TASLABNEWS, ASAHAN-
Perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (BSP) Kisaran menurunkan tim pengamanan internal untuk mengawal aktivitas panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di areal Divisi II Kebun Kuala Piasa Estate, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.
Langkah ini dilakukan menyusul maraknya aksi pencurian TBS serta dugaan intimidasi terhadap karyawan panen oleh sekelompok masyarakat penggarap lahan yang mengatasnamakan ahli waris tanah leluhur di atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan.

Manager Area BSP Kisaran, Raju Wardana, mengatakan tim security perusahaan bersama personel BKO diturunkan langsung ke lapangan untuk memastikan keamanan para pekerja.
“ Pengamanan dan pengawalan ini kami lakukan agar karyawan dapat bekerja dengan aman dan nyaman tanpa gangguan dari pihak mana pun. Keselamatan karyawan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan ,” tegas Raju, Rabu (04/03/2026).
Ia menjelaskan, karyawan yang bertugas di areal P 98201 dan Blok 96205 kerap dihadang bahkan diintimidasi oleh kelompok penggarap. Mereka disebut tidak diperbolehkan memanen TBS di area tersebut.
Sementara itu, Manager Social Security and Legal BSP Kisaran, Yudha Andriko, SH, mengungkapkan bahwa sebelumnya sejumlah petugas keamanan dan karyawan perusahaan mengalami tindakan kekerasan fisik berupa pemukulan yang diduga dilakukan oleh kelompok penggarap.
“ Bahkan anjing pengamanan kebun milik perusahaan juga menjadi sasaran pemukulan menggunakan kayu dan bambu ,” ujarnya.
Yudha menegaskan, tanaman dan hasil panen kelapa sawit di areal tersebut merupakan milik sah perusahaan. Ia menyebut perkebunan itu telah dikelola puluhan tahun oleh BSP, mulai dari penanaman hingga perawatan.
“ Sudah puluhan tahun kami yang menanam, merawat, dan memupuk. Maka hasil panennya adalah hak perusahaan ,” katanya.
Menurut Yudha, areal P 98201 dan Blok 96205 memang kerap terjadi pencurian buah sawit dan dinilai rawan. Kehadiran tim pengamanan disebut sebagai langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD serta koordinasi dengan Polres Asahan, manajemen merasa memiliki dasar yang kuat untuk menjalankan operasional perusahaan.
Yudha menilai kelompok penggarap terus melakukan provokasi untuk memancing emosi personel keamanan. Salah satunya dengan membakar rumput di areal tanaman sawit produktif dan mendirikan pondok – pondok di lokasi kebun.
Ia juga menceritakan insiden saat tim hendak meninggalkan lokasi.
Seorang pria yang diduga bagian dari kelompok penggarap melintas menggunakan sepeda motor sambil menggeber knalpot yang kemudian memicu ketegangan hingga terjadi keributan.
” Kami berupaya menahan diri dan menenangkan anggota security, namun situasi terus diprovokasi hingga terjadi keributan. Kami sangat menyayangkan sikap tersebut ,” pungkas Yudha. (Edi/syaf)






























