira tiga setengah bulan lalu, warga sudah menaroh curiga kepada mereka berdua. Pasalnya, kakak beradik itu tak pernah berbicara dan tegur sapa dengan warga setempat. Dan pintu rumah mereka selalu tertutup. Apalagi wajah kedua wanita itu lumayan seram,” ucapnya.

Kemarahan warga berawal ketika sebulan yang lalu terjadi kematian mendadak terhadap anak tetangga sebelah rumah pelaku yang masih berusia 6 bulan. “Tanggal 30 September 2016 lalu, anak pak Poltak Sirait berumur 6 bulan meninggal mendadak. Badannya anak itu tampak biru-biru,”ungkapnya.

Kejadian ini disusul dua minggu lalu ketika membersihkan belakang rumahnya, Minggu Poltak Sirait melihat pelaku R sedang menggelar ritual di pintu dapurnya. Hal itu membuat pak Poltak Sirait ketakutan. Kemudian melaporkan yang dilihatnya itu kepada pemilik kontrakan, O Sirait.

“Waktu itu menjelang magrib, pak Poltak membersihkan rumahnya, dia melihat Risma membuat ritual di dekat pintu dapur. Karena trauma, pak Poltak Sirait dan sekeluarga tak berani tinggal di rumahnya, dan selama 9 hari ini mengungsi ke rumah adiknya di lorong 7 ujung,”jelasnya

Karena sudah curiga, warga pun merencanakan penggerebekan. Puncaknya, Kamis (27/10), sekira pukul 01.00 Wib, beberapa warga secara diam-diam mengintip ke dalam rumah kontrakan kedua wanita tersebut dari kaca nako jendela. Di situ warga melihat kedua kakak beradik kandung itu sedang menggelar ritual.“E memegang cawan dari stainles, sedangkan R mulutnya komat kamit membacakan mantera sambil menyembah ke arah cawan,”ungkapnya.

Sambil mengintip, salah satu warga pun merekam kegiatan ritual yang dilakukan kakak beradik kandung itu dengan menggunakan handphone. Selanjutnya, dijadikan bukti dan disampaikan kepada RT, Ketua serikat setempat. Mendapat laporan, setelah kompromi untuk membangunkan semua orangtua guna untuk menggerebek rumah itu,”ungkapnya.

Setelah warga berkumpul, mereka pun menuju kontrakan yang dihuni kedua pelaku. Saat pintunya diketuk, pelaku awalnya tak membuka pintu. Namun lama kelamaan, pintu akhirnya terbuka hingga warga berhamburan masuk ke dalam rumah itu dan langsung memeriksa seisi rumah. Dan dekat jendela depan rumah, warga menemukan tumpukan tanah yang diduga tanah kuburan.

Selanjutnya, warga menemukan puluhan boneka yang telah ditusuki pakai paku sepatu, dari dalam kamar, warga juga menemukan ratusan lembar mantra dalam berbagai bahasa, diantaranya bahasa batak, bahasa jawa dan bahasa arab. Selain itu ditemukan di dalam kaleng susu berisi tanah yang di dalamnya berisi cabe yang ditusuk pakai sumpit.

“Banyak boneka yang sudah ditusuk paku sepatu di balik pintu kamarnya.
Boneka diikat. Tiap-tiap boneka dimasukkan ke dalam goni dan ke dalam goni tersebut juga dimasukkan 4 buah batu bata. Kami juga menemukan alu,”ucapnya.

Setelah mengumpulkan bukti-bukti, salah satu warga kemudian melapor ke Polsek Siantar Utara yang selanjutnya turun kelokasi dan mengamankan kedua pelaku.“Tapi kata polisi gak ada hukumannya kepada kedua pelaku. Kami dengar, mereka juga sudah dipulangkan ke kampung mereka di Serbelawan. Jadi, kami bakarlah semua alat-alat ritual itu,”tambahnya.

Ketika didatangi ke Polsek Siantar Utara, salah satu petugas mengakui bahwa pihaknya telah mengantarkan kedua pelaku ke Serbelawan. “Kapolsek langsung tadi yang mengantarkan keduanya ke Serbelawan,”ungkap salah seorang petugas polsek Siantar Utara yang saat itu sedang piket jaga. (TH/MS/int)


RANTAU- Tersangka spesialis pencuri barang elektronik perkantoran diringkus personil Satreskrim Polres Labuhanbatu, Rabu (26/10) sekira pukul 22.00 WIB. Kepada polisi tersangka mengaku sudah 21 kali beraksi. Uang hasil kejahatan dipakai untuk foya-foya.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie melalui Kasat Reskrim AKP M Firdaus, Kamis (27/10) menerangkan, dari dua tersangka, satu orang yang berhasil diringkus yakni Aril (24) warga Jalan Listrik, Kelurahan Padang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara.

"Pelaku ditangkap disekitaran Jalan Perisai Rantauprapat saat akan transaksi penjualan televisi LCD merk Changhong 32 inchi yang dicurinya dari Dinas Kesehatan pada Kamis (20/10) sekitar pukul 09.00 WIB," paparnya.

Diterangkannya, dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, tersangka mengaku sudah 21 kaki melakukan pencurian dengan pemberatan kesejumlah kantor pemerintahan. Terakhir di Dinas Kesehatan.

Diterangkan AKP M Firdaus, kronologis pencurian terakhir dengan cara memanjat pagar tembok setinggi 2 meter, lalu mencongkel pintu depan kantor dengan menggunakan gunting seng.

Setelah di dalam, pelaku mengambil 3 unit komputer, 1 unit laptop, 1 unit televisi LCD 30 inchi dan 1 unit proyektor. Setelah berhasil, pelaku menjualnya secara online. Sedangkan sisanya dijual kepada warga yang tidak dikenalnya.

Namun belakangan, berdasarkan laporan Yusrijal pegawai Dinas Kesehatan Pemkab Labuhanbatu, pelaku diringkus personil Satreskrim Polres Labuhanbatu saat akan menjual barang curian lainnya.

Dari keseluruhan barang-barang yang dicuri pelaku, baru sebahagian yang dapat mereka sita sebagai barangbukti, sedangkan lainnya masih dalam penyelidikan.

Selain satu yang diringkus mereka, 2 rekan pelaku yakni berinisial SS dan BS masih dalam pengejaran pihak kepolisian.

"Kita masih menyelidiki keberadaan barang lain maupun teman pelaku," tegas AKP M Firdaus.
Data yang diperoleh di kepolisian, berdasarkan pengakuan tersangka, 21 perkantoran yang dicuri antara lain, Dinas Kesehatan, Badan Kepegawaian Daerah dengan kerugian 4 unit komputer, 1 unit laptop.

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika kerugian 4 unit komputer, Kantor Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Pendidikan kerugian 1 unit komputer, Kantor PMDK kerugian 1 unit televisi 43 inchi.

Kantor KIPP kerugian 1 unit komputer, SDN Aek Nabara kerugian 1 unit proyektor, SDn Tolan Kampung Rakyat kerugian 1 unit komputer, SDN Merbau Simpang Ampat kerugian 1 unit mesin sidik jari dan speaker aktif.

SDN Depan Kodim 0209/LB kerugian 2 unit komputer , Kantor Camat Bilah Barat/Janji kerugian 3 unit Komputer, Kantor Lurah Rantauprapat kerugian 1 unit Komputer, Kantor SDN Labusona kerugian 1 unit printer.

Selanjutnya, Kantor Lurah samping SDN Lobusona kerugian 1 unit komputer, Kantor Camat Aek Nabara kerugian 1 unit televisi LCD 32 inchi, 1 unit Laptop dan 1 unit printer, SDN Pinang Lombang namun keburu kesiangan dan tidak ada kerugian.

