Alamakkkk, Meski Sudah Dirazia BBPOM, Pabrik Mie Berformalin di Siantar Masih Beroperasi, Mie Nya Dikirim ke Asahan, Tanjungbalai, dan Batubara



SIANTAR- Usaha pembuatan mie di Kota Pematangsiantar masih tetap beroperasi dan pengusaha pabrik mie tidak mendapat sanksi tegas walau tim BBPOM mendapatkan bukti 800 Kg mie yang mereka produksi mengandung formalin. Lebih parah lagi, Mie hasil produksi mereka dikirim ke beberapa daerah seperti Asahan, Batubara, Tanjungbalai, dan Tebingtinggi.




Parahnya, produksi mie basah asal Siantar ini memang sudah terkenal di berbagai daerah. Banyak pengusaha mie basah melakukan pengiriman mie antar kabupaten. Untuk usaha rata-rata maksimal produksi 1 ton biasanya dilakukan di rumah, sementara produksi 1 ton lebih biasanya dikerjakan di dalam gudang merangkap pabrik yang disengaja tertutup dari luar.

“Biasanya pabrik mie besar di dalam komplek yang tertutup dari luar. Jadi agak kesulitan petugas melakukan penggerebekan,” kata Robi, warga Kelurahan Suka Dame.

Menurut Robi, pabrik mie yang mengirim ke luar daerah dan memproduksi dalam jumlah besar dicurigai menggunakan pengawet berupa formalin.

Terbukti salah satu pabrik mie di Jalan Perdana, Kelurahan Setia Negara, Pematangsiantar yang digerebek BBPOM Medan tetap berlangsung. Menurut penuturan warga sekitar, pembuatan mie tetap berlangsung. Saat digerebek, pengusaha yang disebut-sebut warga sekitar Tomuan Kecamatan Siantar Timur itu tidak berada di tempat. Hanya dua orang karyawannya berada di lokasi, namun melarikan diri tanpa sepengetahuan tim BBPOM Medan.

“Rumah itu khusus untuk usaha mie. Tapi pemiliknya tidak tinggal disitu, hanya pekerjaanya tinggal sekitar rumah itu,”kata seorang pria sambil menunjukkan rumah yang terlihat sangat kumuh.

Dijelaskan pria yang mengaku tinggal tak jauh dari usaha pembuatan mie itu, setelah didatangi BBPOM, usaha tersebut tetap berjalan. Biasanya pembuatan mie berlangsung mulai sore hari hingga malam hari. Sedikitnya 50 karung ukuran 25 Kg diproduksi tiap hari. Mie tersebut dijual kembali di Pasar Horas dan Pasar Dwikora.

“Soal formalin kami tak tahu. Tapi infonya memang ada pakai itu. Biasanya mienya dibawa pakai pick up warna hitam. Mie itu katanya dibawa ke Asahan, Batubara, Tanjungbalai dan Tebingtingi,”katanya.

Sementara penelusuran usaha mie di jalan Mufakat, Jalan Bali, dan beberapa usaha produksi mie tetap berjalan seperti biasa. (syaf/int)



Subscribe to receive free email updates: