Aku Sakit Hati
SIMALUNGUN- Siapa pelaku penganiayaan dan pembakaran terhadap Nur Intan br Rambe (45) terungkap. Ia adalah Andi Liani (22), menantu korban yang sudah tak pulang ke rumah mertuanya selama tiga minggu.


Suami dari Dewi Cahyanti ini berhasil diamankan setelah diserahkan keluarganya yang berada di Dusun VIII Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Rabu (30/11).

Sebelumnya, usai melakukan aksi di kediaman mertua, Andi langsung kabur ke kampung halamannya di Serdang Bedagai. Personel Unit Reskrim Polsek Perdagangan yang sudah melakukan olah TKP, kemudian mencurigai Andi sebagai pelaku.

Kemudian Rabu (29/11), sore sekira pukul 16.30 WIB, tim bergerak menuju kediaman orangtua Andi di Serdang Bedagai. Maksudnya adalah untuk mencari pelaku. Namun saat itu Andi tak berada di rumah itu dan diduga sedang bersembunyi.

Kemudian polisi melakukan pendekatan persuasif dan meminta agar keluarga menyerahkan pelaku untuk menjalani proses hukum.

Meski tak dijawab saat itu juga, ternyata permintaan polisi itu disetujui pihak keluarga. Rabu (30/11) sekira pukul 10.00 WIB, keluarga menghubungi personel Polsek Perdagangan dan memberitahukan bahwa mereka akan menyerahkan Andi.

Namun dalam pembicaraan disebutkan, pertemuan serta penyerahan pelaku oleh keluarga ini akan dilakukan di salah satu lokasi di Kota Tebingtinggi.

Mendengar kabar itu, Kapolsek Perdagangan AKP Asmara bersama jajarannya langsung berangkat. Sekira pukul 13.30 WIB, Kapolsek dan personel Polsek Perdagangan tiba di Kota Tebingtinggi.

Di sana, Andi terlihat ditemani keluarganya dan bertemu dengan polisi. Kapolsek dan keluarga pelaku juga sempat berbincang-bincang di sebuah rumah makan. Selanjutnya, sekira pukul 17.30 WIB, Andi Liani yang juga ditemani keluarganya beranjak dari Tebingtinggi. Dan tiba di Mapolsek Perdagangan dan langsung menjalani pemeriksaan awal hingga pukul 21.00 WIB tadi malam. Setelah itu, penyidik Polsek Perdagangan menggiring pelaku ke ruang tahanan. Kapolsek Perdagangan AKP Asmara yang dikonfirmasi koran ini, membenarkan pihaknya sudah menahan Andi Liani.

‘’Sudah. Sudah diserahkan keluarganya tadi. Saat ini, ia sudah ditahan dan sudah menjalani pemeriksaan awal. Kita masih mendalami apa motif sebenarnya. Sebab pengakuannya sementara karena sakit hati ke mertua,” jelasnya singkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, teriakan Dewi Cahyanti (20), istri Andi, memecah keheningan malam di Gang Hobu Huta III, Nagori Bandar, Kecamatan Bandar, Simalungun. Ia panik, histeris sekaligus takut ketika menyaksikan api membakar tubuh ibunya.

Malam itu, tepatnya Senin (28/11) sekira pukul 23.30 WIB, kondisi rumahnya gelap gulita. Dewi yang seharian merasa gelisah, terjaga dari tidur. Ia pun bangkit dari ranjang dan melangkah keluar menuju kamar sang ibu Nur Intan br Rambe (45).

Namun, begitu sampai di depan kamar wanita yang melahirkannya itu, Dewi kaget. Ia melihat cahaya api dari benda yang terbakar. Dan, ketika didekati, ternyata yang terbakar itu adalah ibunya sendiri.

Saat itu kondisi Nurintan masih terlihat sadar. Ia masih bisa berjalan dan berusaha menyelamatkan diri, walau sebagian tubuhnya sudah dijalari api.

‘’Saya lihat ibu masih sadar dan berjalan. Tapi wajahnya sudah dipenuhi dengan darah. Lalu, saya teriak dan berusaha menolong ibu dengan mengeluarkannya dari kamar. Sebab bagian kamar ibu juga sudah terbakar," cerita Dewi, sambil menangis mengingat kejadian.

Tetangga yang mendengar teriakan Dewi tadi, satu per satu datang ke lokasi.
Mereka langsung berusaha memadamkan api yang membakar Nur Intan dan dinding kamar yang mulai membesar.

‘’Memang sewaktu teriak minta tolong itu, saya sempat membuka pintu rumah. Maksud saya agar siapa pun yang datang menolong, bisa masuk,” tambahnya.

Setelah api padam, Nur Intan langsung dilarikan ke pengobatan alternatif yang berada dekat rumah korban. Namun karena luka bakar yang diderita cukup parah, Nur Intan dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kota Pematangsiantar.

Tetapi, takdir berkata lain. Nur Intan tak bertahan lama. Ia pun menghembuskan nafas terakhirnya saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Selain Nur Intan, Fatiyah Rahmayani (13) yang merupakan adik Dewi, juga mengalami luka bakar di bagian kaki. Sedangkan adiknya yang satu lagi, Kiki Ramadani (17) dan anaknya yang berusia masih 3 bulan tidak mengalami luka karena langsung dikeluarkan warga dari rumah itu.

Sementara, Fatiyah yang sempat diwawancarai wartawan, enggan berkomentar. Remaja yang disebut-sebut sedang tidur bersama Nurintan saat kejadian itu diam seribu bahasa. Fatiyah terlihat masih trauma dengan peristiwa yang dialaminya.

Salah seorang tetangga korban, Ipul (60) menuturkan, malam itu ia langsung bergegas datang ke rumah korban bersama warga lainnya, setelah mendengar teriakan Dewi.

‘’Begitu masuk rumah itu, kami lihat api sudah menyala. Kami lihat korban sudah terlentang di lantai. Badan korban mengeluarkan darah. Kurasa dia dipukul dulu baru kemudian dibakar. Karena darah mengalir dari lukanya," katanya sambil berlalu.

Tetangga lainnya, Gibson Siahaan menerangkan, saat mereka sampai ke rumah korban, kondisinya gelap gulita.

‘’Lalu Pak Hasan yang menghidupkan sekring lampu listrik rumah itu. Tetapi saat listrik dihidupkan, sempat terjadi korsleting. Selanjutnya listrik dimatikan lagi dan kami mengeluarkan korban dari rumah,” kata Gibson.

Hal itu juga diakui oleh Dewi. Katanya, minyak pertalite itu juga sudah disiramkan pelaku ke kamar yang ada di rumah itu.

‘’Iya, di kamar kami memang sudah bau minyak pertalite. Kurasa mau dibakar hidup-hidup kami semua," kata Dewi.

Ia pun curiga kalau sebenarnya pelaku berniat ingin menghabisinya dan anak-anak yang ada di rumah itu.
‘’Kurasa memang mau menghabisi saya dan anak saya. Mungkin karena ketahuan sama ibu saya, makanya pelaku kalap dan berusaha melumpuhkan ibu saya. Sepertinya kepala ibu saya dipukul pakai besi," ungkapnya.

Hukum Pelaku Seberat-beratnya!
Suasana rumah duka almarhumah Nur Intan Br Rambe di Gang Hobu Huta III, Nagori Bandar, Kecamatan Bandar, Simalungun, masih dirundung kesedihan mendalam.
Saat didatangi wartawan kembali pada Rabu (30/11), sekira pukul 14.30 WIB, anak-anak korban dan keluarga lainnya tampak berkumpul di sana.

Beberapa dari mereka terlihat sedang memberi obat pada kaki Fatiyah Ramayani (13), yang sempat terbakar saat kejadian. Siswi kelas III Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Perdagangan, tepatnya di Nagori Bandar Sawah, ini hanya diberi pengobatan alternatif. Hal itu tampak dari obat yang diberikan, berupa obat-obatan herbal dan dedaunan. Faktor ekonomi keluarga yang ‘pas-pasan’ dinilai menjadi alasan Fatiyah mendapat pengobatan ala kadarnya.

Dewi Cahyanti yang menyapa koran ini menceritakan, selama ini yang mencari nafkah di rumah itu adalah almarhumah Nur Intan br Rambe, ibu mereka. Ya, korban yang meninggal dunia sehari sebelumnya selama ini membuka usaha menjahit pakaian. Penghasilan dari menjahit itu, kemudian dipergunakan untuk nafkah mereka seisi rumah. Baik itu untuk kebutuhan Dewi, adik-adik dan anak bayinya, serta suaminya.
Kalaupun Dewi bekerja sebagai honorer di SD Muhammadiyah Perdagangan, penghasilan yang diterima masih jauh dari cukup.

Sedangkan ayah mereka, Aliamsyah (45) hanya bekerja sebagai Buruh Harian Lepas (BHL) di PT SRI yang ada di Lingkungan VII, Kelurahan Perdagangan I, Kecamatan Bandar. Bahkan katanya, penghasilan Aliamsyah, masih tetap kurang untuk membiayai keluarga.

Kini, mereka hanya bisa mengenang dalam kesedihan betapa penting dan besarnya arti seorang ibu dan istri di rumah itu.

Dewi juga mengenang saat-saat sebelum kejadian. Dimana hari itu, diakuinya ada tanda-tanda yang aneh yang dilihatnya dari sang ibu sebelum meninggal dunia. Sehari sebelum kejadian, ungkap Dewi, korban bersama anaknya jalan-jalan keliling Kota Perdagangan. Padahal saat itu cuaca sedang hujan.

