SIDIMPUAN- Banjir bandang yang melanda Kota Padangsidimpuan (Psp), Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Mandailing Natal (Madina), meninggalkan duka mendalam. Tujuh warga dinyatakan meninggal dalam kejadian itu.

Di  Psp, lima warga dinyatakan meninggal setelah terseret banjir. Empat di antaranya merupakan satu keluarga yang tinggal di Kelurahan Lubuk Raya, Kecamatan Psp Hutaimbaru, Kota Psp. Dan, satu warga lainnya, Bahar Efendi Panggabean berdomisili di Lingkungan I, Kelurahan Batang Ayumi Julu, Sitataring, Psp Utara.

Sedangkan korban meninggal di Tapsel, atas nama Kaya Banua Siagian (67),  warga Desa Sijungkang, Kecamatan Angkola Timur. Di Madina, ada seorang nenek bernama  Misbah Matondang (80), warga Desa Malintang Jae, Kecamatan Bukit Malintang.

Sebelumnya, hujan deras yang mengguyur Kota Padangsidimpuan (Psp) dan sekitarnya pada Minggu (26/3) sore menyebabkan Sungai Batang Ayumi meluap. Lalu, banjir pun menerjang seluruh pemukiman warga yang berada di bantaran sungai. Pasca banjir menerjang, sejumlah warga dinyatakan hilang.

"Ketiga mayat yang terdiri ibu dan dua anaknya sudah ditemukan. Dan sudah dibawa ke kediaman mereka di Lingkungan III, Kelurahan Lubuk Raya," ujar Kapolsek Hutaimbaru AKP Tony Simanjuntak saat dikonfirmasi, Minggu (26/3) malam.

Tony menceritakan, berdasarkan info yang didapat dari masyarakat, sebelum ditemukan tewas, satu keluarga yang menjadi korban sedang berada di ladangnya yang dekat dengan aliran Sungai Aek Sipogas Kelurahan Setempat. Dan saat hujan turun, mereke berteduh di gubuk. Dan tiba-tiba sambil menunggu hujan reda, air bah datang dan langsung menyapu mereka.

" Diduga hanyut tersapu arus air bah yang datang dengan tiba-tiba. Dan jasad ketiganya ditemukan tidak jauh dari tempat kejadian sekitar pukul delapan malam tadi," ungkap Tony.

Adapun identitas ketiga jenajah teridentifikasi yaitu Sahriana Situmorang (45) dan dua orang putrinya masing-masing Rafiah (8) serta Sakinah (10) warga Lingkungan III Kelurahan Lubuk Raya, Kecamatan Psp Hutaimbaru, Kota Psp.

" Sempat mau dibawa ke rumah sakit namun warga dan pihak keluarga tidak mengijinkan," terangnya.
Kata Tony, selain ketiganya, diduga Suami korban juga ada pada saat kejadian. Dan saat ini pihaknya masih melakukan pencarian.

"Iya, informasinya suami yang juga ayah dari anak-anak para korban masih hilang. Dan diketahui ada saat kejadian itu." Pungkasnya.
Sebelumnya diketahui, selain merenggut korban jiwa, banjir bandang yang menerjang Kota Psp dan sekitarnya juga mengantam puluhan rumah hingga ada yang hanyut dan rusak parah. Tak hanya rumah, sejumlah kendaraan milik warga dinyatakan rusak akibat terseret banjir terbesar sepanjang tahun ini.

Petugas yang melakukan pencarian, Senin (27/3) sekitar pukul 01.30 WIB dini hari berhasil menemukan jasad Bahar Efendi Panggabean yang hanyut terbawa arus bersama rumahnya di Lingkungan I Kelurahan Batang Ayumi Julu, Sitataring Psp Utara Kota Psp.

Dan Saikum Sarumpaet, Suami Sahriana Situmorang, ayah dari dua putrinya yang juga ikut tewas terbawa arus akhirnya ditemukan di Aek Sipogas oleh petugas Den C Sat Brimobda Sumut serta warga yang membantu, Senin (27/3) sekitar pukul 07.30 WIB. Dan jenajah lalu dibawa ke rumah duka di Lingkungan III Kelurahan Lubuk Raya, Psp Hutaimbaru untuk disemayamkan dan kemudian dimakamkan bersama istri dan dua anaknya.



