Bisnis Budidaya Buah Naga, Awalnya Coba-coba Sekarang Kebanjiran Order


ASAHAN-Berawal dari coba-coba menanam buah naga warna merah, akhirnya Ir Hardo Simanjuntak MSi, tertarik menanam buah naga. Berkat keuletan serta keseriusannya, kini PNS di Dikjar Kabupaten Asahan, banjir pesanan bibit buah naga merah.

Menurut pria kelahiran 4 Juli 1959 ini, awal mulanya Juli 2013 ia pertama kali mengetahui budidaya buah naga dari temannya yang bekerja di UPT Pertanian Kabupaten Batubara. Dari temannya itu, Hardo mendapat 40 batang bibit buah naga dan dibawanya pulang. Kemudian ditanami di belakang rumah. Ternyata hasilnya bagus.

Tak berselang lama, saat berangkat Rakor ke Kemendiknas Jakarta, tanpa diduga ia ketemu dengan kawannya yang memiliki kebun naga merah di Jogjakarta. Hampir dua hari Hardo mempelajari cara budidaya buah naga.

Berbekal ilmu dari temannya, bibit buah naga yang awalnya 40 batang akhirnya menjadi 320 batang. Ia memperbanyaknya melalui stek yang ditanam di atas lahan seluas 1 rante di belakang rumah. Menurutnya, buah naga sangat cocok dibudidayakan di Kabupaten Asahan. Hal ini disebabkan karena struktur tanah yang gembur di daerah daratan.

Proses perawatannya pun cukup mudah karena tidak perlu lagi menunggu setiap bulan untuk disiram. Buah naga hanya siram saat ditanam. Saat berusia lima sampai enam bulan baru penyiraman selanjutnya.

Salahsatu kelebihan menanam buah naga adalah bisa disandingkan dengan tanaman lain, sehingga sekitar tanaman buah naga bisa ditanamai tanaman holtikultura. Tanaman buah naga adalah tanaman jenis kawin silang. Lahannya bisa di pekarangan dan ruangan terbuka.Sekali produksi, buah naga dalam satu pohon itu yakni 2 sampai 3 buah. Buahnya juga bisa dijadikan tanaman hias pekarangan.

Yang unik, buah naga bisa bertahan sampai 25 tahun. Dan, dalam umur 1 tahun sudah dapat berbuah sekitar 9 bulan. Tiga bulannya masa trek yaitu dimulai bulan November, Desember sampai Januari. Dengan kalkulasi 1 rante dapat ditanami 80 rumpun, setiap rumpun 4 batang, hasilnya cukup mengagumkan penanaman 80 rumpun, 1 bulan bisa menghasilkan 120 kg.

Harganya Rp35 ribu per kg. Sehingga para petani buah naga sebulan bisa dapat keuntungan Rp4,2 juta, dengan catatan 9 bulan masa produksi, trek 3 bulan. Saat ini, Hardo Simanjuntak memiliki 560 rumpun buah naga di atas lahan seluas 7 rante.

Mengenai pemasaran, ia tidak perlu pusing. Justru ia sangat kewalahan atas permintaan bibit buah naga, seperti dari Aceh 5 ribu batang, Langkat 3 ribu batang, Dumai 2 ribu batang, Siantar 2.500 batang, dan saat ini permintaan dari Kecamatan Mandoge untuk bulan Mei sebanyak 1.600 batang. “Jadi, tak perlu khawatir,” ujarnya.

Saat ini, Hardo menjual bibit miliknya Rp7 ribu per batang. “Kualitas bibit oke. Kalau tak berbuah, saya akan mengganti biayanya,” kata Hardo sesumbar, saat ditemui di areal Famili Farm miliknya Jalan Nuri No. 2, Kelurahan Gambir Baru, Kecamatan Kisaran Timur.

Pada kesempatan itu, Hardo membagikan tips menanam buah naga. Ia menyebutkan, penanaman buah naga di Kabupaten Asahan sangat mudah dan toleran terhadap iklim yang ada di Kabupaten Asahan. Soal pupuk, ia menyarankan agar menggunakan pupuk organik.

“Pengobatan hama yang ada di buah naga juga dilakukan secara alamiah menggunakan tanaman tertentu seperti daun ketepeng, buah kates, juga menggunakan pupuk kotoran lembu, kerbau, kambing. Kemudian jerami daun padi dijadikan dedak, sehingga menjadi mikro organik lokal,” terangnya.

Mengenai kelebihan buah naga merah, dipercaya dapat mengobati beberapa penyakit, di antaranya mengobati penyakit kanker. Kemudian bagus juga untuk jantung, mencegah dan mengatasi diabetes. Lalu, menjaga kesehatan tulang, menjaga kesehatan mata, baik untuk diet, melancarkan buang air besar, menangkal radikal bebas, mencegah jerawat, dan dapat menurunkan kolesterol.

Anda yang ingin menjadi petani buah naga merah dapat menghubungi kami di  contact person 0812 658 1356  atau dapat datang langsung ke areal Famili Farm di Jalan Nuri No. 2 Kelurahan Gambir Baru, Kecamatan Kisaran Timur. “Kami siap membagi ilmu kami kepada anda untuk menjadi petani buah naga merah yang sukses,” tandasnya.

Hardo menambahkan, buah naga dalam bahasa Inggris “pitaya” adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia Utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari.

Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Oleh orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap membawa berkah. Oleh sebab itu, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah buah terlihat mencolok di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan inilah buah itu di kalangan orang Vietnam yang sangat terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Istilah Thang loy kemudian diterjemahkan di Eropa dan negara lain yang berbahasa Inggris sebagai dragon fruit (buah naga). (mar/syaf/ma/int)