‘’Tapi waktu itu tak ada yang bisa menahannya. Karena ibu terus ngotot mengajak Fatiyah jalan-jalan. Kemudian, ibu dan Fatiyah, adik kami yang paling kecil, pergi,” kenang Dewi, sambil meneteskan air mata.

Selain itu, ia juga merasa gelisah sepanjang hari. Bahkan tidurnya pun terasa tak pulas.
Sementara Kiki Ramadani (17), adik Dewi lainnya menceritakan, ia juga memiliki kenangan yang gak bisa dilupakan bersama almarhumah.

‘’Ibu memang sering ngajak jalan-jalan sore. Terkadang bersamaku, kakak dan adik,” jelasnya.

Terakhir, pihak keluarga berharap agar pelaku yang terbilang sadis itu dihukum setimpal dengan perbuatannya.

‘’Hukum dia seberat-beratnya. Aku tak mau lagi mengakuinya sebagai suami dan ayah dari anakku,” ujar Dewi yang juga diamini Kiki Ramadani dan keluarga lainnya.

Sementara ayah mereka, Aliamsyah, mengaku pasrah. Ia menyerahkan semua permasalahan hukum ini kepada aparat penegak hukum.



Sebenarnya, Aku Tak
Berniat Membunuh

SAAT ditemui  tadi malam, Andi membenarkan bahwa ia menyerahkan diri atas permintaan dari pihak kepolisian.


‘’Memang begitu. Aku diminta abang untuk menyerahkan diri. Karena perbuatanku ternyata telah menghilangkan nyawa mertuaku sendiri. Aku baru tahu kalau mertuaku meninggal, Selasa (29/11) jam tiga sore. Itu pun setelah diberitahukan keluarga," katanya.

Ia mengaku, sebenarnya niat membunuh dengan cara membakar yang berkecamuk di dadanya sempat pupus. Namun malam itu, ternyata aksinya masuk ke kediaman mertua yang juga tempatnya tinggal selama ini, diketahui Nur Intan br Rambe. Karena panik saat diusir dan diancam akan diteriaki maling oleh korban, Andi nekat menganiaya mertuanya itu dan menyiramkan minyak pertalite ke tubuhnya.

‘’Aku memang ada sakit hati dengan perlakuan ibu mertuaku itu. Dia selalu menghinaku dan berusaha memisahkan aku dengan anak dan istri. Hampir setiap hari aku dihina. Tetangga pun tahu kalau aku sering dimarahi mertua. Memang ada niat membunuh, tapi malam itu, niat tersebut sempat pupus dan enggan kulakukan. Aku panik karena ketahuan masuk rumah. Ditambah lagi dia (korban, red) mengusirku dan mengancam akan meneriaki maling,” jelasnya.

Andi kemudian mengaku khilaf. Sesungguhnya, ia sangat menyayangi anak dan istrinya.

‘’Aku memang khilaf. Aku panik malam itu. Aku melakukannya seorang diri bang, tak ada kawan atau orang lain bang. Makanya setelah kejadian, malam itu juga aku langsung lari naik kreta menuju rumah orangtuaku di Serdang Bedagai. Aku lewat jalan yang ke arah Tanjung Kasau itu," ungkapnya, sembari mengaku menyesali semua perbuatannya.

Kemudian Andi pun menceritakan kronologi peristiwa sadis yang terjadi di kediaman mertuanya itu.

‘’Tadinya aku memang niat mau membakar. Tapi niat itu pupus karena aku masih sayang sama anak dan istriku. Kemudian minyak pertalite yang kubeli di daerah Perlanaan seharga Rp15 ribu sempat kusimpan di belakang rumah," ucapnya.

Nah, setelah sampai di rumah itu, ia kemudian memutus aliran listrik dari depan rumah.

‘’Setelah lampu padam, aku masuk dari belakang rumah. Niatku saat itu hanya ingin bertemu anak dan istriku. Tapi begitu sampai di depan pintu kamar tidur belakang (kamar korban, red) ternyata kedatanganku diketahui mertua,” ujarnya.

Saat itu, Nur Intan br Rambe menyuruhnya pergi dari rumah tersebut.

‘’Ngapai kau kemari. Pergi kau atau kuteriaki maling!" kata Andi mengingat perkataan korban.
Karena mendengar akan diteriaki maling, Andi pun kalap.

Ia langsung mencari alat pemukul yang berada di sekitarnya.

‘’Begitu dapat, langsung kupukul kepalanya. Setelah terjatuh, kuambil minyak yang kubawa tadi dan kusiramkan ke ibu mertua itu dan kubakar. Habis itu aku lari. Padahal sebenarnya aku sudah tak berniat membakar," ucapnya, dengan nada menyesal, sambil meninggalkan wartawan koran ini menuju ruang tahanan. (adi/hez/ma/int)


TASLABNEWS.COM, ASAHAN– Entah apa yang ada dalam pikiran FS (40) warga Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan ini. FS tega mencabuli putri tirinya HT (11) sendiri yang masih duduk di kelas 6 di salah satu sekolah dasar di Simpang Empat.


Informasi diperoleh dari Kasatreskrim Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara, Rabu (30/11) mengatakan, terbongkarnya kasus ini karena HT menceritakannya kepada tantenya dan akhirnya keluarga pun melaporkan kasus ini ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Asahan.

Berdasarkan pemeriksaan sementara terhadap korban dan saksi lainnya, pelaku FS sudah menjalankan aksi bejatnya sejak korban duduk bangku kelas 4 hingga kelas 5.

“Pelaku sudah satu tahun melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap anak tirinya. Saat ini pelakuk sudah kita tangkap,” kata Bayu.

Bayu menambahkan, dari hasil visum yang dilakukan, terbukti kemaluan korban ada luka robek akibat benda tumpul. Dan kini kondisi korban sudah mulai pulih meskipun masih trauma akibat kejadian ini.
Sementara Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Iptu Rusli Manik menambahkan pemerkosaan itu dilakukan pelaku di rumahnya dan dibeberapa tempat lainnya. Pelaku menjalankan aksinya saat keluarga lainnya sedang tidak berada di rumah.

Korban yang masih di bawah umur meronta dan sempat diancam oleh pelaku agar tidak berteriak dan melaporkan kasus ini kepada yang lainnya.

“Kini korban dititipkan di rumah saudara lainnya agar lebih aman” papar Rusli.

Tersangka sendiri dari hasil pemeriksaan tidak mengakui perbuatannya, namun penyidik memiliki alat bukti yang cukup untuk menjerat tersangka, apalagi hasil visum menyatakan ada luka robek dan keterangan beberapa saksi sudah dimintai untuk melengkapi BAP.

“Rencananya kalau berkas sudah lengkap akan segera dilimpahkan ke kejaksaan, dan tersangka sendiri sudah dititipkn di Rutan,” jelas Kanit PPPA.

Sementara itu, keluarga korban berisinial CD yang mendampingi korban saat pemeriksaan berharap pelaku dihukum seberat beratnya.

“Saya dan keluarga kecewa sama pelaku, dan berharap dihukum berat, biar dia nyesel” pintanya.
Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 81 ayat 3 UU RI Nomor  35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Atau pasal 47 UU RI Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Lingkup Rumah Tangga, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara ditambah 1/3 jadi 20 tahun penjara. (pjc/syaf/int)




TASLABNEWS.COM, MEDAN-Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk memanggil Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk untuk hadir di persidangan, Kamis tanggal 1 Desember 2016. Kedatangan Syarfi untuk memberikan penjelasan di pengadilan terkait Kasus dugaan korupsi pada pembangunan rusunawa di Kota Sibolga Tahun Anggaran (TA) 2012 senilai Rp 6,8 miliar.

Hal itu disampaikan majelis hakim yang diketuai Parlindungan Sinaga dalam menangani perkara untuk dua terdakwa yakni Adely Lis alias Juli selaku Direktur PT Putra Ali Sentosa dan ‪Januar Efendy Siregar selaku mantan Plt Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PKAD) Pemko Sibolga, Rabu (30/11).
Dalam persidangan majelis hakim memerintahkan JPU Netty Silaen untuk memanggil Walikota Sibolga sebagai saksi dan memberikan penjelasan di persidangan.

"Sidang yang dilanjutkan pada Kamis tanggal 1 Desember mendatang supaya saksi Syarfi Hutauruk dihadirkan," pungkas hakim Parlindungan Sinaga kepada JPU Netty.
Menurut hakim, Syarfi bakal menjadi saksi pamungkas pada perkara tersebut.
Selain Syarfi, JPU juga akan menghadirkan satu ahli untuk dimintai keterangannya pada sidang, Selasa (6/12) mendatang. Usai sidang, JPU Netty menyebutkan, pemanggilan Syarfi untuk sidang berikutnya merupakan pemanggilan ketiga setelah sebelumnya batal hadir karena berhalangan.

"Kami sudah layangkan pemanggilan kepada yang bersangkutan, kami harapkan bisa hadir," sebut jaksa wanita dari Kejatisu itu. Jika kembali tidak hadir pada panggilan ketiga, Netty mengaku tidak bisa berbuat banyak. "Kami hanya bisa berharap dia (Syarfi) hadir," ungkapnya.

Sementara pada persidangan JPU menghadirkan mantan Bendahara Keuangan Pemko Sibolga, Indra Sakti Ritonga sebagai saksi. Dalam keterangannya, Indra menjelaskan, untuk tanah seluas 7.171 meter persegi seharga Rp6,8 miliar tersebut dilakukan pembayaran sebanyak dua kali.

"Tahap pertama dikirimkan Rp1,425 miliar dari Rp1,5 miliar setelah dipotong pajak Rp75 juta. Tahap kedua ditransfer sejumlah Rp5.046.827.500 ke rekening Bank Sumut Cabang Sibolga setelah dipotong pajak Rp265.622.500," jelasnya. (syaf)



MENINGGALNYA Nur Intan dengan cara sadis menjadi pembahasan di masyarakat, khususnya para tetangga. Dari cerita yang beredar luas, warga curiga pelakunya adalah orang dekat korban. Bahkan beberapa warga jelas-jelas menyebut nama AL (22), menantu korban yang juga suami dari Dewi, sebagai orang yang pantas dicurigai.


Menurut salah seorang warga yang enggan namanya disebutkan, jauh hari sebelum kejadian atau tepatnya 3 minggu lalu, AL pergi meninggalkan rumah tersebut dan tidak diketahui keberadaannya. AL diketahui warga tidak memiliki pekerjaan.

‘’Tidur-tiduran saja kerjanya di rumah tanpa ada usaha untuk mencari pekerjaan guna menafkahi istri dan anaknya yang masih berusia 3 bulan,” sebutnya.

Karena kerap menganggur, pertengkaran demi pertengkaran pun sering terjadi di rumah tersebut. Dewi sebagai seorang istri terus meminta AL agar berusaha mencari pekerjaan, biar ada gaji untuk membeli susu anaknya. Kemungkinan karena seringnya pertengkaran terjadi, korban berusaha menenangkan dan menegur sang menantu, agar apa yang menjadi kewajibannya dipenuhi AL. Dan, sejak ditegur mertuanya, AL pergi dan tidak kunjung kembali ke rumah itu.

Kecurigaan terhadap AL itu juga diamini Dewi. Bahkan wanita yang bekerja sebagai guru honor di SMP Muhammadiyah Perdagangan ini mengakui adanya pertengkaran yang terjadi di rumah tangganya.

‘’Iya, memang kami sering bertengkar karena dia seperti malas dan tidak mau bekerja untuk menafkahi kami. Dia kerjanya hanya tidur-tiduran melulu, seharian di rumah. Padahal ibuku sudah baik sekali sama dia. Kok tega sekali dia samaku dan ibuku," kata Dewi, sambil menangis histeris di hadapan awak media.

‘’Sudah tiga minggu dia tidak pulang. Waktu itu, kami habis bertengkar di rumah dan dia ditegur ibuku. Setelah itu, ia tak pernah kembali ke rumah. Terakhir dia ada SMS ke aku pakai nomor adiknya. Katanya: Sampai kapan pun kau milikku, karena kau tahu aku sayang samamu," ungkap Dewi.

Sebelumnya, Dewi mengaku mendapat firasat. Ia mengaku kerap merasa gelisah.
“Memang gelisah saja seharian. Malam itu aku sempat tertidur di kamar depan bersama anakku. Tiba-tiba saja tersentak dan bangun. Kulihat api sudah berkobar dari kamar ibu. Bahkan ibu… Ibuku… terbakar…,” katanya sesenggukan. (adi/hez/ms/int)




SIMALUNGUN- Tolong... Tolong... Tolong...! Teriakan Dewi Cahyanti (20) memecah keheningan malam di Gang Hobu Huta III, Nagori Bandar, Kecamatan Bandar, Simalungun. Ia panik, histeris sekaligus takut ketika menyaksikan api membakar tubuh ibunya.




Malam itu, tepatnya Senin (28/11) sekira pukul 23.30 WIB, kondisi rumahnya gelap gulita. Dewi yang seharian merasa gelisah, terjaga dari tidur. Ia pun bangkit dari ranjang dan melangkah keluar menuju kamar sang ibu Nurintan br Rambe (45).

Namun, begitu sampai di depan kamar wanita yang melahirkannya itu, Dewi kaget. Ia melihat cahaya api dari benda yang terbakar. Dan, ketika didekati, ternyata yang terbakar itu adalah ibunya sendiri.

Saat itu kondisi Nurintan masih terlihat sadar. Ia masih bisa berjalan dan berusaha menyelamatkan diri, walau sebagian tubuhnya sudah dijalari api.

‘’Saya lihat ibu masih sadar dan berjalan. Tapi wajahnya sudah dipenuhi dengan darah. Lalu, saya teriak dan berusaha menolong ibu dengan mengeluarkaannya dari kamar. Sebab bagian kamar ibu juga sudah terbakar," cerita Dewi sambil menangis mengingat kejadian.

Tetangga yang mendengar teriakan Dewi tadi, satu per satu datang ke lokasi.
Mereka langsung berusaha memadamkan api yang membakar Nurintan dan dinding kamar yang mulai membesar.

‘’Memang sewaktu teriak minta tolong itu, saya sempat membuka pintu rumah. Maksud saya agar siapa pun yang datang menolong, bisa masuk,” tambahnya.

Setelah api padam, Nurintan langsung dilarikan ke pengobatan alternatif yang berada dekat rumah korban. Namun karena luka bakar yang diderita cukup parah, Nurintan dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kota Pematangsiantar.

Tetapi, takdir berkata lain. Nurintan tak bertahan lama. Ia pun menghembuskan nafas terakhirnya saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Selain Nurintan, Fatiyah Rahmayani (13) yang merupakan adik Dewi, juga mengalami luka bakar di bagian kaki. Sedangkan adiknya yang satu lagi, Kiki Ramadani (17) dan anaknya yang berusia masih 3 bulan tidak mengalami luka karena langsung dikeluarga warga dari rumah itu.

Sementara Fatiyah yang sempat diwawancarai wartawan, enggan berkomentar. Remaja yang disebut-sebut sedang tidur bersama Nurintan saat kejadian itu diam seribu bahasa. Fatiyah terlihat masih trauma dengan peristiwa yang dialaminya.

Salah seorang tetangga korban, Ipul (60) menuturkan, malam itu ia langsung bergegas datang ke rumah korban bersama warga lainnya, setelah mendengar teriakan Dewi.

‘’Begitu masuk rumah itu, kami lihat api sudah menyala. Kami lihat korban sudah terlentang di lantai. Badan korban mengeluarkan darah. Kurasa dia dipukul dulu kemudian dibakar. Karena darah mengalir dari lukanya," katanya sambil berlalu.
Tetangga lainnya, Gibson Siahaan menerangkan, saat mereka sampai ke rumah korban, kondisinya gelap gulita.

‘’Lalu pak Hasan yang menghidupkan sekring lampu listrik rumah itu. Tetapi saat listrik dihidupkan, sempat terjadi korsleting. Selanjutnya, listrik dimatikan lagi dan kami mengeluarkan korban dari rumah,” kata Gibson.

Saat berada di depan rumah korban, lanjutnya, ia dan warga lainnya berinisiatif menolong korban dan akhirnya membawa Nurintan ke pengobatan alternatif yang tak jauh dari sana.

‘’Tapi saat kami keluarkan dari rumah, kondisi tubuh korban masih terbakar. Api terlihat masih menyala. Sebagian warga ikut membawa korban dan sebagian lagi memadamkan api yang masih berkobar di kamar," tutur Gibson.

Dia menambahkan, di rumah korban memang tercium aroma bahan bakar pertalite.

‘’Memang terasa sekali aromanya, itu minyak pertalite. Di kedua kamar rumah itu juga terlihat tumpahan minyak yang kesannya sengaja disiram oleh pelaku pembakaran. Bahkan terakhir, warga juga menemukan sebuah jerigen berisi pertalite sebanyak tiga liter. Sepertinya memang mau dihabisi semua seisi rumah ini. Memang sadis dan keji sekali pelaku itu," jelasnya lagi.

Hal itu juga diakui oleh Dewi. Katanya, minyak pertalite itu juga sudah disiramkan pelaku ke kamar yang ada di rumah itu.

‘’Iya, di kamar kami memang sudah bau minyak pertalite. Kurasa mau dibakar hidup-hidup kami semua," kata Dewi.

Ia pun curiga kalau sebenarnya pelaku berniat ingin menghabisinya dan anak-anak yang ada di rumah itu.

‘’Kurasa memang mau menghabisi saya dan anak saya. Mungkin karena ketahuan sama ibu saya, makanya pelaku kalap dan berusaha melumpuhkan ibu saya. Sepertinya kepala ibu saya dipukul pakai besi," ungkapnya.

Amatan koran ini kemarin sekira pukul 11.00 WIB, tampak ratusan warga dan sanak famili korban bertakziah di rumah korban. Sebelumnya, jenazah korban sudah sempat disemayamkan di rumah duka. Namun karena diduga menjadi korban pembunuhan, sekira pukul 08.00 WIB, jasad wanita yang selama ini dikenal sebagai tukang jahit ini sempat dibawa ke RSUD Perdagangan untuk keperluan visum. Keluarga membawa jenazah kembali ke rumah duka sekira pukul 11.15 WIB.

Selanjutnya, sekira pukul 13.30 WIB, jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nagori Bandar.

Pelaku Diduga Lebih dari Seorang
Tetangga korban, Gibson Siahaan mengatakan, pelaku yang diduga menganiaya dan membakar Nurintan br Rambe diperkirakan lebih dari satu orang. Kecurigaan itu diungkapkan Gibson setelah pada malam sebelum kejadian, ia mendengar langkah kaki yang sempat memutar-mutar di sekitar kediamannya.
 
Diketahui, posisi rumah Gibson berada tepat di depan kediaman Nurintan.

‘’Tadi malam kudengar ada langkah kaki, kemungkinan kuat itu pelakunya. Langkah kaki itu kemudian berlari dan memutar ke arah samping rumahku. Kurasa lebih dari seorang. Kemungkinan ada temannya yang sudah menunggu di pinggir jalan lintas itu," kata Gibson kepada koran ini.

Namun saat itu, Gibson tak terlalu curiga dan tidak sempat melihat siapa orang yang berlari di sekitar rumahnya tersebut.

Diceritakan Gibson bersama beberapa warga lain yang ada di sana, diduga sebelum melakukan aksinya, pelaku terlebih dulu memutus arus listrik di rumah itu dengan cara menarik saklar pada meteran listrik. Hal itu diperkirakan agar wajah pelaku tidak dikenali oleh penghuni rumah.

Setelah itu, pelaku diduga masuk ke rumah melalui pintu belakang, dengan merusak kawat jaring yang ada di sebelah pintu. Setelah kawat dirusak, pelaku kemudian leluasa memasukkan tangannya dan menjulurkannya ke arah pintu dan membuka kuncinya.

‘’Sebab, kawan yang posisinya tak jauh dari pintu itu sudah putus,” ucapnya.
Setelah berhasil masuk, lanjut beberapa warga yang ada di sana menduga-duga, pelaku kemudian menyiramkan minyak pertalite ke kamar korban yang posisinya berada di bagian belakang rumah. Pelaku juga menyiramkan pertalite ke kamar tempat Dewi dan anaknya beristirahat.

‘’Kemungkinan saat itu korban yang sedang tertidur kemudian terbangun karena mendengar suara sesuatu dan karena suasana yang gelap,” ujar warga lainnya mereka-reka.

Nah, mengetahui korban terbangun, pelaku panik dan berusaha melumpuhkan korban dengan cara memukul bagian kepalanya. Namun usaha pelaku tidak berhasil dan korban tak juga bisa dilumpuhkan. Hingga pelaku kemudian menyiramkan minyak ke tubuh korban dan membakarnya.

Polisi Cari Bukti Lain
Pasca kejadian, polisi datang dan melakukan oleh TKP. Dari sekitar lokasi, ditemukan juga jerigen kecil yang sudah terbakar, serta sebuah jerigen lainnya yang masih berisi minyak pertalite. Semua barang bukti itu kini sudah diamankan di kantor polisi, termasuk pakaian korban yang sudah terbakar.

Kanit Reskrim IPDA TL Simamora dan Kanit Jatanras Polres Simalungun IPTU Zikri Muamar SIK yang ditemui di lokasi kejadian, tak banyak berkomentar. Namun begitu, para perwira ini membenarkan adanya kejadian.

‘’Kita tunggu saja, saat ini kami bersama Unit Jatanras Sat Reskrim Polres Simalungun sedang melakukan penyelidikan. Yang jelas, kita sudah melakukan oleh Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan sedang mencari barang bukti lainnya,” sebut Simamora singkat.
Kapolsek Perdagangan AKP Asmara mengatakan, pihaknya masih terus melakukan penyelidikan terkait kejadian.

‘’Mengenai motifnya, masih terus kita lidik. Sebenarnya, pelaku sudah teridentifikasi,” kata Asmara.

Ia juga mengharapkan kepada keluarga korban dan masyarakat yang mengetahui siapa pelaku dan keberadaannya, segera melaporkannya ke kantor polisi terdekat.

‘’Ya, kami minta siapa pun yang mengetahui, laporkan ke kami,” ucapnya.

Sebelumnya, Pangulu Nagori Bandar Winner Mangisi Simatupang mengatakan, ia juga sempat melihat kondisi korban yang sudah berada di pengobatan alternatif, pada malam itu.

“Jarak rumah dengan pengobatan alternatif itu sekitar 100 meter. Sewaktu saya lihat, kadar luka bakar di tubuh korban lebih dari 60 persen. Selain itu, ada juga luka bekas pukulan seperti palu atau gancu di bagian kepalanya,” sebut Winner.

Dijelaskan Pangulu, ia mengetahui adanya peristiwa itu setelah mendapat kabar dari warga, setengah jam usai kejadian.


“Sekira pukul 24.00 WIB-lah saya baru tahu. Salah seorang warga yang memberitahukan ke saya,” ucapnya. (adi/hez/ms/int)



TANJUNGBALAI- Proses penyelidikan dugaan korupsi pembangunan water treatmen plant(WTP) III dan pemasangan pipa distribusi utama sepanjang 600 meter pada PDAM Tirta Kualo, Tanjungbalai Tahun Anggaran 2015 ada kendala. Kendala yang dihadapi tim penyidik Subdit III/Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut akibat belum keluarnya hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP) perwakilan Sumut.



Meski penyidik Subdit III/Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut mengendus adanya dugaan korupsi, namun penyidik Subdit III/Tipikor Dit Reskrimsus Polda Sumut tak dapat menetapkan calon tersangka.

Sebab, BPK yang diminta melakukan audit kerugian negara hasilnya tak kunjung keluar. Menurut Kasubdit III/Tipikor Dit Reskrimsus Polda Sumut AKBP Yemmi Mandagi, pihaknya tak dapat melakukan proses penyelidikan lebih jauh lantaran belum keluarnya hasil audit negara oleh BPKP Sumut.

"Harus ada dulu kerugian negara, baru bisa melakukan penyidikan," kata Yemmi, Selasa (29/11).

Kata Yemmi, permintaan BPKP sejak Oktober 2016 lalu, telah dilakukan oleh penyidik. Misalnya, yang berkaitan dengan dokumen untuk proses audit sesuai dengan permintaan auditor sudah diserahkan.

"Tapi sampai saat ini hasilnya belum turun. Maklum, mungkin banyak yang mereka audit," kata mantan Kasubdit Cyber Crime Dit Reskrimsus ini.

Yemmi menambahkan, pihaknya juga sudah menyerahkan nama-nama yang sudah diperiksa dalam kasus tersebut.

"Kita berharap supaya kerugian negara bisa segera keluar sehingga penyidikan segera dilanjutkan," pinta Yemmi sembari berharap kepada wartawan untuk menanyakan langsung kepada BPKP terkait alasan lamanya hasil audit kerugian negara.

Diketahui, kasus dugaan korupsi Pembangunan WTP III dan Pemasangan Pipa Distribusi Utama Sepanjang 600 meter dilaporkan warga ke Poldasu tahun 2015. Oleh Polda Sumut, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.


Termasuk Dirut PDAM Tirtakualo, Tanjungbalai Zaharudin Sinaga sudah diperiksa. Namun hingga kini, penyidik belum ada menetapkan seorang pun sebagai tersangka. (int)


TANJUNGBALAI- Diduga melakukan tindakan korupsi dengan manipulasi data, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadis Perindag) Kota Tanjungbalai dilaporkan ke Mapolres Tanjungbalai, Selasa (29/11).

Laporan tersebut disampaikan oleh aktivis Roemah Ra'jat yang diterima oleh Kanit Tipikor Ipda T Simanjuntak didampingi Kasat Intelkam T Manurung.

Kepada awak koran ini, aktivis Roemah Ra'jat Raja Erwinsyah mengatakan, mereka melapor Kadis Perindag karena diduga melakukan penyalahgunaan wewenang dengan  manipulasi data terkait kegiatan peningkatan kapasitas aparatur yang dikerjakan dalam bentuk pelaksanaan  outbond.

"Hasil investigasi kami, kegiatan tersebut berjalan satu hari dan hanya sebagian pegawai yang hadir. Namun dalam pertanggung jawabannya diseting sedemikian rupa sehingga disebutkan seluruh pegawai hadir dalam kegiatan tersebut," ujarnya.

Mirisnya lagi, dalam kegiatan tersebut ada eksodus pegawai dari dinas lain dan beberapa orang yang bukan pegawai dinas perindag yang menjadi peserta.

"Dari sebagian yang ikut dalam kegiatan tersebut ada peserta yang bukan pegawai dinas perindag," ucapnya.
Dalam SPJ nya Kadis Perindag Tanjungbalai Rumondang SPd pun mempertanggung jawabkan pencairan dana 100 persen, dengan nominal ratusan juta rupiah.

"Pertanggung jawabanya tidak sesuai dengan yang peruntukan sehingga terjadi Mark up dan hal ini merupakan tindak pidana korupsi," terang Erwin.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga mengatakan, laporan aktivis Roemah Ra'jat tersebut telah diterima dan akan dipelajari guna penyelidikan lebih lanjut.

"Laporan tersebut sudah kita terima dan akan kita pelajari terlebih dahulu," katanya.

Sementara itu Kadis Perindag Tanjungbalai Rumondang ketika coba ditemui wartawan koran ini di kantornya tidak berhasil. Menurut pegawainya Rumondang tidak berada ditempat karena ada urusan dinas. Terkait persoalan tersebut mereka tidak dapat memberi keterangan.

"Kadis berada di luar ada urusan kerja, masalah itu langsung saja nanti sama beliau kami tidak berwenang memberikan penjelasan," kata para pegawai Disperindag yang memohon namanya tidak dikorankan. (Mag02/syaf/ma/int)


TANJUNGBALAI- Nama baik jajaran kepolisian Polres Tanjungbalai kembali tercoreng akibat ulah seorang oknum polisi berpangkat Brigadir. Dimana Brigadir SA yang bertugas di Polsek Sei Tualang Raso diringkus personel Dit Narkoba Poldasu karena diduga menjadi bandar sabu.


Informasi dihimpun, penangkapan Brigadir SA tersebut bermula saat seorang kurir berisial IM diamankan petugas Dit Narkoba Polda Sumut dengan barang bukti sabu seberat 400 gram.

Selanjutnya tim Dit Narkoba membawa Im dan mengintrogasinya. Dari pengakuan IM diketahui bahwa sabu yang dimilikinya berasal dari Brigadir SA. Saat ini IM dan SA sudah dibawa ke Poldasu untuk pengembangan lebih lanjut.

Sementara Informasi lain yang diterima,sebelum digelandang ke Mapoldasu Brigadir SA terlebih dahulu diamankan ke Mapolres Tanjungbalai dalam pemeriksaan tes urine.
Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu SIK melalui Kasubbag Humas AKP Y Sinulingga ketika dihubungi awak media ini membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, saat ini Brigadir SA telah diamankan di Dit Narkoba poldasu.

"Benar ada satu orang anggota kita  diamankan ke poldasu dan saat ini masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut," ujar Sinulingga singkat.

Sementara beberapa waktu lalu dua personel Polres Tanjungbalai juga diduga menjadi badar narkoba yakni Aipda Arianto Sinaga yang bertugas di unit Reskrim Polres dan Bripka S Sitanggang yang bertugas di unit provost.

Dimana Bripka S Sitanggang bersama dengan rekannya Aipda Arianto Sinaga (38) diduga terlibat menjadi pengedar dan bandar narkoba sebagai hasil pengembangan dari penangkapan terhadap dua warga sipil yakni Syah Amri alias Si Am (43) dan Jeremia Surbakti alias Jerry (31) dari Cafe 99, Kota Tanjungbalai, Jumat (23/9) lalu.

 Menurut Kapolres AKBP Ayep Wahyu Gunawan,SIK MHum keterlibatan Bripka S Sitanggang yang diduga sebagai bandar narkoba itu berawal dari tertangkapnya dua orang pria bernama Syah Amri alias Si Am (43) warga Jalan Putri Bungsu, Lingkungan IV, Kelurahan Tanjungbalai Kota IV, Kelurahan Tanjungbalai Utara dan Jeremia Surbakti alias Jery (31) warga Jalan Sehat, Lingkungan II, Kelurahan Bunga Tanjung, Kecamatan Datuk Bandar Timur.

Dimana keduanya ditangkap saat akan bertransaksi narkoba jenis sabu-sabu dengan Wira (buron) di Cafe 99, Kota Tanjungbalai, Jumat (23/9) sekira pukul 16.00 WIB. Dari kedua pelaku ini, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,45 gram dan 20,33 gram.

Saat dilakukan pemeriksaan, kedua pelaku mengaku mendapatkan barang terlarang tersebut dari oknum anggota polisi yakni Aipda Arianto Sinaga yang tinggal di asrama polisi di Jalan Sudirman, tepatnya di belakang Kantor Polsek Tanjungbalai Selatan. Pada hari itu juga, Aipda Arianto Sinaga yang bertugas di unit Reskrim Polres Tanjungbalai itu langsung diamankan.

Selanjutnya, petugas melakukan penggeledahan terhadap kediaman dari Aipda Arianto Sinaga, dan berhasil ditemukan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,40 gram serta sebuah bong kaca atau alat untuk menghisap sabu-sabu. Atas adanya bukti-bukti tersebut, Aipda Arianto Sinaga akhirnya mengakui, bahwa barang haram itu diperolehnya dari Bripka S Sitanggang. 
Dan keesokan harinya, Sabtu (24/9), Bripka S Sitanggang yang bertugas di unit provost Polres Tanjungbalai itu langsung diamankan guna menjalani pemeriksaan.

Sementara Koordinator Daerah (Korda) Indonesian Corruption Watch (ICW) Kota Tanjungbalai Jaringan Sihotang kepada koran ini meminta kepada Kapolres Tanjungbalai agar tidak melindungi anggotanya yang terlibat peredaran narkoba.

"Kita sangat menyesalkan adanya keterlibatan personil kepolisian dari jajaran Polres Tanjungbalai dalam peredaran narkoba di kota ini. Oleh karena itu, kita berharap kepada Kapolres Tanjungbalai agar tidak menutup-nutupi keterlibatan dari jajarannya tersebut," ujar Jaringan Sihotang.

Menurut Jaringan Sihotang, keterlibatan dari para oknum penegak hukum dalam peredaran narkoba tersebut itu, selain melanggar hukum juga melanggar sumpah anggota kepolisian. Oleh karena itu, Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan diminta agar tidak berupaya melakukan pembelaan.

”Masyarakat biasa saja apabila terlibat narkoba ditindak, bahkan sudah banyak yang dijatuhi hukuman mati. Apalagi, jika pelakunya adanya anggota polisi yang seharusnya menegakkan hukum, hukumannya seharusnya jauh lebih berat,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Taufik Hidayat, salah seorang aktivis Kota Tanjungbalai. Katanya, bagi aparat penegak hukum yang terlibat penyalahgunaan narkoba, sepantasnya mendapatkan sanksi yang lebih berat jika dibandingkan dengan masyarakat biasa.

"Jangankan untuk mendapat pembelaan, hukuman bagi aparat penegak hukum yang terlibat penyalahgunaan narkoba sepantasnya hukuman yang jauh lebih berat dari masyarakat biasa. Oleh karena itu, Kapolres Tanjungbalai kita harapkan tidak berusaha melindungi jajarannya yang terlibat peredaran narkoba, apalagi personilnya itu bertindak sebagai bandar," ujar Taufik Hidayat.

Hal itu diungkapkan kedua aktivis Kota Tanjungbalai terkait dengan ulah dari dua personil Polres Tanjungbalai baru-baru ini yang telah mencoreng wajah korps Kepolisian Republik Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini, Polres Tanjungbalai terkesan masih ragu-ragu untuk menetapkan status salah satu dari kedua personilnya yang diduga menjadi pengedar narkoba itu. (Mag02/syaf)




BATUBARA - Suasana haru dan duka yang cukup mendalam dirasakan oleh para keluarga korban yang tewas tersambar petir, Senin (28/11) sore kemarin. Rasa keharuan serta duka itu tampak tergambar dari raut wajah keluarga dan warga saat kedua kerenda yang membawa jenazah kedua korban.

Informasi dihimpun wartawan, kedua mayat korban yang meninggal dunia akibat tersambar petir yakni Asia (52) dan Juminem (58), Selasa (29/11) siang sekira pukul 11.30 WIB tampak diberangkatkan untuk dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat. Tangis haru keluarga mengiringi para korban saat kerenda yang diangkat para pelayat diberangkatkan secara bersama-sama.

Pantauan wartawan, warga juga tampak ramai berkumpul di areal kuburan saat proses pemakaman kedua korban yang berada di TPU yang sama. Keluarga korban tampak sibuk melakukan prosesi pemakaman.

"Pemakaman kedua korban dilakukan secara bersamaan tadi, dan kejadian ini merupakan musibah yang tidak disangka-sangka," kata warga bernama Yono (50) warga setempat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Lima orang petani disambar petir saat mereka berteduh di sebuah pondok (gubuk, red) areal persawahan di Dusun V, Desa Tanah Rendah, Kecamatan Air Putih, Batubara, Senin (28/11) sore. Dalam peristiwa itu, dua petani tewas di tempat, 2 orang kritis, dan 1 orang selamat.

Kejadian itu sekitar pukul 15.30 WIB. Cuaca di lokasi mendung. Beberapa menit kemudian hujan lebat. Kelima petani yang saat itu sedang menanam padi kemudian bergegas ke pondok yang ada di sekitar lokasi untuk berteduh.

Selain hujan lebat, petir menggelegar. Saat petir pertama, tidak ada masalah. Tapi petir kedua dan ketiga, suara keras. Kelima petani yang saat itu berada di gubuk makin was-was.

Dan kekhawatiran itu pun muncul. Saat petir yang keempat menggelegar, kilatan mengenai gubuk. Seluruh petani yang berteduh di gubuk itu terkena sambaran petir. Dua diantaranya Asia (52) dan Juminem (58) meninggal di tempat. Kedua korban masih bertetangga di Dusun VII, Desa Tanah Tinggi, Kecamatan Air Putih, Batubara.

Sementara rekannya Rohima (50) dan Ase (30), kritis. Masing-masing korban ini merupakan warga Dusun IV, Desa Tanah Rendah, Kecamatan Air Putih, Batubara. Kemudian Paidi (68), si pemilik gubuk juga mengalami lemas.

Warga yang mengetahui kejadian itu langsung mengevakuasi para korban. Korban yang selamat langsung dilarikan ke Rumah Sakit Lasmi, Desa Tanah Tinggi, untuk mendapatkan perawatan medis. Kemudian jenazah korban disemayamkan di rumah di Dusun VII, Desa Tanah Tinggi.

Pantauan wartawan di rumah duka, Senin (28/11) sore, warga tampak berbondong-bondong melayat ke rumah duka. Ketepatan jarak antara rumah almarhum Asia dan Juminem cukup berdekatan. Suasana haru dna menyedihkan tampak menyelimuti keluarga, apalagi kehidupan kedua korban tergolong miskin.

Tidak Ada Firasat
Para keluarga korban sama sekali tidak menyangka akan kejadian yang menimpa kedua korban. Mereka juga mengaku tidak ada firasat atas kejadian itu.

‘’Saya tidak ada firasat apa-apa dengan kejadian ini. Saya tahu kejadian ini tadi dari warga yang memberitahu saya," ujar Nuri (64), suami Juminem korban meninggal dunia saat di rumah duka.

Dia mengatakan, selama ini istrinya memang bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

‘’Setiap hari istri saya bekerja menanam padi di sawah,” ujar Nuri sedih.