**** 5 Jam Hanyut, Nek Misbah
Ditemukan Tewas di Sawah

Banjir bandang juga melanda Desa Malintang Jae, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal. Dan, seorang nenek bernama Misbah Matondang (80), ditemukan tewas setelah lima jam lebih menghilang.
Nenek yang memiliki lima anak dan 20 cucu itu ditemukan tidak bernyawa pada Senin dini hari (27/3) sekitar pukul 03.00 WIB. Nenek Misbah yang biasa dipanggil Umak Udin itu ditemukan nyangkut di gelondongan kayu yang dibawa banjir.
“Tadi malam sempat hilang, setelah dicari-cari mulai pukul 09.30 WIB, nenek itu ditemukan di areal persawahan. Mayatnya nyangkut di gelondongan kayu,” sebut Najamuddin (28), warga Desa Malintang Jae kepada Metro Tabagsel.
Sementara itu, Abdullah (25) salah seorang cucu Nenek Misbah, menceritakan, neneknya hilang saat terlelap di rumahnya pinggiran Jalinsum Malintang Jae. Neneknya memang tinggal sendirian di rumah itu.
“Nenek katanya waktu itu tidur. Karena mati lampu itu. Hujannya pun memang masih deras,” kata Abdullah yang terlihat kebingungan.
////Risal Pulungan: Abis Kubawa Anak-anak, Sebenarnya Aku Mau Jemput Ibu Itu
Korban banjir lainnnya, Risal Pulungan, warga Malintang Jae, Kecamatan Bukit Malintang, mengaku, sekitar pukul 22.00 WIB, air deras dan besar secara cepat mengepung rumahnya.
Ia bersama istri dan enam anak-anaknya yang semula berada di dalam rumah segera bergegas ke luar. Sempat kebingungan karena di jalan setapak menuju masjid, air deras dengan ketinggian mencapai ketiak orang dewasa.
Risal kemudian melarikan keluarganya itu ke dalam Masjid Baitur Rahim yang berada di belakang rumah. Air di masjid pun menggenang, ia akhirnya memilih lantai dua dengan menaiki tangga luar untuk menyelamatkan keluarganya itu.

“Istri dan anak-anakuku tinggal di masjid. Saya sudah lari ke depan (rumah Mak Udin, red) mau jemput ibu itu. Tapi rumahnya sudah hanyut, hilang jatuh ke sungai. Air dari sela-sela rumah dan ruko depan ini pun deras dan dalam,” sebut Risal dan kembali ke masjid.

Ketika berada di atas, ia pun menyaksikan tatkala material banjir berupa kayu gelondongan menghantam bagian rumahnya, dan disambut arus deras yang datang dari celah bangunan depan rumahnya. Rumahnya pun rubuh, hingga tak satu pun harta terselamatkan kecuali pakaian yang melekat di tubuh. “Kami selamat sudah sangat bersyukur. Tidak ada yang tersisa. Ini lah rumah yang hancur, sama pakaian yang basah,” ungkapnya.

Keinginan Tak Sampai

Kepergian almarhumah Misbah Matondang (80) meninggalkan kenangan mendalam bagi Udin (52) anak kedua korban. Menurut Udin, seminggu yang lalu dia masih telponan dengan almarhumah.

“Sekitar satu minggu yang lalu, kami masih teleponan. Saat itu, almarhumah gelisah. Ia minta rumah yang ditempatinya itu direhab. Pasalnya, rumah tersebut memang berdinding papan,” sebut Udin yang mengaku merantau di Kota Pematangsiantar.

Atas permintaan ibundanya, Udin berencana pulang dalam minggu ini untuk mewujudkan keinginan sang ibunda, yaitu merehab atau memperbaiki rumah yang mereka tinggali dari kecil hingga besar.