SMP 3 Padang Martinggi kerugian 2 unit Komputer, 1 unit proyektor dan 1 unit Keyboard, SMA 2 Rantau Prapat kerugian 2 unit Komputer, SMP 2 Aek Kanopan kerugian 3 unit komputer dan SMA N 1 Padang Matinggi kerugian 3 unit Komputer. (nik/syaf)


RANTAU- Pembangunan Bandara di Kabupaten Labuhanbatu yang berlokasi di Aek Nabara sudah layak dilakukan. Selain tempatnya sangat strategis, juga sudah mendapat dukungan dari Dinas Perhubungan Provinsi serta tercatat di Kementerian Perhubungan. Pembangunan bandara tersebut tinggal menunggu surat pembebasan lahan dari BUMN.


Demikian hal ini disampaikan Anggota DPR-RI Parlindungan Purba dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Labuhanbatu, Kamis (27/10) ketika meninjau lokasi rencana pembangunan lapangan terbang di Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu, Jalan Lingkar Aek Riung dan Gardu Induk PLN Rantauprapat.
Acara kunjungan tersebut dihadiri Bupati Labuhanbatu H Pangonal Harahap, Kepala Bappeda Hobol Zulkifli Rangkuti, Kadis Perhubungan Saipul SP, serta sejumlah Kepala SKPD dan Kabag Humas Infokom Drs Sugeng.

“Kehadiran saya disini terkait dengan tugas saya dengan masalah kelistrikan dan jalan nasional dan saya sangat mengapresiasi Bupati Labuhanbatu yang mendukung untuk pembangunan gardu induk di Labuhanbilik dan menyediakan hibah tanah,” kata Parlindungan Purba.

Lebih lanjut dikatakannya, mudah-mudahan masalah listrik di Labuhanbatu Tahun 2017 akan selesai dan masyarakat akan senang dengan program listrik masuk desa atas permintaan bupati.

“Mari kita dukung pembangunan jalan nasional sepanjang 9 km dari Sigambal atau jalan lingkar Kota Rantauprapat dengan cor beton yang baru selesai sepanjang 2 km, kurang 7 km lagi,” jelasnya.

 Sementara Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap pada kesempatan itu mengungkapkan, ia sangat berharap dukungan dari Parlindungan Purba agar masyarakat Labuhanbatu dapat menikmati pemerataan pembangunan di bidang kelistrikan.

Dimana untuk Labuhanbatu ada 2 desa lagi yakni Desa Selat Beting dan Desa Sei Siarti yang belum menikmati aliran listrik.

“Kemudian untuk masalah Jalan Lingkar Sigambal-Rantauprapat ini, saya mohon dapatlah di bangun lagi untuk tahun 2017 ini 1 km lagi. Hal ini dimohonkan atas pertimbangan masalah ketahanan pangan,” jelas Pangonal Harahap.

Menurut Bupati Labuhanbatu ini, pembangunan bandara di Aek Nabara, ia sangat berharap dapat diwujudkan.

 Sementara itu Kepala Cabang PLN Rantauprapat Kibar Barus mengucapkan terimakasih atas dukungan bupati kepada pihak PLN dalam upaya untuk rencana pembangunan gardu induk di Labuhanbilik.

“Saat ini kami sedang dalam proses pembebasan 200 tapak tower dan hal ini tentu berkat kerjasama antara Pemerintah Kabupaten dengan pihak PLN sehingga mudah dan lancar. Semua persiapan dari segi anggaran dan lainnya untuk pembangunan gardu induk di Labuhanbilik sudah siap jalan,” ungkapnya. (nik/syaf)

Teks Foto : Anggota DPR-RI Parlindungan Purba dan Bupati Labuhanbatu H Pangonal Harahap, SE, M.Si saat mendengar penjelasan Kadis Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Labuhanbatu Saipul, SP terkait rencana pembangunan Bandara (Lapangan Terbang) di Aek Nabara.(nik/syaf)



SEI DADAP- Wajah Dian Sanjaya tampak layu. Dari raut wajahnya, bocah berusia 11 tahun ini tampak tersiksa. Setiap hari harus menahan perih karena penyakit yang ia derita. Ada benjolan seukuran bola kaki di bahu sebelah kirinya.


Kebiasaan Dian Sanjaya, dulu bermain layangan kini harus ia redam. Ia tidak bisa lagi bermain seperti anak-anak seusianya. Sehari-hari ia habiskan di rumah dan di rumah. Sesekali ia hanya menatap ke luar lewat jendela rumahnya berharap benjolan segera terangkat dari bahu sebelah kiri tangannya.
Tapi harapan untuk mendapatkan kesembuhan itu harus ia kubur dalam-dalam. Apalagi setelah mendengar biaya untuk kesembuhan atas penyakit yang ia derita tidak murah.


Hari-hari yang menyedihkan itu sudah ia lalui hingga tiga tahun lamanya. Sementara benjolan di bahu kirinya kian hari kian membesar. Dia juga harus menahan rasa pedih karena dari benjolan itu keluar cairan kental mirip darah kotor. Sehingga tak jarang dia menangis karena menahan perih dari luka di benjolan tersebut.

Slamet (45), orangtua bocah malang ini menceritakan, awal mula anaknya menderita penyakit yang tidak biasa berawal dari bermain layangan. Nah, saat asyik bermain layarangan itu anaknya tanpa sengaja menabrak kayu jati. Akibatnya, korban mengalami patah pada tangan kiri.

“Saat itu, anak saya (Dian Sanjaya) duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar atau sekitar tiga tahun lalu,” sebut Slamet, pria yang kesehariannya berprofesi sebagai kuli bangunan lepas ini, saat ditemui METRO ASAHAN, di rumahnya di Dusun III, Desa Sei Kamah I, Kecamatan Sei Dadap, Rabu (26/10).
Kemudian mereka membawakan putranya berobat di klinik di desa terdekat. Saat itu memang terdapat pembengkakan di tangan tetapi tidak sampai sebesar sekarang. Sehingga, Slamet kemudian tidak begitu menghiraukannya. Apalagi dia sadar bahwa ekonominya yang pas-pasan dan juga juga tidak memiliki BPJS Kesehatan, sehingga dia tidak memeriksakan anaknya ke dokter spesialis tulang.

Namun berselang setahun kemudian, benjolan di tangan Dian semakin lama semakin membesar. Lalu mengeluarkan darah kotor. Sejak itu Dian sering mengerang kesakitan.

Lalu, dengan bermodalkan kartu BPJS Kesehatan yang baru mereka urus, mereka membawakan anaknya ke Rumah Sakit Umum Daerah Haji Abdul Manan Simatupang (RSUD HAMS) Kisaran. Setelah anaknya di-rontgen, petugas medis RSUD HAMS Kisaran menyimpulkan bahwa anaknya menderita kanker tulang dan menyarankan agar dirujuk ke rumah sakit di Medan.

Sembari menunggu surat rujukan dari rumah sakit, ternyata anaknya Dian terus merengek minta pulang. Sehingga kedua orangtuanya memutuskan anak dirawat di rumah. Putusan Slamet membawa anaknya pulang ke rumah semakin mantap setelah mendapat arahan bahwa akan ada petugas medis dari puskesmas yang akan mengontrol kondisi dan sekaligus membersihkan luka di bahu anaknya.
“Dia truma dan stres kalau di rumah sakit. Dian selalu minta ingin pulang,” kata Slamet, yang saat itu didampingi istrinya Salawati (43).  

Slamet menyebutkan, sejak sakit, anaknya laki-laki ketiga dari lima bersaudara ini sudah tidak pernah masuk sekolah lagi.

Slamet berharap, kedatangan rombongan wartawan dan Camat ke rumahnya akan mendapat secercah harapan untuk kesembuhan putranya.


