TASLABNEWS.com. Diberdayakan oleh Blogger.
AYO PASANG IKLAN ANDA DI SINI, Hubungi 0812 6062 3215AYO PASANG IKLAN ANDA DI SINI, Hubungi 0812 6062 3215

BidVertiser

Loading...

Korban Penembakan Mantan Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu Dimakamkan di Asahan

TASLABNEWS, ASAHAN- Suasana duka masih menyelimuti kediaman Ibu Kartini, ibu kandung Kompol Fahrizal Wakapolres Lombok Tengah yang pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, sekaligus mertua Jumingan (33) adik ipar Fahrizal yang tewas ditembak. Sanak famili dan jiran tetangga terus berdatangan untuk melayat dan menunggu kedatangan jenazah dari rumah sakit Bhayangkara Medan.


Jenazah korban penembakan saat dibawa dari rumah sakit untuk dibawa ke rumah duka.
Jenazah korban penembakan saat dibawa dari rumah sakit untuk dibawa ke rumah duka.


Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Jumari, orangtua kandung Jumingan, mereka sepakat akan memberangkatkan jenazah anak kandungnya itu ke Kota Kisaran sebelum dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Dusun VI Perumbun Atas, Desa Teladan, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan.

Jenazah Jumingan (33) adik ipar dari Kompol Fahrizal dibawa keluarga ke Kabuparen Asahan untuk dimakamkan, Kamis (5/4) sore. Sekitar pukul 16.55 wib, tampak mobil ambulans Rumah Sakit Bhayangkara tiba di lokasi rumah duka.

Jenazah yang sudah dimandikan langsung diangkat pihak keluarga masuk ke masjid Ikhlasiyah, yang berada tepat disamping gang rumah duka, untuk disholatkan. Usai disholatkan, jenazah Jumingan kembali diangkat ke dalam mobil ambulans RS Bhayangkara Medan untuk selanjutnya dibawa ke Kabupaten Asahan, didampingi beberapa orang anggota keluarga, termasuk mertuanya.


“Kami bawa ke Kisaran, soalnya semua keluarganya di kebumikan di sana. Saya juga tidak menyangka kejadiannya bisa seperti ini,” kata Jumari kepada wartawan sebelum mobil rombongan berangkat.

Hal yang sama juga disampaikan paman korban, Teguh Wiyono. Saat dintanyai soal kematian keponakannya, dia juga tak menyangka peristiwa penembakan ini bisa terjadi.

Menurutnya, hubungan antara Kompol Fahrizal dan keponakannya Jumingan, yang bekerja sebagai sales di salah satu gerai Indomaret ini baik-baik aja. Tidak pernah terdengar ada perselisihan antara keduanya.

“Jumingan bersama istri dan anaknya laki-laki berumur 1,5 tahun memang tinggal di rumah ibu mertuanya (Ibu Kartini). Dia (Fahrizal) datang ke rumah itu sekira pukul 19.30 wib, untuk melihat keadaan ibunya. Dan saya tidak mengetahui apa yang diceritakan mereka di dalam rumah itu,” tutur Teguh membuka cerita.

“Saya taunya setelah dengar tembakan terakhir, dan saya sudah melihat dia bersama ibunya berjalan keluar gang. Melihat itu, selanjutnya saya pun lari menuju rumah Kepling untuk melaporkan kejadian itu,” sambung Teguh.

Sementara itu, Ibu Gloria (72) mengatakan, bahwa Jumingan dikenal ramah meskipun baru tinggal di gang tersebut lebih kurang 3-4 tahun. Bahkan saking ramahnya, menurut Gloria, Jumingan sering terlihat bercanda dengan anak-anak di seputaran gang tersebut.

 “Selama di sini dia ramah dan baik, gak pernah saya dengar yang aneh-aneh tentangnya. Setahu saya, istrinya itu mengajar di salah satu universitas di Medan. Tapi saya kurang tau di universitas mana. Sama anak-anak di sini pun sering dia bermain,” beber Gloria, diamini warga lainnya.

