BATUBARA, TASLABNEWS.COM – Gagalnya operasi Suhartono (58), warga Desa Mangkai Lama, Kecamatan Lima Puluh, di RSUD H. OK Arya Zulkarnain Kabupaten Batubara, menuai sorotan Wakil Ketua DPRD Batubara, Tengku Rodial.
Rodial menyayangkan peristiwa tersebut dan menilai kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi manajemen rumah sakit, terutama terkait ketersediaan obat anestesi yang menjadi kebutuhan penting dalam tindakan operasi.

“Kekhawatiran kita saat pembahasan anggaran ternyata terbukti hari ini. Saudara kita Suhartono, warga Mangkai Lama, gagal menjalani operasi,” ujar Rodial kepada Awak media, Selasa (27/10/2026).
Ia mengungkapkan, persoalan keberlangsungan pelayanan RSUD sebelumnya telah menjadi perhatian Badan Anggaran (Banggar) DPRD Batu Bara dalam pembahasan anggaran. Namun, menurutnya, Direktur RSUD tidak hadir dalam pembahasan tersebut, padahal berbagai persoalan rumah sakit telah menjadi perhatian dewan.
Rodial menilai, kejadian ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Ketersediaan obat dan kesiapan pelayanan medis harus menjadi prioritas agar pasien tidak dirugikan akibat kendala yang semestinya dapat diantisipasi.
Sementara itu, Bidang Penunjang Logistik dan Diagnostik RSUD H. OK Arya Zulkarnain, Hadiyani, saat dimintai penjelasan mengenai kekosongan obat anestesi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan permintaan obat-obatan secara berkala. Namun, ia mengaku tidak mengetahui di mana letak hambatan yang menyebabkan persoalan tersebut terjadi.
Penjelasan itu menyisakan pertanyaan mengenai titik hambatan dalam proses pengadaan dan distribusi obat di lingkungan rumah sakit. Persoalan ini perlu ditelusuri agar penyebab kekosongan obat dapat diketahui secara jelas dan tidak kembali mengganggu pelayanan pasien.
Kasus yang dialami Suhartono menjadi peringatan bagi manajemen RSUD dan Pemerintah Kabupaten Batu Bara untuk segera mengevaluasi sistem pengadaan obat, koordinasi antar bidang, serta kesiapan pelayanan operasi.
Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan terjamin. Karena itu, penjelasan terbuka mengenai penyebab tertundanya operasi, langkah penanganan terhadap pasien, serta upaya memastikan ketersediaan obat anestesi menjadi hal penting yang perlu disampaikan kepada publik. (Kas/syaf)























