Asahan Dulu dan Kini (bagian 1)

 Penabalan Nama Asahan Terjadi di Dusun Persembahan


JIKA melihat sepintas kisah perjalanan Sultan Alaudin Riyah Syah Al Qatar, yang merupakan kakek dari Sultan Iskandar Muda, ternyata banyak situs sejarah di Asahan yang terlupakan oleh Pemkab Asahan.

Oleh: Syafruddin Yusuf, Kisaran


Menurut tiga sejarawan Asahan, almarhum Zasnis Sulung, almarhum Raja Kamal, dan Yus Chan beberapa waktu lalu, jika diinterpretasikan, ada dua versi yang mengundang kedatangan Raja Aceh itu pada tahun 1540 Masehi lalu ke Asahan.

Padahal, apabila dilakukan pemeliharaan seperti dilakukan di daerah lain, maka situs-situs sejarah ini selain akan bermanfaat bagi dunia pendidikan generasi sekarang, juga dapat dijadikan sebagai obyek wisata menarik, yang sudah barang tentu akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Asahan sendiri.

Adapun situs dan cagar budaya Asahan yang terbengkalai selama ini, misalnya lokasi Kerajaan Tao dan Asia Muka di Pulau Maria, Teluk Dalam yang berdiri pada abad ke-1 Masehi. Lokasi kerajaan P’oli dan makam-makam tua di Sipule-pule Air Batu abad ke 6 Masehi. Lokasi kerajaan Simargolang dan makam-makam tua di Dolok Maraja, Marjanji Aceh dan Pulau Rakyat Tua, abad ke 14 Masehi.

Lokasi koloni Jawa Hindu di Gua Kanili (Batu Kanihir), Aek Kopas, Bandar Pasir Mandoge, abad ke 14 Masehi. Lokasi kerajaan Kesultanan Asahan di Tangkahan Sitarak (Pulau Raja). Makam Puteri Ungu, Raja Aceh Sultan Alauddin Riyat Syah dan Sultan Asahan Pertama, Abdul Jalil Rakhmad Syah, yang juga sebagai orang pertama pembawa agama Islam masuk ke Asahan abad 15 Masehi yang berlokasi di masjid Pulau Raja Pekan.

Jika melihat ini, pemerintah Pemkab Asahan nampaknya cukup puas hanya dengan memperingati hari ulang tahun Kabupaten Asahan ke-71 tahun. Pejabat Pemkab Asahan selama ini sepertinya kurang mau belajar dari daerah lain seperti Medan, atau bahkan tetangganya  Kota Tanjungbalai. Di mana Wali Kota Tanjungbalai banyak mendapat simpati masyarakatnya karena lebih menaruh kepedulian memelihara budaya daerahnya, dengan memperingati sejarah berdirinya Kota Tanjungbalai.

Sedangkan berdirinya pemerintahan Kotapraja yang menjadi cikal-bakal Kota Tanjungbalai itu telah dikesampingkan, karena dianggap bernuansa penonjolan kekuasaan birokrasi.

Kita kembali kepada peristiwa kehadiran Raja Aceh, Sultan Alauddin Riyat Syah Al Qahar (Sultan Alaidin Mahkota Akam Johan Berdaulat) yakni Sultan Aceh ke XIII (1537-1568 M) itu ke Sungai Asahan yang menjadi awal berdirinya Asahan.

 Menurut versi legenda

Armada laut kerajaan Aceh itu mendarat di Asahan untuk mencari Puteri Hijau yang lepas dari tangkapan panglimanya di Kuala Deli (Belawan), sehingga menyisir pesirir pantai Sumatera Timur hingga sampai ke Sungai Asahan. Tapi mereka gagal menemukannya.

Versi kedua adalah fakta sejarah, yang meceritakan setelah Sultan Alauddin Riayat Syah Al Qahar berhasil menaklukkan kerajaan Melayu di Deli Tua, yang dikuasai Sultan Johor, tahun 1539 Masehi, maka sekitar tahun 1540 Masehi, Sultan Aceh telah membawa armada lautnya yang sangat besar untuk mengejar Sultan Johor yang melarikan diri dari Deli Tua. Tapi Sultan Johor gagal ditemukan, karena telah berlayar kembali kenegerinya Johor melalui pantai Kuala Tanjung.

Karena gagal menemukan musuhnya Sultan Johor, maka Raja Aceh dan rombongan angkatan perangnya memasuki Sungai Asahan yang tak berpenghuni sejauh tiga tanjung arah ke hulu.

Mereka telah beristirahat di Dusun Persembahan, sekarang masuk wilayah Desa Sei Paham, Kecamatan Sei Kepayang. Dan di tempat inilah para prajurit kerajaan Aceh itu menemukan sejenis rumput berdaun lebar dan berbulu keras yang bisa dipergunakan untuk mengasah dan membersihkan karat-karat yang melekat pada keris, pedang, tombak, lembing, dan meriam yang berkarat akibat pengaruh air laut yang asin.

Akhirnya Raja Aceh menamakan rumput ini dengan nama rumput “asahan” dan bibit-bibit rumput itu telah mereka ambil sebanyak-banyaknya untuk ditanam di negeri Aceh.

Ketika agak bingung karena tak menemukan orang di hilir sungai yang berarus deras dan jernih ini, tiba-tiba Raja Aceh melihat beberapa tungkul jagung bakar dan kulit cempedak hanyut dari hulu ke hilir. Menurut raja Aceh, ini membuktikan keberadaan manusia di bagian hulu sungai jernih ini. Lalu ia memerintahkan para hulubalangnya untuk berangkat ke hulu dengan membawa sekoci, untuk mencari warga yang ada di daerah ini untuk mengetahui apakah negeri ini mempunyai seorang raja berdaulat.

Ketika para hulubalang kerajaan Aceh itu berlayar ke hulu, mereka menemukan kampung bernama Tualang di tepian sungai itu. Kemudian hulubalang Aceh tersebut bertemu dengan orang bernama Sibayak Lingga marga Karo-karo, yang bertugas sebagai hulubalang Raja Simargolang dari dinasti ke III, yang ketika itu bersemayam di Huta Bayu, sekarang Pancuran Raja, Desa Rahubing, Kecamatan Rahubing.

Dalam pertemuan tersebut, utusan raja Aceh telah meminta Sibayak Lingga supaya membawa rajanya Simargolang menemui raja Aceh yang sedang menunggu dihilir sungai itu. Karena itu Sibayak Lingga langsung berlayar ke hulu sungai itu untuk menemui Raja Simargolang. (bersambung)