‘’Tadi pagi dia berangkat bekerja sekitar pukul 06.30 WIB," kata pria yang mengaku telah dikaruniai enam orang anak ini.

Ia menyebutkan, saat kejadian almarhum istrinya bekerja di sawah bersama tiga orang warga lainnya. Dan, mereka sama sekali tidak ada yang membawa handphone.

Menurutnya, atas kejadian itu, istrinya mengalami luka gores pada kening sebelah kanan. Sementara bagian tubuh korban sama sekali tidak ada yang gosong.

Rencananya, hari ini jenazah istrinya akan dikebumikan

Sementara, Sudarman (56), suami dari korban meninggal dunia Asia, juga mengaku tidak menyangka dan tidak ada firasat atas peristiwa itu.

‘’Gak ada firasat saya dengan kejadian ini,” ujarnya.

Pagi sebelum kejadian, ia mengantarkan istrinya bekerja dengan mengendarai sepedamotor sekitar pukul 06.30 WIB. Selama ini, istrinya memang bekerja menanam padi.

“Dan, rencananya memang hari ini dia terakhir menanam padi. Tapi jadi seperti ini," katanya dengan bercucuran air mata.

Ia mengungkapkan, akibat kejadian itu istrinya mengalami luka dan darah keluar dari telinga.

"Telinganya mengeluarkan darah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dia bekerja bersama tiga warga lainnya yang menjadi korban. Sementara satu orang laki-laki yang juga ikut menjadi korban merupakan pemilik pondok (gubuk, red) itu.

‘’Dialah yang langsung datang ke rumah tadi memberitahukan kejadian ini,” kata Sudarman.

‘’Rencananya, hari ini Selasa (29/11), jenazah istri saua akan dikebumikan di TPU di desa ini,” kata Sudarman, mengakhiri sambil mengatakan korban meninggalkan seorang anak perempuan bernama Yati (20).

Takziah Dijadikan Satu Tempat
Kepala Desa Tanah Tinggi Wahyudi menjelaskan, kejadian yang menimpa warganya itu terjadi karena tersambar petir saat hujan turun.

‘’Korban meninggal dua orang. Mereka warga saya,” ujarnya.

Sementara tiga korban selamat merupakan warga Desa Tanah Rendah. Selama ini, mereka memang bekerja sebagai buruh tani.

‘’Malam ini akan dilaksanakan Ta'ziah malam pertama dan akan dijadikan satu tempat pelaksanaan Takziahnya karena rumah para korban berdekatan.

Dan, besok Jenazah para korban akan dikebumikan," ujar Wahyudi, saat ditemui di rumah duka.

Kapolres Batubara Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Kanit Reskrim Polsek Indrapura IPTU JH Sinaga membenarkan kejadian tersebut.
.

‘’Dua korban meninggal dunia akibat kejadian itu," ujarnya. (wan/dro/ma/int)



BELAWAN-Perbuatan, Hidayat Shah (42) sungguh bejat. Akibat sakau diduga usai mengkonsumsi narkoba, lajang tua warga Komplek TKBM Blok G Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan, ini tega memperkosa, Hanifah ibu kandungnya yang telah berusia 74 tahun. Alhasil, iapun diusir warga dari kampung tersebut, Selasa (29/11).


Informasi diperoleh, aksi bejat pelaku terjadi sekira pukul 03.00 WIB. Ketika itu, di tengah warga sedang terlelap tidur di rumah masing-masing, dikejutkan dengan suara jeritan, Hanifah. Rupanya korban berteriak karena tubuh rentak wanita ini digerayangi oleh putra kadungnya.

Mendengar jeritan korban, warga pun berbondong-bondong mendatangi rumah tersebut. Di dalam kamar, mereka mendapati busana nenek berusia lebih dari setengah abad ini terbuka. Sedangkan, Hidayat bersembunyi di kamar sebelah.

"Dari pengakuan nek, Hanifah dia mau diperkosa anaknya. Karena terkejut lalu berteriak," ujar, Samsul Lubis (45) warga setempat.

Kejadian anak perkosa ibu kandung, sontak membuat geram warga. Apalagi, kabarnya pelaku melakukan perbuatan tersebut diduga dalam kondisi pengaruh narkoba. Dan, sebelumnya sudah pernah berbuat demikian kepada perempuan yang telah melahirkannya.

"Dia itu (Hidayat), sering pakai sabu. Kabarnya saat sakau ibu kandungnya jadi pelampiasan nafsu birahi pelaku," tuturnya.

Warga yang marah, sempat menghajar pelaku. Tapi, anehnya sang ibu malah melindungi putra ketiganya tersebut. Bahkan, ketika warga hendak membawa, Hidayat ke kantor polisi, Hanifah malah melarangnya.

"Aneh, saat pelaku mau dibawa ke polisi, ibunya melarang. Mereka memilih untuk meninggalkan kampung ini," ungkap, Samsul.

Saut Hasibuan (39), warga sekitar lainnya menyebutkan, kalau nek Hanifah memiliki lima orang anak. Hanya saja, di rumah itu ia hanya tinggal berdua dengan, Hidayat putra ketiganya masih berstatus lajang tua.

"Di rumah itu mereka cuma tinggal berdua. Sedangkan empat lagi anaknya tidak serumah dengan nek Hanifah," sebutnya.

Menurutnya, kasus anak perkosa ibu kandung baru kali ini terjadi di Komplek TKBM Sei Mati, Medan Labuhan. Hal ini lanjut dia, dipicu peredaran narkoba yang semakin menjadi-jadi.

"Inilah kalau sudah terpengaruh narkoba. Contohnya si Hidayat yang tega berbuat tak senonoh pada ibu kandung sendiri," ujar Saut.

Lurah Sei Mati, H Thamrin Lubis saat ditanyai membenarkan adanya kejadian dimaksud. Disebutkannya, ibu dan anak tidak sempat dibawa ke Polsek Medan Labuhan karena diusir oleh warga.

"Pelaku dan ibunya diusir warga. Sebab, warga sudah geram melihat perbuatannya," kata, Thamrin.(rul)




Paidi (68), pemilik gubuk yang tersambar petir itu ikut jadi korban. Tapi warga Dusun IV, Desa Tanah Rendah, Kecamatan Air Putih, Batubara, ini berhasil selamat.
‘’Saya kaget dan sama sekali tidak menyangka peristiwa itu,” ujar Paidi, kepada METRO ASAHAN, saat ditemui di rumahnya.



Dia mengisahkan, sebelum kejadian, para korban sedang menanam padi milik warga bernama Ucok (40), warga Dusun I, Desa Tanah Rendah. Kemudian datang hujan.

Saat suara petir yang pertama, ia langsung masuk ke gubuk. Kemudian saat petir yang kedua, keempat korban bergegas dan berteduh di gubuknya.

‘’Ketepatan gubuk saya berada di tengah sawah dan dekat dengan lokasi mereka bekerja,” sebut Paidi.
Kemudian waktu petir yang ketiga kalinya menyambar, mereka semua sudah berkumpul di gubuk.

‘’Waktu itu, kami semua pada diam karena hujan,” kata Paidi.

Tapi berselang lima menit, petir keempat kembali menggelegar dan menyambar gubuk tempat mereka berteduh.

‘’Setelah petir yang keempat, saya sudah tak sadarkan diri,” ungkapnya.  

‘’Waktu itu posisi saya menyender di dinding gubuk,” ungkapnya lagi.

Beberapa menit kemudian, Paidi tersadar. Tapi dengan keadaan kepala masih pusing. Saat itu, ia berusaha berdiri. Tapi terjatuh. Berulangkali juga dia berusaha bangkit tapi jatuh lagi.

Saat itu, dia melihat korban Asia telinganya mengeluarkan darah. Kemudian dia mencoba membanguni Asia, tapi tak kunjung bangun. Kemudian ia mengelap darah korban.

‘’Waktu itu, baju Asia sudah robek-robek karena tersambar petir," sebutnya.

Setelah melihat yang lain juga tidak sadarkan diri, Paidi kemudian berjalan kaki mencari pertolongan dan memberitahukan kejadian itu ke keluarga korban. Jarak dari sawah ke rumah para korban sekitar satu kilometer.

Menurut warga, saat itu gubuknya yang berukuran sekitar 1,5 x 2 meter, atap rumbia, dinding dari plastik dan kayu kelapa, itu tampak mengeluarkan asap. Tapi tidak sampai terbakar.

Dia sendiri oleh warga sempat juga dibawa berobat ke Rumah Sakit Lasmi, sebelum akhirnya dibawa pulang ke rumah.


Dalam peristiwa itu, dua petani tewas, 2 kritis dan 1 selamat. Adapun korban meninggal yakni Asia (52) dan Juminem (58). Kedua korban masih bertetangga di Dusun VII, Desa Tanah Tinggi, Kecamatan Air Putih, Batubara.

Sementara rekannya Rohima (50) dan Ase (30), kritis. Masing-masing korban ini merupakan warga Dusun IV, Desa Tanah Rendah, Kecamatan Air Putih, Batubara. Kemudian Paidi (68), si pemilik gubuk juga mengalami lemas. (wan/dro/ma/int)



BATUBARA- Lima orang petani disambar petir saat mereka berteduh di sebuah pondok (gubuk, red) areal persawahan di Dusun V, Desa Tanah Rendah, Kecamatan Air Putih, Batubara, Senin (28/11) sore. Dalam peristiwa itu, dua petani tewas di tempat, 2 orang kritis, dan 1 orang selamat.






