Batubara-Lagu Gugur Bunga dan tembakan Salvo disertai menghidupkan lilin mengiringi keberangkatan almarhum Ipda Anumerta Martua Sigalingging (49) ke  tempat peristirahatannya yang terakhir.


Jenazah korban penyerangan dua orang terduga teroris itu sebelum dibawa menuju Desa Suka Rame Air Putih Kecamatan Batubara, terlebih dahulu disemayamkan di Mapolres Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan untuk sebuah upacara nasional, sekitar pukul 20.00 WIB Senin (26/5).

Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Muhammad Iqbal bertindak langsung sebagai Inspektur pada upacara pemberangkatan jenazah korban tersebut.

.

Sebagai penghormatan dan penghargaan terakhir atasnama Pimpinan Kepolisian RI diucapkan bebelangsukawa sedalam-dalamnya atas kepergian korban.

"Selamat jalan pahlawan Bhayangkara. Polri merasa kehilangan dan sangat berterimakasih kepada almarhum atas dedikasinya yang tinggi selama menjalankan tugas di kepolisian,"ujar Kapolres.

Polri menilai tindakan tidak terpuji itu merupakan bentuk keprihatinan kami (Institusi Kepolisian RI-red) dan Polri berdiri tegak malam ini dan Polri tidak takut dengan teror-teror yang mengganggu NKRI.

Pemantauan wartawan sebelumnya, jenazah korban dari rumah duka di Silandit, Jalan Abdul Gani Siregar, Padangsidimpuan oleh pihak keluarga atas nama Zainuddin Simbolon yang didampingi ke sembilan anak dan istri almarhum Mianna boru Manalu (49), dibawa untuk disemayamkan di Mapolres Tapsel untuk sebuah prosesi upacara.

Upacara dengan penuh haru tersebut melibatkan personil Kepolisian Resor setempat, Brigradir Mobil, TNI, Satpol PP dan Dinas Perhubungan Tapanuli Selatan.

Hadir dalam prosesi itu Bupati Tapanuli Selatan H.Syahrul M.Pasaribu, Walikota Padangsidimpuan Andar Amin Harahap, Wakil Bupati Tapanuli Selatan Aswin Efendi Siregar, Komandan Batalion 123 RW Letkol Inf Ali Akbar, Komandan Kodim 0212/TS Letkol Inf Arm Azhari, Kapolres Padangsidimpuan, AKBP Andy Nurwandy, Waka Polres Padangsidimpuan, Kompol J.Sijabat, Sekda Tapanuli Selatan Parulian Nasution serta Ketua Bhayangkari Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan.

Ditambah keluarga dan sanak famili serta handaitolan dan kerabat almarhum, bahkan ratusan masyarakat sekitar turut luar halaman pagar Mapolres Tapanuli Selatan untuk melihat langsung prosesi pemberangkatan jenazah korban penyerangan dua orang diduga teroris tersebut ke daerah dimana almarhum akan dimakamkan. (Syaf/int)


Langkat-Sebanyak 42 rumah rusak akibat diterjang angin puting beliung di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.


Kasubsi Kesiapsiagaan BPBD Langkat, Iriadi mengatakan, rumah yang rusak akibat puting beliung itu berada di Kecamatan Selesai dan Kecamatan Kuala.


Di Kecamatan Selesai, 21 rumah rusak di Desa Padang Cermin. rumah yang rusak itu dengan klasifikasi rusak berat 5 unit rumah, rusak sedang 7 unit rumah, dan rusak ringan 9 unit rumah. 

"Korban luka di bagian kepala satu orang bernama Sunardi akibat tertimpa material rumah yang tertimpa pohon sawit," ujar Iriadi, Rabu (28/6).

Dia menambahkan, di Kecamatan Kuala jumlah rumah rusak sebanyak 21 unit. Rumah rusak akibat puting beliung terjadi di Kelurahan Bela Rakyat berjumlah 17 unit rumah dengan klasifikasi rusak ringan 9 unit rumah, rusak sedang 4 unit rumah, dan rusak berat 4 unit rumah.

"Di Desa Balai Kasih berjumlah 4 unit rumah dengan klasifikasi rusak ringan 3 unit rumah dan rusak sedang 1unit rumah," kata Iriadi.

Pihak BPBD pun telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga yang rumahnya rusak dan korban terluka. BPBD mengimbau warga waspada terhadap cuaca buruk yang diperdiksi kembali terjadi. (Syaf/okc/int)


PANYABUNGAN– Aksi saling serang antarkampung di Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sumatera Utara nyaris terjadi. Pemicunya dikarenakan aksi saling tembak (senjata mainan) anak-anak dari dua kampung tersebut. Beruntung Kepolisian sigap dan melakukan mediasi antardua kelompok yang bertikai.


Informasi dihimpun, Senin (26/6) di Mapolres Madina. Perkelahian ini berawal dari sekelompok pemuda dari Desa Darussalam melakukan pemukulan terhadap warga Desa Salambue yang bertetangga antara dua kampung tersebut.


Penyebabnya adalah, anak-anak kedua belah pihak main tembakan senjata mainan dan menyebabkan lima orang luka-luka. Kapolres Madina AKBP Martri Sonny SIK yang dihubungi Okezone melalui Kepala Satreskrim AKP Hendro Sutarno membenarkan kejadian tersebut. Tetapi Henro menyebut pertikaian kedua belah pihak saling berdamai di Mapolres Madina.


