ASAHAN-Berulang kali melakukan penganiayaan terhadap keluarga, akhirnya preman kampung bernama Herman S Marpaung (23) diringkus personel Polsek Kota Kisaran, Polres Asahan, Jumat (12/5). Herman diringkus karena mencangkul kepala ayah kandungnya sendiri, Derson Marpaung (53). Istri korban Nurhayati (49) berharap agar anaknya (tersangka) dihukum seberat-beratnya, jika perlu dihukum mati.

                                                       
Tersangka Herman yang mencangkul kepala ayahnya.


Kepada wartawan, Nurhayati mengaku dirinya dan seluruh keluarga sudah muak melihat ulah Herman yang selalu mengancam dan menganiaya keluarganya. Nurhayati berharap agar Herman dihukum mati saja agar tidak menyusahkan keluarga.

“ Pak polisi hukum mati saha anakku itu,” ucapnya kesal.

Sementara informasi diperoleh, korban merupakan warga Dusun IV, Desa Rawang Pasar IV, Kecamatan Rawang Panca Arga, Asahan. Derson menjadi korban penganiayaan yang dilakukan anak kandungnya sendiri

Dari TKP personil Polsek Kota Kisaran mengamankan cangkul dengan gagang yang sudah terlepas akibat memukul korban dibagian jidat dan pecahan kaca steling.

"Modus oprandi, dengan cara terlapor anak kandung korban saling meludahi, yang berakhir dengan penganiayaan menggunakan cangkul yang dilakukan terlapor terhadap korban," terang Kapolsek Kota Kisaran Iptu Tombak Samosir didampingi Kanit Reskrim Syamsul Adhar. Jumat (12/5).

"Kronologisnya, tadi pagi sekira pukul 9.20 WIB terlapor selisih jalan dengan korban di persimpangan Renemas. Saat itu korban meludah didekat terlapor sehingga ia nya tersinggung dan balik meludah didekat korban. Lalu korban emosi dan mendatangi terlapor," kata Kapolsek Kota Kisaran.

Gara-gara meludah terjadilah pertengkaran mulut antara keduanya sehingga terlapor emosi dan mengambil cangkul di rumah neneknya yang tidak jauh dari TKP kemudian mengarahkan cangkul yang dipegangnya ke kepala korban. Akibatnya korban mengalami luka berat dibagian kepala. Setelah korban  terkapar, terlapor mendatangi toko kelontong milik korban dan memecahkan kaca steling yang dijaga istri korban.

                 
Korban yang kepalanya dicangkul anaknya saat mendapatkan perawatan medis.

"Herman pergi ke rumah neneknya dan membiarkan korban terkapar di tengah persimpangan. Pada pukul 09.45 korban ditolong warga yang melintas dan dibawa ke Puskesmas. Pihak Puskesmas merujuk korban ke RSUD HAMS mengingat luka terbuka di kepala cukup besar. Ayah dan anak, keduanya sudah lama terlibat selisih paham sehingga saling menyimpan dendam," kata Ipda Syamsul Adhar.

Di dalam sel Polsek Kota Kisaran, Herman menyebutkan bahwa dirinya silap memukulkan cangkul kepada ayah kandungnya.

"Ayah tadi mengajak aku berantam bang, sudah nggak maunya aku bang. Entah kenapalah tadi aku memukulkan cangkul itu bang," kata terlapor dengan santai tanpa ada masalah.

"Aku sudah lama tidak cocok dengan ayah bang, mungkin karena ku curi uang dan ku jual kreta (sepedamotor) Revo milik ayah. Aku sudah tak dianggap ayah lagi anaknya bang. Sejak itu asal jumpa kami bertengkar," kata Herman dari dalam jeruji besi.

Ditambahkan Herman, ia menjual sepeda motor Revo milik ayahnya dikarenakan terlapor pernah membantu ayahnya membangun rumah.

"Aku minta uang ku yang dulu membangun rumah, ku juallah kereta itu. Aku buat tato seluruh badan dan menjadi anak pang di Prawang dan Palembang, keren kan bang," ucapnya.

Sementara itu, terpisah di RSUD HAMS  Fitriani (30) anak pertama korban, terlihat menangisi ayahnya yang terbaring lemas di ruang lima didampingi ibunya Nurhayati (49).

"Sudah di sel dia (Herman) jangan dikasih lepas ya bang, minta tolong bang bilangkan sama pak polisi. Banyak korbannya nanti kalau dia keluar bang. Adek kedua ku dulu dipecahkan anak durhaka itu (Herman red.) kepalanya bang," kata Fitra.

Istri korban, Nurhayati meminta agar anaknya dihukum seberat beratnya.

"Anak tak tau diuntungkan itu, apa yang dimintanya (Herman) kami kasih. Biar dihukum mati aja, lebih baik aku kehilangan satu anak dari pada setiap saat buat malu orang tua. Kami asik diancamnya aja, beraninya sama keluarga. Sama anak pank Tanjungbalai hari itu sudah mau dimatikan si Herman itu, musuhnya semua anak pank sekarang," terang Nurhayati.

"Kerjaan anak itu tak pernah beres, mencuri, merampok, narkoba. Kalau tidak dilindungi orang kampung tadi aku juga mau dimatikannya (Herman). Steling toko kami dipecahkan,” ucapnya. (syaf)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.