Pelaku Brondong Simpanan si Janda

Taput-Seorang janda bernama Agustina Boru Sitorus (67) tewas ditikam kekasih gelapnya (brondong/lelaki yang berusia jauh di bawah usianya) bernama Fernando Simangunsong (37), warga Martembing, Kabupaten Deliserdang. Oleh tersangka mayat korban dibuang di Siborong-borong, sedangkan perhiasan korban dijual ke Pasar Horas Kota Pematangsiantar.
Tim forensik RSU Dr Djasamen Saragih Pematangsiantar saat melakukan otopsi.


Kasat Reskrim Polres Taput AKP TP Butarbutar saat mendatangi Instalasi Jenazah RSUD DR Djasamen Saragih, Kota Siantar, Sabtu (29/4) sekira pukul 11.00 Wib, menyatakan pihaknya sudah menangkap tersangka dari kediamannya.

Penangkapan dilakukan Sabtu dini hari. Kasat mengatakan tersangka sudah diserahkan ke Direktorat Reserse Kriminal (Ditreskrim) Poldasu.

“Penanganan kasus ini diambil-alih oleh Poldasu, lantaran atas hilangnya korban pihak keluarga sebelumnya telah membuat pengaduan ke Poldasu. 

Tersangka diancam pasal 340 KUHPidana tentang pembunuhan berencana, subsidair pasal 365 KUHPidana,” ujar TP Butarbutar.

Sementara informasi diperoleh, kisah asmara Agustina yang merupakan warga Jalan Air Bersih Ujung, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan itu terungkap setelah polisi menyelidiki penyebab kematiannya. 

Penyelidikan bermula dari temuan mayat membusuk di jurang Sipintu-Pintu, Desa Parik Sabungan, Kecamatan Siborong-Borong, Tapanuli Utara (Taput), Jumat (28/4) sore sekira jam 15.00 WIB.

Saat itu mayat korban yang terbungkus dua lapis goni plastik putih ditemukan oleh Irwan Hermanto Banjarnahor dan Bikkas Manalu. Keduanya merupakan pemulung atau pencari botot.

Menurut Bikkas dan Irwan, bau busuk yang menyengat hidung mengusik keingin tahuan mereka. Lalu mereka mencari tahu dari mana sumber bau tersebut. Ternyata setelah ditemukan bau tersebut dari goni plastik.

Lalu keduanya membuka goni tersebut dan ternyatabdidalamnya ada mayat. Temuan itu pun dilaporkan ke Polsek Siborong-Borong.

Mayat wanita itu kemudian dievakuasi ke Instalasi Jenazah RSU Taput. Saat ditemukan mayat itu tanpa memiliki kartu identitas.

Malam hari sekira pukul 23.00 Wib, mayat korban dirujuk ke RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar guna keperluan otopsi. 

Sabtu (29/4) pagi sekira pukul 08.30 Wib, tim forensik pun menggelar otopsi luar dalam atas mayat tersebut. Dalam tempo singkat, hasil otopsi itu dapat disinkronkan dengan laporan orang hilang yang disampaikan keluarga Agustina Boru Sitorus kepada pihak Kepolisian.

Informasi dihimpun di lingkup Kepolisian menyebut, korban dibunuh pacar gelapnya.

Sementara perhiasannya dilarikan dan dijual ke Pajak (Pasar) Horas, Kota Pematangsiantar.

Diketahui, korban telah lama menjanda lantaran suaminya, pria bermarga Siburian meninggal dunia. Korban kemudian diam-diam menjalin hubungan asmara dengan Fernando, lelaki yang terpaut usia 30 tahun dengannya.


Selasa (25/4) pagi, tersangka menelepon korban untuk diajak bertemu di Pasar Bengkel, Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Ajakan itu disetujui. Korban tiba di lokasi dengan menumpang angkutan umum, setelah sebelumnya diantar ke Terminal Amplas oleh menantu lelakinya yang bermarga Siagian.

Setelah bertemu di Pasar Bengkel, tersangka mengajak korban jalan-jalan menggunakan Toyota Avanza, yang dikemudikan tersangka. 

Tiba di Kota Tebingtinggi, diam-diam tersangka membeli dua karung plastik putih dan menyimpannya di bagasi mobil. Kemudian, dia pun melanjutkan perjalanan.

Di Kebun Rambutan PTPN IV, Kabupaten Sergai, yang masih wilayah hukum Polres Tebingtinggi, tersangka dan korban melakukan persetubuhan layaknya suami isteri. Setelah merasa puas, tersangka meminta sejumlah uang kepada korban.

Korban menolak permintaan itu. Lalu, tersangka meminta cincin emas yang dipakai korban. Lagi-lagi, permintaan tersangka ditolak.

Merasa kesal, tersangka akhirnya menjerat leher korban menggunakan sabuk pengaman (safety belt) di jok depan yang diduduki korban. Setelah korban lemas, tersangka mengambil dua kawat dari ban serap mobil dan kembali menjerat leher korban.

Setelah memastikan korbannya meninggal, tersangka melucuti perhiasan emas yang dikenakan korban. Selanjutnya, dia mengambil dua karung plastik yang sudah dibelinya di Tebing Tinggi. Kedua karung itu dia gunakan untuk menutupi bagian atas dan bawah tubuh korban. Agar tidak lepas, kedua karung itu pun disatukan dengan kawat.


Dalam perjalanan selanjutnya, tersangka berhenti di Pajak Horas, Kota Siantar. Tujuanya untuk menjual perhiasan emas milik korban. Salah satu toko di pajak tersebut membelinya dengan harga Rp3 juta sebagai harga atas perhiasan tanpa surat tersebut.

Selanjutnya, tersangka menuju Desa Parik Sabungan, Siborong-Borong. Persis di Jurang Sipintu Pintu, tersangka membuang mayat korban.

Pantauan wartawan, keluarga korban tampak berdatangan ke Ruang Jenajah RSUD DR Djasamen Saragih. Namun, mereka enggan memberi keterangan. 

Satu di antaranya yang mengaku bermarga Manalu, hanya menyampaikan ucapan terimakasih buat Reskrim Polres Taput yang dengan cepat merespon kasus ini dan berhasil menangkap tersangka.

“Saya tidak pernah berurusan dengan polisi, tapi kami senang dan puas dengan kinerja Sat Reskrim Polres Taput,” ujar Manalu, tanpa bersedia mengurai hubungan korban dan tersangka.

Kepala Forensik RSUD Djasamen Saragih, dr Reinhard JD Hutahean menyatakan dari hasil otopsi ditemukan penyebab kematian korban karena tindak kekerasan. 

“Tapi kami tidak bisa jelaskan lebih jauh, karena itu hak penyidik Kepolisian,” ujarnya singkat.

Sejauh ini, mayat korban sudah dibawa keluarganya ke Kota Medan untuk disemayamkan di rumah duka. Rencananya, Senin (1/5) pagi mayat korban akan dikuburkan di Kecamatan Peranginan, Kabupaten Hubang Hasundutan (Humbahas). (syaf/int)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.