“Sudah dilakukan upaya damai langsung oleh Pak Kapolres dan Pak Waka (Wakil Kapolres), Alhamdulillah kedua belah pihak sepakat menempuh jalur damai,” kata Henro


Dari kronologi kejadian yang dihimpun, lima orang warga Desa Salambue yang mengalami luka ringan dalam kejadian tersebut yakni Taufik Ali (17), Fakih Ali (16), Raja Aidil (16), Sakdan Riyadi (18), dan Sandi Sahmora (17). Kelima orang tersebut masih berstatus pelajar.


Karena tidak menerima kejadian itu, warga Desa Salambue melakukan penyerangan terhadap warga Desa Darussalam yang mengakibatkan satu orang luka ringan atas nama Nirwan (17). Sementara, kedua belah pihak sepakat damai. (syaf)


MEDAN-Jenazah Ardial Ramadhana di kebumikan di Simpang Limun tepatnya di Jalan Kemiri I, Lingkungan I, Kelurahana Sudirejo II, Kecamatan Medan Kota, Rabu (28/6). Jenazah Ardial batal dimakamkan di Jalan Makmur, Gang Dahlia Nomor 33, Tembung. Karena warga di Tembung menolak pemakanan Ardial di kampung mereka.


Atas penolakan tersebut, keluarga bermusyawarah dan mengambil sikap. Langkah yang dilakukan adalah dengan memakamkan jasad Ardial Ramadhana di Simpang Limun.

Jenazah Ardial Ramadhana dikuburkan di atas kuburan kakeknya Amsyarif yang meninggal pada 1972, dan neneknya H Rukiah Ali Binti Malik yang meninggal tahun 2008 dan pamannya Teguh Hek Syahputra Bin Syaiful Am yang meninggal tahun 1992 dalam satu liang yang sama. 

Setibanya jenazah Ardial Ramadhana bin Zulkarnaen di Perkuburan Islam itu, kemudian dilaksanakan Fadhu Kifayah ke 4 yaitu penguburan jenazah yang dihadiri sekitar 15 orang. Bertindak sebagai bilal adalah Ustad Yusnan Nasution. Seluruh rangkaian Fardhu Kifayah telah dilaksanakan dan keluarga almarhum Ardial Ramadhana bin Zulkarnaen kembali ke kediamannya.


Sebelumnya, jenazah pelaku teror Mapoldasu itu lebih dulu dimandikan dan dikafani jasadnya di RS Bhayangkara Polda Sumut. Begitu juga saat dishalatkan berlangsung di ruang jenazah RS Bhayangkara dengan imam AKP Kholis SH. (syaf/int)



MEDAN - Kedatangan jenazah terduga teroris bernama Ardial Ramadhana di Jalan Makmur, Dusun V, Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Rabu (28/6) ditolak warga.


Puluhan warga menggelar aksi penolakan atas kedatangan jenazah teroris tersebut.

Setelah mendapat info bahwa jenazah akan diserahkan dari Polda Sumut ke pihak keluarga, warga berkumpul di dekat rumah orangtua Ardial Ramadhana yang berlokasi di Gang Dahlia Nomor 33.

 "Kami menolak jenazah terduga teroris ISIS dibawa ke kampung ini," kata warga sekitar bernama Noviansyah (32) di lokasi.


Menurut dia, warga tidak terima ada terduga teroris yang berada di kampung mereka. Mereka membawa kain putih yang bertuliskan kalimat penolakan terhadap kedatangan jenazah. 

"Kami tak mau masyarakat luas berpikir kalau kampung kami datang teroris. Lebih baik jenazah itu dikubur di tempat lain," ujar Noviansyah.


Penolakan ini juga diutarakan oleh seorang bilal mayat bernama Pangihutan Nainggolan (66), warga Jalan Makmur, Dusun V, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Tembung, Kabupaten Deliserdang. Dia menolak kedatangan Ardial Ramadhana, karena diduga merupakan jaringan teroris ISIS.

Pangihutan menegaskan pada masyarakat bahwa perbuatan teror tidak dapat diterima oleh umat muslim. "Saya selaku Bilal di desa ini, menegaskan tidak akan mensalatkan jenazah teroris. Apa pun ceritanya, jenazah itu harus dibawa pergi dari kampung ini," ucap Pangihutan.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting membenarkan penyerahan jenazah terduga teroris tersebut.

 "Telah diserahkan jenazah pelaku penyerangan Pos Jaga Polda Sumut atas nama AR kepada orangtuanya di Jalan Makmur, Gang Dahlia nomor 33 Tembung, sekira pukul 12.00 WIB," ujar Kombes Rina. (Syaf/okc/int)


Medan-Anggota Polda Sumut yang menjadi korban penyerangan Mapolda Sumut almarhum Aiptu Maratua Sigalingging meninggalkan 8 anak. Salah satu di antaranya adalah seorang tentara. 

Almarhum mendapatkan kenaikan setingkat, menjadi Ipda (anumerta) Maratua Sigalingging. Pangkat tersebut adalah pangkat milik perwira pertama.


Kenaikan pangkat tersebut diketahui ketika Kapolda Sumut, Irjen Rycko Amelza Dahniel memberangkatkan jenazah dari kamar jenazah RS Bhayangkara, Minggu (25/6). Jenazah Aiptu Martua Singgalingging.

Boru Nainggolan, kakak ipar korban mengaku anaknya ada juga yang saat ini tengah kuliah di Unika Medan. Tapi karena ini lagi libur, anaknya di kampung.


"Anaknya belum ada yang menikah," katanya. 

Aiptu Martua Singgalingging baru bertugas di Polda Sumut selama satu tahun. Sebelumnya, Martua bertugas di Sidempuan dan Kalimantan. Aiptu Martua ditikam oleh dua orang tak dikenal saat menjaga di Pos jalur keluar pada pukul 03.00 pagi di Polda Sumut. (Syaf/mtc/int)
Diberdayakan oleh Blogger.