 Petugas Puskesmas Hanya Bisa Melakukan Pencegahan

Aldi, petugas puskesmas saat membersihkan luka bocah ini mengaku tidak dapat berbuat banyak. Ia mengatakan hanya bisa memberikan pengobatan pencegahan agar kankernya tidak menjalar ke organ tubuh yang lain.
Menurut yang dia ketahui, penyakit yang diderita Dian adalah osteosarcoma atau kanker tulang (salah satu jenis kanker sering dijumpai yang menyerang remaja berusia 20 ke bawah dan anak-anak).
“Biasanya disebabkan karena benturan saat jatuh,” sebut Aldi.

Biasanya masih kata Aldi, penyakit ini terjadi pada anak usia di bawah 17 tahun dan menyerang pembuluh darahnya yang lemah hingga semakin membesar.

Ditemui di lokasi, Camat Sei Dadap Ady Putra Parlaungan SAP MAP mengatakan, akan mencari cara penanganan terhadap Dian. Ia berharap agar keluarga korban bersabar.

“Saya berharap keluarga bersabar dengan musibah ini,” ujar Camat Ady Putra berusaha menenangkan orangtua korban.



Putus Sekolah

Sejak menderita penyakit kanker, Dian Sanjaya tak bisa lagi mengikuti tugas belajar di sekolahnya.
Dian Sanjaya mengatakan sangat berharap agar segera mendapat kesembuhan. Dia juga sudah tidak sabar bisa kembali ke sekolah dan bisa belajar sembari bermain dengan teman-temannya.
“Mau pak,” ujar Dian Sanjaya, dengan meneteskan air mata saat ditanya apakah masih ada keinginan untuk ke sekolah. (mag1/mar/dro)


TASLABNEWS,ASAHAN- Tingkah pengedar narkoba jenis sabu-sabu ini bisa dibilang unik. Bayangkan saja, meski numpang tidur di salah satu warung dekat rumahnya, di Dusun I Sei Kepayang Asahan, J alias si Jep (36) nekat membawa serta 1 timbangan elektrik berikut 6 bungkus plastik kecil berisi Kristal putih diduga sabu yang diletakkan begitu saja di atas meja.

Alhasil, pria yang sudah lama masuk incaran polisi ini tak berkutik saat sejumlah anggota polisi dari Pos Pelayanan Bagan Asahan meringkusnya, Rabu (28/10).

Menurut pengakuan Kapos Bagan Asahan Ipda D Manulang kepada wartawan, tersangka sudah lama jadi buruan polisi.

“Namun dia sangat lihay dalam menghindar dan entah kenapa saat saya bersama anggota singgah di warung ini, kami melihat pelaku sedang tidur pulas, saat itulah langsung kita ringkus. Sementara saat tersangka kami bekuk barang bukti milik tersangka berupa timbangan electrik, 6 bungkus plastik klip kecil diduga berisi narkotika jenis sabhu terletak di atas meja dekat dia tertidur di warung itu,” ucap Manulang.


Secara terpisah saat tersangka dikonfirmasi mengaku sudah setahun lebih dirinya tidak memiliki pekerjaan tetap, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan gampang dalam mengkais rezeki ya terpaksa saya jualan sabhu keliling desa ini.

Untuk memperoleh narkotika jenis sabhu yang didagangkan ini, dirinya memperoleh dari seseorang yang kerap saya panggil dengan sebutan " Boss"  yang kerap melaut hingga ke Malaysia, bila si Boss sudah pulang dari melaut baru kami bertemu dan si Boss memberikan sabhu sebanyak 10 gram setelah laku kami bayar.

Kasat Narkoba Polres Asahan AKP.Sofian dalam keterangannya mengatakan tersangka ini merupakan kaki tangan salah satu bandar narkotika yang ada di Tanjung balai, dan terhadap tersangka dapat dijerat dengan pasal 114 jo pasal 112 ayat (2) UU.RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman diatas lima tahun penjara, akunya. (***)
Powered by Blogger.