“Sebenarnya hari Rabu (besok) saya sudah mau pulang ke sini untuk memperbaiki rumah, tapi beginilah, rupanya kami dapat kabar rumah kami hanyut dan ibu meninggal,” tutur Udin dengan mata merah menahan tangis.

Udin menyebut, almarhumah ibunya semasa hidup tinggal di rumah tersebut bersama salah seorang cucunya yang masih lajang. Dan, pada saat kejadian, cucunya sedang berada di tempat pemandian umum yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah tersebut.

“Ada satu orang anak saudara kami yang masih lajang tinggal bersama almarhumah, saat kejadian dia sedang mandi dan tidak tahu rumah sudah hanyut,” kisahnya lagi.

Jenazah almarhumah Misbah Matondang dikebumikan Senin sore usai shalat ashar di tempat pemakaman umum Desa Malintang, dan rumah duka berada di rumah salah satu anaknya dib ANJAR Tinggi Desa Malintang Jae.  (san/wan/ma/int)



Data Sementara Korban Pasca
Banjir Bandang Psp


*Korban Tewas
1. Syahriana Situmorang (45); istri
2. Rofiah Sarumpaet (8); anak
3. Sakinah Sarumpaet (10); anak
4. Saikum Sarumpaet (48); suami
(Keempatnya satu keluarga yang tinggal di Lingkungan III Kelurahan Lubuk Raya, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru)
5. Bahar Efendi Panggabean, warga Lingkungan I Kelurahan Batang Ayumi Julu

* Di Lingkungan II, Kelurahan Batunadua Julu, Padangsidimpuan Batunadua
A. Rumah Hanyut:
1. Rumah Keluarga Samiun Siregar (70)
2. Rumah Keluarga Arman Siregar (32)
3. Rumah Keluarga Rahuddin Pohan (42)
4. Rumah Keluarga Latong Harahap (35)
5. Rumah Keluarga Mukrim Pohan (35)
6. Rumah Keluarga Ismail Harahap (38)

B. Rumah Rusak :
1. Rumah Keluarga Arman Harahap (33)
2. Rumah Keluarga Holong Pohan (45)
3. Rumah Keluarga Amri Hasibuan (60)
4. Rumah Keluarga Nasiruddin Aritongan (47)
5. Rumah Keluarga Hendra Harahap (40)
6. Rumah Keluarga Budi Pohan (38)
7. Rumah Keluarga Lolom Simatupang (38)
8. Rumah Keluarga Soulingon Harahap (38)
9. Rumah Keluarga Ateng Harahap (32)
10. Rumah Keluarga Legiowo (40)
11.  Bengkel Yahya Harahap (40)
12. Rumah Keluarga Amir Hasibuan (62)

C. Kendaraan Rusak dan Hanyut:
1. Satu unit mobil mopen milik Arman Harahap.
2. Enam unit mobil di bengkel Yahya Harahap.

* Di Lingkungan I Sitataring Kelurahan Batang Ayumi Julu, Padangsidimpuan Utara
A. Rumah Hanyut:
1. Rumah Keluarga Bahar Efendi Panggabean (55)
2. Rumah Keluarga Hendra (25).
3. Rumah Keluarga M Hutagalung (5).

B. Rumah Rusak:
1. Rumah Keluarga Zulkifli Harahap (40)
2. Rumah Keluarga Yeni (25)
3. Rumah Keluarga Ali Lubis (30)

* Delapan rumah kontrakan milik Almarhum M Syukur di Gang Albaina Lingkungan VIII Kelurahan Wek V Siborang, Padangsidimpuan Selatan, Kota Padang Sidimpuan hanyut terbawa arus (tidak ada korban jiwa).

* Di Desa Simatohir, Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu, Kota Padangsidimpuan, rumah milik keluarga Marabaik Siregar dan Rahmat Alamsyah rusak parah. Puluhan hewan ternak (sapi,red) dikabarkan hilang terserat arus banjir.

*Sumber Polres Kota Padangsidimpuan.



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.