Asahan- Ratusan pedagang di pasar inpres Asahan kembali hijrah dan menggelar dagangannya di trotoar/pinggir Jalan Diponegoro maupun Jalan Cipto. Hal itu terjadi karena sepinya pembeli di kios yang telah dibangun Pemkab Asahan di lantai II pasar inpres.

                     Para pedagang psar Inpres yang menggelar dagangannya di pinggir jalan


Wahyu (27) pedagang di lantai II, Rabu (31/5) mengatakan, ia sudah sebelas bulan ini tidak berpenghasilan, semenjak menempati kios dilantai II pasar inpres.


Menurut Wahyu, ia terpaksa turun ke bawah dan menggelar dagangan di kaki lima untuk memenuhi kebutuhan di bulan ramadhan dan kebutuhan idul fitri.

“Kami juga butuh penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup serta persiapan menyambut datangnya hari raya Idhul Fitri 1438 H,” katanya.

”Kami pedagang yang menggelar dagangan di kaki lima ini sudah siap untuk melakukan perlawanan bila Satuan Polisi Pamong Praja melakukan pembersihan dan melarang kami berjualan di pinggiran pasar inpres ini. Dan kami warga pedagang  yang telah memilih Taufan - Surya untuk kembali terpilih sebagai Bupati Asahan periode kedua ini,  hendaknya juga memberikan kesempatan kepada warganya untuk mendapatkan sedikit rezeki dengan menggelar dagangan ini di pinggiran pasar inpres ini, setelah usai Ramadhan dan Idhul Fitri ini kami para pedagang akan kembali berjualan di dalam pasar inpres yang telah dibangun Pemerintah Kabupaten Asahan ini. Hanya sementara pak kami menggelar dagangan di sini,”ucapnya.

Sementara Kasat Pol PP Asahan Isa Harahap saat dikonfirmasi mengatakan bahwa dirinya tetap berpegang dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh Bupati Asahan. Semua pedagang diwajibkan untuk tetap membuka serta berjualan pada tempat yang telah disediakan, dan dilarang untuk menggelar dagangan di kaki lima.

Isa Harahap juga mengatakan imbauan untuk tidak menggelar dagangan di kaki lima juga sudah terpampang di dinding pasar itu, namun pedagang ini yang tetap tidak mengindahkan aturan yang telah dibuat pemerintah.


Dampak dari pedagang menggelar dagangannya di kaki lima ini, sejumlah ruas jalan menjadi sempit dan kemacetan arus lalu lintas akan terjadi, sehingga kota Kisaran kembali semrawut dan kumuh.

”Kami minta kesadaran pedagang untuk mematuhi aturan ysng telah dibuat pemerintah,” ucapnya.



Kirim Surat ke Bupati
Terpisah, pengurus komonitas Pedagang Kaki lima kisaran telah mengirim surat ke Bupati Adahan dengan nomor surat 01/A/Kompak 5-As/V/2017 tertanggal 14 Mey 2017 perihal untuk mendapatkan ijin berjualan disepanjang jalan Diponegoro, Jalan Cipto Tengah di depan pasar inpres selama bulan Ramadan 1438 H.

                                            

Keterangan Jack (37) pedagang jam yang menggelar dagangannya di sudut pasar inpres Kisaran mengatakan para pedagang yang berjualan di lantai II pasar inpres ini, hijrah ke pinggir jalan untuk menggelar dagangan demi untuk dapat memperoleh sedikit rezeki selama ramadan.

”Kawan-kawan semua sudah sepakat selama bulan Ramadhan ini berjualan di pinggir pasar inpres ini, kami meminta kemurahan hati pak Bupati agar kiranya diberi ijin berjualan di sini. Para pedagang ini hijrah kepinggir pasar ini bukan tidak beralasan, kami sudah sebelas bulan puasa, selama kami menempati kios di lantai II tersebut, ini bulan Ramadhan dan sebentar lagi sudah hari raya dan inilah kesempatan kami dapat mengkais sedikit rezeki,” ucapnya.

“Bupati Asahan juga telah membalas surat kami dengan suratnya yang bernomor 510/2738 tertanggal 30 Mey 2017 yang isinya bupati Asahan tidak memberi ijin kami berjualan dengan menggunakan bahu jalan ini, semuanya harus berniaga di dalam pasar inpres. Namun apapun resikonya kami tetap memilih berjualan di kaki lima selama bulan Ramadhan ini, bila terjadi penggusuran yang dilakukan oleh Satpol PP kami tetap akan bertahan. Ini tuntutan perut pak yang kami pertahankan,” ucapnya.

Secara terpisah Assisten II Jhon Ardi usai menggelar pertemuan antara pedagang kaki lima dengan pihak terkait aula pemkab.Asahan, Rabu (31/5) mengatakan pada dasarnya Bupati Asahan tidak memberi ijin para pedagang menggelar dagangannya di sepanjang Jalan Diponegoro, Jalan Cipto tengah depan pasar inpres tersebut.


Hal tersebut untuk menjaga kemacetan lalu lintas serta kecelakaan lalu lintas maupun kerawanan lainnya, dan bupati juga sudah memberikan balasan surat Kompak-5 yang intinya juga menolak permohonan pedagang untuk menggelar dagangan diluar pasar inpres tersebut. (syaf)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.