Mandi di Air Terjun Hatonduan 3 Warga Asahan Hanyut, 2 Hilang, 1 Selamat


SIMALUNGUN-Tiga remaja asal Asahan hanyut di air terjun Jambu Ara, Huta Barak II, Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan. Satu berhasil diselamatkan, dua lagi belum diketemukan.

Dua dari tiga remaja warga Sei Alim Asak,  Kabupaten Asahan, Minggu (2/7) sekira pukul 10.30 WIB, dilaporkan hilang diduga hanyut di Air Terjun Jambu Ara, Huta Barak II, Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan. Keduanya adalah Icen (18) dan Bulah (19). Sementara Hanafi (17) berhasil diselamatkan oleh warga.

Tiga remaja Asahan ini hendak menikmati hari libur dengan mandi di lokasi air terjun tersebut. Namun oleh warga yang sempat melihat mereka ke lokasi, sudah diingatkan agar tidak berenang di air terjun karena berbahaya. Ternyata larangan warga tidak digubris ketiganya.

Kapolsekta Tanah Jawa Kompol Anderson Siringoringo SH MH mengatakan, ketiganya tersebut sempat dilarang untuk mandi di lokasi air terjun karena sangat berbahaya. Namun ketiganya membandel dan mengabaikan larangan tersebut.

Warga yang melihat ketiganya hanyur, langsung berusaha memberikan pertolongan. Namun diduga karena derasnya arus air di lokasi air terjun tersebut, warga hanya berhasil menyelamatkan Hanafi, sedangkan Icen dan Bulah tidak dapat mereka selamatkan karena keburu ditelan derasnya arus sungai yang lagi keruh, karena diperkirakan baru hujan di bagian hulu.

Selanjutnya, para warga pun langsung melaporkannya ke Mapolsekta Tanah Jawa, yang langsung direspon oleh Kapolsekta Tanah Jawa dengan menurunkan anggotanya ke lokasi guna melakukan upaya pencarian. Dengan peralatan seadanya petugas dan warga melakukan pencarian dengan menyelam dan menyisir alur sungai tersebut. Namun hingga malam, petugas dan warga masih belum berhasil menemukan keberadaan kedua korban.

Terpisah, orang tua Hanafi, korban yang berhasil diselamatkan, Samiati (50) saat dihubungi via seluler membenarkan jika Hanafi adalah anaknya.

"Saya taunya dari uwaknya Hanafi yang kebetulan juga berada di lokasi kejadian sedang mandi-mandi juga. Uwaknya itu yang nelpon kesaya ngasih tahu kejadiannya. Sekarang abang-abangnya dan pakciknya sudah berangkat kesana pak untuk melihat Hanafi",kata Samiati.

Dijelaskan Samiati, Hanafi memang pamit mau ke air terjun di Hatonduhan.

“Saya sudah melarang anak saya supaya jangan mandi-mandi di tempat itu. Ada empat kereta kalau nggak salah, Hanafi sama kawan-kawannyanitu berangkat dari kampung ini", katanya menjelaskan.
Sekira pukul 20.30 WIB, personel Polsek Tanah Jawa dan warga menghentikan sementara upaya pencarian terhadap kedua korban, karena sudah malam.

"Besok pagi akan kita lanjutkan pencarian bersama Tim Basarnas Tanjung Balai yang sudah kita hubungi. Mudah-mudah besok membuahkan hasil. Kami butuh doa dari masyarakat dan pihak keluarga untuk pencarian esok hari,”kata Anderson.

Menambah Daftar Panjang Korban Tenggelam

Kejadian tenggelamnya dua remaja Asahan ini menambah daftar korban hanyut dan tenggelam di wilayah Hatonduhan dan Tanah Jawa, yang memang memiliki banyak lokasi pemandian air terjun.
Tahun 2016 lalu, Muhammad Ricky Sihombing (17) warga Pondok Melati, Desa Binjai Sebrangan, Lingkungan 8, Kecamatan Air Joman, Kabupaten Asahan, hilang tertelan pasir Air Terjun Bukit Kembar di Desa Pansur Bagasan, Kecamatan Tanah Jawa, Senin (12/9).


 Korban kemudian ditemukan dua hari kemudian dalam keadaan meninggal. Korban sebelumnya mandi-mandi bersama rekan-rekannya di air terjun yang berada di areal kebun PTPN IV, Kecamatan Hatonduhan. Naas, korban menginjak pasir dan bebatuan menyedot tubuhnya hingga tenggelam.

Peristiwa tragis juga dialami Febriana Susanti Sinaga (19), salah satu mahasiswi universitas swasta di Siantar. Diduga mengalami kram kaki, mahasiswi yang masih semester II itu tewas terseret arus saat berenang di Air Terjun Parsambilan, Aek Bolok, Hatonduhan, Kamis (23/6). Sementara adiknya Kesi (4) yang juga ikut berenang dan berada di punggung korban, berhasil diselamatkan.

Sementara Cipto warga Kampung Tempel Nagori Kerasaan Rejo Kecamatan Bandar Kabupaten Simalungun tergelincir sewaktu hendak mandi di sungai Bah Tongguran, Jumat (25/11/2016). Setelah dua hari menyisir sungai Bah Tongguran, personel Polsek Tanah Jawa dan warga berhasil menemukan korban di pinggir sungai dalam keadaan meninggal.

Sementara Rukiah Manurung (80) ditemukan dalam kondisi tewas usai hanyut di aliran Sungai Bah Tongguran, Huta III Nagori Maligas Tongah, Kecamatan Tanah Jawa, Kamis (27/4/2017). Sebelumnya, warga Huta NDK Pasar, Nagori Marihat Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan ini hanyut di Bah Tongguran, Rabu (26/4).

Menurut keterangan suami korban, Muslimin Butarbutar (80), dirinya melihat istrinya berjalan menuju aliran Sungai Bah Tongguran di areal kebun kelapa sawit Afdeling III Marihat Tongguran PTP N IV Kebun Balimbingan, Nagori Mekar Mulia, Kecamatan Tanah Jawa. Korban terjatuh hilang terbawa arus Sungai Bah Tongguran.

Mengetahui hal itu, Muslimin pulang meminta bantuan pada masyakat sekampungnya dan melakukan pencarian di aliran sungai Bah Tongguran tersebut.(syaf/int)

Subscribe to receive free email updates: