MEDAN-Kondisi Badila Susanti (10) sisiwi SD di salah satu sekolah di Kota Pematangsiantar semakin memburuk. Pihak keluarga membutuhkan dana yang cukup mahal untuk membiayai operasi Badila yang mencapai Rp150 juta. Untuk itu pihak keluarga mengharapkan uluran tangan dari para dermawan guna meringankan beban mereka.


Badila murid SD yang menderita pembuluh darah pecah di otaknya 
saat berada di rumah sakit ditemani keluarganya. 

Kepada wartawan Kurnia Syahputra (35) paman dari Badila yang berprofesi sebagai seorang guru di Jalan Setia Budi Medan mengatakan, ia sangat prihatin melihat kondisi keponakannya.

“Kondisi keponakan saya bernama Badila Susanti yang berumur 10 tahun beralamat di Pematangsiantar Sumatera Utara cukup memprihatinkan. Badila anak perempuan yang aktif dan cerdas. Namun karena pembuluh dara pecah di otaknya membuatnya tidak sadarkan diri (Koma) selama enam hari. Kami sangat mengharapkan bantuan dari para dermawan untuk membantu biaya operasi keponakan kami ini. Berapa pun bantuan yang saudara berikan pasti sangat membantunya,” katanya.

Kurnia mengatakan, pada bulan Maret yang lalu Badila terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Oleh ibunya, Badila dibawa ke Rumah Sakit Pematangsiantar. Namun karena mengingat biaya yang cukup tinggi, ibunya membawa Badila keluar dari rumah sakit. Berselang seminggu setelah keluar dari sakit, abangnya Badila, Raehan (12), gantian diserang DBD. Mendengar abangnya masuk rumah sakit, tiba-tiba Badila juga pingsan dan koma selama 5 hari.

Diagnosa dokter untuk Badila, ternyata selain terserang DBD, di tubuh Badila juga ada virus di otaknya. Akibat demam tinggi yang terus-terusan membuat virus tersebut semakin berkembang dan membuat pecah pembuluh darah di otaknya. Untuk penanganan secepatnya guna menyelamatkan nyawa Badila harus di operasi di Rumah Sakit Setia Budi jalan Masjid kelurahan Tanjung Rejo Medan dengan estimasi biaya Rp100 juta sampai Rp150 juta.

Badila dan keluarga saat ini belum memiliki BPJS atau juga belum memiliki jaminan kesehatan apapun.
Perlu diketahui ayah Badila tidak memiliki pekerjaan karena sedang sakit juga. Sedang ibunya Badila hanya pelatih senam yang tidak tetap. Mereka mengontrak di sebuah rumah di Kota Pematangsiantar tepatnya di daerah jalan Marihat. Kondisinya mereka sama sekali tidak memiliki simpanan uang untuk membayar kebutuhan rumah sakit.

“Mereka sangat membutuhkan bantuan kita. Jika Bapak/Ibu berkesempatan membantunya, kami sangat harapkan partisipasinya untuk menolong kesulitan mereka. Seberapapun, pasti akan sangat berarti untuk mereka. Terima kasih banyak atas perhatian dan bantuan Bapak/Ibu. Semoga Allah SWT balas dengan kebaikan yang berlipat banyaknya. Mohon doanya agar Badila sehat dan ceria seperti sedia kala,” kata Kurnia. Bagi warga yang ingin menyalurkan bantuan bisa menghubungi Kurnia SyahputraNo HP: 081361085040, Email: syahputrakurnia28@gmail.com.

Menurut seorang dokter bernama Elisa, pembuluh darah memiliki tugas menjamin pasokan oksigen dan nutrisi pada semua organ vital dalam tubuh. Yang mengejutkan, pembuluh darah seseorang memiliki panjang hingga lebih dari 96 ribu kilometer atau setara dengan dua kali mengelilingi bumi jika ditarik dalam garis lurus.


Tugas pembuluh darah juga terhitung berat karena mereka harus terus-menerus mengalir selama hidup kita. Organ ini mampu mengangkut lebih dari 6800 liter darah tiap hari. Sepanjang usia manusia masih hidup, pembuluh darah akan mengangkut hingga miliaran liter darah ke seluruh tubuh.

Pecahnya pembuluh darah bisa terjadi di beberapa tempat, salah satunya di otak. Jika pembuluh darah pecah terjadi di otak, maka hal ini akan menimbulkan pendarahan otak atau biasa disebut brain hemorrhage. Pendarahan ini akan berakibat fatal karena bisa mengakibatkan matinya sel-sel otak. Sebanyak 13 dari 100 orang yang stroke adalah dikarenakan perdarahan otak.

Beberapa hal di bawah ini adalah faktor risiko dan penyebab pembuluh darah pecah di otak sehingga mengakibatkan brain hemmorhage.
  • Tekanan darah tinggi yang terjadi selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan dinding pembuluh darah melemah. Jika tidak diobati, tekanan darah tinggi bisa menjadi penyebab utama terjadinya pendarahan otak.
  • Cedera kepala adalah salah satu penyebab paling umum terjadinya pendarahan otak pada orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun.
  • Aneurisma atau makin lemahnya dinding pembuluh darah yang mengalami pembengkakan. Jika sudah parah, pembuluh darah akan meledak dan membanjiri otak dengan darah sehingga menimbulkan stroke.
  • Angiopati amiloid, yaitu kelainan dinding pembuluh darah yang pada umumnya diakibatkan oleh kolaborasi umur yang kian menua dan tekanan darah tinggi.
  • Adanya tumor pada otak.
  • Kelainan pembuluh darah atau malaformasi arteriovenosa, yaitu lemahnya pembuluh darah di dalam dan di sekitar otak yang didapat seseorang sejak lahir.
  • Penyakit hati yang biasanya berhubungan dengan peningkatan terjadinya perdarahan internal.
  • Kelainan darah atau kelainan perdarahan, seperti hemofilia dan anemia sel sabit yang berkontribusi terhadap terjadinya penurunan kadar trombosit darah.

Kenali Kondisi-kondisi Gangguan Kesehatan Berikut

Jika seseorang mengalami pecah pembuluh darah di otak, beberapa gejala di bawah ini mungkin akan dialami.
  • Sakit kepala hebat yang datang secara mendadak.
  • Mendadak mengalami kesemutan atau kelumpuhan di wajah, lengan, atau kaki.
  • Mata mengalami kesulitan melihat, baik pada salah satu atau kedua-duanya.
  • Sulit menelan makanan.
  • Susah mengendalikan koordinasi tubuh dan hilang keseimbangan.
  • Sering merasa mual.
  • Muntah-muntah.
  • Hilang kesadaran, lesu, mengantuk, dan tidak sadar akan keadaan di sekitarnya.
  • Mengalami masalah terkait kemampuan bahasa, baik ketika menulis, bicara, membaca, atau memahami sesuatu.
  • Mengalami kebingungan atau mengigau.

 Penanganan Medis bagi Penderita Stroke akibat Pembuluh Darah Pecah

Bila stroke akibat pecahnya pembuluh darah otak terjadi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit. Langkah pertama melakukan pengobatan terhadap pasien pendarahan di otak adalah melalui pemantauan secara intensif. Selanjutnya, menstabilkan tekanan darah dan pernapasan harus segera dilakukan. Jika diperlukan, pasien bisa diberikan ventilator untuk membantu memastikan otak dan organ tubuh mendapatkan cukup oksigen.

Pada pasien yang tidak sadarkan diri, pemberian cairan dan obat-obatan mungkin membutuhkan akses intravena. Pantauan khusus terhadap irama jantung, kadar oksigen darah, atau tekanan dalam tengkorak mungkin diperlukan. Setelah stabil, maka akan ditentukan tindakan apa untuk mengobati pendarahan yang terjadi, misalnya apakah pasien membutuhkan operasi atau tidak.

Banyak pasien yang bisa bertahan hidup setelah mengalami pendarahan otak akibat pembuluh darah mereka pecah di otak. Sayangnya peluang tersebut akan menurun jika pendarahan awal terlalu parah atau terjadi di daerah-daerah vital di otak. Pemulihan yang dibutuhkan pasien bisa berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya.

Sebagian pasien yang selamat dari pembuluh darah pecah di otak berkemungkinan tetap mengalami masalah sensorik, kejang, sakit kepala, atau masalah ingatan. Maka dari itu, bagi mereka yang selamat dari kondisi ini tetap membutuhkan usaha untuk memulihkan kondisinya secara maksimal, mulai dari terapi fisik hingga terapi bicara.

Perbaiki Pola Hidup Anda Mulai dari Sekarang

Pembuluh darah pecah adalah kondisi yang kebanyakan bisa dicegah, Seseorang disarankan untuk menghentikan kebiasaan buruk  yang dapat memperbesar risiko, seperti merokok dan megonsumsi alkohol secara berlebihan. Selain itu, rutinitas olahraga sepatutnya tetap dipertahankan, yaitu minimal 150 menit per minggu dengan olahraga berintensitas sedang atau 75 menit dengan intensitas tinggi, atau kombinasi keduanya.

Bagi Anda yang mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, maka mengobati keduanya akan memperkecil risiko terjadinya pembuluh darah pecah di otak. Bagi penderita diabetes, mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh juga bisa membantu mengurangi risiko terjadinya hal ini.(syaf)





Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.