Kejadian itu sekitar pukul 15.30 WIB. Cuaca di lokasi mendung. Beberapa menit kemudian hujan lebat. Kelima petani yang saat itu sedang menanam padi kemudian bergegas ke pondok yang ada di sekitar lokasi untuk berteduh.

Selain hujan lebat, petir menggelegar. Saat petir pertama, tidak ada masalah. Tapi petir kedua dan ketiga, suara keras. Kelima petani yang saat itu berada di gubuk makin was-was.

Dan kekhawatiran itu pun muncul. Saat petir yang keempat menggelegar, kilatan mengenai gubuk. Seluruh petani yang berteduh di gubuk itu terkena sambaran petir. Dua diantaranya Asia (52) dan Juminem (58) meninggal di tempat. Kedua korban masih bertetangga di Dusun VII, Desa Tanah Tinggi, Kecamatan Air Putih, Batubara.

Sementara rekannya Rohima (50) dan Ase (30), kritis. Masing-masing korban ini merupakan warga Dusun IV, Desa Tanah Rendah, Kecamatan Air Putih, Batubara. Kemudian Paidi (68), si pemilik gubuk juga mengalami lemas.

Warga yang mengetahui kejadian itu langsung mengevakuasi para korban. Korban yang selamat langsung dilarikan ke Rumah Sakit Lasmi, Desa Tanah Tinggi, untuk mendapatkan perawatan medis. Kemudian jenazah korban disemayamkan di rumah di Dusun VII, Desa Tanah Tinggi.

Pantauan METRO ASAHAN di rumah duka, Senin (28/11) sore, warga tampak berbondong-bondong melayat ke rumah duka. Ketepatan jarak antara rumah almarhum Asia dan Juminem cukup berdekatan. Suasana haru dna menyedihkan tampak menyelimuti keluarga, apalagi kehidupan kedua korban tergolong miskin.

Tidak Ada Firasat
Para keluarga korban sama sekali tidak menyangka akan kejadian yang menimpa kedua korban. Mereka juga mengaku tidak ada firasat atas kejadian itu.
 
‘’Saya tidak ada firasat apa-apa dengan kejadian ini. Saya tahu kejadian ini tadi dari warga yang memberitahu saya," ujar Nuri (64), suami Juminem korban meninggal dunia saat di rumah duka.

Dia mengatakan, selama ini istrinya memang bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

‘’Setiap hari istri saya bekerja menanam padi di sawah,” ujar Nuri sedih.

‘’Tadi pagi dia berangkat bekerja sekitar pukul 06.30 WIB," kata pria yang mengaku telah dikaruniai enam orang anak ini.

Ia menyebutkan, saat kejadian almarhum istrinya bekerja di sawah bersama tiga orang warga lainnya. Dan, mereka sama sekali tidak ada yang membawa handphone.

Menurutnya, atas kejadian itu, istrinya mengalami luka gores pada kening sebelah kanan. Sementara bagian tubuh korban sama sekali tidak ada yang gosong.

Rencananya, hari ini jenazah istrinya akan dikebumikan

Sementara, Sudarman (56), suami dari korban meninggal dunia Asia, juga mengaku tidak menyangka dan tidak ada firasat atas peristiwa itu.

‘’Gak ada firasat saya dengan kejadian ini,” ujarnya.

Pagi sebelum kejadian, ia mengantarkan istrinya bekerja dengan mengendarai sepedamotor sekitar pukul 06.30 WIB. Selama ini, istrinya memang bekerja menanam padi.

“Dan, rencananya memang hari ini dia terakhir menanam padi. Tapi jadi seperti ini," katanya dengan bercucuran air mata.

Ia mengungkapkan, akibat kejadian itu istrinya mengalami luka dan darah keluar dari telinga.

"Telinganya mengeluarkan darah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dia bekerja bersama tiga warga lainnya yang menjadi korban. Sementara satu orang laki-laki yang juga ikut menjadi korban merupakan pemilik pondok (gubuk, red) itu.

‘’Dialah yang langsung datang ke rumah tadi memberitahukan kejadian ini,” kata Sudarman.

‘’Rencananya, hari ini Selasa (29/11), jenazah istri saua akan dikebumikan di TPU di desa ini,” kata Sudarman, mengakhiri sambil mengatakan korban meninggalkan seorang anak perempuan bernama Yati (20).

Takziah Dijadikan Satu Tempat
Kepala Desa Tanah Tinggi Wahyudi menjelaskan, kejadian yang menimpa warganya itu terjadi karena tersambar petir saat hujan turun.

‘’Korban meninggal dua orang. Mereka warga saya,” ujarnya.

Sementara tiga korban selamat merupakan warga Desa Tanah Rendah. Selama ini, mereka memang bekerja sebagai buruh tani.

‘’Malam ini akan dilaksanakan Ta'ziah malam pertama dan akan dijadikan satu tempat pelaksanaan Takziahnya karena rumah para korban berdekatan.

Dan, besok Jenazah para korban akan dikebumikan," ujar Wahyudi, saat ditemui di rumah duka.

Kapolres Batubara Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Kanit Reskrim Polsek Indrapura IPTU JH Sinaga membenarkan kejadian tersebut.
.

‘’Dua korban meninggal dunia akibat kejadian itu," ujarnya. (wan/dro/ma/int)


TANJUNGBALAI- Berdalih karena tidak mempunyai pekerjaan tetap membuat Zulfaisal Alias Injek alias Wak Lelek alias Debot (39) dan rekannya Zakaria Sitorus alias Jek (22) nekad mengedar sabu. Kini keduanya mendekam di sel tahanan polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Informasi diperoleh, Senin (28/11), penangkapan kedua tersangka bermula saat polisi mendapat informasi akan ada transaksi sabu di Jalan Cucok Rowo, Kelurahan Beting Kuala Kapias, Kecamatan Teluk Nibung, Tanjungbalai.  Mendapat informasi tersebut petugas Sat Narkoba Polres Tanjungbalai lalu melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap tersangka Debot yang merupakan warga Jalan Sei Buluh, Lingkungan VI, Kelurahan Sei Raja, Kecamatan Sei Tualang Raso, KotaTanjungbalai.

Selanjutnya setelah menangkap Debot, polisi melakukan penyelidikan lebih lanjut  dan berhasil meringkus rekan pelaku yakni Zakaria Sitorus alias Jek yang merupakan warga Jalan Baru.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK melalui Kasat Narkoba AKP MHD Yunus Taringan SH mengatakan, penangkapan terhadap kedua tersangka berdasarkan laporan masyarakat.

"Petugas awalnya  mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan ada transaksi sabu. Menindak lanjuti laporan  tersebut, petugas melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap pelaku Debot dengan barang bukti sabu seberat  2,18 gram," ujar Tarigan.

Setelah pelaku tertangkap, selanjutnya petugas melakukan penyelidikan lebih lanjut dan berhasil menangkap rekan pelaku  Jek.

"Berdasarkan penyelidikan dari tersangka Debot, sabu tersebut diperoleh dari rekannya Jek dan kita pun mengamankan Jek," terang Tarigan.

Dikatakannya, saat ini kedua pelaku masih dalam penyelidikan lebih lanjut guna mengungkap jaringan para pelaku.

"Atas perbuatan kedua pelaku dijerat dengan pasal 114 Subs Pasal 112 Undang-Undang  RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika," kata Tarigan.

Sementara kedua tersangka yang dimintai keterangannya awak media ini  mengaku nekad menjual sabu karena tidak mempunyai pekerjaan tetap.

"Gak ada kerjaan kami bang makanya jual sabu," kata keduanya. (Mag02/syaf/ma/int)


TANJUNGBALAI – Hingga Senin (28/11) janji Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai untuk menutup usaha galian C di Tanjungbalai tidak terbukti dan dinilai hanya sebagai gertak sambal belaka. Sementara para pengusaha galian C di Kota Tanjungbalai sepertinya tidak takut dengan ancaman tersebut. Terbukti, aktivitas galian C masih tetap berjalan.

Diduga, ada unsur kesengajaan atau pembiaran yang menyebabkan maraknya usaha penambangan pasir ilegal di Kota Tanjungbalai. Bahkan aparat Satpol PP dan penegak hukum yang ada di Kota Tanjungbalai tidak berniat untuk melarang beroperasinya usaha pengerukan pasir di kawasan itu. Padahal Dinas Lingkungan Hidup Pemko Tanjungbalai sudah memastikan tidak ada satu pun usaha galian C yang memiliki izin.

"Ancaman Pemko Tanjungbalai untuk menutup aktivitas galian C hanya gertak sambal. Sudah jelas, tidak satupun usaha penambangan pasir di Kota Tanjungbalai ini yang mengantongi izin, seharusnya pihak pemerintah maupun aparat penegak hukum dengan sendirinya sudah melakukan tindakan tegas. Sangat sulit diterima akal sehat, melihat aktivitas galian C masih terus berlanjut, sementara pemerintah dan aparat penegak hukum diam saja," ujar Koordinator Daerah Indonesian Corruption Watch (ICW) Kota Tanjungbalai Jaringan Sihotang kepada koran ini, Senin (28/11).

Jaringan Sihotang menyatakan, yang lebih ironis lagi dari situasi itu adalah penambangan pasir ilegal yang terjadi di kawasan Reklamasi Pantai Sungai Asahan, persis di depan gedung bersejarah yakni Bangunan Balai Di Ujung Tanjung. Semestinya, kata Jaringan, aparat hukum, termasuk Satpol PP, langsung bertindak meskipun tidak ada laporan pengaduan resmi karena lokasi tersebut. Alasanya, daerah tersebut adalah lahan milik pemerintah hasil reklamasi dari aliran Sungai Asahan.

