Jeritan Murid SD Asal Siantar Penderita Kanker Pembuluh Darah, AKU INGIN SEMBUH


PEMATANGSIANTAR-Bocah berusia 7 tahun Astika Dwi Yanti murid kelas 1 SD Swasta Masyarakat Rakyat Siantar membutuhkan uluran tangan dari para dermawan. Ia menderita kanker pembuluh darah.

Akibat penyakit yang dideritanya muncul benjolan di dekat mata sebelah kanannya.

Saat disambangi dikediaman orangtuanya di Jalan Marihat, Kelurahan BP Nauli, Kecamatan Siantar Marihat terlihat Astika sedang bermain dengan adik laki-lakinya Aditya Lorenzo (4), di halaman berpagar seng, di depan rumah sederhana yang berwana ungu.


Di rumah itu, Astika tinggal bersama ibunya, Kartini Boru Napitupulu (30), opungnya Ratna Boru Tampubolon serta adiknya.

“Kami hanya tinggal berempat aja di sini, adiknya Astika dan orangtua saya, opungnya Astika,” kata Kartini.


Ketika ditanya keberadaan ayah dari Astika, Kartini terlihat menjawab dengan lesu dan mengatakan bahwa suaminya, Ardiansyah (30), sudah 7 bulan tak pernah pulang ke rumah.


“Bapaknya Astika sudah 7 bulan gak pulang ke rumah. 

Katanya, dia (Ardiansyah) kerja di kelapa sawit di Kalimantan. Belum pernah pulang, tapi sesekali mau nelpon ngasih kabar,” ucap Kartini.


Kartini mengatakan penyakit Kanker pembuluh darah yang di alami anaknya Astika sudah ada sejak ia lahir.

 “Sejak lahir anak ku sudah ada benjolan sebesar anggur di mata sebelah kanannya. Waktu umur 11 bulan benjolan itu semakin besar bahkan besarnya seperti buah kelapa,” bebernya.


Melihat benjolan semakin besar di mata sebelah kanan anaknya, sewaktu Astika berusia 15 bulan, Kartini memutuskan membawa buah hatinya itu Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, untuk operasi.


“Saat itu si Astika langsung ku bawa operasi pakai biaya Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di RSCM. Kata dokter, saat itu anak ku terkena penyakit jenis AVM Regio Orbeita DX Pro Eksisi Massa,” katanya.

Setelah dioperasi memang benjolan itu berkurang, tapi menurut penjelasan dokter ketika itu, Astika bisa sembuh jika menjalani operasi sekali lagi.
Namun karena keterbatasan biaya, Kartini tak bisa memenuhi permintaan dokter.


Ibu dua anak itu hanya sendirian berjuang demi makan sehari-hari.


“Sekarang Astika kelas 1. Aku sendiri yang biayai anak-anak ku semua. Kalau ada yang memanen padi aku ikut, gajinya cuma Rp50 ribu per hari. Itulah kubuat biaya anak sekolah dan makan kami di rumah,” terangnya.

Diperlukan ibunya bocah malang ini berkata:
“Aku mau sembuh Bunda…,” ucap Astika.

Akibat sakit yang dideritanya Astika saat ini, dia pun menjadi penyendiri di sekolah. Teman-temannya kerap mengejekinya di sekolah karena benjolan di matanya tersebut.


“Kawan-kawan di kelas ku sering mengejeki aku. Aku diejeki si Mata Jendot. Aku hanya diam duduk di kelas aja. Kalau diejeki kawan ku, aku nangis aja di kelas om,” katanya dengan nada sedih.


“Aku selalu di (dalam) kelas aja terus. Aku gak pernah main sama teman-teman ku. Aku selalu malu,” tutur Astika.


Meski pun begitu, Astika tetap bercita-cita tinggi.

“Kok sudah besar cita-cita ku jadi dokter anak,” ucapnya sembari menebar senyuman kecil.


Di sela-sela cerita, Kartini pun berharap bantuan kepada orang yang ringan tangan. Sebab kanker pembuluh darah yang diderita anaknya sudah menyebar ke seluruh tubuh bahkan telinga dan kaki sering mengeluarkan darah bergumpal-gumpal.

“Kalau bisa, dia cepat operasi sekali lagi. Aku mohon bantuan orang yang ringan tangan. Aku pengen anak ku seperti orang-orang lain. Kadang anak ku sering malu depan temannya,” ucap Kartini. (Syaf/mjc/int)

Subscribe to receive free email updates: