TASLABNEWS.com. Diberdayakan oleh Blogger.
AYO PASANG IKLAN ANDA DI SINI, Hubungi 0812 6062 3215AYO PASANG IKLAN ANDA DI SINI, Hubungi 0812 6062 3215

BidVertiser

Loading...

Cacing Pita Terpanjang di Duniia Ditemukan di Simalungun, 171 Warga Positif Terkena

TASLABNEWS, SIMALUNGUN- 
Tim dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU) menemukan cacing pita sepanjang 10,5 meter dari perut seorang warga Nagori Dolok, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun. 


 Tim dokter yang melakukan penelitian cacing pita di Simalungun.
Tim dokter yang melakukan penelitian
cacing pita di Simalungun.


Diperkirakan cacing pita yang ditemukan terpanjang di dunia. Hasil penelitian yang dilakukan, sebanyak 171 orang, pada umumnya orang dewasa terkena cacing pita dengan panjang bervariasi, mulai 2 sampai 8,6 meter. Karenanya nagori tersebut dinyatakan sebagai endemi cacing pita. 

Ketua tim Peneliti Cacing Pita FK UISU, dr Umar Zein yang dihubungi, Senin (26/3) mengatakan, berawal dari kedatangan seorang pasien ke kliniknya di Medan, Oktober 2017 lalu.

“Pasien dewasa, ngaku warga Nagori Dolok. Pasien mengeluh sering mengeluarkan cacing pita yang putus-putus tiap kali buang air besar (BAB),” katanya.

Pada 21 Oktober 2017, tim turun ke lokasi untuk melakukan penelitian sekaligus mengobati warga yang terkena cacing pita.

Tanggal 2 November 2017, pasien yang BAB mengeluarkan cacing pita sepanjang 10,5 meter.

BACA BERITA TERKAIT: 
http://www.taslabnews.com/2017/10/hiiii-ada-cacing-pita-28-meter-di-tubuh.html?m=0

“Setelah diberi obat, kita tunggu pasien BAB. Dan keluarlah cacing pita sepanjang 10,5 meter. Kemungkinan ini terpanjang di dunia. Sebelumnya di Bangladesh ditemukan sepanjang 1,5 meter,” sebut Umar.

Hasil penelitian yang dilakukan cukup mengejutkan. Sebanyak 171 orang, pada umumnya orang dewasa terkena cacing pita dengan panjang bervariasi, mulai 2 sampai 8,6 meter.

Diperkirakan warga di 6 nagori di Kecamatan Silau Kahean mengidap penyakit cacing pita. Umar memprediksi penyebabnya adalah makanan khas Simalungun, seperti Hinasumba atau Holat yang terbuat dari daging babi.

“Daging babi yang dikonsumsi tidak sempurna masaknya. Karena makanan khas Simalungun, kita sifatnya mengimbau agar warga menjaga kesehatan,” ucapnya seraya mengatakan, Dinas Kesehatan Simalungun telah mengetahui temuan itu dan sudah melakukan MoU untuk penelitian.

Umar menyebut Dinas Kesehatan Simalungun tidak memiliki obat khusus untuk cacing pita. 

“Di Medan juga tidak ada. Itu sebabnya FK UISU melakukan kerjasama dengan 3 universitas di Jepang. Ada juga 4 universitas di Indonesia yang terlibat dalam penelitian,” katanya.

Saat ini tim telah selesai melakukan pemeriksaan molekuler terhadap 4 sampel cacing pita asal Kabupaten Simalungun, termasuk draft artikel ilmiah.

Artikel nantinya dikirim WHO guna melanjutkan proses penelitian atas penemuan endemi taeniasis di Simalungun.

“Sembari menunggu dukungan dari WHO, tim FK UISU akan kembali turun ke lokasi yang sama dimana tempat pertama kali ditemukan cacing pita di Kecamatan Silau Kahaean di Simalungun,” terangnya.

dr Umar yang baru saja mendapatkan penghargaan dosen berprestasi dari UISU ini, memaparkan anggota tim yang ikut serta dalam penelitian cacing pita ini di antaranya dari Kyoto University, Prof Munehiro Okamoto, Prof Akira Ito dari Asahikawa University dan Prof Tetsuya Yanagida dari University Yamaguchi.

Sedangkan 4 universitas lokal yang mengirimkan wakilnya dalam penelitian, yakni Dr Kadek Swastika dari Universitas Udayana Bali, Teguh Wahyu Sarjono dari Universitas Brawijaya, Malang, Dr Toni Wandra dari Universitas Sari Mutiara Medan dan Prof Hadyanto Lim dari Universitas Methodist Indonesia Medan. (syaf/int)
Siantar-Simalungun 3050012144420117291
Beranda item

Translate

ADSENSE

Alexa Rank

Clicksor

SOLUSI ATASI ASAM LAMBUNG ANDA HUBUNGI 0812 6173 9320

SOLUSI ATASI ASAM LAMBUNG ANDA HUBUNGI 0812 6173 9320

ADNOW

loading...

Cithika

Chitika

Total Tayangan Halaman