 Menurut mereka, Kompol Fahrizal juga terkenal baik dan ramah di lingkungan itu. Namun, semenjak pindah tugas, mantan Kasat Reskrim Polresta Medan itu sudah jarang ke rumah orangtuanya. Disebutkan, kedatangannya ke rumah orangtuanya itu untuk menjenguk ibunya yang baru sembuh dari sakit.

“Kalau orangtuanya itu sudah lama tinggal di sini, dan anak-anaknya juga besar-besar disini, termaksud Fahrizal itu. Tapi setelah tugasnya di luar kota, jadi ibunya tinggal bersama anak perempuan, Jumingan dan cucunya laki-laki yang berumur 1,5 tahun. Itulah anak si Jumingan,” sebut Gloria.

Sementara itu, Nugroho (54), warga Tirtosari juga mengaku bahwa keluarga tersebut terbilang harmonis. Namun, pernah terdengar kalau Kompol Fahrizal mengalami gangguan hingga harus dibawa ke sana-sini, termasuk rumah sakit.

“Mereka sudah lama di sini. Kalau si Fahrizal itu satu letting sama anak saya. Tapi, anak saya tidak perwira. Kemarin itu gagal [jadi perwira], karena anak saya sudah nikah duluan. Jadi, si Fahrizal itu katanya sempat mengalami gangguan gitu hingga sakit. Kita gak tau kenapa. Tapi, katanya sudah diobati dan sembuh,” sebut Nugroho, diamini oleh istrinya, yang mengaku baru melayat ke rumah duka. Warga juga mengakui bahwa, Kompol Fahrizal saat ini masih aktif dan bertugas di NTB sebagai Wakapolres.

“Kalau ayah si Fahrizal sudah lama meninggal sekitar 2 tahun lalu. Sementara si korban, infonya yang saya tau, buka usaha apotik juga di kawasan Jalan Padang, Tembung. Sedih juga sih dan kita semua gak menyangka. Padahal katanya si Fahrizal itu datang ke rumah ibunya bawa dua ajudan juga, tapi menunggu di mobil yang diparkir di gang pinggir jalan saja,” sambungnya.

Seiring keberangkatan jenazah, rumah permanen yang berada di dalam Gang Keluarga, Jalan Tirtosari tersebut terlihat sepi. Beberapa keluarga dan tamu satu persatu meninggalkan rumah duka, sebab keluarga dan pemilik rumah sudah dibawa abang kandung Fahrizal yang juga seorang perwira polisi berpangkat AKP. Hingga saat ini, tak satupun warga yang tau persis motif Kompol Fahrizal meleetuskan senjata apinya sampai 6 kali ke arah kepala dan tubuh korban hingga meregang nyawa di dalam rumah orangtuanya sendiri.

“Sudah dulu ya bang, kami mau pulang dan rumahnya mau kami kunci. Semua keluarga lagi berduka. Kalau ibunya sudah diungsikan dan dibawa ke tempat abangnya, Cahyadi, di kawasan Jalan Cemara,” ujar Fitri (35) warga Pasar 11 Tembung yang mengaku sepupu Kompol Fahrizal.

Sementara Atik (57) salah seorang tetangga keluarga Jumingan dan mertuanya, mengakui keramahan Jumingan. Atik menuturkan, selama ini ia mengenal Jumingan sebagai pribadi yang sangat baik bagi tetangganya. Bahkan menurut dia, jika ketiban rezeki, Jumingan tak segan-segan memberi uang pada anak-anak tetangganya tanpa pandang bulu.

Masih kata Atik, Jumingan yang meninggalkan seorang anak bernama Reza, sering mengikuti pengajian bagi pria setiap malam Jum’at. Dua minggu, lanjut Atik, saat wirid di rumah Pak Eno di Gang Buntu, Jumingan seperti menunjukkan tanda-tanda yang tak lazim dengan mengatakan kepada para anggota perwiritan. “Dia bilang di situ. ‘Malam Jum’at depan kalian datang ya ke rumah ku, datang aja di situ pasti rame,” lanjut Atik mengulang ucapan almarhum Jumingan ketika itu.

Kejadian hampir serupa, menurut Atik, juga dialami Heny. Tiga hari yang lalu Heny bermimpi dikelilingi mayat di tempat tidurnya. Mimpi aneh itu ia sempat ceritakan kepada tetangganya. Kemudian, dua hari sebelum suaminya itu meninggal dunia, ia juga melihat kondisi wajah Jumingan pucat seperti mayat.

