TASLABNEWS.com. Diberdayakan oleh Blogger.

BidVertiser

AYO PASANG IKLAN ANDA DI SINI, Hubungi 0812 6062 3215AYO PASANG IKLAN ANDA DI SINI, Hubungi 0812 6062 3215

Adsense

Loading...

Sedihnya, TKI Asal Kisaran Ini Disiksa di Malaysia, Majikannya hanya Divonis Denda Rp70 Juta

TASLABNEWS, KISARAN- Seorang Tenaga Kerja Indonesia asal Kota Kisaran bernama Suyatin tidak terima dengan putusan majelis hakim di negara jiran Malaysia yang menetapkan hukumannya yang ringan terhadap majikannya Datin Rozita Mohammad Ali yang telah menyiksanya. Dimana Ali hanya divonis hakim denda sebesar 20 ribu Ringgit Malaysia atau setara Rp70,3 juta dan menunjukkan kelakuan baik selama lima tahun

Suyatin TKI Asal Asahan yang disiksa di Malaysia
Suyatin TKI Asal Asahan yang disiksa di Malaysia


Penyiksaan yang dilakukan oleh majikan Suyatin cukup membuatnya menderita. Sampai-sampai ia sempat ditemukan tak sadarkan diri (21/12/2016)  di dekat selokan di Mutiara Damansara, Malaysia.

Namun, dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Mahkamah Petaling Jaya, Mohammed Mokhzani Mokhtar, justru menjatuhkan vonis yang sangat ringan untuk majikan, Datin Rozita Mohammad Ali.

Kalau di dakwaan awal, Rozita terancam hukuman maksimum penjara 20 tahun, namun itu semua berubah usai ia mengaku bersalah dan menyiksa asisten rumah tangganya. Hakim hanya menjatuhkan denda sebesar 20 ribu Ringgit Malaysia atau setara Rp70,3 juta dan menunjukkan kelakuan baik selama lima tahun.

Putusan sidang yang digelar pada Kamis pekan lalu membuat terkejut banyak pihak. Masalahnya, kasus Suyatin ini menjadi sorotan luas di Negeri Jiran. Apalagi video mengenai kondisi Suyatin yang babak belur dan nggak sadarkan diri di dalam selokan dekat rumah majikan, viral tahun 2016 lalu.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, mengatakan vonis tersebut jelas melukai rasa keadilan untuk korban. Ia menilai ada kejanggalan dalam perubahan tuntutan atau dakwaan.

"Pada dakwaan awal mengacu pada sekyen 307 Kanun Keseksaan dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun. Namun, kemudian dakwaannya diubah mengacu pada sekyen 324 dan 326 kanun keseksaan atas perbuatan kekerasan menimbulkan luka parah dengan ancaman hukuman penjara 3 tahun atau denda atau sebat (hukuman cambuk)," ujar Wahyu melalui keterangan tertulis pada Sabtu (17/03).

Pengacara Suyantik, Ramkarpal Singh mengaku heran mengapa hakim membuat putusan demikian.

"Hukum tidak lagi menyediakan vonis berbuat baik untuk perbuatan serius seperti ancaman hukuman bui hingga 20 tahun. Apalagi datang dengan istilah dugaan perbuatan serius," ujar Ramkarpal seperti dikutip laman Malaysia, Free Malaysia Today pada pekan lalu.

Advokat lainnya yang khusus menangani Hak Asasi Manusia (HAM), Eric Paulsen mengatakan vonis tersebut justru dapat menggambarkan citra buruk Negeri Jiran ke dunia internasional. Padahal, majelis hakim telah mendengarkan keterangan dari 10 saksi, termasuk Suyatindan dokter yang merawatnya.

"Untuk sebuah tindak kejahatan serius seperti ini tapi tidak dijatuhi hukuman, ini justru menimbulkan kemarahan dan ketidakadilan. Apalagi dalam konteks, beberapa kasus yang sama sebelumnya juga pernah terjadi di Malaysia," kata Paulsen seperti dikutip Free Malaysia Today.

Ia menegaskan setiap kasus tindak kekerasan yang menimpa pekerja migran di Malaysia, termasuk kasus terakhir Adelina Lisao, harus tertanam di benak publik sebagai perbuatan yang memalukan.