"Sungguh ironis, lokasi pertambangan pasir ilegal itu dilakukan di lahan Reklamasi Pantai Sungai Asahan, akan tetepai aparat penegak hukum dan Satpol PP tidak berkutik," tegas Jaringan Sihotang.
Hal serupa juga sebelumnya telah diungkapkan Nursyahruddin SE, Ketua LSM Merdeka Kota Tanjungbalai. Katanya, jika merejuk kepada UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka pelanggaran perizinan dan dampak lingkungan terhadap kedua UU tersebut, terancam pidana sampai 10 tahun penjara dan denda miliaran rupiah.

"Setiap hari dump truk pengangkut pasir melewati jalan raya, namun tidak ada instansi yang menegur. Seharusnya, jangankan Satpol PP, aparat penegak hukum juga semestinya berperan aktif menertibkan usaha pertambangan pasir liar atau ilegal itu," pungkas Nursyahruddin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemko Tanjungbalai berjanji akan menindak tegas aktivitas galian C di Kota Tanjungbalai. Bahkan Pemko Tanjungbalai akan melakukan upaya tutup paksa aktivitas pengerukan pasir yang bisa merusak lingkungan dan meresahkan warga tersebut.

Itu dikatakan Walikota Tanjungbalai M Syahrial SH MH melalui Kabag Humas Tanjungbalai Nurmalini Marpaung SSTP, Menurut Nurmalini, Pemko Tanjungbalai akan menutup paksa aktivitas pengelolaan pengerukan pasir di Kelurahan Beting Kuala Kapias  Kota Tanjungbalai. Soalnya, selain tidak dilengkapi dengan izin usaha, kegiatan tersebut juga telah menimbulkan keresahan bagi warga setempat.

Nurmalini Marpaung menambahkan, selain di Beting Kuala Kapias, aktivitas pengerukan pasir lainnya yang ada di Kota Tanjungbalai juga akan ditutup secara paksa jika tetap melakukan pengerukan pasir.

Alasanya, sesuai laporan dari Dinas Lingkungan Hidup, tidak ada satu pun aktivitas pengerukan pasir yang ada di Kota Tanjungbalai yang memiliki izin.

"Ada juga usaha tambang pasir ilegal di inti kota yang sudah tiga kali ditegur secara tertulis, namun belum juga menghentikan kegiatannya. Oleh karena itu, dalam waktu dekat ini, usaha tambang pasir ilegal tersebut akan kita tutup secara paksa," papar Nurmalini.

Sebelumnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tanjungbalai Solahuddin Panjaitan mengatakan, seluruh usaha galian C yang ada di Kota Tanjungbalai tidak memiliki dokumen yang sah alias ilegal. Alasannya, pihak Kantor Lingkungan Hidup Kota Tanjungbalai tidak pernah menerbitkan rekomendasi untuk usaha penambangan pasir.

Menurut Solahuddin, sampai saat ini pihak Kantor Lingkungan Hidup tidak pernah tidak pernah menerbitkan rekomendasi untuk usaha penambangan pasir.

“Kami tidak pernah menerbitkan izin usaha penambangan pasir. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa seluruh usaha tambang pasir yang ada di Kota Tanjungbalai tidak memiliki dokumen yang sah alias ilegal,” katanya.  (ck-5/syaf/ma/int)


TANJUNGBALAI- Curah hujan yang  tinggi dalam seminggu terakhir membuat para nelayan di Tanjungbalai enggan melaut. Kondisi ini mengakibatkan tangkapan ikan menurun drastis. Sebagian nelayan beralih profesi sebagai buruh bangunan dan menaik becak bermotor.



‘’Jika menghadapi musim penghujan rutin seperti ini, cenderung produksi tangkap laut menurun. Persentasi penurunan bisa mencapai sekitar 25 persen,” kata beberapa nelayan yakni Endang, Fahri, dan Wahab, Senin (28/11).

Menurut ketiga nelayan tersebut, setiap datang musim hujan, para nelayan justru lebih memanfaatkan waktu tidak melaut untuk membenahi perahu dan jaring tangkap ikan. Ada juga sebagian dari mereka memilih bekerja di ladang atau menjadi tukang ojek musiman. Alhasil, kondisi ini menjadikan jumlah nelayan yang melaut untuk tangkap ikan berkurang.

Menurut mereka, selain musim hujan, salahsatu penyebab nelayan enggan melaut adalah gelombang yang tinggi. Para nelayanpun mulai resah karena sewaktu-waktu gelombang bisa saja menghantam perahu mereka. Otomatis akibat banyaknya nelayan yang tak melaut tangkapan ikan mereka menurun.

Pantauan wartawan, nelayan terlihat mulai memindahkan perahu mereka atau mengikat perahunya pada batang pohon.

”Musim-musim angin begini, banyak nelayan tidak akan berani melaut. Hal ini juga berpengaruh pada hasil tangkapan  sangat berkurang dan kalaupun ada harganya cukup mahal,” kata ketiga nelayan tersebut.

Menurutnya, pada musim seperti ini, masyarakat pesisir lebih memilih tinggal di rumah daripada melaut. Karena itu praktis merekapun tidak mendapatkan pemasukan untuk menopang kehidupan sehari-harinya. Untuk menyiasatinya, para nelayan beralih profesi menjadi buruh  bangunan atau buruh lainnya. (mag02/syaf/ma/int)





BATUBARA- Menindaklanjuti kasus dugaan pemerkosaan yang dialami seorang siswi kelas 2 SMP inisial IA (14), Polsek Indrapura bergerak cepat. Lelaki yang telah memerawani korban AFW (17), langsung diamankan. Tapi sebentar saja. Polisi 'melepas' (tidak melakukan penahanan, red) karena dijamin orangtua pelaku.

‘’Pelaku sudah kita amankan. Namun karena usianya masih 17 tahun, masih di bawah umur dan masih sekolah, maka dia tidak kami tahan, dengan jaminan orangtua,” kata Kapolres Batubara AKBP S Bonaparte Silalahi SIK, melalui Kanit Reskrim Polsek Indrapura IPTU JH Sinaga, Minggu (27/11), kepada wartawan. Tapi Sinaga menegaskan, kasus tersebut tetap akan diproses sampai ke pengadilan.

Diberitakan sebelumnya, penangkapan terhadap tersangka AFW (17) berawal dari laporan pengaduan HI (38), warga Kecamatan Sei Suka, Batubara, atas kasus pemerkosaan yang dialami putrinya IA (14), yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

Selain ke polisi, HI juga sudah melaporkan kasus pemerkosaan yang dialami putrinya ke Kantor KPAID (Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah) Kabupaten Batubara, beralamat di Jalan Sudirman No.10, Kelurahan Indrapura, pada Kamis (24/11), sekira pukul 10.30 WIB. Kepada Ketua KPAID Batubara Drs Ebson Amrin Pasaribu, wanita yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga (IRT) ini mengungkapkan kasus pemerkosaan yang dilakukan AFW (17) terhadap putrinya IA (14).

Korban IA sendiri mengaku telah dua kali disetubuhi AFW di dua tempat berbeda. Korban mengungkapkan, pertama kali diperkosa pelaku pada Jumat malam, di bulan September 2016. Malam itu, dia, pelaku AFW dan teman-temannya main-main di Lapangan Bola Laut Tador.

Saat yang lain lagi asyik bermain, AFW menarik paksa AI. AFW minta ditemani AI untuk buang air kecil di sawit-sawit tak jauh dari Lapangan Bola Laut Tador. AI sendiri mengaku tidak tahu kenapa menurut saja dan ikut menemani AFW ke areal kebun sawit. Ternyata alasan AFW hendak buang air kecil itu hanya alibi.

‘’Rupanya aku ditokohinya (dibohongi). Sampai di sawit-sawit itu aku langsung dipeluknya, terus diancam.

Makanya, terpaksalah aku mau di-kekgitukannya (melayani nafsu bejat AFW, red),” ungkap AI.
Yang kedua kalinya masih kata AI, juga di bulan yang sama, AFW kembali mengajaknya melakukan hubungan layaknya suami istri. Tapi AI semula tidak menyadari jika AFW hendak mengajaknya kembali melakukan tindakan serupa.

Awalnya, AFW mengajak AI jalan-jalan ke daerah Tanjung Gading, naik sepedamotor pelaku. Ternyata, AFW membawa korban ke Penginapan Gundaling, di daerah Tanjung Kasau. Melihat gelagat tidak baik AFW, AI menolak. Tapi AFW kembali mengancam. Jika korban tidak menuruti, maka akan ditinggalkan di penginapan itu.

‘’Jadinya, terpaksa aku maui kemauannya,” kata AI, dengan mata berkaca-kaca.

Setelah mendengar kisah pilu putrinya, HI mengaku sangat kecewa. Apalagi AFW, selama ini dia ketahui merupakan teman dekat putrinya.

‘’Dia ini (AI) anak pertamaku, tapi dia tega melakukannya,” ujar HI, bercucuran air mata.

Atas kejadian yang menimpa putrinya, HI meminta aparat penegak hukum memberikan sanksi setimpal terhadap pelaku yang telah merenggut masa depan putrinya.

Ketua KPAID Batubara Drs Ebson Amrin Pasaribu juga mengingatkan penegak hukum agar memroses kasus yang menimpa AI sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

‘’Kita akan pantau terus kasus ini, penegak hukum harus serius,” tegasnya. (wan/dro)

Diberdayakan oleh Blogger.