“Kata si Heny, ‘muka mu bang kok pucat ya bang’. Terus dijawab suaminya, ‘Ah… kau ada aja, biasa dek nggak apa-apa,” pungkas Atik menutup pembicaraan.

Diberitakan sebelumnya, Kompol Fahrizal, mantan Kasat Reskrim Polresta Medan, dan Wakasat Reskrim Polrestabes Medan, menembak mati adik iparnya di kediaman orangtuanya, Rabu (4/4) malam. Usai menembak mati adik iparnya, Kompol Fahrizal kemudian menyerahkan diri ke Polrestabes Medan, sebelum dibawa ke Mapolda Sumatera Utara.

Ibu Menangis, Istri Peluk Nisan Suami

Isak tangis sanak keluarga dan kerabat mewarnai rumah duka kediaman orang tua Jumingan di Dusun VI Desa Teladan, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan ketika ambulan yang membawa jenazah korban penembakan perwira polisi itu tiba di rumah duka, Kamis (5/4) malam sekitar pukul 20.45 WIB.

Selain jasad Jumingan, terlihat istri dan mertua korban turut mendampingi jenazah menuju rumah duka sebelum dishalatkan dan dimakamkan dipekuburan muslim. Mereka tak kuasa ketika sanak keluarga menyambutnya dan turun dari mobil. Bahkan mertua korban Kartini yang datang dari Medan hampir pingsan di tengah kerumunan pelayat.

Istri korban penembakan saat meratapi nisan korban di pemakaman.
Istri korban penembakan saat meratapi nisan korban di pemakaman.


Jenazah yang tiba di rumah duka langsung disambut dan dibawa masuk untuk di shalatkan. Sebelum itu, satu per satu pihak keluarga tampak mencium dan memeluk jenazah Jumingan. Ibu korban, Sri Wulan, tampak tenang dan tabah. Dia menitikkan air mata ketika mencium kening putra bungsunya itu.

Usai pihak keluarga berziarah, jenazah korban langsung dishalatkan. Setelah itu, jenazah langsung dibawa ke lokasi pemakaman, tidak jauh dari rumah duka. Ratusan warga serta keluarga ikut mengantarkan jenazah ke peristirahatan yang terakhir.

Di pusara tempat korban dimakamkan, Sutini, istri korban tampak memeluk nisan sambil menangis usai menabur bunga di pusara makam suaminya.

Sementara itu, pihak keluarga terkesan menutup rapat-rapat kejadian yang menimpa korban. Tak satupun pihak keluarga yang bersedia memberikan keterangan seputar peristiwa nahas tersebut, saat dikonfirmasi sejumlah awak media cetak dan elektronik.
Joni, abang kandung korban mengaku masih belum mendapatkan informasi jelas cerita tentang adik bungsunya itu sampai meregang nyawa dari pistol yang diletuskan abang iparnya.

"Informasinya masih simpang siur. Kami pihak keluarga, masih belum mengetahui secara pasti, bagaimana kejadiannya," katanya.

Usai acara pemakaman, Joni yang awalnya bisa menceritakan kejadian itu kepada awak media, mendadak tutup mulut. Saat hendak kembali dikonfirmasi, Joni tiba-tiba dirangkul oleh pria berbadan tegap dan menjauh dari wartawan yang hendak mengkonfirnasinya.

"Lain kali aja bang. Masih banyak acara di rumah," katanya berlalu.
Proses pemakaman Jumingan mendapatkan pengawalan dari petugas kepolisian. Ratusan pelayat tampak hadir membanjiri rumah duka. (syaf/int)


Labuhanbatu 7391668709744585219
Beranda item

Translate

ADSENSE

Alexa Rank

Clicksor

SOLUSI ATASI ASAM LAMBUNG ANDA HUBUNGI 0812 6173 9320

SOLUSI ATASI ASAM LAMBUNG ANDA HUBUNGI 0812 6173 9320

ADNOW

loading...

Cithika

Chitika

Total Tayangan Halaman