"Selain itu, vonis tersebut akan mengirimkan pesan kepada publik bahwa tidak masalah kalau Anda memperlakukan pekerja migran tidak dengan manusiawi. Apalagi kalau Anda orang kaya dan punya koneksi yang luas," tuturnya.

Sementara, kuasa hukum Rozita, Datuk Rosal Azimin Ahmad mengaku hukuman yang dijatuhkan hakim sudah setimpal. Apalagi sejak kasusnya terekspos publik, hampir setiap hari perempuan berusia 44 tahun itu sudah menjadi sorotan luas.

"Klien saya telah bertobat," ujar Rosal seperti dikutip laman The Star.

Sementara, Hakim Mokhzani menegaskan kalau vonis yang ia jatuhkan bukan berarti membebaskan Rozita. Ia tetap terikat ke pengadilan untuk jangka waktu tertentu.

 Jaksa Ajukan Banding
Begitu diputuskan, Wakil Jaksa Penuntut Umum (JPU) langsung mengajukan banding. Putusan tersebut turut didukung oleh Wahyu.

"Harus ada investigasi yang menyeluruh atas kejanggalan-kejanggalan yang terkandung dalam putusan. Hasil investigasi nantinya dapat menjadi pengajuan banding atas putusan tersebut," kata Wahyu.

Kasus penyiksaan yang menimpa Suyatin terjadi pada tahun 2016 lalu saat ia masih berusia 19 tahun. Menurut informasi yang diterima Migrant Care, KBRI mengetahui ada seorang TKW yang ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di dekat selokan di area Mutiara Damansari.

Petugas dari KBRI kemudian membawa Suyatinke RS Pusat Perubatan Universiti Malaysia (RS PPUM) agar bisa dirawat intensif. Ketika diselamatkan, kondisi Suyatinsangat mengenaskan.

"Seluruh tubuhnya ditemukan luka dan kedua matanya lembam akibat disiksa,"  ujar Wahyu.

Suyatinberkisah ia tiba di Negeri Jiran pada (7/12/2016) melalui Tanjung Balai-Port Klang. Begitu tiba, ia kemudian dijemput oleh seseorang bernama Ruby. Ia mulai bekerja di kediaman Rozita sejak (8/12/2016).

Tapi, baru satu minggu kerja di rumah Rozita, Suyatinsudah mulai disiksa. Ia kerap dipukul menggunakan berbagai benda tumpul hanger baju, alat pel, hingga payung. Akibatnya, ia mengalami luka di organ dalam, kepala, kaki dan tangan.

Puncaknya terjadi pada (21/12/2016), Suyatin kabur dari rumah usai diancam majikan menggunakan pisau besar.

Pemerintah Indonesia mengaku sudah mengirimkan nota protes kepada Kemlu Malaysia. Tapi, bagi Wahyu hal itu tidak cukup.

"Pemerintah Indonesia dan KBRI Kuala Lumpur harus serius memonitor proses peradilan terhadap kasus yang dihadapi oleh para buruh migran Indonesia dan menyediakan penasihat hukum yang kredibel," kata Wahyu.


Kepala BNP2TKI Protes

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid menyesalkan terjadinya penganiayaan terhadap TKI Suyanti oleh majikannya di Malaysia. Di tengah berbagai upaya pemerintah Indonesia dan Malaysia meningkatkan jaminan dan perlindungan bagi TKI, ternyata masih ada juga majikan yang dengan cara-cara biadab menganiaya dan menyiksa TKI.

Untuk itu, BNP2TKI mendorong proses hukum secara tegas terhadap majikan yang menganiaya Suyanti untuk mendapatkan hukum seberat-beratnya. "Kami tentu mengutuk majikan yang sudah menganiaya dan merendahkan martabat TKI kita. Kita akan terus berkoordinasi dengan KBRI di Malaysia untuk mengawal kasus ini agar pelakunya dihukum berat, dan TKI kita yang menjadi korban, yaitu Suyanti, mendapatkan keadilan," kata Nusron dalam siaran pers, Selasa (27/12).

Menurut Nusron, pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam berbagai kesempatan selalu meningkatkan kerja sama dan berkomitmen untuk perlindungan TKI. Maka dari itu, pihak aparat kepolisian Malaysia juga bergerak cepat dalam menangani kasus itu. Pada hari yang sama setelah TKI Suyanti ditemukan dalam kondisi babak belur akibat penyiksaan, Polisi Di Raja Malaysia langsung menangkap majikan dan menahannya.

"Pemerintah melalui KBRI sudah melayangkan nota protes ke Malaysia. Kemudian kami di BNP2TKI juga secepatnya menelusuri pihak-pihak yang memberangkatkan Suyanti ke Malaysia, siapa agennya, dan bagaimana jalurnya. Mereka harus ikut dimintai pertanggungjawabannya juga," ujar Nusron.

Seperti diketahui, kasus TKI Suyanti ini mencuat pada 21 Desember 2016 sekitar pukul 12.00 WIB. KBRI di Kuala Lumpur memperoleh informasi soal penemuan TKI dalam keadaan tidak sadarkan diri di dekat selokan di Jalan PJU 3/10 Mutiara Damansara.

Setelah menerima laporan tersebut, KBRI segera merujuk TKI itu ke Rumah Sakit Pusat Perubatan Universiti Malaysia (RS PPUM) untuk mendapatkan perawatan intensif. KBRI juga telah melaporkan kejadian ini ke Kepolisian Malaysia dan berdasarkan laporan itu, majikan pelaku penyiksaan telah ditahan oleh Polisi Di Raja Malaysia (PDRM).

Dari hasil penelusuran KBRI, diketahui bahwa TKI korban penyiksaan bernama Suyanti binti Sutrino, umur 19 tahun, berasal dari Kisaran, Sumatera Utara. Ketika dibawa ke RS, Suyanti dalam keadaan luka sekujur tubuhnya dan lebam kedua matanya karena penyiksaan. Selama Suyanti berada di rumah sakit, Satgas Perlindungan WNI KBRI Kuala Lumpur terus memberikan pendampingan.

Saat siuman, berdasarkan informasi dari Suyanti, dia masuk ke Malaysia pada 7 Desember 2016 melalui Tanjung Balai-Port Klang. Sesampai di Port Klang, dia dijemput seorang agen bernama Ruby.

Tanggal 8 Desember 2016, Suyanti diantarkan ke rumah majikan, seorang wanita Melayu. Baru satu minggu Suyanti bekerja, majikan mulai menyiksa fisik Suyanti. Puncaknya tanggal 21 Desember 2016, Suyanti lari dari rumah majikannya itu karena diancam menggunakan pisau besar oleh majikan perempuannya.

Kemudian, tanggal 25 Desember 2016, Suyanti diizinkan meninggalkan RS dan ditampung di penampungan KBRI. Untuk beberapa waktu ke depan, Suyanti juga masih harus menjalani rawat jalan. Suyanti pun sudah diberi fasilitas komunikasi dengan keluarganya di Medan melalui sambungan telepon. Namun, pada hari yang sama, diperoleh informasi bahwa pelaku telah dibebaskan dengan jaminan.

KBRI sendiri telah mengirim nota kepada Kemlu Malaysia guna menyampaikan protes, serta keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut dan sekaligus meminta agar pelaku diberi hukuman yang setimpal sesuai dengan hukum Malaysia. (syaf/int)


Reaksi: 
HEADLINE 1166433325346154886
Beranda item

ADSENSE

INFO LOWONGAN KERJA

Media Online www.taslabnews.com / PT TASLAB MEDIA PERS,

Membutuhkan wartawan/koresponden untuk wilayah
1. Kota Pematangsiantar/Simalungun,
2. Sibolga, Taput, Tapteng, Madina, Palas, Paluta,
3. Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Asahan, Batubara

4. Medan, Lubukpakam, Tebingtinggi


Persyaratan:
Minimal tamatan SMA sederajat.
Berkelakuan Baik


Bagi yang Berminat Hubungi:
1. Muhammad Yunus (Kabiro taslabnews.com) 0852 6258 4569
2. Salomo Malau (Direktur) 0812 6306 1350

Alexa Rank

Clicksor

SOLUSI ATASI ASAM LAMBUNG ANDA HUBUNGI 0812 6173 9320

SOLUSI ATASI ASAM LAMBUNG ANDA HUBUNGI 0812 6173 9320

ADNOW

loading...

Cithika

Chitika

Total Tayangan Halaman